"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: DI ANTARA ABU DAN ASAP
Para penjaga berlarian tanpa arah di antara abu dan asap, berteriak satu sama lain dengan wajah pucat. Ada yang bersumpah melihat lelaki bertopeng Barong berdiri di balik api, ada yang mengaku dikejar bayangan bercakar, ada pula yang gemetar sambil berulang kali berkata bahwa mata Barong itu menatapnya—dekat, terlalu dekat.
Pagi datang dengan langkah gugup.
Matahari terbit lambat, seperti takut melihat apa yang ditinggalkan malam. Tapi cahayanya tetap memaksa—menyinari puing-puing gudang yang masih mengepulkan asap tipis. Bau hangus menyengat. Arang. Kayu terbakar. Dan sesuatu yang lebih berat: daging.
Tiga gudang VOC—ludes. Yang tersisa hanya rangka hitam yang masih berdiri miring, siap roboh kapan saja.
Di halaman depan, para penjaga berlarian tanpa arah.
"Api dari dalam!" teriak seorang serdadu. Bajunya kotor, wajahnya hitam oleh jelaga. "Harusnya dari dalam! Itu bukan kecelakaan!"
"Dia muncul!" sela yang lain, matanya membelalak liar. "Dari balik api! Aku lihat sendiri—topeng! Topeng Barong!"
"Kau mabok!" bentak yang ketiga. "Masih mabok! Itu cuma asap—"
"Aku tidak mabok!" Laki-laki itu meraih kerah temannya. Wajahnya pucat pasi. "Dia berdiri di sana—di tengah api—dan menatapku! Matanya... matanya merah!"
Mereka saling berteriak. Saling menuduh. Saling menyalahkan.
Seorang penjaga tua duduk di tanah, tidak bergerak. Matanya kosong. Tangannya gemetar. Bibirnya bergerak-gerak, mengulang kata yang sama berulang kali:
"Dekat... terlalu dekat... matanya menatapku... dekat..."
Tidak ada yang bisa menenangkannya.
Cerita-cerita itu menyebar lebih cepat daripada api semalam. Dari mulut ke mulut. Dari penjaga ke mandor. Dari mandor ke pengawas. Bahwa bukan manusia yang datang tadi malam. Bahwa itu Barong. Roh penjaga yang marah. Makhluk bertopeng dengan taring dan mata merah yang melintas tanpa suara di antara kobaran api.
Ketakutan sudah tertanam. Tidak bisa dibantah.
---
Di kantor VOC, suasana berbeda—tapi sama panasnya.
Meja kayu jati dibanting. Kertas-kertas beterbangan. Laki-laki Belanda dengan rambut merah dan kumis tebal—Tuan Van der Berg—berdiri di depan jendela, punggungnya menghadap, tapi kemarahannya terasa sampai ke dinding.
Datuk Sulaiman berdiri di depan meja. Tangannya di samping badan, menggenggam erat. Wajahnya pucat. Matanya menunduk.
Van der Berg berbalik. Wajahnya merah. Matanya menyala.
"U bent onbekwaam, Sulaiman!"
Kau tidak becus, Sulaiman!
Ia melangkah maju. Sekarang berdiri tepat di depan Sulaiman. Napasnya bau kopi dan amarah.
"Drie pakhuizen! Drie! Alles weg!"
Tiga gudang! Tiga! Semua habis!
Tangannya membanting meja lagi. Kertas beterbangan.
"Dit is jouw schuld! Jouw nalatigheid!"
Ini salahmu! Kelalaianmu!
Sulaiman diam. Tidak bergerak.
Van der Berg menunjuk wajahnya dengan telunjuk gemetar.
"Vind de daders!"
Temukan pelakunya!
Ia menjeda. Matanya menyipit. Ancaman keluar pelan—tapi lebih mengerikan dari teriakan.
"Vind ze... of u betaalt onze verliezen."
Temukan mereka... atau kau bayar kerugian kami.
Sulaiman mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, ada reaksi di matanya. Bukan takut. Tapi kaget.
"Tuan... kerugian itu..."
"Duizend gulden. Mungkin lebih." Van der Berg tersenyum dingin. "Kau punya uang sebanyak itu, Sulaiman? Rumahmu? Kebunmu? Istri-istrimu?"
Sulaiman membeku.
Van der Berg mendekat. Berbisik, pelan.
"Kau tahu apa yang terjadi pada orang yang berhutang pada VOC, Sulaiman? Mereka kehilangan segalanya. Keluarga. Harga diri. Kadang..." Ia menjeda. "...nyawa."
Ia berbalik, berjalan ke jendela. Membuang napas kasar.
"Ga weg. Nu."
Pergi. Sekarang.
Sulaiman keluar. Pintu tertutup keras di belakangnya.
Ia berdiri di koridor, merasakan dinding bergoyang. Ancaman itu masih bergema di kepala. Vind de daders... of u betaalt onze verliezen.
Temukan pelakunya... atau kau bayar kerugian kami.
Seribu gulden. Lebih dari semua tabungannya. Lebih dari harga rumahnya. Lebih dari apa pun yang ia miliki.
Dan satu hal yang paling menyakitkan: ia tidak punya satu pun petunjuk nyata.
---
Malam turun.
Di gudang Datuk Maringgih, lampu minyak dinyalakan redup. Tidak boleh terlalu terang—bisa menarik perhatian. Tapi cukup untuk melihat wajah-wajah yang datang satu per satu.
Tujuh orang pertama tiba terengah-engah. Mereka masuk lewat pintu belakang, langsung duduk di lantai, mengambil napas.
"Patroli... hampir kejar kami," bisik salah satu. "Kami sembunyi di parit selama sejam."
Empat orang menyusul. Mereka bercerita tentang lompatan ke sungai, tentang sembunyi di balik batu besar, tentang suara anjing yang nyaris menemukan jejak.
Enam orang datang paling lama. Mereka berjalan memutar—melewati kebun, melewati kampung seberang, melewati hutan bambu yang lebat.
"Kami lihat patroli," kata salah satu. "Dua kali. Mereka cari ke arah timur. Kami ke barat."
Datuk Maringgih menghitung. Tujuh belas. Dua puluh satu. Dua puluh tujuh.
Ia gelisah. Matanya terus menatap pintu.
"Sisanya?" tanyanya.
Tidak ada yang bisa jawab.
Waktu berjalan lambat. Lampu minyak mulai redup. Maringgih hampir suruh mereka bubar—mungkin sisanya tertangkap, mungkin—
Pintu terbuka.
Tiga lelaki masuk. Lalu dua. Lalu satu.
Dullah yang terakhir. Ia tersenyum lelah di balik keringat dan debu.
"Tiga puluh, Tuan." Suaranya serak. "Lengkap."
Maringgih menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya hari ini, bahunya turun sedikit.
"Syukur."
Tiga puluh lelaki duduk melingkar. Sunyi. Napas mereka mulai genap. Tidak ada yang bicara—tidak perlu. Cukup saling lihat, saling hitung, saling pastikan bahwa mereka masih hidup.
Maringgih berdiri di tengah.
"Malam ini kita selamat," bisiknya. "Tapi besok... kita harus lebih hati-hati. VOC pasti marah besar. Mereka akan cari."
Dullah mengangguk. "Kita siap, Tuan."
"Siap atau tidak, kita harus lakukan satu hal lagi malam ini."
---
Di halaman belakang gudang, api kecil dinyalakan.
Bukan api besar—cukup untuk membakar. Satu per satu, topeng Barong kayu tua dilemparkan ke dalam api.
Topeng dengan cat pudar. Dengan bulu kusam. Dengan taring yang menjulur. Wajah-wajah yang semalam menjadi teror, sekarang menjadi abu.
Api menjilat kayu. Bulu menyala sekejap—deras, lalu padam. Kain hitam menyusul, mengerut, lalu lenyap. Ikat kepala. Tali. Sandal. Semua yang bisa menjadi bukti.
Tiga puluh lelaki berdiri melingkar, menonton barang bukti mereka musnah. Tidak ada yang bicara.
Petani tua mengambil tongkat, mengaduk abu. Memastikan tidak ada yang tersisa—tidak ada bentuk, tidak ada pola, tidak ada apa pun yang bisa dikenali.
Abu itu kemudian disebar ke sungai kecil di belakang.
"Tak ada lagi," bisik petani tua. "Tak akan ketahuan."
Maringgih mengangguk. Tapi di matanya, ada beban. Api ini menghanguskan bukti—tapi tidak menghanguskan ingatan. Tidak menghanguskan apa yang mereka lakukan.
---
Di dalam gudang, karung-karung rempah ditumpuk rapi.
Tiga puluh karung cengkih. Dua puluh karung pala. Sepuluh karung lada. Cukup untuk membuat petani bertahan berbulan-bulan.
Tapi tidak bisa dibagi sekaligus.
"Aturannya," Maringgih memulai, suaranya pelan tapi tegas. "Kita simpan di sini. Pintu akan selalu dikunci. Hanya aku yang pegang kunci."
Mereka mengangguk.
"Setiap hari, beberapa karung akan keluar. Sedikit-sedikit. Dullah yang akan atur siapa dapat berapa. Jangan ada yang serakah. Jangan ada yang ambil lebih."
"Kenapa tidak dibagi sekarang, Tuan?" tanya laki-laki muda dengan parang.
"Karena kalau dibagi sekarang, kalian bawa pulang banyak. Tetangga lihat. Tetangga tanya. Dari mana? Lalu curiga. Lalu kabar sampai ke VOC." Maringgih menatapnya tajam. "Kita main panjang. Bukan main cepat."
Laki-laki itu menunduk. Mengerti.
Dullah menambahkan, "Kita bagi sedikit-sedikit. Tapi cukup. Cukup buat anak kalian makan. Cukup buat istri kalian tidak menangis. Berbulan-bulan. Sampai musim panen berikutnya."
Petani tua tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam hitungan minggu, senyum itu sampai ke matanya.
"Terima kasih, Tuan."
Tiga puluh lelaki itu mengucap syukur dalam hati. Tidak dengan suara—tapi dengan mata. Mata yang semalam kosong, sekarang mulai terisi harapan.
---
Di kantor VOC, malam juga turun—tapi tidak membawa kedamaian.
Seorang pengawas duduk di meja, lampu minyak di samping. Di depannya, tumpukan laporan. Laporan dari penjaga. Laporan dari mandor. Laporan dari saksi-saksi yang melihat api.
Semua kacau. Semua saling bertabrakan.
Satu bilang api dari dalam. Satu bilang ada orang asing. Satu lagi bilang tidak lihat apa-apa, cuma dengar suara aneh.
Tapi satu hal yang sama: topeng.
Topeng Barong.
Pengawas itu membaca laporan demi laporan. Kata "Barong" muncul berulang kali. Dari mulut penjaga yang pingsan. Dari mulut mandor yang gemetar. Dari mulut serdadu yang mengaku melihat bayangan bercakar.
Ia mengambil pena. Mencatat kesimpulan di pinggir laporan.
Hanya satu kata.
Barong.
Ia menatap kata itu lama. Lalu menutup laporan. Lampu minyak dimatikan.
Tapi kata itu tetap hidup di gelap.
---
[Bersambung...]
---