NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 5

Ponsel Elvan bergetar di atas meja kaca ruang rapat.

Ia melirik layar.

Ibu.

Alis Elvan langsung berkerut. Biasanya ibunya jarang menelepon saat jam kerja, kecuali kalau memang penting. Dengan sedikit ragu, ia berdiri dari kursinya.

“Maaf, saya izin keluar sebentar,” katanya singkat pada timnya.

Begitu pintu tertutup, Elvan mengangkat telepon.

“Iya, Bu?”

“Van, kamu bisa jemput Albian sepulang sekolah hari ini? Ibu lagi ada urusan mendadak. Dia baru pindah sekolah, belum hafal jalan.”

Elvan menghela napas pelan. Jadwalnya hari ini padat, tapi suara ibunya terdengar benar-benar butuh bantuan.

“Iya, Bu. Aku usahain.”

Telepon ditutup. Elvan berdiri sebentar di koridor, menatap lantai. Kepalanya sudah penuh angka, presentasi, dan tenggat waktu. Sekarang ditambah satu misi lagi: jemput adiknya yang baru pindah sekolah.

Ia kembali ke ruangannya dan menoleh pada pria yang sedang merapikan berkas.

“Kenzo,” panggilnya.

Kenzo, asistennya yang selalu rapi dan kalem, langsung menoleh.

“Iya, Pak Elvan?”

“Temenin aku jemput adik. Habis ini kita langsung ke sekolahnya.”

Kenzo mengangguk tanpa banyak tanya. “Siap, Pak.”

Mobil melaju keluar dari area kantor. Suasana di dalam mobil cenderung hening, hanya diisi suara mesin dan klakson samar dari luar.

“Elvan…” Kenzo tiba-tiba bersuara.

“Hm?”

“Kebetulan… sekolah adik kamu itu… sekolahnya adek aku juga.”

Elvan melirik sekilas. “Serius?”

“Iya. Gak papa kan sekalian aku jemput ”

“ Okey gak masalah ?” tanya Elvan datar.

Kenzo terdiam sebentar. “ Soal kemarin...”

" Gak usah dibahas " balas cepat elvan

***

Gerbang sekolah terlihat ramai. Anak-anak berseragam keluar berkelompok, ada yang tertawa, ada yang ribut, ada juga yang sibuk main ponsel.

Elvan turun dari mobil. Matanya langsung mencari sosok Albian.

Namun sebelum menemukan adiknya, pandangannya justru tertarik pada satu pemandangan di dekat pagar sekolah.

Seorang gadis berdiri dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya dikuncir tinggi, seragamnya agak berantakan, dan ekspresinya… galak.

“ bayu! stop aku mau pulang ” bentak dira pada Bayu yang terus menjahilinya.

Ya. yang dilihat elvan adalah dira yang sedang mengomel pada temannya

“Marah....nihh” goda Bayu

Kenzo menutup mata sebentar.

“Itu…” katanya lirih, “Astaga dira ..”

Elvan mengangkat alis. “Yang bar-bar itu?”

Kenzo mengangguk pasrah. “Dira.”

Seolah mendengar namanya, gadis itu menoleh. Tatapannya langsung bertabrakan dengan mata Elvan.

Dira menatap Elvan dari ujung kepala sampai kaki.

“Loh omm.. kok disini ?” tanyanya ketus.

Elvan, yang jarang ditegur dengan nada seperti itu, justru tersenyum tipis.

“ Jemput adek ”

“Wah ternyata adek om sekolah disini juga ?”

Elvan hanya melirik sebentar.

Kenzo cepat-cepat maju. “Dir, . Bos abang. yang sopan ”

Dira mendengus. “Oh. Habisnya om nya dingin banget ”

Elvan menahan kesal. Dari kemarin gadis ini memanggilnya om . Kepolosan dan kejujuran dira bikin elvan tertarik

Dalam hatinya cuma satu kalimat muncul:

Menarik.

Di saat yang sama, dari balik kerumunan murid, seorang cowok berwajah polos melambai kecil.

“Kak Elvaaan!”

Elvan hanya menoleh tanpa tersenyum.

“Ayo ,masuk .”

" Jadi dia beneran kakak kamu " tanya dira menahan langkah albian .

" Iyaa " balas albian seadanya

"Cih.. kalian kok tahan sih" dira tak tahu bahwa percakapannya dengan albian membuat seseorang yang tadi sudah duduk di kursi penumpang menahan kesal.

Elvan.

" Tahan apa?" tanya albian yang belum sadar tatapan dingin kakaknya .

" Tahan ngomong di—" ucapan dira terpotong

" Mau sampai kapan kalian disana ?" tanya dingin elvan.

Kenzo menghela napas sebentar.

" Dir , ayoo masuk "

Dira hanya tersenyum kaku" iya bang" yang kemudian ikut masuk duduk di kursi samping kakaknya....

“Bang Kenzooo! Lama banget! Aku hampir jadi ikon penunggu gerbang!”

Kenzo turun duluan. “Drama kamu konsisten, Dir. Pasang sabuk , buruan.”

Dira melirik kursi belakang dari spion..

Dira langsung bisik ke Kenzo, “Bang … itu bos lagi marah ya ,dingin banget . Yang kayak kulkas showroom.”

Kenzo menahan senyum. “Sopan dikit.”

Mobil jalan.

Dira mulai goyangin kaki, bunyiin resleting tas, lalu ngintip-ngintip ke spion.

“Om ,” katanya tiba-tiba, " Om kalau naik mobil suka mikirin kerjaan ya?”

Elvan menatap jalanan. “Kenapa ?.”

“Capek dong.” Dira manggut-manggut. “Kalau capek, Aku biasanya ngemil. Bang , ada snack nggak?”

Kenzo mengeluarkan biskuit dari tas. “Ini. Tapi jangan remah-remah di mobil orang.”

Dira langsung buka bungkus. Krek!

“Eh Om , mau?” tanyanya polos sambil nyodorin biskuit.

Elvan melirik biskuit itu sejenak. “Terima kasih. Tidak.”

“Oh, iya. Lupa. Bos dingin kan nggak makan remah-remah,” gumam Dira.

Kenzo mencubit ringan lengan Dira. “Dira…”

Alis Elvan naik tipis. “Saya makan. Cuma… habis meeting.”

Dira berhenti ngunyah. “Oh. Kirain Om hidup dari kopi pahit doang.”

Mobil sunyi dua detik.

Alis Kenzo naik, siap-siap minta maaf.

Elvan justru berkata, “Kadang iya.”

Albian—yang duduk di depan—nyengir, nahan ketawa. “Valid.”

Dira langsung semangat lagi. “Nah kan! Berarti Om manusia. Bukan robot kantor.”

Kenzo geleng-geleng. “Kamu ini…”

Dira makin ribut.

“Eh Om , AC-nya dingin banget. Ini mobil atau kulkas berjalan?”

“Eh Bang , lampu depan mobil orang cakep ya.”

“Eh, eh—kalau CEO jatuh cinta, meeting-nya batal nggak sih?”

Kenzo langsung panik. “DIRA!”

Elvan terdiam sebentar. “Meeting tidak batal karena jatuh cinta.”

“Oh,” Dira nyengir. “Berarti cintanya di-schedule.”

Untuk pertama kalinya sore itu, Elvan menghela napas sambil hampir—hampir—ketawa. Jauh lebih berwarna dari hari-hari sebelumnya.

“Kalau semua karyawan seperti kamu,” katanya pelan, “kantor saya berubah jadi studio komedi.”

Dira bangga. “Aku siap magang jadi penghibur kantor, Om.”

Kenzo nutup wajah. Albian ngakak.

Mobil CEO hari itu resmi berubah jadi kendaraan paling berisik di jam pulang sekolah.

Bersambung......

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!