Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ASING DALAM GETARAN YANG SAMA
Arka terdiam, membiarkan keheningan kamar rumah sakit menelan semua penjelasan medis Dokter Pramono. Secara fisik, ia berada di sini, di atas ranjang dengan sprei putih yang bau karbol. Namun secara batin, ia masih berdiri di puncak menara masjid bersama seorang gadis yang namanya mulai memudar seperti tinta yang terkena air.
Ditatapnya kembali pantulan wajahnya di cermin. Rahang ini, mata ini, semuanya nyata. Ini wajah Arka. Tapi jauh di dalam dadanya, ada sebuah ruang hampa yang berdenyut pedih.
"Kalau aku bukan orang bernama Senja, kenapa perasaan soal janji yang tidak terpenuhi terasa ada?" ucapnya dalam hati.
Logika dokter memang masuk akal—bahwa nama itu hanyalah sisa pendengaran dari pasien yang mati di sebelahnya. Namun, dokter tidak bisa menjelaskan kenapa ia merasa memiliki utang nyawa pada sebuah janji. Kenapa ia merasa pernah berjanji untuk bertemu di sebuah tempat saat matahari terbenam? Kenapa ia merasa pernah berjanji pada seseorang untuk "tidak akan menghilang"?
Perasaan itu terlalu solid untuk sekadar disebut halusinasi medis. Itu bukan sekadar memori yang tertinggal di sel saraf, melainkan sebuah beban yang mengendap di dalam jiwa.
Arka melirik Dokter Pramono yang sedang mencatat sesuatu di papan klip. Dokter itu melihatnya sebagai sebuah kesuksesan medis, sebuah keajaiban biologis. Ibunya melihatnya sebagai anak yang kembali dari kematian. Tidak ada satu pun dari mereka yang melihatnya sebagai pria yang merasa telah meninggalkan seseorang di tengah jalan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin."
Suara itu muncul lagi. Lembut, namun tajam. Arka meremas sprei tempat tidurnya. Kalimat itu bukan milik Senja yang asli—pria yang mati di UGD tiga tahun lalu. Kalimat itu diberikan kepadanya oleh gadis itu. Gadis yang percaya bahwa ia "ada" saat seluruh dunia menganggapnya tidak ada.
"Dokter," panggil Arka lirih.
"Ya, Arka? Ada yang terasa sakit?" tanya dokter itu dengan nada profesional.
Arka menggeleng pelan. "Apa mungkin... seseorang yang koma bisa berbagi mimpi dengan orang yang masih bangun?"
Dokter Pramono tersenyum tipis, jenis senyum yang meremehkan hal-hal yang tidak bisa diukur oleh alat medis. "Secara medis, itu mustahil. Apa yang kamu alami disebut confabulation—otakmu menciptakan narasi untuk mengisi kekosongan memori selama tiga tahun. Jangan terlalu dipikirkan, itu akan hilang seiring berjalannya waktu."
Akan hilang, pikir Arka getir.
Semua orang ingin ia melupakan "Senja". Ibunya ingin ia kembali menjadi Arka yang dulu. Dokter ingin ia pulih secara fungsional. Tapi bagi Arka, jika ia melupakan Senja sepenuhnya, ia akan mengkhianati perasaan janji yang terus berdenyut di dadanya.
Meskipun wajahnya di cermin adalah wajah Arka, dan meskipun nama Senja adalah milik orang mati, janji yang ia buat di dunia antara itu terasa lebih nyata daripada tubuhnya sendiri.
"Aku akan mencarinya," bisik Arka dalam hati, matanya menatap tajam ke arah jendela di mana langit mulai berubah warna menjadi jingga. "Bukan sebagai Senja, tapi sebagai aku. Aku harus tahu janji siapa yang sebenarnya aku bawa."
Hari kepulangan Arka dari rumah sakit menjadi momen yang penuh dengan emosi campur aduk. Bagi ibunya, ini adalah akhir dari mimpi buruk selama tiga tahun. Namun bagi Arka, melangkah keluar dari lobi rumah sakit terasa seperti berjalan di atas jembatan kaca yang rapuh. Ia memiliki tubuhnya kembali, ia memiliki namanya kembali, namun ia merasa kehilangan dunianya yang lain.
Di saat yang bersamaan, di koridor yang sama, seorang gadis berjalan dengan langkah terburu-buru. Arunika.
Arunika datang ke rumah sakit itu bukan untuk mencari "Senja", karena ia tahu sosok itu telah sirna di bawah lampu jalan Asia Afrika. Ia datang untuk mencari tahu tentang pria bernama Arka yang beritanya ia baca di surat kabar—pria yang bangun dari koma tepat di saat Senja-nya menghilang. Hatinya yang keras kepala menolak percaya bahwa semua itu hanya kebetulan.
Langkah mereka bersilangan di depan pintu geser otomatis lobi rumah sakit.
Arka berjalan perlahan, dipapah oleh ibunya. Di saat itulah, Arunika lewat tepat di sampingnya. Wangi aroma buku tua dan sabun bayi yang samar dari tubuh Arunika mendadak menyerang indra penciuman Arka. Itu bukan sekadar aroma, itu adalah pemicu yang menarik paksa satu memori yang seharusnya sudah hilang.
Arka mendadak berhenti melangkah. Dadanya bergemuruh hebat, sebuah sinyal yang begitu kuat memancar dari jantungnya, membuat napasnya tertahan di tenggorokan.
Arunika pun sempat terhenti sejenak, ia menoleh ke arah pria yang baru saja lewat. Ia melihat Arka—pria dengan wajah yang sangat asing baginya, wajah yang tidak pernah ia lihat di buku sketsanya. Karena ia tidak mengenali wajah itu, Arunika pun kembali memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah sakit, mencari informasi tentang kamar 302 yang kini sudah kosong.
Arka masih mematung, menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh dan hilang di balik kerumunan orang.
"Ibu... rasanya seperti dekat," ucap Arka tiba-tiba, suaranya bergetar.
Ibunya menghentikan langkah, menatap anaknya dengan dahi berkerut. "Apa yang dekat, Nak? Rumah kita? Sebentar lagi kita sampai, Ibu sudah siapkan taksi."
Arka menggeleng pelan. Matanya masih tertuju pada tempat di mana gadis itu tadi berdiri. "Bukan rumah... tapi sesuatu. Seseorang yang baru saja lewat... rasanya seperti aku sudah mengenalnya seumur hidupku. Rasanya seperti ada janji yang baru saja bergetar di dekatku."
"Aku tidak tahu," lanjut Arka lirih saat ibunya menatapnya dengan cemas.
Arka menyentuh dadanya. Dokter bilang perasaannya akan hilang seiring berjalannya waktu. Dokter bilang Arunika tidak pernah ada. Tapi bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada bisa membuat jantungnya terasa seperti akan meledak hanya karena sebuah aroma dan kehadiran yang sekilas?
Meskipun Arka tidak mengenali wajah Arunika dengan matanya yang sekarang, dan meskipun Arunika tidak mengenali Arka tanpa "topeng" Senja-nya, sinyal hati itu tidak bisa dibohongi oleh logika medis manapun.
"Ayo, Nak. Kamu cuma butuh istirahat di rumah," ajak ibunya lembut, menarik lengan Arka menuju mobil.
Arka masuk ke dalam mobil, namun ia terus menatap ke arah pintu rumah sakit melalui kaca jendela yang mulai berembun. Ia baru saja "kembali", namun ia merasa baru saja melewatkan satu-satunya alasan kenapa ia ingin kembali ke dunia ini.
Arunika berdiri mematung di depan meja resepsionis yang dingin dan berbau antiseptik. Ia meremas tali tasnya erat-erat, matanya yang tersembunyi di balik kacamata memancarkan kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Baginya, logika dunia sedang tidak beres. Ia melihat Senja, ia menyentuhnya, ia mendengarnya—bagaimana mungkin rumah sakit ini tidak punya catatan apa pun?
"Suster, tolong periksa sekali lagi," suara Arunika sedikit bergetar. "Pria itu namanya Senja. Dia kecelakaan tiga tahun lalu. Dia pasti ada di sini."
Suster paruh baya di balik komputer itu menghela napas sabar, jarinya kembali menari di atas keyboard. "Sudah saya cek berkali-kali, Mbak. Tidak ada pasien bernama Senja yang masuk tiga tahun lalu ataupun yang dirawat di sini. Kalaupun itu nama panggilan, data identitas aslinya tetap tidak ada yang merujuk pada nama itu."
Arunika menggelengkan kepala. "Nggak mungkin... Dia bilang dia ada di sini. Dia bilang dia terjebak..."
"Mbak," sela suster itu dengan nada lebih lembut, "tiga tahun lalu memang ada kecelakaan beruntun di daerah pusat kota. Tapi hanya ada satu pasien pria seumur itu yang bertahan dalam koma selama tiga tahun. Tapi namanya bukan Senja. Namanya Arka, dan dia baru saja pulang hari ini."
Arunika terdiam. Nama itu asing baginya. Arka.
"Apa saya bisa lihat fotonya? Atau alamatnya?" tanya Arunika cepat.
"Maaf, Mbak. Itu privasi pasien. Kami tidak bisa memberikan data sembarangan," jawab suster itu tegas.
Arunika mundur perlahan. Kepalanya terasa pening. Ia berjalan gontai menuju kursi tunggu koridor, tempat yang sama di mana beberapa menit lalu ia berpapasan dengan seorang pria yang dipapah ibunya.
Ia membuka kembali buku sketsa cokelatnya. Di halaman terakhir, sketsa wajah "Senja" itu masih ada, namun Arunika menyadari sesuatu yang menyakitkan: Wajah yang ia gambar adalah wajah pria yang ia temui di dunia antara. Jika pria itu kini sudah "bangun" dan menjadi orang lain dengan wajah yang berbeda, bagaimana ia bisa menemukannya?
"Kamu di mana, Senja?" bisiknya lirih.
Ia tidak menemukan apa pun. Tidak ada jejak nama Senja di arsip rumah sakit, tidak ada catatan medis, seolah-olah seluruh perjalanan mereka dari Braga hingga ke puncak menara hanyalah sebuah mimpi panjang yang dialami Arunika sendirian.
Namun, saat ia berdiri untuk meninggalkan rumah sakit, Arunika merasakan sebuah dorongan aneh di hatinya. Sinyal yang sama dengan yang dirasakan Arka saat di lobi tadi. Ia menatap ke arah pintu keluar, ke arah taksi yang baru saja melaju membawa Arka pergi.
"Rasanya... tadi ada sesuatu yang lewat," gumam Arunika.
Ia tidak menemukan nama Senja di buku register rumah sakit, tapi ia merasa "keberadaan" pria itu baru saja berada sangat dekat dengannya.
Langkah kaki Arunika terasa berat saat ia menyusuri trotoar menuju Halte Braga. Sore itu, langit Bandung mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan—warna yang selalu mengingatkannya pada nama pria itu. Kota ini tetap sibuk, orang-orang tetap berlalu-lalang dengan urusan mereka masing-masing, tidak ada yang menyadari bahwa ada satu jiwa yang baru saja "pulang" dan satu jiwa lagi yang tertinggal dalam pencarian.
Arunika duduk di bangku kayu halte yang sudah mulai kusam. Ia menaruh buku sketsanya di pangkuan, namun matanya terus tertuju pada pintu-pintu bus kota yang berhenti di depannya. Setiap kali pintu bus terbuka, jantungnya berdegup kencang. Ia berharap melihat sosok tinggi dengan jaket tipis itu turun, tersenyum padanya, dan berkata bahwa perpisahan semalam hanyalah candaan.
Namun, bus demi bus datang dan pergi. Penumpang berganti, tapi Senja tetap tidak ada.
"Kamu kenapa menghilang tiba-tiba?" bisiknya pada angin yang berhembus membawa aroma aspal basah. Suaranya tenggelam dalam deru mesin kendaraan.
Arunika melepas kacamatanya, membiarkan pandangannya menjadi kabur. Ia ingat, dalam kondisi "buram" seperti inilah ia sering melihat Senja lebih jelas sebagai sosok yang nyata. Ia mencoba memanggil kembali bayangan pria itu dalam pikirannya.
"Kamu bilang hati punya sinyalnya sendiri," ucapnya lagi, kali ini lebih lirih. "Tapi kenapa sinyal itu hanya membuatku sesak tanpa menunjukkan di mana kamu berada?"
Ia tidak tahu bahwa pria yang ia cari—pria yang kini bernama Arka—sedang duduk di dalam kamar rumahnya, menatap langit yang sama, merasakan debaran yang sama. Mereka hanya terpisah oleh jarak beberapa kilometer dan sebuah kenyataan pahit bahwa wajah yang satu tidak lagi dikenali oleh yang lain.
Arunika menunduk, menatap halaman kosong di bukunya. Ia mengambil pensil, tangannya bergerak tanpa sadar. Namun, bukannya menggambar wajah Senja yang ia ingat, ia malah menggambar sebuah menara kembar dengan dua sosok kecil di puncaknya.
"Kalau kamu memang sudah kembali jadi nyata," gumam Arunika, "tolong beri aku satu tanda. Jangan biarkan aku jadi satu-satunya orang yang mengingat bahwa kita pernah ada."
Tepat saat itu, sebuah bus terakhir untuk rute tersebut berhenti di depan halte. Pintunya terbuka, namun tidak ada yang turun. Hanya ada seorang kondektur yang berteriak menanyakan tujuan. Arunika menatap ke dalam bus yang kosong itu, dan untuk sesaat, ia merasa melihat bayangan samar seseorang duduk di kursi paling belakang—bayangan yang tersenyum padanya sebelum bus itu melaju kembali.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍