NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MOMEN YANG TAK BUTUH INGATAN

Langit di atas taman hiburan kini benar-benar telah berubah menjadi kanvas berwarna jingga keemasan. Lampu-lampu wahana mulai berpijar, namun bagi mereka berdua, dunia seolah menyempit hanya di bangku taman itu. Arunika menatap es krimnya yang mulai mencair, lalu beralih menatap Arka yang masih mengenakan bando kucing itu dengan ekspresi yang sangat damai.

"Hatiku deg-degan tiap senja datang, Arka... tapi sekarang rasanya malah hilang saat sama kamu," ucap Arunika lirih. Ia merasakan ketenangan yang tidak masuk akal, seolah badai pencariannya selama tiga tahun ini mendadak reda hanya karena kehadiran pria ini di sampingnya.

Arka menoleh, matanya memantulkan cahaya senja yang mulai meredup. Ia tidak langsung menjawab, namun jemarinya bergerak tanpa sadar, seolah ingin meraih tangan Arunika namun ia menahannya di tepian bangku.

"Aku juga ngerasa hal yang sama," balas Arka lembut. Suaranya tidak lagi terdengar bingung seperti tadi pagi. "Biasanya, jam-jam segini dadaku sesak banget. Ada rasa bersalah yang nggak tahu buat siapa. Tapi duduk di sini, pakai bando konyol ini, dan lihat kamu ketawa... rasa sesak itu nggak ada. Semuanya kerasa... pas."

Arunika tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca karena rasa haru yang mendesak. "Lucunya kita punya janji yang nggak tahu apa, dan rasa yang sama ketika senja datang. Kita dua orang asing yang tersesat di jam yang sama, tapi entah kenapa malah nemuin kenyamanan di tengah ketidaktahuan ini."

Arka tertawa kecil, kali ini tawa yang benar-benar lepas dari beban. "Mungkin semesta lagi malas kasih jawaban lewat ingatan, jadi dia kasih jawaban lewat perasaan saja. Kamu nggak butuh tahu aku ini 'A' atau bukan buat ngerasa tenang, kan? Dan aku nggak butuh tahu siapa 'Senja' buat pengen jagain kamu."

Arka mengangkat ponselnya lagi, kali ini ia mengarahkan kamera ke arah langit senja yang sedang berada di puncak keindahannya, lalu menggesernya sedikit untuk menangkap profil wajah Arunika dari samping.

"Tahu nggak, Arunika? Mungkin janji itu nggak harus ditepati dengan cara mengingat masa lalu," ucap Arka sambil menekan tombol kamera. "Mungkin cara menepatinya adalah dengan nggak ngebiarin kamu sendirian lagi di senja-senja berikutnya. Anggap saja ini janji baru, dari Arka yang pegawai kantoran, bukan dari Senja yang hilang itu."

Arunika menoleh, menatap Arka dengan perasaan yang campur aduk antara rindu dan syukur. Di bawah langit Bandung yang mulai meredup, ia menyadari satu hal: meskipun misteri diary pudar itu belum terpecahkan, rasa sakit di hatinya telah menemukan penawarnya.

Lampu-lampu taman hiburan mulai berpendar lebih terang saat pengeras suara mengumumkan bahwa waktu operasional akan segera berakhir. Arka dan Arunika bangkit dari bangku taman, masih dengan bando kucing dan bintang yang menghiasi kepala mereka. Suasana canggung yang manis menyelimuti langkah mereka menuju gerbang keluar.

Tepat saat mereka melewati sebuah stan kayu estetik dengan tirai beludru merah, seorang pegawai muda dengan seragam ceria mencegat mereka.

"Kak, selamat malam! Karena Kakak berdua terlihat sebagai pasangan paling serasi malam ini, kami ada promo Photobox gratis untuk kenang-kenangan penutupan hari ini. Mau coba?" tawar pegawai itu sambil tersenyum lebar.

Arka dan Arunika saling pandang. Ada keraguan sejenak, namun Arka melihat binar di mata Arunika yang seolah berkata, kenapa tidak?

"Boleh, Mas. Gratis kan?" tanya Arka memastikan, yang dibalas anggukan mantap si pegawai.

Mereka pun masuk ke dalam kotak kecil yang sempit itu. Di dalam, udara terasa lebih hangat dan aroma parfum mereka bercampur menjadi satu. Layar di depan mereka mulai menghitung mundur.

"Arka, ayo pose yang benar!" seru Arunika panik karena hitungan sudah mencapai angka tiga.

Cekrek! Pose pertama: Mereka berdua tampak kaget, menatap lensa dengan mata membelalak.

Cekrek! Pose kedua: Arka dengan iseng menarik bando bintang milik Arunika hingga miring, sementara Arunika tertawa sambil mencoba mencubit lengan Arka.

Cekrek! Pose ketiga: Suasana mendadak tenang. Arka menatap ke arah kamera, namun Arunika tanpa sadar menatap profil samping Arka dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan seorang wanita yang akhirnya menemukan rumahnya kembali.

Cekrek! Pose keempat: Arka merangkul bahu Arunika, dan mereka berdua tersenyum tulus ke arah lensa.

Beberapa menit kemudian, mesin di luar mengeluarkan selembar foto fisik yang masih hangat. Arka mengambilnya dan memperhatikannya di bawah lampu jalan. Di bagian bawah foto itu tercetak otomatis tanggal hari ini dan sebuah kutipan kecil dari mesin: "Beberapa momen tidak butuh ingatan, hanya butuh dirasakan."

"Lihat, fotonya bagus," ucap Arka sambil menyodorkan foto itu pada Arunika. "Mungkin ini jawaban untuk diary kamu yang pudar itu. Kalau tulisan di buku itu hilang, setidaknya foto ini akan tetap jelas."

Arunika menerima foto itu, jarinya mengusap gambar mereka berdua. "Terima kasih, Arka. Meskipun kita belum tahu siapa 'A' yang sebenarnya di diary itu, foto ini membuktikan kalau hari ini kamu ada di sini, bersamaku."

Arka tersenyum, lalu ia mengeluarkan ponselnya. "Karena tadi kamu bilang aku pakai handphone terbaru, sekarang boleh aku minta nomor teleponmu? Secara nyata, bukan lewat aplikasi. Aku nggak mau janji temu kita berikutnya gagal cuma karena aku lupa jalan pulang."

Arka tertawa renyah sambil memasukkan lembaran foto photobox tadi ke dalam saku jaketnya dengan hati-hati. Ia berjalan di samping Arunika menuju area parkir, langkahnya terasa jauh lebih ringan daripada saat mereka pertama kali bertemu di halte kemarin.

"Aku jadi bersyukur," ucap Arka tiba-tiba, suaranya terdengar tulus di antara sisa-sisa suara musik taman hiburan. "Bangun dari koma terus ketemu kamu yang lagi galau cari seseorang. Walaupun aku juga lagi cari alasan kenapa aku merasa sesak setiap sore, tapi setidaknya sekarang aku nggak cari sendirian lagi."

Arunika meliriknya, ada senyum kecil yang terukir di bibirnya. "Ternyata bangun dari koma bikin kamu jadi lebih puitis ya?"

Arka menghentikan langkahnya sejenak, lalu ia berbalik menghadap Arunika. Ia membenarkan letak bando kucing di kepalanya yang masih bertengger di sana, lalu melipat kedua tangan di dada dengan gaya yang dibuat-buat seperti seorang protagonis dalam film drama.

"Mulai sekarang, anggap cowok itu aku aja," ucap Arka dengan gaya sok kerennya, meski bando kucing itu justru membuatnya terlihat sangat lucu. "Atau... jangan anggap aku pahlawan di antara dua orang itu—si Senja yang sudah meninggal atau si A yang hilang di diary-mu. Anggap saja aku Arka yang sekarang berdiri di depan kamu."

Arunika tertawa lepas mendengar kepercayaan diri pria itu. "Sok keren banget sih pakai bando kucing gitu!"

"Eh, begini-begini aku serius," lanjut Arka, tawanya mereda berganti dengan tatapan yang lebih hangat. "Kalau si A itu memang nggak datang, biar aku yang gantiin kehadirannya. Kalau si Senja itu bikin kamu sedih, biar aku yang bikin kamu ketawa. Kita bikin cerita baru saja, yang tintanya nggak bakal pudar kena air mata."

Arunika terdiam sejenak. Ia melihat kejujuran di mata Arka. Ia menyadari bahwa mungkin selama ini ia terlalu sibuk mencari "hantu" dari masa lalu sampai lupa bahwa ada seseorang yang nyata, yang punya detak jantung yang sama dengannya, sedang berusaha memberikan kebahagiaan baru.

"Janji ya? Jangan amnesia lagi kalau aku ajak main ke sini," goda Arunika sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Arka menyambut kelingking itu dengan kelingkingnya sendiri. "Janji. Kalau aku amnesia lagi, kamu tinggal tunjukin foto photobox konyol tadi buat ingetin aku."

Mereka pun berjalan keluar dari gerbang taman hiburan yang mulai meredupkan lampu-lampunya. Malam itu, untuk pertama kalinya, Arunika merasa pencariannya telah selesai, bukan karena ia menemukan jawabannya, tapi karena ia menemukan tempat untuk berhenti mencari.

Arka menarik napas panjang, menatap Arunika dengan tatapan yang tidak ingin berakhir begitu saja. Meski hari sudah gelap dan lelah mulai merayap di tubuh mereka setelah seharian berkeliling, Arka seolah tidak peduli dengan jarak atau tenaga yang tersisa.

"Aku mau antar kamu walau naik bis, aku bisa balik lagi nanti," ucap Arka mantap.

Arunika sempat terdiam, menatap wajah Arka yang masih mengenakan bando kucing itu. "Tapi Arka, rumah kita kan beda arah. Kamu bakal butuh waktu dua jam buat pulang-pergi naik bis malam begini. Kamu baru aja sembuh, lho."

Arka tertawa kecil, ia melepaskan bando kucing dari kepalanya lalu memainkannya di tangan. "Tiga tahun aku cuma tiduran, Arunika. Sekarang kakiku rasanya mau diajak jalan sejauh apa pun, asalkan tujuannya jelas. Dan malam ini, tujuannya adalah mastiin kamu sampai di depan kost dengan aman."

Ia melangkah mendahului Arunika menuju halte bis terdekat di area taman hiburan itu. "Ayo, jangan protes. Ini bagian dari gaya sok kerenku tadi, kan?" tambahnya sambil menoleh dan mengedipkan sebelah mata.

Arunika akhirnya luluh. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya—sebuah perasaan dilindungi yang selama tiga tahun ini ia rindukan. Mereka akhirnya naik ke dalam bis kota yang mulai sepi. Mereka duduk di barisan belakang, tempat di mana lampu-lampu jalanan Bandung terlihat meluncur melewati kaca jendela seperti aliran memori yang tenang.

Di dalam bis yang bergoyang pelan, kepala Arunika tanpa sadar bersandar di bahu Arka. Harum jaket Arka terasa sangat akrab, aroma yang entah kenapa membuatnya merasa tidak perlu lagi mencari siapa pun di dunia ini.

"Arka," panggil Arunika pelan.

"Ya?"

"Makasih buat hari ini. Aku... aku nggak nyangka pagi yang tadi rasanya kayak kiamat, bisa ditutup dengan naik bis sambil pakai bando bintang begini."

Arka menoleh sedikit, menyandarkan kepalanya di atas kepala Arunika. "Aku juga makasih. Karena kamu, aku jadi tahu kalau hidup setelah koma itu bukan cuma soal fisioterapi dan minum obat. Tapi soal belajar ngetik nama seseorang di daftar kontak dan pengen ketemu lagi besok pagi."

Bis terus melaju, membelah malam Bandung yang dingin. Di balik kaca jendela, bayangan mereka berdua terlihat menyatu—dua jiwa yang mungkin memang pernah terpisah oleh maut, namun kini sedang menempuh perjalanan pulang ke arah yang sama.

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!