Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Menghancurkan Formasi Seribu Gunung
Pintu masuk Lorong Seribu Gunung menganga seperti mulut raksasa batu yang siap menelan para kultivator muda. Lorong itu terbuat dari susunan batu giok keras yang dipenuhi ribuan rune formasi bercahaya kuning temaram.
"Ronde Pertama menguji fondasi fisik dan kemurnian Qi kalian!" gemuruh suara Tetua Utama mengalahkan bisingnya alun-alun. "Formasi di dalam lorong ini akan memberikan tekanan gravitasi dan spiritual yang setara dengan Kultivator Kondensasi Qi Tingkat Tiga. Mereka yang tidak bisa melewati lorong sepanjang seratus meter ini sebelum satu batang dupa habis terbakar, akan dieliminasi!"
Ratusan murid luar menelan ludah gugup. Bagi yang berada di Tingkat Dua atau Tiga awal, ujian ini adalah siksaan murni.
Di sudut panggung pengawas, Diaken Kuang, pria paruh baya dengan tatapan licik, bertukar pandang sekilas dengan Zhao Tian yang duduk di kejauhan. Diaken Kuang mengangguk samar, tangannya meraba sebuah lempengan batu giok pengendali formasi di balik lengan jubahnya.
"Kelompok pertama, masuk!" teriak Diaken Kuang.
Sepuluh murid melesat masuk ke dalam lorong. Baru sepuluh meter berjalan, tiga di antaranya langsung memuntahkan darah dan jatuh berlutut, tak sanggup menahan tekanan tak kasat mata yang menghantam bahu mereka. Sisanya merangkak maju dengan wajah pucat pasi dan keringat bercucuran.
Kelompok demi kelompok masuk. Ada yang berhasil keluar di ujung lorong dengan terengah-engah, namun lebih banyak yang pingsan dan harus diseret keluar oleh penjaga.
"Kelompok ketujuh... Li Jian, Sun Lie, maju!" panggil Diaken Kuang, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.
Mendengar namanya dipanggil, Li Jian melangkah maju dengan tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda bertubuh raksasa setinggi lebih dari dua meter melangkah di sebelahnya. Pria raksasa itu memiliki otot yang menonjol seperti batu-batu granit, dan memancarkan aura brutal Kondensasi Qi Tingkat Empat. Dia adalah Sun Lie, algojo bayaran yang telah dipersiapkan Zhao Tian.
Sun Lie menunduk menatap Li Jian dan mendengus remeh. "Jadi kau si sampah yang membuat Kakak Zhao Feng cacat? Nikmati napas terakhirmu di dalam, Bocah. Karena jika kau lolos dari lorong ini, aku akan meremukkan setiap tulang di tubuhmu pada ronde kedua."
Li Jian bahkan tidak repot-repot menoleh. Tatapannya lurus ke depan, sedingin es abadi. "Kau terlalu banyak bicara untuk orang yang akan segera menjadi mayat."
Sun Lie menggeram marah, namun sebelum ia sempat bertindak, Diaken Kuang memberi aba-aba. "Masuk!"
Begitu Li Jian melangkahkan kakinya melewati ambang pintu lorong, Diaken Kuang diam-diam mengalirkan Qi-nya ke lempengan giok pengendali.
BZZZT!
Rune kuning di dinding lorong yang mengelilingi jalur Li Jian mendadak berubah menjadi merah darah. Udara di sekitarnya terdistorsi.
Di atas panggung, Tetua Utama mengernyitkan dahi. "Apa yang terjadi pada jalur nomor tujuh? Tekanannya melonjak hingga setara dengan puncak Tingkat Enam!"
Diaken Kuang pura-pura panik. "Lapor, Tetua! Sepertinya ada kerusakan kecil pada rune formasi tua ini. Arus Qi-nya tidak stabil. Haruskah saya menghentikannya?"
Zhao Tian tersenyum sinis di tempat duduknya. Tidak perlu dihentikan, batinnya. Dalam hitungan detik, tubuh si sampah itu akan hancur menjadi bubur darah.
Di dalam lorong, Li Jian merasakan beban ribuan kati menghantam pundaknya secara tiba-tiba. Lantai batu giok di bawah kakinya retak seketika. Tubuhnya sedikit terhuyung ke depan. Jika ia adalah kultivator Tingkat Tiga biasa, organ dalamnya pasti sudah hancur lebur saat itu juga.
Namun, di dalam lautan kesadarannya, tawa Yueyin mengalun merdu bak dentingan kristal.
"Hahahaha! Tikus-tikus fana ini mencoba menekan naga dengan tumpukan batu bata? Bocah, Seni Bintang Pemakan Langit membutuhkan tekanan ekstrem untuk memadatkan Qi-mu! Gunakan gravitasi bodoh ini sebagai palu penempa tubuhmu!"
Mata Li Jian berkilat dengan cahaya perak. Alih-alih melawan tekanan itu dengan perisai Qi seperti yang dilakukan kultivator lain, ia justru menarik napas panjang dan menarik seluruh Qi peraknya kembali ke dalam Dantian.
Ia sengaja membiarkan tekanan mematikan Tingkat Enam itu menghantam fisik murninya secara langsung.
Kratak! Kratak!
Suara tulang-tulang Li Jian yang bergesekan terdengar mengerikan, namun ia perlahan menegakkan punggungnya. Otot-ototnya menegang, menyerap rasa sakit dan mengubahnya menjadi bahan bakar. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak retakan dalam di lantai giok yang keras.
Sun Lie, yang berada di jalur sebelah dengan tekanan normal Tingkat Tiga, terbelalak ngeri melihat Li Jian berjalan tegak di area bersinar merah yang tekanannya jauh melampaui kemampuannya sendiri.
"B-Bagaimana mungkin... monster macam apa dia?" gumam Sun Lie, keringat dingin membasahi punggung raksasanya.
Langkah Li Jian tidak cepat, namun sangat konstan. Ia berjalan layaknya dewa kematian yang sedang berpatroli di wilayahnya. Hawa dingin perlahan merembes keluar dari tubuhnya seiring dengan makin padatnya energi di dalam Dantian.
Suhu di dalam lorong anjlok drastis. Embun beku mulai merambat di dinding, menutupi rune-rune formasi yang menyala merah.
Saat Li Jian mencapai pertengahan lorong, hawa dingin ekstrem dari Qi Bintang Pemakan Langit mulai membekukan sirkuit spiritual dari formasi Seribu Gunung itu sendiri.
KRAK! PRANG!
Satu per satu, batu giok di dinding lorong pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan suhu yang terlalu rendah. Formasi yang telah bertahan selama ratusan tahun di Sekte Pedang Awan mulai runtuh.
Diaken Kuang memuntahkan seteguk darah di atas panggung saat lempengan pengendali di tangannya meledak menjadi serpihan es.
Di tengah keheningan alun-alun yang syok, siluet Li Jian perlahan berjalan keluar dari kepulan debu es di ujung lorong. Ia menepuk-nepuk jubah abu-abunya yang tertutup serpihan batu, seolah ia baru saja selesai berjalan-jalan melintasi taman bunga, bukan dari formasi pembunuh.
Tidak ada setetes keringat pun di wajahnya. Pernapasannya sangat tenang.
Seluruh alun-alun sunyi senyap. Tatapan meremehkan dari ribuan murid luar kini tergantikan oleh rasa takut dan takjub yang mendalam.
Bahkan Zhao Tian, yang sedari tadi bersikap tenang, tanpa sadar meremukkan cangkir teh di tangannya hingga menjadi bubuk. Matanya menyipit, memancarkan niat membunuh yang tak lagi disembunyikan.
"Diaken Kuang," suara dingin Li Jian memecah keheningan, matanya menatap tajam ke atas panggung. "Apakah berjalan-jalan sesantai ini cukup untuk meloloskanku ke ronde kedua?"
Diaken Kuang gemetar, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun di bawah tatapan Tetua Utama yang kini mulai menatapnya dengan penuh kecurigaan.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏