Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Topeng paling sempurna
Bel istirahat berbunyi, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak untuk makan. Brian berdiri lebih dulu, ia menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bar, ikut gue sebentar yuk. Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Brian datar.
Bara sempat melirik Aluna sekilas sebelum akhirnya berdiri. "Oke."
Mereka berjalan menuju area belakang sekolah yang sepi, jauh dari keriuhan kantin. Begitu sampai di bawah pohon besar yang rindang, Brian menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan, menatap tajam ke arah sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri itu.
"Brian, lo mau ngomong apa?" tanya Bara berusaha tenang, meski tangannya di dalam saku celana mulai berkeringat.
"Gue mau tanya, dan gue minta lo harus jawab jujur," suara Brian terdengar berat, menuntut kepastian.
Bara menarik napas panjang. "Oke, emang mau tanya apa?"
"Lo suka Aluna juga, kan?"
Pertanyaan itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran. Bara tersentak, ia menoleh ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Brian. "Lo ngomong apa sih, Brian? Ngaco deh."
"Udah deh, jawab jujur. Gue tahu kok," desak Brian, langkahnya maju satu tindak untuk mengunci ruang gerak Bara.
Bara tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya. "Lo tahu dari mana? Gue gak mungkin suka sama Aluna, apalagi lo juga suka sama dia. Gue gak mungkin nikung lo lah, Brian!"
Brian terdiam sejenak. Ia teringat kejadian semalam yang terus menghantui pikirannya. "Tapi kemarin Luna pakai jaket kamu, Bar. Bahkan pas ketemu gue pun, dia nggak mau lepasin jaket itu."
Bara mendengus, mencoba memutarbalikkan keadaan agar Brian terlihat berlebihan. "Brian, lo tuh kayak anak kecil aja ya. Masalah kecil gitu aja lo ribut in".
"Masalah kecil?" ulang Brian dengan nada tak percaya.
"Kemarin itu Luna kehujanan dan gue pinjemin dia jaket gue," jelas Bara, suaranya naik satu nada. "Soal dia yang nggak lepasin jaket itu, ya mungkin karena dia kedinginan, Brian. Nggak lebih. Jadi lho, nggak usah drama."
Brian menatap Bara lurus-lurus, seolah ingin menembus dinding pertahanan di mata sahabatnya itu. "Tapi lo beneran gak ada rasa kan sama Aluna?"
Hening.
Angin berembus pelan, tapi suasana di antara mereka terasa membeku. Bara yang biasanya selalu punya jawaban cepat, kini mendadak diam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata "Tidak".
"Kenapa diam, Bar? Jawab!" Brian mulai tidak sabar.
Bara menatap Brian dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa sakit, rasa bersalah, dan kelelahan yang luar biasa di sana.
"Gue... gak tahu,".
Tanpa menunggu balasan dari Brian, Bara berbalik dan pergi begitu saja. Ia melangkah cepat, meninggalkan Brian yang berdiri terpaku dengan tangan yang mengepal kuat.
"Bar! Bara! Jawab!" teriak Brian, namun Bara terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Brian berjalan kembali ke kelas dengan langkah gusar. Napasnya memburu, dan bayangan wajah Bara yang tidak bisa menjawab pertanyaannya terus terngiang-ngiang. Ia tidak bisa membiarkan keraguan ini menggantung. Ia harus tahu kebenarannya, sekarang juga.
Brak!
Pintu kelas terbuka cukup keras. Aluna yang sedang duduk diam menoleh dengan kaget. Ia melihat Brian mendekat ke arahnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, Brian terlihat marah dan kecewa.
"Brian, kamu kenapa?" tanya Aluna, suaranya bergetar.
Brian berhenti tepat di depan meja Aluna. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap mata Aluna dalam-dalam. "Jujur sama aku, Lun. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu sama Bara?"
Aluna mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak. "Maksud kamu apa, Bri? Nggak ada apa-apa..."
"Jangan bohong!" potong Brian cepat. "Bara baru saja bilang ke aku kalau dia 'nggak tahu' soal perasaannya ke kamu. Dia nggak berani bilang kalau dia nggak punya rasa. Dan kamu... kamu pakai jaket dia semalaman seolah-olah jaket itu adalah hal paling berharga di dunia."
Aluna menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Aku cuma kedinginan, Brian. Aku nggak ada maksud apa-apa."
"Terus kenapa kamu nggak bisa cinta sama aku?" tanya Brian lagi, kali ini suaranya merendah, hampir seperti bisikan yang menyakitkan. "Apa karena orang yang kamu cintai itu sebenarnya Bara? Apa selama ini aku cuma jadi penghalang di antara kalian berdua?"
Aluna ingin menjawab, namun lidahnya terasa kaku. Ia tidak ingin menyakiti Brian lebih dalam, tapi ia juga sudah lelah berbohong. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kenapa diam, Luna? Jawab!" desak Brian, air mata mulai jatuh di pipinya. "Apa benar... orang itu Bara?"
Aluna hanya bisa menunduk, butiran air mata jatuh mengenai permukaan mejanya. Kebenaran itu sudah ada di ujung lidah, namun ia tahu, sekali ia mengucapkannya, maka persahabatan mereka bertiga akan hancur selamanya.
Di ambang pintu kelas, tanpa mereka sadari, Bara berdiri di sana. Ia mendengar semuanya. Ia melihat bagaimana Brian memaksa Aluna untuk jujur, dan ia melihat bagaimana Aluna menderita karena rahasia yang ia ciptakan sendiri.
Suasana kelas yang tegang itu pecah saat langkah kaki Bara terdengar terburu-buru masuk. Ia langsung berdiri di antara Brian dan Aluna, menjadi dinding pemisah yang dingin.
"Brian, cukup!" bentak Bara, suaranya menggelegar di ruangan yang sepi itu. "Sudah cukup, jangan paksa Aluna. Aku sama Luna itu gak ada perasaan apa-apa, apalagi cinta."
Dunia Aluna seolah runtuh saat itu juga. Ia mendongak, menatap punggung Bara yang tegap. Kata-kata itu terdengar begitu tegas, begitu meyakinkan, seolah-olah tidak ada sedikit pun keraguan di hati Bara saat mengucapkannya.
"Bara..." bisik Aluna lirih. Suaranya hampir hilang, tertelan rasa sesak yang tiba-tiba mencekik tenggorokannya. Ia tidak menyangka Bara sanggup mengatakan hal sekejam itu tepat di depan matanya.
Bara perlahan menoleh. Ia menatap Aluna dengan tatapan yang kosong, seolah mereka berdua hanyalah orang asing yang baru bertemu. Tidak ada lagi kehangatan seperti saat di bawah payung kemarin.
"Iya kan, Luna? Di antara kita tidak ada rasa apa-apa," ucap Bara lagi. Kalimatnya bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah perintah agar Aluna mengikuti permainannya.
Brian beralih menatap Aluna. Matanya yang merah menuntut jawaban. "Luna? Apa bener yang dibilang Bara?"
Aluna merasakan jantungnya perih, seperti sedang diremas dengan kuat. Ia menatap Bara, berharap menemukan sedikit saja keraguan di mata laki-laki itu, namun ia hanya menemukan kebekuan. Bara sedang memintanya untuk berbohong. Bara sedang memintanya untuk membunuh cinta mereka di depan Brian.
Dengan bibir yang bergetar dan hati yang hancur berkeping-keping, Aluna akhirnya bersuara.
"Iya... aku sama Bara memang tidak ada perasaan apapun," ucap Aluna.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti duri yang merobek hatinya sendiri. Ia baru saja mengkhianati perasaannya demi menjaga persahabatan mereka.
Brian mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot. Ada rasa lega di wajahnya, namun ia tidak sadar bahwa kelegaan itu dibangun di atas kehancuran Aluna.
Bara segera membuang muka. Ia berhasil. Topengnya kembali terpasang dengan sempurna. Namun di balik saku celananya, tangannya mengepal begitu kuat hingga kukunya memutih.
Bersambung.....
jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ terimakasih 🙏 semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲🤲