NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LAMARAN YANG MENYESAKKAN

stok ulatnya hanya sedikit dan belum sepenuhnya siap panen!

Mata Hafiz berkilat tajam menatap pria paruh baya yang baru saja membawa kabar angin segar itu. Di tengah kepungan strategi Farid yang mencekik leher, tawaran kolektor Jakarta ini adalah satu-satunya peluru yang tersisa di senapannya.

"Stok saya belum banyak, Pak. Masih tahap awal," ucap Hafiz dengan suara rendah, mencoba tetap realistis meski jantungnya berpacu liar.

Pria itu mengibas tangan, "Kolektor ini tidak butuh kuantitas tonase, Mas Hafiz. Dia butuh kualitas 'super' untuk burung kontesnya yang harga satu ekornya setara mobil mewah. Saya tau ulat kandang di sini dikelola dengan pakan organik khusus."

Hafiz terdiam, otaknya yang dulu terbiasa menghitung valuasi saham kini bekerja menghitung margin keuntungan dari tiap gram ulat di gudangnya. "Beri saya waktu sampai sore. Saya akan sortir yang terbaik."

Tapi, dunia seolah tak membiarkan Hafiz bernapas barang sejenak. Belum sempat ia melangkah ke gudang, suara klakson beruntun memecah ketenangan sore itu.

Bukan satu mobil, melainkan iring-iringan tiga mobil mewah memasuki halaman masjid. Bendera kecil khas pesantren besar Al-Ikhlas berkibar di kap depan mobil paling depan.

"Mereka datang..." bisik Hafiz, suaranya tercekat di tenggorokan.

Dua hari? Ternyata Farid berbohong soal waktu dua hari itu. Pria itu mempercepat segalanya untuk memastikan Hafiz tidak punya ruang untuk bernapas.

Keluarga besar Gus Farid turun dengan pakaian serba putih yang menyilaukan mata. Ayah Farid, seorang pria sepuh dengan sorban besar dan karisma yang mengintimidasi, melangkah paling depan.

Kyai Abdullah keluar dari rumah dengan wajah pucat, tampak belum siap menerima tamu secepat ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur; rombongan lamaran itu sudah berdiri di depan pintu.

Farid turun dari mobil terakhir, mengenakan jas abu-abu yang sangat necis. Ia menoleh ke arah Hafiz, lalu memberikan senyum miring yang penuh penghinaan.

"Hafiz! Sini kamu!" teriak Farid dengan nada memerintah, layaknya memanggil pelayan rendahan di depan keluarga besarnya.

Hafiz mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Ia ingin berteriak, tapi ia sadar posisi tawarnya saat ini nol besar.

"Masuk ke dapur. siapkan minuman dan suguhan," perintah Farid saat Hafiz mendekat. "Jangan sampai tamu-tamu terhormat ini menunggu lama karena marbotnya pemalas."

Hafiz menatap mata Farid dengan api kemarahan yang membara. "Saya marbot masjid, Gus. Bukan pelayan pribadi Anda."

Farid mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Hafiz. "Kalau kamu mau Kyai tidak semakin malu, lakukan saja. Atau mau aku umumkan di depan ayahku kalau calon imam pilihan Kyai ini adalah mantan narapidana?"

Darah Hafiz seolah membeku. Ancaman itu telak. Ia tidak ingin menghancurkan reputasi Kyai Abdullah di depan sesama ulama.

Dengan langkah berat dan hati yang hancur berkeping-keping, Hafiz berjalan menuju dapur. Setiap langkahnya terasa seperti menginjak paku berkarat.

Di dapur, ia melihat Zahra sedang menata kue-kue tradisional. Zahra mengenakan gamis berwarna biru muda—warna yang tadi pagi disebut Farid sebagai warna kesukaannya.

Mata Zahra sembab, hidungnya kemerahan bekas menangis. Saat melihat Hafiz masuk dengan wajah kusam, Zahra hampir menjatuhkan nampan di tangannya.

"Mas Hafiz? Kenapa Mas di sini?" tanya Zahra dengan suara bergetar.

"Gus Farid menyuruh saya membantu di sini, Zahra," jawab Hafiz datar, mencoba menutupi rasa perih di dadanya.

Zahra menutup mulutnya dengan tangan. "Ini keterlaluan... Mas tidak pantas diperlakukan seperti ini."

"Pantas atau tidak, itu tidak penting sekarang," potong Hafiz cepat. "Yang penting kamu... apa kamu benar-benar akan menerima ini?"

Zahra menunduk, air matanya jatuh tepat di atas piring kue. "Ayah sudah memberikan isyarat setuju, Mas. Saya tidak punya kekuatan untuk membangkang pada guru sekaligus ayah saya sendiri."

Suara tawa riuh dari ruang tamu terdengar sampai ke dapur. Suara Farid yang sedang memamerkan rencana pembangunan pesantren modernnya terdengar sangat dominan.

"Hafiz! Minumannya mana? Lama sekali!" teriak Farid lagi dari ruang tengah.

Hafiz menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur. Ia mengangkat nampan besar berisi gelas-gelas teh hangat.

"Mas, jangan..." Zahra mencoba menahan lengan Hafiz, matanya memohon agar Hafiz tidak melakukan pekerjaan hina ini.

Hafiz melepaskan tangan Zahra dengan lembut. "Ini bagian dari perjuangan, Zahra. Kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi."

Hafiz melangkah keluar dari dapur menuju ruang tamu. Begitu ia masuk, belasan pasang mata menatapnya dengan tatapan meremehkan.

Ia meletakkan satu per satu gelas di depan keluarga besar Farid. Saat sampai di depan Farid, pria itu sengaja sedikit menyenggol nampan Hafiz hingga teh panas tumpah mengenai tangan Hafiz sendiri.

Hafiz tidak meringis. Ia tetap diam, membersihkan tumpahan itu dengan serbet tanpa ekspresi.

"Lihat, Ayah. Ini marbot baru yang dibanggakan Kyai Abdullah. Orangnya memang agak lambat, tapi lumayan bisa disuruh-suruh," ucap Farid dengan nada santai pada ayahnya.

Ayah Farid hanya melirik sekilas, lalu kembali berbicara pada Kyai Abdullah seolah Hafiz tidak ada di sana. "Jadi, Kyai. Kapan hari baik untuk akadnya? Lebih cepat lebih baik, agar pembangunan pesantren bisa segera dimulai."

Kyai Abdullah tampak bimbang. Beliau melirik ke arah Hafiz yang sedang berlutut di lantai membersihkan tumpahan teh. Ada gumpalan rasa bersalah di mata Kyai.

"Ehem... mungkin kita bicarakan setelah khitbah ini selesai, Kyai," jawab Kyai Abdullah dengan suara rendah.

Tak lama kemudian, Zahra dipanggil keluar. Ia berjalan dengan kepala menunduk, duduk di samping ayahnya.

Farid menatap Zahra dengan tatapan posesif. "Zahra, kamu terlihat cantik hari ini. Pilihan warna birunya sangat pas."

Zahra hanya diam, tangannya gemetar di balik gamisnya. Ia dipaksa untuk tersenyum saat Farid memberikan sebuah kotak perhiasan beludru merah yang isinya berkilau mewah.

"Ini sekadar tanda pengikat, Zahra. Masih banyak lagi yang akan aku berikan setelah kita sah nanti," sombong Farid.

Hafiz berdiri di pojok ruangan, masih memegang nampan kosong. Ia harus menyaksikan wanita yang ia cintai diberikan "tanda pengikat" oleh musuhnya di depan matanya sendiri.

Rasa sakitnya melebihi saat ia kehilangan seluruh aset perusahaannya dulu. Ini bukan soal harta, ini soal jiwa.

Tiba-tiba, pria dari pasar tadi muncul di pintu depan masjid yang terbuka. Ia tampak celingukan mencari Hafiz.

Hafiz menyadari kehadiran pria itu. Ini adalah satu-satunya jalan keluar.

"Maaf, Kyai. Saya harus ke belakang sebentar," ucap Hafiz memecah suasana formal di ruangan itu.

Di teras, pria pasar itu berbisik, "Mas, kolektornya sudah di jalan menuju ke sini. Dia mau lihat barangnya sekarang. Kalau cocok, dia mau bayar di depan."

Hafiz menoleh ke dalam rumah, melihat Zahra yang sedang menatapnya dengan pandangan putus asa. Lalu ia menatap ke arah gudang belakang.

"Ayo," ajak Hafiz singkat.

Ia berlari menuju gudang, membuka pintu kayu yang berderit. Di dalam sana, ulat-ulat kandang supernya sudah siap. Meskipun jumlahnya sedikit, kualitasnya memang luar biasa karena pakan fermentasi yang ia buat sendiri.

Hafiz mulai menyaring ulat-ulat itu dengan tangan gemetar. Ia butuh keajaiban. Ia butuh uang itu sore ini juga untuk membatalkan "hutang budi" Kyai pada Farid.

Namun, baru saja ia hendak mengemas ulat itu, sebuah bayangan besar menutup pintu gudang. Farid berdiri di sana, sendirian, dengan wajah yang merah padam karena marah.

"Kamu benar-benar berani mempermalukan aku di depan ayahku, hah?!" Farid melangkah masuk, lalu menendang salah satu kotak ulat Hafiz hingga tumpah berserakan.

"Gus! Apa-apaan ini?!" teriak Hafiz, mencoba menyelamatkan ulat-ulatnya.

"Aku sudah bilang, tempat ini akan diratakan! Kamu pikir ulat-ulat menjijikkan ini bisa menyelamatkanmu?" Farid tertawa keras.

Farid mengeluarkan korek api dari sakunya. "Bagaimana kalau aku percepat pembersihannya sekarang juga?"

Mata Hafiz membelalak melihat Farid menyalakan korek itu di dekat tumpukan jerami kering pakan ulat.

Di dalam rumah, acara lamaran masih berlangsung, sementara di gudang belakang, nyawa bisnis terakhir Hafiz berada di ujung tanduk.

Zahra tiba-tiba muncul di belakang Farid dengan wajah penuh kesedihan. "Hentikan, Gus!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!