Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. The Silent Vow and The Crumbling Stage
Setelah deklarasi berani di depan vila Samuel, New York menjadi jauh lebih panas bagi Julian dan Alice. Julian menyadari bahwa perlindungan terbaik bagi Alice bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan ikatan hukum yang sah. Ia tidak ingin memberikan celah bagi siapa pun untuk memisahkan mereka lagi.
Pagi itu, di bawah langit Manhattan yang mendung, sebuah mobil SUV hitam sederhana berhenti di depan kantor catatan sipil New York. Tidak ada iring-iringan mewah. Julian hanya mengenakan kemeja putih bersih tanpa dasi, dan Alice mengenakan dress sutra putih sederhana selutut.
Di dalam ruangan yang sunyi, hanya disaksikan oleh Samuel Vane dan Elizabeth Vane, mereka mengucapkan janji suci di hadapan petugas hukum.
"Aku, Julian Reed, menerima kau, Alice Vane, sebagai istriku yang sah," suara Julian terdengar begitu berat namun penuh keyakinan. Tidak ada sorak sorai ribuan fans, hanya suara detak jantung mereka yang saling bersahutan.
Tanpa gaun desainer ternama, tanpa pesta jutaan dolar, mereka resmi menjadi suami istri secara hukum. Saat mereka melangkah keluar, kilatan kamera paparazzi menangkap momen mereka keluar dari gedung tersebut. Dunia gempar. Meski mereka tidak membuat pengumuman, foto-foto mereka di kantor catatan sipil menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Di sisi lain, karier Julian justru mencapai puncaknya. Single terbarunya, yang berisi lirik-lirik tentang pertobatan dan cintanya pada "Malaikat berbaju manusia", meledak di seluruh tangga lagu dunia. Julian menjadi fenomena unik; seorang megabintang yang justru semakin bersinar saat ia memilih jalan religius.
Namun, kejayaan itu dibarengi dengan badai yang tak kalah besar. Di belahan kota lain, foto-foto Ellena Breeze mulai beredar luas. Ellena benar-benar terlihat sangat kurus, wajahnya pucat pasi, dan ia tertangkap kamera sedang duduk di kursi roda saat memasuki rumah sakit.
Kali ini, sakitnya bukan sekadar gimik. Depresi dan obsesinya pada Julian membuat kondisi fisiknya ambruk. Ellena, dengan sisa kekuatannya, menggunakan kondisi ini sebagai senjata terakhir.
"Aku hanya ingin dia bahagia, meski itu membunuhku perlahan," ucap Ellena dalam sebuah wawancara singkat yang viral.
Netizen pun meledak. Komentar buruk menghujani akun media sosial Julian dan Alice.
"Julian, kau pembunuh! Kau bersenang-senang dengan istrimu sementara Ellena sekarat karena ulahmu!"
"Alice Vane, kau punya hati tidak? Lihat apa yang kau lakukan pada wanita yang tulus mencintai suamimu!"
Di rumah keluarga Vane, Julian duduk di ruang tamu dengan kepala tertunduk. Ia menatap layar televisi yang terus menampilkan wajah Ellena yang menderita.
"Al, aku tidak bisa terus seperti ini," ujar Julian lirih. "Setiap kali aku menyanyi, orang-orang akan melihatku sebagai pengkhianat. Namamu terus diseret ke dalam lumpur yang tidak kau buat."
Alice duduk di sampingnya, memegang tangan Julian yang dingin. "Lalu, apa rencana kita, Julian?"
"Aku harus berhenti sejenak," Julian menatap Alice dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku akan mengambil vacuum selama satu tahun. Tidak ada panggung, tidak ada kamera, tidak ada lagu baru. Aku ingin kita menghilang dari radar dunia. Aku ingin fokus pada pernikahan kita, pada kesehatanku, dan pada Tuhan."
Samuel Vane masuk ke ruangan, mendengar keputusan Julian. "Itu langkah yang sangat berani, Julian. Menanggalkan mahkota saat kau sedang di puncak adalah hal yang sulit bagi manusia biasa. Tapi bagi seorang pria yang mencari kedamaian, itu adalah jalan satu-satunya."
"Aku setuju, Pa" jawab Julian mantap. "Aku akan menggunakan setahun ini untuk hidup sebagai pria biasa. Aku ingin belajar lebih banyak tentang iman darimu, dan aku ingin menjaga Alice tanpa sorotan kamera."
Keputusan Julian untuk vacuum selama setahun mengguncang industri musik. Agensinya berang, sponsor menarik diri, namun Julian tetap teguh. Ia menutup akun media sosialnya dan mematikan ponselnya.
Sean Miller, yang mendengar berita ini dari Paris, tertawa sinis. "Kau pikir dengan menghilang kau bisa lari, Julian? Setahun adalah waktu yang cukup bagiku untuk menyusun rencana yang lebih besar untuk menghancurkan 'kehidupan suci' yang kau banggakan itu."
Malam terakhir sebelum mereka berangkat ke sebuah rumah tersembunyi di perdesaan, Julian dan Alice berdiri di balkon.
"Satu tahun hanya bersamamu, Al," bisik Julian sambil memeluk pinggang istrinya. "Hanya kita dan keheningan."
"Dan Tuhan," tambah Alice sambil tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Julian. "Terima kasih sudah memilih kedamaian kita di atas segalanya."
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/