Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Orang yang mencari
Beberapa ratus meter dari kompleks rumah Langit sebuah mobil SUV hitam terparkir. Seorang pria di dalamnya mengenakan Setelan jas hitam tampak sedang membuka catatan di ponselnya.
“Oke, Pak Langit, mari kita lihat apa yang sedang Anda sembunyikan,” gumam pria itu.
Pria yang bernama Pram ini merupakan orang suruhan Pak Rama Wicaksana yang beberapa hari lalu diperintahkan untuk menyelidiki Langit. Hasil penyelidikannya menyatakan Langit sudah sebulan ini tidak terlihat di apartemennya. Setelah diselidiki lebih lanjut diketahui jika Langit telah membeli rumah di kompleks ini.
Pram menyalakan mesin mobilnya lagi lalu memasuki kompleks dengan perlahan.
🥀🥀🥀🥀🥀
Pagi di kompleks itu berjalan seperti biasa.
Beberapa ibu rumah tangga sudah berada di depan rumah masing-masing. Ada yang menyapu halaman, ada yang menyiram tanaman, ada juga yang sekadar duduk di kursi plastik sambil mengobrol.
Nama Ishani kembali menjadi topik yang tidak diucapkan terang-terangan, tapi tetap hadir di antara bisikan mereka.
“Dia keluar lagi tadi pagi.”
“Iya. Aku lihat.”
“Perutnya sudah besar sekali.”
“Kalau memang istrinya Pak Langit kenapa tidak pernah ada acara apa-apa?”
“Entahlah…”
Di ujung jalan, sebuah mobil hitam berhenti pelan. Mobil itu tidak dikenal oleh siapa pun di kompleks itu. Pram turun dari kursi depan. Tingginya sedang, mengenakan kemeja rapi dengan jaket tipis. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya memperhatikan sekitar dengan sangat teliti.
Ia berjalan perlahan menyusuri gang itu, seolah hanya orang biasa yang sedang mencari alamat. Namun setiap rumah ia perhatikan. Setiap wajah yang lewat ia amati. Ketika melihat sekelompok ibu di depan rumah, Pram berhenti.
“Permisi, Bu.”
Para ibu itu menoleh hampir bersamaan.
“Iya, Mas?”
“Saya mau tanya sedikit.”
Salah satu dari mereka tersenyum ramah. “Cari rumah siapa?”
Pram mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah foto. Foto Langit. “Ini rumah Pak Langit Wicaksana di mana ya?”
Para ibu itu langsung saling menatap.
“Oh… Pak Langit.” Yang paling tua di antara mereka menunjuk ke arah ujung jalan. “Itu rumah yang pagar hitam.”
Pram mengikuti arah yang ditunjuk.
Rumah itu terlihat lebih besar dari yang lain.
“Beliau tinggal sendiri di situ?” tanya Pram santai.
Beberapa ibu langsung terlihat ragu.
“Dulu sih iya…”
“Tapi sekarang?”
Salah satu dari mereka menurunkan suaranya sedikit. “Sekarang ada perempuan.”
Pram terlihat seperti hanya penasaran biasa. “Oh ya?”
“Iya.”
“Saudaranya?”
Para ibu itu saling menatap lagi.
“Bukan.”
“Katanya calon istrinya.”
Pram mengangguk pelan.
“Calon istri?”
“Iya.”
“Tapi dia sedang hamil,” sambung ibu yang lain. “Perutnya sudah besar sekali.”
Pram tetap memasang wajah netral. “Oh begitu.”
“Mas ini siapa ya?” tanya salah satu ibu tiba-tiba.
“Saya dari kantor Pak Langit,” jawab Pram tanpa ragu.
“Oh…”
Para ibu itu langsung terlihat sedikit kikuk.
“Saya hanya memastikan alamat saja,” lanjut Pram. “Terima kasih ya, Bu.”
Pram berjalan menjauh dari mereka, melangkah menuju rumah Langit. Ia berdiri persis di depan pagar, memegang ponsel di tangannya.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka sedikit. Seseorang keluar. Seorang perempuan. Langkahnya pelan. Tangannya menahan perutnya yang besar.
Pram langsung menatapnya dengan tajam. Hamil. Para ibu tadi tidak berbohong. Ia mengangkat ponselnya dengan gerakan yang sangat natural.
Klik.
Satu foto.
Ishani tidak menyadari apa pun. Ia hanya berdiri sebentar di teras, menghirup udara pagi, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Pram menurunkan ponselnya. Matanya menyipit sedikit. “Menarik…”
Ia membuka galeri ponselnya. Foto itu terlihat jelas. Perempuan hamil yang tinggal di rumah Langit. Pram tidak tahu siapa perempuan itu. Namun ia tahu satu hal. Pak Rama pasti ingin melihat ini.
Ia kembali ke mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. Mesin mobil dinyalakan. Namun sebelum pergi, ia sekali lagi menatap rumah itu melalui kaca depan. “Jadi ini yang kamu sembunyikan, Pak Langit…”
Mobil itu akhirnya perlahan meninggalkan kompleks.
🥀🥀🥀🥀🥀
Beberapa jam kemudian, di kantor pusat Wicaksana corp. Pak Rama duduk di ruangannya.
Pintu diketuk.
“Masuk.”
Pram masuk dengan langkah tenang.
“Sudah?” tanya Pak Rama langsung.
“Sudah, Pak.”
Pram mendekat dan meletakkan ponselnya di meja. “Saya menemukan tempat tinggal Pak Langit.”
Pak Rama menatapnya tajam. “Di mana?”
“Sebuah kompleks perumahan kecil. Tidak jauh dari pusat kota.”
“Dia tinggal sendiri?”
Pram tidak langsung menjawab. Ia membuka foto di layar ponsel. Lalu memutarnya menghadap Pak Rama.
Pak Rama melihat foto itu.
Seorang perempuan berdiri di teras rumah. Ia mengenali rumah itu. Seketika tubuhnya membeku.
Jadi dia membeli rumah itu dan sekarang tinggal di sana, gumamnya dalam hati. Untuk apa?
Pak Rama mengernyitkan dahi sebelum fokus kembali pada wanita yang ada dalam foto. Perutnya besar. Jelas sedang hamil.
Wajah Pak Rama perlahan berubah. “Siapa dia?”
“Saya belum tahu, Pak,” jawab Pram cepat. “Tapi para tetangga mengatakan perempuan itu tinggal di rumah Pak Langit.”
Pak Rama menatap foto itu lama. “Dan?”
“Mereka juga bilang… dia calon istri Pak Langit.”
Tangan Pak Rama perlahan mengepal di atas meja. “Calon istri?”
“Iya, Pak.”
“Dan dia hamil.”
Pram mengangguk pelan. “Sepertinya begitu.”
Pak Rama menatap foto itu lagi. Tatapannya menjadi sangat dingin. “Langit…” gumamnya pelan.
Ia menaruh ponsel itu kembali di meja. “Cari tahu siapa perempuan itu.”
“Baik, Pak.”
“Nama. Keluarga. Semua.”
Pram mengangguk. “Dan satu hal lagi,” kata Pak Rama.
“Iya, Pak?”
“Pastikan anak yang dikandungnya…” Pak Rama berhenti sejenak. Matanya kembali menatap foto itu. “…benar-benar anak Langit.”
Di rumah kecil di ujung kompleks itu, Ishani sedang melipat pakaian bayi kecil dengan hati-hati. Ia sama sekali tidak tahu.
Bahwa seseorang baru saja memotret dirinya. Dan bahwa mulai hari ini, hidupnya telah masuk ke dalam penyelidikan seorang pria yang sangat berkuasa.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!