Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FITNAH DI SERAMBI MESJID
Asap knalpot motor Gus Farid masih menyisakan bau sangit di udara, seolah-olah menandai dimulainya perang terbuka yang ia umumkan barusan. Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih, menahan gejolak amarah yang hampir saja meledak.
Aku tahu pria itu licik, tapi aku tidak menyangka dia akan seberani itu mengancamku di depan rumah Tuhan. Sorot matanya tadi bukan sekadar gertakan; ada kegelapan yang dalam, tipikal orang kaya yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan cara menghancurkan orang lain.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungku yang masih berdegup kencang karena emosi. Tatapanku beralih ke jendela kamar Zahra, berharap bisa melihat wajahnya sekali lagi, tapi tirai itu sudah tertutup rapat.
Baru saja aku hendak kembali mengangkat kotak media ulat, Pak Mamat berlari menghampiriku dengan wajah pucat. Napasnya tersengal-sengal, matanya melotot seolah melihat hantu di siang bolong.
"Mas Hafiz! Gawat, Mas! Gawat!" teriaknya sambil memegangi lutut, mencoba mengatur napas.
Aku meletakkan kotak itu kembali ke lantai. "Ada apa, Pak? Tenang dulu, bicara yang jelas."
"Kyai, Mas! Kyai Abdullah marah besar di serambi masjid! Gus Farid ada di sana, dia sedang bicara yang bukan-bukan soal Mas Hafiz!"
Jantungku mencelos. Baru hitungan menit Farid pergi dari hadapanku, ternyata dia langsung meluncur ke serambi untuk menusukku dari belakang.
"Dia bilang apa, Pak?" tanyaku, meski aku sudah bisa menebak arahnya.
"Dia bilang Mas Hafiz cuma memanfaatkan masjid untuk cari kaya sendiri! Dia bilang Mas sudah mengubah tempat suci ini jadi pasar komersial!" Pak Mamat menarik lenganku. "Cepat ke sana, Mas! Kyai sudah memerintahkan santri untuk mengosongkan gudang!"
Darahku mendidih. Langkahku lebar-lebar menuju serambi masjid, mengabaikan keringat yang membanjiri kaos marbotku yang lusuh.
Di sana, aku melihat pemandangan yang membuat hatiku perih. Kyai Abdullah berdiri dengan wajah merah padam, sementara Gus Farid berdiri di sampingnya dengan wajah yang disok-sokkan prihatin, padahal matanya berkilat penuh kemenangan.
Beberapa santri senior sudah berkumpul, memegang linggis dan beberapa alat tukang. Mereka tampak ragu, tapi perintah Kyai adalah hukum di sini.
"Berhenti!" teriakku lantang, suaraku menggema di seantero masjid.
Semua mata tertuju padaku. Kyai Abdullah menatapku dengan sorot mata kecewa yang sangat dalam—tatapan yang lebih menyakitkan daripada pukulan fisik mana pun.
"Hafiz," suara Kyai berat dan bergetar. "Aku menampungmu di sini karena aku pikir kamu ingin bertobat. Tapi apa ini? Kamu menjadikan lahan masjid sebagai bisnis pribadimu tanpa izin?"
Aku menatap Gus Farid. Pria itu tersenyum tipis, sebuah seringai iblis yang sangat halus hingga tak terlihat oleh Kyai.
"Kyai, saya bisa jelaskan"
"Tidak perlu penjelasan lagi, Hafiz!" potong Gus Farid dengan suara yang dibuat-buat tegas. "Pak Bima tadi datang membawa cek sepuluh juta, kan? Kamu pikir kami bodoh? Kamu memperkaya diri di atas tanah wakaf, sementara warga desa cuma jadi penonton!"
Beberapa jamaah yang mulai berkumpul mulai berbisik-bisik. Fitnah itu menyebar cepat, meracuni pikiran orang-orang yang sebelumnya kagum padaku.
"Santri! Bongkar gudang itu sekarang!" perintah Kyai, tangannya menunjuk ke arah gudang ulatku. "Bawa barang-barangnya keluar dari area pesantren!"
"Tunggu, Kyai! Satu menit saja!" Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang selalu kubawa—buku pembukuan yang diam-diam dirapikan oleh Zahra.
Aku melangkah maju, naik ke serambi meski kakiku kotor. Aku tidak peduli lagi dengan tata krama jika harga diriku diinjak-injak seperti ini.
"Ini bukan bisnis pribadi," ucapku sambil membuka buku itu tepat di depan wajah Kyai. "Silakan Kyai baca sendiri. Setiap butir pakan yang masuk, setiap ulat yang keluar, semuanya tercatat di sini."
Kyai Abdullah terdiam sejenak, matanya menelusuri tulisan tangan yang sangat ia kenali—tulisan tangan putrinya. Aku bisa melihat otot rahang beliau mengeras saat menyadari Zahra terlibat jauh di sini.
"Gus Farid bilang saya memperkaya diri?" Aku menatap Farid dengan tajam hingga ia membuang muka. "Cek sepuluh juta dari Pak Bima itu adalah modal untuk ekspansi, Kyai. Bukan untuk saya."
Aku merogoh saku satunya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sudah kusiapkan sejak subuh tadi. "Dan ini... adalah bagian pertama dari janji saya."
Aku meletakkan amplop itu di atas lantai serambi, tepat di depan kaki Kyai Abdullah. Amplop itu terbuka sedikit, memperlihatkan tumpukan uang tunai yang cukup banyak.
"Tujuh puluh persen dari keuntungan pertama saya, Kyai. Tujuh juta rupiah. Ini sepenuhnya untuk kas masjid," suaraku merendah tapi penuh penekanan. "Saya hanya mengambil tiga puluh persen untuk membeli bibit baru."
Suasana mendadak hening. Jamaah yang tadinya berbisik menghujat, kini terdiam seribu bahasa. Kyai Abdullah mengambil amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Tujuh juta?" gumam salah satu jamaah di barisan belakang. "Itu lebih besar dari total sumbangan kotak amal sebulan!"
Aku melirik Gus Farid. Wajahnya yang tadi merah karena puas, kini berubah pucat pasi. Dia tidak menyangka aku akan senekat itu menyerahkan sebagian besar uangku.
"Kyai bisa cek ke Pak Mamat atau warga lainnya. Saya bekerja dua puluh jam sehari bukan untuk menumpuk harta," lanjutku, suaraku mulai serak karena emosi. "Saya hanya ingin membuktikan bahwa masjid ini bisa mandiri tanpa harus terus-menerus bergantung pada sumbangan... atau paksaan orang lain."
Kalimat terakhirku jelas mengarah pada Farid. Kyai Abdullah menatap uang di tangannya, lalu menatapku, dan terakhir menatap Farid.
"Farid," panggil Kyai dengan suara rendah. "Kamu bilang dia mengambil semuanya untuk dirinya sendiri?"
"Anu... Kyai... maksud saya... saya cuma khawatir—" Farid terbata-bata, keringat dingin mulai tampak di pelipisnya.
"Cukup!" Kyai Abdullah mengangkat tangannya. Beliau menoleh pada para santri. "Batalkan pembongkaran. Kembali ke asrama kalian."
Kyai kemudian mendekat padaku. Beliau menaruh tangannya di pundakku sentuhan yang sudah lama tidak kurasakan sejak kain biru itu ditemukan.
"Maafkan aku karena sempat ragu, Hafiz," bisik Kyai, cukup pelan agar hanya aku yang dengar. "Tapi ingat, uang ini akan aku audit dengan ketat. Jangan pernah khianati kepercayaan jemaah."
Aku mengangguk mantap. "Saya janji, Kyai."
Gus Farid mendengus, ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, menyembunyikan wajahnya yang menanggung malu luar biasa di depan warga desa. Aku tahu, fitnahnya barusan justru menjadi bumerang yang menghancurkan reputasinya sendiri.
Malam harinya, setelah kegaduhan di serambi mereda, aku duduk di bangku kayu depan gudang. Tubuhku rasanya ingin remuk, tapi pikiranku masih melayang pada kejadian tadi siang.
Pintu gudang berderit pelan. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bau sabun melati itu selalu sampai lebih dulu daripada sosoknya.
Zahra masuk dengan langkah anggun, mukena putihnya menyapu lantai gudang yang berdebu. Dia tidak bicara, hanya menatapku dengan binar mata yang penuh rasa bangga.
"Mas nekat sekali kasih tujuh puluh persen," ucapnya pelan, duduk di sampingku.
"Itu satu-satunya cara membungkam Farid, Zahra," jawabku, menatap profil wajahnya dari samping.
Lampu pijar yang kuning remang-remang membuat garis wajahnya tampak begitu lembut, begitu menggoda. Ada dorongan di dalam dadaku yang mendesakku untuk lebih dekat dengannya.
Zahra memutar tubuhnya menghadapku. Tangannya perlahan meraih tanganku yang penuh kapalan. "Terima kasih sudah menjaga namaku di depan Ayah tadi."
Aku menelan ludah. Sentuhan tangannya yang halus terasa seperti oase di tengah gurun kelelahanku. Aku menarik napas panjang, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur dengan kelembapan malam.
Zahra mendekatkan wajahnya, matanya menatap bibirku sejenak sebelum kembali ke mataku. Jarak kami sangat dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat menerpa kulit wajahku.
Suasana di dalam gudang itu mendadak menjadi sangat panas, meski udara di luar sedang dingin. Ada ketegangan yang merambat, sebuah keinginan terlarang yang menuntut untuk diakui.
Zahra tidak menarik tangannya, justru jarinya mulai mengelus punggung tanganku dengan gerakan lembut yang sangat provokatif. Aku merasa seluruh sarafku menegang, darahku bergejolak menuju satu titik.
"Mas... kamu tahu kan betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak menemuimu seminggu ini?" bisiknya, suaranya serak dan dalam.
Aku menatap matanya yang sayu, melihat pantulan lampu pijar di sana yang seolah menyulut api di dalam diriku. Aku menarik tangannya, membawa jemari halusnya ke bibirku, menciumnya dengan intensitas yang membuat Zahra terkesiap kecil.
Zahra memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih di balik mukena. Aku bisa melihat jakunnya bergerak saat dia menelan ludah, sebuah pemandangan yang membuat jiwaku meronta.
Tanganku yang lain perlahan merayap ke pinggangnya, menarik tubuhnya agar lebih merapat padaku. Kami terengah, detak jantung kami berpacu dalam irama yang sama, seolah-olah dunia di luar gudang ini sudah tidak ada lagi.
Hanya ada aku, dia, dan gairah yang selama ini kami tekan di bawah nama kesalehan. Namun, tepat saat wajah kami hanya berjarak beberapa milimeter, suara batuk Pak Mamat di kejauhan menyentakkan kami.
Zahra segera menjauh, merapikan mukenanya dengan tangan gemetar. Wajahnya merah padam, nafasnya masih belum teratur.
"Aku... aku harus kembali," ucapnya gugup, tidak berani menatap mataku.
Aku hanya bisa mengangguk, mencoba mengatur gejolak di bawah sana yang masih terasa berdenyut hebat. "Hati-hati, Zahra."
Setelah dia pergi, aku berdiri dan menatap tumpukan kotak ulat yang masih harus dikerjakan.