NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RADIASI SALTING DAN KEPULANGAN SANG IDOL

Setelah Mbak Widya pergi membawa mangkuk kosong dan aroma bubur ayam yang tertinggal, keheningan di kamar kos Aruna mendadak berubah menjadi medan magnet bertegangan tinggi. Aruna masih duduk di pinggir kasur, sementara Javi berdiri di dekat jemuran handuk, memegangi plester dinosaurus di rahangnya.

"Ujang..." panggil Aruna lirih.

"Iya, Majikan?" Javi menoleh.

Tatapannya tidak lagi sedingin es, tapi lebih mirip es mambo yang ditaruh di atas kompor gas, meleleh dan panas.

"Tadi itu... maksudnya apa ya? Kamu nggak sengaja sinkronisasi bibir karena sistem kamu rusak kan?"

Aruna mencoba mencari pembelaan logis agar jantungnya tidak meledak.

Javi melangkah mendekat. Kali ini, tidak ada rasa ragu. Dia duduk di lantai tepat di depan kaki Aruna, mendongak dengan tatapan yang bisa membuat seluruh fans LUMINOUS pingsan massal.

"Saya rasa itu bukan kerusakan sistem, Aruna. Itu adalah pencarian sinyal. Dan sepertinya... sinyalnya paling kuat ada di Anda."

Sebelum Aruna sempat membalas dengan omelan, Javi menarik pelan tengkuk Aruna. Tangan besarnya yang biasanya kaku saat memegang sikat gigi, kini terasa begitu hangat dan protektif di belakang leher Aruna. Javi memiringkan kepalanya, menutup jarak dengan gerakan yang sangat halus seolah-olah dia sedang melakukan adegan slow-motion dalam video musik termahalnya.

Ciuman kedua terjadi. Kali ini bukan lagi sekadar tempelan rasa es mambo stroberi yang ragu-ragu. Begitu bibir mereka bertemu, Javi memberikan sedikit tekanan yang menuntut, membuat napas Aruna tercekat di tenggorokan. Aruna bisa merasakan tekstur plester dinosaurus di rahang Javi yang bergesekan lembut dengan kulitnya, sementara aroma sabun mandi curah dan sisa manis stroberi bercampur menjadi satu harmoni yang memabukkan.

Dunia Aruna mendadak kehilangan gravitasi. Rasanya jauh lebih intens, jauh lebih lama, dan jauh lebih membuat dunianya serasa diputar-putar di dalam mesin cuci laundri kiloan dengan mode extra spin.

Javi sedikit memperdalam tautan itu, tangannya yang lain tanpa sadar meremas ujung daster Aruna, seolah takut jika dia melepaskannya, dia akan kembali menjadi kloningan yang sendirian di ruang hampa. Di sela-sela ciuman itu, Javi bergumam rendah suara bariton yang membuat lutut Aruna lemas dan sebelum akhirnya dia menarik diri dengan mata yang masih setengah terpejam dan napas yang memburu.

Begitu tautan itu terlepas, Aruna langsung meloncat berdiri dan bersembunyi di balik pintu lemari pakaian yang terbuka.

"UJANG! KAMU... KAMU... AH! KAMU HARUSNYA NYIKAT WC, BUKAN NYIKAT BIBIR ORANG!" teriak Aruna dari balik tumpukan baju.

Javi sendiri tidak jauh berbeda. Dia mendadak sibuk merapikan sarungnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia berjalan mondar-mandir di kamar yang sempit itu, menabrak meja gambar, menabrak galon air, dan hampir saja menabrak dinding.

"Maafkan saya, Majikan! Sepertinya radiator saya sedang mengalami overheat!"

Javi mengipas-ngipas wajahnya dengan kacamata renang.

"Kenapa ruangan ini mendadak terasa seperti di dalam penggorengan tahu bulat?!"

"Makanya jangan aneh-aneh! Sudah! Tidur! Kamu tidur di bawah, pake bantal sofa yang baunya kayak iler itu!"

Aruna melemparkan selimut dengan kasar ke arah Javi, menutupi seluruh tubuh pria itu.

"Baik! Saya akan melakukan hibernasi darurat untuk mendinginkan prosesor saya!" suara Javi terdengar teredam dari balik selimut.

Malam itu, keduanya tidur dalam kondisi salting yang akut. Aruna membelakangi Javi, menatap tembok sambil memegangi bibirnya dan tersenyum seperti orang kurang waras. Sementara di bawah sana, Javi berguling ke kiri dan ke kanan, membuat bunyi krek-krek pada tikar mendong, sambil membayangkan wajah merah tomatnya Aruna yang terlihat menggemaskan bagi Javi.

Saat Aruna akhirnya terlelap dalam mimpi tentang daster bermotif dolar, Javi tiba-tiba terbangun. Bukan karena nyamuk, tapi karena sebuah denyutan hebat di pangkal tengkoraknya.

Flash... Flash... Flash...

Lampu panggung yang menyilaukan. Teriakan nama

"JAVIER! JAVIER!".

Bau parfum mahal. Suara Manajer Han yang mengomel soal jadwal iklan sabun colek. Semua ingatan itu menghantamnya seperti truk tronton yang remnya blong.

Javi terduduk kaku. Plester dinosaurus di rahangnya terlepas separuh. Dia melihat tangannya sendiri, ini bukan tangan Ujang sang asisten rumah tangga. Ini adalah tangan Javier, pemegang mikrofon emas, pria yang setiap gerakannya bernilai miliaran rupiah.

"Saya... saya bukan kloningan," gumamnya, suaranya kembali ke nada aslinya yang berat, berwibawa, dan sangat mahal.

"Saya Javier, dan saya baru saja mencium mahasiswi yang mempekerjakan saya sebagai tukang cuci daster."

Javi menoleh ke arah Aruna yang sedang tidur mendengkur halus dengan posisi tangan memeluk guling yang sudah kempes. Hatinya mencelos. Sebagian darinya ingin tetap menjadi Ujang, hidup sederhana dengan es mambo dan daster. Tapi sebagian lagi sadar, keberadaannya di sini hanya akan membawa bahaya bagi Aruna.

Genta, media, dan fans jika mereka tahu Javier ada di sini, kosan ini akan rata dengan tanah dalam semalam.

Javi atau kini kembali menjadi Javier berdiri pelan-pelan. Dia mengambil secarik kertas sketsa Aruna dan sebuah pensil 2B yang sudah tumpul. Dia ingin menulis surat perpisahan yang puitis, tapi otaknya masih agak korslet.

Untuk Majikan Aruna,

Sistem saya sudah kembali ke pusat kendali. Saya bukan kloningan gagal, ternyata saya adalah produk premium. Terima kasih untuk es mambo dan plester dinosaurusnya. Daster pink kamboja akan selalu punya tempat di hati saya.

P.S: Tolong jangan kasih tahu polisi kalau saya yang mematahkan gagang gayung mandi kemarin.

— Ujang (Edisi Terbatas)

Javier meletakkan kertas itu di atas meja gambar. Dia memakai kembali kemeja flanelnya, topi beanie-nya, dan tentu saja, kacamata renang biru sebagai kenang-kenangan paling konyol dalam hidupnya.

Dia membuka jendela kamar kos pelan-pelan. Dia tidak bisa lewat pintu depan karena Mbak Widya pasti sedang tidur sambil memeluk megafonnya di depan TV.

"Selamat tinggal, Aruna," bisik Javier. Dia memberikan satu kecupan jarak jauh ke arah Aruna, lalu melompat keluar jendela dengan gerakan parkour yang sangat estetik, yang kalau ada kamera pasti sudah jadi konten viral.

Javier berjalan menyusuri gang sempit Jakarta di tengah malam. Dengan kacamata renang yang menggantung di leher dan sarung yang masih dia bawa karena dia merasa sarung itu adalah jimat keberuntungan, dia mencoba mencari taksi.

Masalahnya, wajahnya terlalu terkenal, tapi dandanannya terlalu gembel.

"Taksi! Taksi!"

Javier melambai di pinggir jalan raya.

Sebuah taksi berhenti. Sopirnya melihat Javier dari atas sampai bawah.

"Mau ke mana, Mas? Mau berenang malam-malam ya?" tanya sopir itu, melirik kacamata renang Javier.

"Ke kawasan Menteng. Basecamp LUMINOUS," jawab Javier dengan nada bosan khas Ice Prince.

"Menteng? Mas, ongkosnya mahal lho. Mas punya duit?"

Javier meraba sakunya, kosong. Dia lupa kalau selama jadi Ujang, gajinya hanya berupa es mambo dan kasih sayang semu. Dia baru ingat kalau dia punya HP pemberian Rian di dalam lipatan sarungnya.

"Saya punya ini,"

Javier mengeluarkan HP seharga tiga puluh juta rupiah itu.

Sopir taksi itu melongo.

"Mas... Mas ini maling ya? Pakaian gembel tapi HP-nya harga motor."

"Saya bukan maling! Saya kloningan...eh, maksud saya, saya Javier! Cepat jalan atau saya akan melakukan tarian pemanggil badai di jok belakang Anda!"

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!