NovelToon NovelToon
Still You

Still You

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.

Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.

Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.

Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.

Still you.

Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka untuk yang Tak Pernah Bersalah

Mendung menggantung di langit tinggi seakan hujan badai siap terjun bebas.

Seolah langit pun tidak pernah lelah menjadi saksi dosa manusia.

Di dalam rumah tua keluarga Pradana, suasana mencekam.

Wiryamanta masih terduduk, tubuhnya lemah setelah mendengar kebenaran tentang Laras dan anak yang tak pernah ia tahu keberadaannya.

“Aku… membunuh anakku sendiri…” bisiknya lirih.

Surya berdiri di depannya.

Tangannya perlahan meraih sesuatu dari dalam jasnya.

Sebuah pistol.

“Tidak,” ucap Surya dingin.

“Kau membunuh dua.”

Wiryamanta menatapnya, tak melawan.

“Aku pantas mati.”

“Ya. Kau pantas.”

“Bajingan brengsek sepertimu tidak pantas menjadi ayah atau keluarga siapapun…”

Jari Surya mulai menekan pelatuk !!!

“AYAH!”

Suara itu menggema dari tangga atas yang meluncur ke bawah.

Aurora berlari menuju ayahnya.

Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetar.

Ia sudah mendengar cukup banyak dari lantai 2. Kata-kata tentang Laras. Tentang kehamilan. Tentang kematian.

Tentang kebencian.

Dan kini… tentang pembunuhan.

“Turunkan itu ayah…” suaranya bergetar.

Surya membeku.

“Ara… ini bukan urusanmu.”

“Ini urusanku!” teriaknya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

“Karena aku sudah mendengar semuanya!”

Wiryamanta mengangkat wajahnya perlahan.

Saat matanya bertemu dengan Aurora….

Jantungnya seakan berhenti.

Wajah itu.

Sorot mata itu.

Mengingatkannya lagi kepada sahabat tersayangnya….Adiyaksa!!!

Dan saat Aurora menangis, ada kelembutan Laras di sana.

Takdir memang kejam.

Pengakuan yang Tak Bisa Ditarik

Arka tiba beberapa menit kemudian.

Ia menerobos masuk, napasnya terengah.

“Apa yang terjadi??...”

Lalu ia melihat pistol di tangan Surya.

“Aurora, menjauh!” teriak arka

Namun Aurora tidak bergerak.

Matanya terpaku pada Surya.

“Kenapa…?” bisiknya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Surya kehilangan kendali ekspresi.

Ia menatap Aurora lama.

“Aku melakukannya untuk adik tersayangku…Laras.”

“Dan untuk siapa Ayah menabrak ayah kandungku, ayah Adiyaksa”

“Apakah ayahku juga sama bersalahnya seperti tuan Wirya?”

 Ruangan itu hening.

Arka membeku.

Wiryamanta tertunduk lemah.

Surya tersenyum tipis.

“Akhirnya kau mengingat malam itu??.”

Aurora terisak.

“Potongan itu… aku ingat… hujan… ayah menggendongku… lalu cahaya lampu… dan suara benturan…”

Ia memegang kepalanya.

“Yang menabraknya… Ayah…??”

Wiryamanta terbelalak.

“Adiyaksa… dibunuh…?”

Surya menghela napas pelan.

“Aku tidak berniat membunuhnya. Tapi aku juga tidak menyelamatkannya secepat yang seharusnya.”

Kalimat itu seperti palu.

Arka menatap Surya dengan kebencian yang belum pernah ada sebelumnya.

“Kau menghancurkan dua keluarga.” Suara arka menggema

Surya tertawa getir.

“Tidak. Aku hanya menghancurkan satu. Ayahmu menghancurkan yang lain lebih dulu.”

Kebenaran yang Menyakitkan

Aurora menatap kedua pria itu bergantian.

“Kalian berdua…”

Suaranya pecah.

“Kesalahan dan dendam kalian tidak ada hubungannya dengan ayahku!”

Tak ada yang menjawab.

“Ayahku… Adiyaksa tidak bersalah apa-apa!” teriaknya.

“Dia hanya sahabat! Dia hanya ingin hidup tenang!”

Air mata membasahi wajahnya.

“Aku... seharusnya masih bisa merasakan pelukan ayahku…mendengar suara ibuku… menikmati masakannya…mendengar omelannya…masa kecilku…”

“Apa salah kami??” lirih suara aurora amat pilu

Ia menatap Surya dengan tatapan sendu namun menyakitkan.

“Kenapa aku dijadikan alat?”

Lalu menoleh pada Wiryamanta.

“Kenapa semua ini dimulai karena cinta yang anda sendiri tidak bisa jaga?”

“Jika hati anda tidak siap mencintai dan setia pada satu wanita, mengapa memberikannya keindahan semu…lalu anda buang begitu saja”.

"Dan anda tidak tahu ada kehidupan kecil yang tidak tahu apa-apa dan tidak berdosa, ikut menanggung akibatnya"

Kata-katanya menghantam lebih keras dari peluru.

Arka perlahan mendekat, berdiri di samping Aurora.

 ia menggenggam tangan gadis itu, memeluknya....

Kali ini bukan karena cemburu.

Bukan karena ego.

Tapi karena merasakan kepedihannya.

Korban yang Sesungguhnya.

Surya menurunkan pistolnya perlahan.

Tatapannya pada Aurora berubah… penyesalan.

“Aku menyayangimu ara...” Suara surya pelan

“Tapi tidak lebih besar dari kebencian Ayah,” jawab Aurora lirih.

Dan itu benar.

Surya terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat akibat nyata dari dendamnya.

Bukan pada Wiryamanta.

Bukan pada dirinya.

Tapi pada gadis yang seharusnya tidak terlibat dalam apa pun.

Gadis yang kehilangan ayah dan ibunya karena ambisinya.

Gadis yang kehilangan kasih sayang orang tuanya dan masa kecil karena kebenciannya.

Gadis yang seharusnya tidak tahu tentang kematian, pengkhianatan, dan dendam.

Aurora…ahhh….Caliandra!!!

Korban yang tidak pernah bersalah.

 Wiryamanta perlahan berdiri.

Ia menatap Surya.

“Kita berdua gagal, kita berdua bajingan!!!”

Surya tidak membantah.

Arka menarik Aurora ke dalam pelukannya...

Dan Aurora menangis sejadi-jadinya....hatinya sakit sungguh sakit...

Ia lunglai seperti tak punya tenaga.

Bagaimana ia bisa memaafkan laki-laki yang telah membunuh ayahnya.

Bagaimana ia bisa membenci laki-laki yang selama ini dia sayangi yang dia kenal sebagai ayah sekaligus pahlawan dalam hidupnya, karena membawanya dari panti asuhan dan merawatnya seperti anak sendiri.

 Hujan turun tanpa permisi…derassss!!!.

Namun siang itu, bukan dendam yang paling menyakitkan.

Melainkan kesadaran bahwa dua pria dewasa dengan ego besar…

telah merenggut kehidupan seorang anak yang tak tahu apa-apa.

1
Anafiya
cerita bagus..bikin nangisss😭😭.. aku sukaaaaa....awalnyai sempat ragu utk baca karna like nya dikit.. ngak ekspek cerita sebagus itu
Agustin Hariyani: thankyou 😍🫰
total 1 replies
Azahra Wicaksono
👏👏 happy ending 🥰
Retno Isusiloningtyas
aaaaaaa.....
😭😭😭
Azahra Wicaksono
bagus banget thorr nangis aku tuh😭 kasian Aurora
Azahra Wicaksono
suka banget visualnya thorrr😍
Agustin Hariyani: terimakasih readers ku...
total 1 replies
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr👍
Azahra Wicaksono
seru bangettt thorrr, lanjutttt
Azahra Wicaksono
suka bangetttt😍
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!