Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KRISIS IDENTITAS
Pagi itu di kamar kos Aruna, Javi sedang mengalami krisis eksistensial tingkat tinggi. Bukan karena dia mulai mengingat masa lalunya sebagai idol, melainkan karena dia merasa sedang dikuntit oleh sesosok pria yang wajahnya sangat simetris—persis seperti dirinya.
Semua bermula saat Aruna sedang pergi ke kampus untuk mengumpulkan tugas revisi, meninggalkan Javi sendirian dengan perintah tegas
"Jangan menyentuh apa pun selain sapu dan piring kotor."
Javi, yang bosan menjadi Ujang sang asisten rumah tangga, akhirnya memutuskan untuk melakukan observasi ilmiah terhadap tumpukan majalah dan kertas-kertas di meja gambar Aruna.
"Aneh... benar-benar aneh," gumam Javi sambil memegang sebuah poster produk minuman soda yang ditemukannya di bawah tumpukan sketsa DKV Aruna.
Di poster itu, seorang pria dengan rambut perak dan tatapan dingin sedang memegang botol soda seolah-olah botol itu adalah harta karun paling berharga di alam semesta.
"Aruna bilang nama saya Ujang. Tapi kenapa pria di kertas ini memakai wajah saya?"
Javi berkaca di cermin retak milik Aruna. Dia memiringkan kepalanya ke kiri, lalu ke kanan.
"Cara dia menatap botol itu... sangat profesional. Tapi cara saya menatap piring kotor tadi pagi jauh lebih dramatis."
Javi mulai berkeliling kamar. Dia menemukan sebuah kalender lama di balik pintu. Bulan Juni menampilkan wajah yang sama. Dia menemukan bungkus masker wajah di tempat sampah. Wajah itu lagi. Bahkan di bungkus mi instan rasa soto yang baru saja dia makan, ada stiker kecil bergambar wajahnya dengan tulisan,
“Koleksi Stiker Eksklusif LUMINOUS!”
"Astaga..."
Javi terduduk di lantai kosan yang dingin.
"Saya tahu sekarang. Saya bukan sekadar asisten. Saya adalah korban eksperimen kloning pemerintah!"
Saat Aruna pulang dua jam kemudian, dia mendapati pemandangan yang sangat tidak sehat. Javi telah menempelkan semua gambar dirinya di dinding kamar menggunakan isolasi kertas, membentuk sebuah peta konspirasi yang biasanya ada di film-film detektif.
"Ujang? Apa-apaan ini?! Kenapa poster Javi LUMINOUS kamu tempel di atas tempat tidurku?!" teriak Aruna, nyaris menjatuhkan tas punggungnya.
Javi berbalik dengan wajah sangat serius. Dia memakai kacamata hitam Aruna yang gagangnya sudah patah sebelah.
"Aruna, jangan berbohong lagi. Saya sudah tahu rahasianya," bisik Javi dengan nada berat.
"Rahasia apa? Kamu ingat siapa kamu?"
Aruna mulai panik. Gawat, kalau dia ingat, dia bakal sadar aku bohong soal gajinya yang cuma dibayar pake es mambo!
"Saya adalah hasil kloning, kan?"
Javi menunjuk poster besar di dinding.
"Pria ini... Javier ini... dia adalah versi asli yang sukses. Sedangkan saya, Ujang, adalah versi gagal yang dibuang ke kosan ini karena saya terlalu suka makan ayam geprek. Katakan yang jujur, Aruna! Berapa banyak Ujang lain yang ada di luar sana?!"
Aruna melongo. Antara ingin tertawa dan ingin memukulkan tabung gambarnya ke kepala Javi agar ingatannya kembali normal.
"Ujang, dengerin aku ya,"
Aruna menghela napas panjang, berusaha tetap tenang.
"Itu bukan kloning. Itu... itu adalah tren operasi plastik yang lagi viral! Semua cowok di Jakarta pengen punya muka kayak pria itu. Kamu salah satunya, tapi kamu sial karena pas lagi operasi, dokternya bersin, makanya ingatanmu hilang!"
Javi menyipitkan mata, tidak percaya.
"Operasi plastik? Lalu kenapa di bungkus mi instan ini ada stiker wajah saya? Apakah mereka menjual wajah saya bersama bumbu penyedap?"
"Iya! Itu namanya dukungan UMKM! Sudahlah, jangan dipikirin. Ayo bantu aku, Genta lagi berulah!"
Aruna melemparkan ponselnya ke kasur. Genta baru saja mengirimkan pesan singkat namun mematikan,
“Ar, asistenmu keren juga pake daster pink. Mau aku post di grup angkatan atau kamu mau ngerjain tugas Layouting-ku selama satu semester?”
"Genta punya foto kamu pas lagi pake daster Mbak Widya kemarin," ucap Aruna lemas.
"Kalau foto itu viral, bukan cuma kamu yang kena masalah, tapi aku bakal dicoret dari daftar mahasiswa berprestasi karena dianggap melakukan pelecehan terhadap jemuran pemilik kos!"
Javi terdiam, dia melihat foto di layar HP Aruna.
"Saya terlihat cukup anggun di sana. Daster itu memang menonjolkan garis bahu saya yang kokoh."
"UJANG! INI SERIUS!"
"Tenang, Majikan Aruna. Jika pria bernama Genta itu ingin bermain dengan gambar, maka kita akan memberinya mahakarya,"
Javi tiba-tiba berdiri tegak, auranya berubah. Tanpa dia sadari, insting leader LUMINOUS-nya bangkit.
"Bawa saya ke kampusnya lagi. Saya akan menunjukkan siapa yang lebih pantas menguasai kamera."
"Mau ngapain? Kamu mau ngaku kalau kamu Javi?"
"Tidak. Saya akan menjadi Ujang yang sangat keren sampai-sampai foto daster itu terlihat seperti sampah visual yang tidak berharga."
Aruna membawa Javi kembali ke kampus sore itu. Kali ini, Aruna melakukan sedikit modifikasi pada penampilan Javi agar tidak terlalu mirip dengan poster yang ada di mading kampus.
Javi memakai kemeja flanel kebesaran milik Aruna yang jadi terlihat seperti baju model oversized mahal di tubuh Javi dan topi beanie untuk menutupi rambut peraknya.
Mereka menemui Genta di kantin yang sedang ramai mahasiswa nongkrong. Genta duduk dengan angkuh, memegang kameranya seolah-olah dia adalah pemegang kunci takdir Aruna.
"Gimana, Ar? Udah siap jadi joki tugasku?" tanya Genta sambil melirik Javi yang berdiri di belakang Aruna.
"Eh, ada Mas Daster. Mau pesen ayam geprek lagi?"
Javi maju satu langkah. Dia tidak bicara, dia hanya melepas kacamata hitamnya perlahan, lalu menatap Genta dengan tatapan Ice Prince yang bisa membekukan air dalam dispenser.
"Genta," ucap Javi dengan suara bariton yang begitu tenang namun berwibawa.
"Kamu seorang fotografer, bukan?"
Genta agak tersentak.
"I-iya. Kenapa?"
"Foto yang kamu ambil kemarin... pencahayaannya sangat buruk. Angle-nya terlalu rendah, membuat daster itu terlihat tidak simetris. Sebagai asisten Aruna, saya merasa tersinggung dengan kualitas karyamu."
Mahasiswa di sekitar mulai berbisik.
"Wah, si Ujang kok gaya bicaranya kayak kurator seni kelas dunia?"
Javi mengambil sebuah botol air mineral dari meja. Dia melakukan pose sederhana, bersandar pada tiang kantin yang penuh stiker partai, memegang botol air di dekat rahangnya, dan menatap ke arah cahaya matahari yang masuk melalui celah genteng.
Tiba-tiba, kantin yang tadinya berisik jadi sunyi senyap.
Para mahasiswi DKV yang sedang makan bakso berhenti mengunyah. Mereka serempak mengeluarkan HP.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
"Gila... si Ujang kalau lagi diem gitu... kok lebih ganteng daripada Javi yang asli ya?" bisik salah satu mahasiswi.
"Lihat rahangnya! Itu bisa buat ngeraut pensil!" seru yang lain.
Genta mulai panik.
"Heh! Jangan difoto! Dia cuma kuli angkut!"
Javi menoleh ke arah Genta dengan senyum miring yang mematikan.
"Genta, jika kamu mempublikasikan foto daster itu, saya akan meminta Aruna mempublikasikan foto-foto yang baru saja mereka ambil. Dunia akan melihat bahwa asisten Aruna jauh lebih photogenic daripada semua model yang pernah kamu potret. Foto dastermu akan terlihat seperti lelucon gagal."