melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
identitas baru
Terminal kota itu masih ramai meskipun waktu sudah larut. Orang-orang berlalu lalang dengan wajah lelah setelah perjalanan panjang.
Melda berdiri sejenak di trotoar, memandang kota yang kini menjadi awal hidup barunya.
Gedung tinggi, lampu jalan yang terang, suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Semua terasa berbeda dari kota kecil tempat ia dan Wulan dulu menjalani hidup sederhana.
Ia mengeluarkan kartu dari saku jaketnya lagi.
Alamat apartemen yang diberikan Raka.
Satu-satunya petunjuk yang ia miliki di kota ini.
Melda menarik napas panjang.
“Kalau ini permainan kalian… aku akan belajar memainkannya,” gumamnya pelan.
Ia mulai berjalan keluar dari area terminal.
Di sisi jalan, beberapa taksi menunggu penumpang. Namun Melda memilih berjalan sedikit lebih jauh untuk mencari kendaraan yang lebih murah.
Ia tidak memiliki banyak uang.
Semua tabungannya hampir habis untuk perjalanan ke kota ini.
Beberapa menit kemudian ia berhenti di sebuah halte kecil.
Sebuah bus kota lewat, tetapi rutenya tidak menuju alamat yang ada di kartu.
Melda menghela napas.
Saat itulah sebuah sepeda motor ojek berhenti di dekatnya.
“Ke mana, Mbak?” tanya pengemudinya.
Melda menunjukkan alamat di kartu itu.
Pengemudi itu mengangguk.
“Lumayan jauh. Tapi saya tahu tempatnya.”
Melda ragu beberapa detik, lalu akhirnya naik ke belakang motor itu.
Motor mulai melaju meninggalkan terminal menuju jalan raya yang lebih besar.
Lampu kendaraan memantul di aspal.
Kota itu terasa hidup bahkan di tengah malam.
Melda memegang tasnya erat.
Di kepalanya masih berputar semua yang terjadi beberapa hari terakhir.
Kematian Wulan.
Surat terakhir.
Ancaman keluarga Kusuma.
Dan sekarang…
Perjalanan menuju balas dendam.
Motor melaju cukup cepat melewati persimpangan.
Namun tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam mulai mengikuti dari jarak tidak terlalu jauh.
Di dalam mobil itu, pria yang tadi menelepon di terminal sedang mengamati mereka.
“Dia naik motor,” katanya melalui headset kecil.
Suara di seberang terdengar tenang.
“Terus awasi.”
Mobil hitam itu tetap menjaga jarak.
Motor yang membawa Melda terus melaju menuju kawasan yang lebih sepi.
Gedung-gedung mulai jarang.
Lampu jalan tidak seterang sebelumnya.
Melda mulai merasa tidak nyaman.
Ia melihat ke belakang.
Mobil hitam itu masih ada.
Namun ia tidak terlalu memikirkannya.
Mungkin hanya kebetulan.
Beberapa menit kemudian motor memasuki sebuah jalan besar dengan lalu lintas cukup padat.
Lampu merah menyala di persimpangan.
Motor berhenti di garis depan.
Melda menatap ke arah seberang jalan.
Tiba-tiba ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Mobil hitam yang tadi mengikuti mereka berhenti beberapa meter di belakang.
Mesin mobil itu tetap menyala.
Kaca gelapnya membuat Melda tidak bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Motor mulai bergerak lagi.
Namun beberapa detik kemudian sebuah truk besar muncul dari arah samping dengan kecepatan tinggi.
Pengemudi motor langsung panik.
“Pegangan, Mbak!” teriaknya.
Segalanya terjadi sangat cepat.
Suara rem yang menjerit.
Lampu kendaraan yang menyilaukan.
Lalu...
BRAKKK!
Truk itu menabrak bagian belakang motor dengan keras.
Tubuh Melda terpental ke udara.
Waktu terasa seperti berhenti.
Ia melihat jalan berputar.
Lampu kendaraan berubah menjadi kilatan cahaya yang kacau.
Kemudian tubuhnya menghantam aspal dengan keras.
Suara orang-orang berteriak terdengar samar.
Motor yang ditumpanginya tergeletak beberapa meter dari tubuhnya.
Pengemudinya tidak bergerak.
Melda mencoba bernapas.
Namun dadanya terasa seperti dihantam batu besar.
Pandangan matanya mulai kabur.
Di tengah keramaian orang yang mulai berkumpul, mobil hitam tadi berhenti di sisi jalan.
Seorang pria keluar dengan cepat.
Ia mendekati tubuh Melda yang tergeletak.
Orang-orang mengira ia hanya salah satu penolong.
Namun pria itu sebenarnya orang yang mengawasi Melda sejak tadi.
Ia berjongkok di samping Melda.
Matanya memeriksa wajah gadis itu dengan serius.
“Masih hidup,” gumamnya pelan.
Melda mencoba membuka mata.
Wajah pria itu terlihat kabur di pandangannya.
Namun ia masih bisa mendengar suaranya.
Pria itu mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
“Terjadi kecelakaan,” katanya singkat.
Suara di seberang bertanya sesuatu.
Pria itu menatap tubuh Melda yang berlumuran darah.
“Target terluka parah… tapi masih bernapas.”
Beberapa detik hening.
Kemudian pria itu berkata lagi.
“Perlu kita habisi sekarang?”
Jawaban di seberang telepon membuat pria itu terdiam beberapa detik.
Ia kemudian berkata singkat.
“Baik.”
Telepon dimatikan.
Pria itu menatap Melda lagi.
Tatapannya berubah menjadi lebih rumit.
Seolah sedang menimbang sesuatu.
Di kejauhan suara sirene ambulans mulai terdengar.
Orang-orang semakin ramai di sekitar lokasi kecelakaan.
Pria itu berdiri.
Namun sebelum pergi, ia berbisik pelan di dekat telinga Melda yang hampir tak sadar.
“Kamu beruntung.”
Melda hampir tidak bisa mendengar suaranya.
“Ada seseorang yang masih ingin kamu tetap hidup.”
Beberapa menit kemudian ambulans datang.
Petugas medis segera mengangkat tubuh Melda ke tandu.
Saat pintu ambulans tertutup, pria dari mobil hitam itu kembali masuk ke kendaraannya.
Ia menyalakan mesin dan menelepon lagi.
“Dia dibawa ke rumah sakit.”
Suara di seberang bertanya pendek.
Pria itu menjawab dengan nada tenang.
“Ya. Sesuai perintah Anda.”
Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan.
“Raka.”
Mobil hitam itu kemudian perlahan meninggalkan lokasi kecelakaan.
Sementara itu di dalam ambulans…
Melda hampir kehilangan kesadaran.
Suara petugas medis terdengar samar.
“Tekanan darah turun!”
“Cepat, pasang infus!”
Di antara rasa sakit yang menghancurkan tubuhnya, satu bayangan muncul dalam pikirannya.
Wulan.
Senyum kakaknya.
Air mata Melda mengalir di sudut matanya yang hampir tertutup.
“Kak…” bisiknya sangat pelan.
Ambulans melaju cepat menuju rumah sakit.
Lampu sirene menyala terang di jalan malam.
Tanpa Melda sadari…
Kecelakaan ini bukan sekadar nasib buruk.
Melainkan langkah pertama yang akan menyeretnya lebih dalam ke dalam permainan berbahaya keluarga Kusuma.
Dan seseorang…
Telah memastikan ia tetap hidup untuk permainan itu.
Sirene ambulans masih meraung ketika kendaraan itu berhenti di depan pintu instalasi gawat darurat.
Beberapa perawat segera mendorong tandu Melda masuk ke dalam.
“Pasien perempuan, kecelakaan lalu lintas!” teriak salah satu petugas medis.
Lampu ruang gawat darurat terasa menyilaukan bagi mata Melda yang hampir tidak bisa terbuka.
Tubuhnya terasa berat.
Dingin.
Dan setiap napas seperti menusuk dadanya sendiri.
“Tekanan darah turun!”
“Cepat, siapkan ruang operasi!”
Suara dokter dan perawat bercampur menjadi satu di telinganya.
Pandangan Melda semakin gelap.
Hal terakhir yang ia lihat hanyalah bayangan lampu putih di langit-langit rumah sakit sebelum semuanya benar-benar menghilang.
Beberapa jam kemudian.
Di ruang operasi yang dingin dan dipenuhi cahaya terang, beberapa dokter berdiri mengelilingi tubuh Melda.
Luka di wajahnya cukup parah akibat benturan keras dengan aspal.
Salah satu dokter senior menatap layar hasil pemindaian dengan serius.
“Patah tulang pipi. Retakan di rahang. Jaringan wajah rusak cukup luas,” katanya pelan.
Seorang dokter lain menghela napas.
“Kalau hanya diperbaiki biasa, wajahnya tidak akan kembali seperti semula.”
Dokter senior itu diam beberapa detik.
Kemudian berkata perlahan.
“Kita tidak punya pilihan lain. Kita harus melakukan rekonstruksi penuh.”
Operasi itu tidak hanya menyelamatkan hidup Melda.
Namun juga akan mengubah wajahnya selamanya.
Keesokan paginya.
Di sebuah ruangan rumah sakit yang tenang, seorang pria duduk di kursi dekat jendela.
Raka.
Tatapannya serius saat membaca laporan medis yang baru saja diberikan kepadanya.
Laporan kondisi Melda.
Ia membaca bagian tentang operasi rekonstruksi wajah.
Perlahan ia menutup berkas itu.
“Jadi begini akhirnya…” gumamnya.
Pintu ruangan diketuk pelan.
Dokter yang menangani operasi Melda masuk.
“Operasinya berhasil,” katanya.
Raka menoleh.
“Dia selamat?”
Dokter mengangguk.
“Ya. Tapi wajahnya mengalami kerusakan cukup parah saat kecelakaan.”
Raka sudah menduga hal itu.
Namun kalimat berikutnya membuatnya sedikit terdiam.
“Kami melakukan rekonstruksi wajah.”
Raka menatap dokter itu.
“Maksud Anda…?”
Dokter menjawab dengan tenang.
“Wajahnya tidak akan sama seperti sebelumnya.”
Ruangan menjadi hening beberapa detik.
Namun Raka justru tersenyum tipis.
Senyum yang sulit ditebak.
“Kadang takdir bekerja dengan cara yang menarik,” katanya pelan.
Dokter itu mengerutkan kening.
Raka berdiri dari kursinya.
“Pastikan hanya Anda dan tim operasi yang tahu soal perubahan wajahnya.”
Dokter terlihat ragu.
“Kenapa?”
Raka menatap jendela.
Gedung-gedung kota terlihat dari kejauhan.
“Karena mulai hari ini,” katanya pelan.
“Melda tidak boleh dikenali oleh siapa pun.”
Dua hari kemudian.
Melda akhirnya sadar.
Ia membuka mata perlahan.
Ruangan terasa sunyi.
Hanya suara mesin monitor yang terdengar pelan di samping tempat tidurnya.
Tubuhnya terasa sakit di banyak bagian.
Namun yang paling terasa adalah wajahnya.
Seperti ditarik oleh sesuatu.
Ia mencoba mengangkat tangan, tetapi infus dan perban membuat gerakannya terbatas.
Pintu ruangan terbuka pelan.
Seorang dokter masuk bersama seorang perawat.
“Syukurlah kamu sudah sadar,” kata dokter itu.
Melda mencoba berbicara.
Namun suaranya serak.
“A… aku…”
Dokter itu mendekat.
“Kamu mengalami kecelakaan serius.”
Melda mengingat semuanya.
Motor.
Truk.
Benturan keras.
Ia langsung mencoba menyentuh wajahnya.
Namun tangannya berhenti ketika merasakan perban tebal yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya.
Matanya melebar.
“Apa… yang terjadi…?”
Dokter itu menatapnya dengan tenang.
“Kami harus melakukan operasi besar untuk menyelamatkanmu.”
Melda menelan ludah.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
“Wajahmu mengalami kerusakan cukup parah,” lanjut dokter itu.
“Jadi kami melakukan rekonstruksi.”
Ruangan terasa sangat sunyi setelah kalimat itu.
Melda hanya menatap langit-langit kamar rumah sakit.
Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya.
“Apakah… wajahku… hancur…?” bisiknya pelan.
Dokter itu menggeleng.
“Tidak.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Namun wajahmu… tidak akan sama seperti sebelumnya.”
Kalimat itu terasa berat.
Namun anehnya Melda tidak panik.
Ia hanya menutup mata beberapa detik.
Bayangan Wulan muncul lagi di pikirannya.
Ancaman keluarga Kusuma.
Surat terakhir kakaknya.
Perlahan Melda membuka mata kembali.
Tatapannya berubah.
Lebih tenang.
Lebih dingin.
“Mungkin… ini justru bagus,” katanya pelan.
Dokter terlihat sedikit terkejut.
“Bagus?”
Melda menatap jendela kamar.
Jika wajahnya berubah…
Maka tidak ada yang akan mengenalinya lagi.
Keluarga Kusuma tidak akan tahu siapa dia sebenarnya.
Dan ia bisa bergerak tanpa diketahui.
Melda tersenyum sangat tipis.
Senyum yang berbeda dari sebelumnya.
“Mulai hari ini,” bisiknya.
“Aku bukan lagi Melda yang dulu.”
Dokter itu menatapnya dengan perasaan aneh.
Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran gadis ini.
Namun satu hal terasa jelas.
Tatapan Melda sekarang berbeda.
Lebih tajam.
Lebih berbahaya.
Beberapa hari kemudian, perban di wajah Melda akhirnya dibuka.
Dokter berdiri di depan cermin besar.
“Siap?” tanyanya pelan.
Melda mengangguk.
Perban terakhir dilepas perlahan.
Kemudian ia menatap cermin di depannya.
Seorang wanita asing menatap balik dari pantulan kaca.
Wajah yang lebih tegas.
Garis rahang yang berbeda.
Mata yang terlihat lebih tajam.
Bahkan bentuk bibirnya tidak lagi sama.
Melda menyentuh pipinya perlahan.
Ia tidak terlihat seperti gadis yang dulu menjaga kedai kecil bersama Wulan.
Ia terlihat seperti orang lain.
Benar-benar orang lain.
Dokter memperhatikannya dengan hati-hati.
“Bagaimana perasaanmu?”
Melda masih menatap bayangan dirinya di cermin.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia berkata pelan.
“Ini sempurna.”
Dokter terdiam.
Melda tersenyum tipis pada pantulan dirinya sendiri.
Mulai hari ini…
Tidak ada yang akan tahu siapa dia sebenarnya.
Tidak ada yang akan mengenali wajah lama Melda.
Tidak ada yang tahu bahwa gadis yang dulu hidup sederhana…
Sekarang telah terlahir kembali dengan wajah baru.
Hanya dua orang yang mengetahui rahasia itu.
Dokter yang melakukan operasi.
Dan Melda sendiri.
Sementara itu, jauh di kantor mewah keluarga Kusuma…
Surya Kusuma menerima laporan dari salah satu anak buahnya.
“Perempuan itu selamat dari kecelakaan.”
Surya menyesap minumannya dengan tenang.
“Lalu?”
“Dia masih dirawat di rumah sakit.”
Surya tersenyum tipis.
“Tidak masalah.”
Ia meletakkan gelasnya.
“Seorang gadis kecil tidak akan mampu melakukan apa pun pada keluarga kita.”
Namun Surya tidak tahu satu hal.
Perempuan yang ia anggap lemah itu…
Tidak lagi memiliki wajah yang sama.
Dan ketika Melda keluar dari rumah sakit nanti…
Perang yang sebenarnya baru saja akan dimulai.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.