Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
"Annette, kau tidak apa-apa ?" seru Tuan Wiles dengan wajah paniknya.
Annette hanya menggeleng dengan wajah yang datar. Tempatnya sudah dilahap api. Ia yakin ini bukan suatu kebetulan melainkan kesengajaan.
"Bagaimana bisa ruangan mu terbakar ?" tanya Tuan Wiles memegang pundak Annette dan melihat apa ada yang terluka.
"Aku tidak tau. Bukan aku yang membakar nya," jawab Annette dingin. Masih ada sisa-sisa kekesalan tadi malam saat di meja makan.
"Bagaimana ruangan Annette bisa terbakar ?" teriak Tuan Wiles pada pengawal dan pelayan yang sedang berkumpul.
"Kami tidak tau, Tuan..." jawab pelayan dan pengawal secara bersamaan setelah beberapa detik terdiam.
"Bagaimana bisa tidak tau ? Kalian berjaga di sekitar sini," sentak Tuan Wiles lagi.
"Sudahlah, Ayah. Mereka memang tidak tau," kata Annette seraya melihat lukisan yang berada di tangannya.
"Ayo kita masuk ke dalam rumah. Pelayan ambilkan Annette minum," ajak Tuan Wiles menuntun Annette ke dalam rumah dan membiarkan para pengawal menghentikan kobaran api.
..
"Nyonya, bagaimana ini. Kami takut ketahuan. Dan lagi, Nona Annette berhasil selamat," kata seorang wanita berpakaian pelayan. Di sisinya temannya hanya mengangguk dan hampir menangis.
"Bodoh. Kenapa kalian biarkan Annette bisa lolos ?" sentak Nyonya Vivian marah. Wajahnya memancarkan kemarahan dan kegelisahan. Ia yang semula merasa lemas segera bangun dari ranjang dan berjalan mondar-mandir.
"Sudah kalian tenang saja. Jangan tampakkan ketakutan kalian. Bekerjalah seperti biasanya dan jangan berbuat hal yang mencurigakan. Jika ada yang bertanya apa yang kalian lakukan saat kejadian itu, katakan saja kalian sedang memijatku di kamar. mengerti ?" kata Nyonya Vivian. Ia mencoba menenangkan hatinya sendiri.
"Iya, Nyonya. Tapi mohon lindungi kami jika nantinya kami ketahuan," kata pelayan yang tadi diam.
"Iya iya. Sekarang keluarlah aku ingin istirahat dulu," perintah Nyonya Vivian. Lalu kedua pelayan itu pergi meninggalkan kamar Nyonya Vivian dengan tubuh yang masih gemetar.
"Melindungi kalian ? Enak saja. Kalian pikir siapa kalian menyuruhku melindungi orang rendahan," gumam Nyonya Vivian kembali duduk diatas ranjang. Ia mengambil minum diatas meja dan segera menenggaknya.
"Sepertinya kau berteman akrab dengan dewa kematian, Annette. Suka sekali dia menolong mu," kata Nyonya dengan pandangan menerawang dan tangannya memainkan gelas kristal.
"Tapi kau tenang saja. Aku masih memiliki seribu satu rencana untuk mengirim mu ke neraka bersama ibumu itu," lanjut nya dengan senyum menyeramkan.
...
Leon sedang memanen kok tapi tiba-tiba tangannya tersayat pisau yang tajam hingga darah mengucur deras. Beberapa temannya menolongnya dan membalut luka di telapak tangan Leon.
"Apa kau sedang memikirkan istrimu ?" tanya Gio teman Leon yang juga suami dari Melisa.
"Tidak juga. Mungkin memang hari ini aku sedang sial saja," jawab Leon. Ia tidak percaya dengan sebuah firasat. Baginya, sesuatu yang buruk terjadi di hari itu memang bagian dari takdirnya. Sama seperti kepergian kedua orang tuanya yang tidak pernah kembali. Ia tidak merasakan firasat apa-apa tiba-tiba berita buruk itu ia dengar.
"Tapi jika sepasang suami istri yang saling mencintai, maka mereka akan terikat oleh perasaan. Dan perasaan tidak bisa dibohongi," kata Gio lagi.
Leon terdiam mendengar kata suami istri yang saling mencintai. Apa ia dan Annette termasuk di dalamnya ?
"Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan Annette," balas Leon sekaligus mengakhiri obrolan itu. Ia mulai berdiri dan melanjutkan pekerjaannya memanen kol. Gio pun sama mengikuti Leon dari belakang.
Sepanjang pekerjaannya, Leon dibuat tidak fokus pada. Ia terbayang-bayang akan ucapan Gio yang membahas tentang firasat tadi. Apa benar jika Annette sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Meskipun Leon tetap melakukan pekerjaannya tapi benaknya hanya tertuju pada Annette. Apa benar jika Annette sedang tidak baik-baik saja. Apalagi mengingat jika Nyonya Vivian terlihat membenci Annette.
Akhirnya dengan segala pertimbangan, Leon memutuskan untuk pergi ke kota dengan membawa sebagian panen hari itu untuk dijual ke pedagang di kota. Sedangkan sayuran yang akan dijual pada Tuan Wiles baru akan dipanen besar-besaran dua hari lagi. Leon meminta Gio dan beberapa orang untuk membawanya dan ia akan menunggu di rumah Tuan Wiles.
Malam itu juga Leon pergi ke kota dengan membawa sayuran yang amat banyak yang rencananya akan ia serahkan pada pedagang besar selain Tuan Wiles agar esok pagi bisa dijual di pasar kota.
Sama seperti perjalanan sebelum-sebelumnya, perjalanan Leon kali ini ditemani oleh kegelapan dan suara hewan malam. Ia sampai di depan gerbang rumah Tuan Wiles setelah menyerahkan sayuran yang dibawanya.
"Tuan Leon," sapa beberapa pengawal yang menjaga gerbang. Leon tersenyum dan mengangguk. Ia memutuskan untuk duduk dan berbincang sebentar dengan beberapa pengawal yang sedang minum itu.
Tiba-tiba matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang berbeda diujung rumah besar itu. Tepatnya di dekat gudang tempat biasa Annette menghabiskan hari-harinya. Leon tau karena setiap kali ia mengantarkan hasil panennya ke gudang, ia selalu melihat Annette yang memandangnya dari jendela kayu tua.
"Apa yang terjadi dengan ruangan itu ?" tanya Leon tegang. Perasaannya menjadi tidak karuan saat matanya melihat sebagian bangunan itu hancur dan berwarna hitam.
"Tadi siang tempat itu terbakar, Tuan. Dan Nona Annette saat itu memang ada disana.."
Tanpa menunggu pengawal itu menyelesaikan ucapannya, Leon berlari secepat kilat. Ia membuka pintu utama dengan kencang dan tergesa-gesa menuju kamar Annette. Ia tidak peduli jika ada yang terganggu dengan ulahnya itu.
"Annette..." Leon membuka pintu kamar Annette dan mendapati Annette terbaring di kamar tidurnya, diatas ranjangnya yang empuk dengan mendekap sebuah lukisan. Leon tau siapa sosok dalam lukisan itu yang tidak lain adalah Nyonya Isabela. Mertuanya yang sudah berpulang lebih dulu.
Leon mengambil lukisan itu dengan perlahan dan memindahkannya ke tempat lain. Ia amati tubuh Annette yang terbalut gaun tidur berwarna putih panjang itu. Ia perhatikan baik-baik takut bila ada luka akibat kebakaran itu.
Meskipun tidak yakin, tapi hati Leon membenarkan ucapan Gio tentang firasat antara suami istri yang saling mencintai.
"Aku memang sudah mencintaimu, Annette. Entah sejak kapan. Mungkin sejak kita menjadi suami istri," ucapnya pelan sembari mengelus pelan pipi Annette.
Tidak tahan lagi, akhirnya Leon putuskan memeluk tubuh Annette tidak peduli meskipun nantinya Annette akan terbangun.
"Leon..." suara serak Annette menambah pelukan Leon semakin erat.
"Aku tidak bisa bernafas. Kau mau membunuhku ya..." kata Annette agak kesal dan Leon segera melepaskannya.
"Tidak.. Tidak, Annette. Jangan katakan hal itu. Aku ingin kau sehat dan berumur panjang. Jangan ucapkan sesuatu yang buruk," kata Leon dengan suara seraknya. Annette bangun diikuti oleh Leon yang menyembunyikan wajahnya.
"Kau menangis ? Kenapa ?" tanya Annette bingung. Tiba-tiba saja suaminya itu ada disini di tengah malam begini dan dalam keadaan menangis pula.
"Aku dengar ruangan tempat mu melukis tadi terbakar. Apa kau terluka ?" tanya Leon yang kini berani menatap wajah Annette.
Dapat Annette lihat jika wajah Leon. Memerah apalagi dibagian hidung dan kelopak matanya. Annette mengelus wajah Leon dengan perlahan sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa, Leon. Aku tidak terluka. Aku akan berumur panjang dan menunggu mu mengatakan mencintai ku," kata Annette. Hatinya merasa haru mendengar apa yang Leon katakan.
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪