Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 (Part 1) Perjanjian di Atas Pusara yang Terlupakan
Sinar matahari yang masuk melalui ventilasi gudang olahraga terasa seperti jarum yang menusuk mata. Kella masih berdiri mematung, meremas ujung kemeja seragamnya yang kusut. Di depannya, Gala sudah melangkah pergi bersama Reno dan gerombolannya, tertawa keras seolah pembicaraan emosional mereka beberapa menit lalu hanyalah halusinasi.
Kella menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia memungut buku catatan kecil milik Gabriel yang terjatuh di lantai. Buku itu bukan sekadar kertas; itu adalah saksi bisu kehancuran sebuah nyawa. Ia menyembunyikannya di dalam kaus kakinya yang tinggi, menutupinya dengan lipatan rok agar tidak terdeteksi oleh siapapun.
Pukul 15.30 WIB – Pulang Sekolah
Gerbang sekolah SMA Wijaya Kusuma mulai sepi. Kella berjalan tertatih. Luka di tumitnya yang kemarin belum sempat diobati kini kembali bergesekan dengan kain sepatu yang kasar. Setiap langkah terasa seperti menginjak bara api.
Tiba-tiba, suara deru motor yang sangat ia kenal berhenti tepat di sampingnya. Gala. Ia tidak memakai helm, rambutnya yang hitam berantakan tertiup angin sore. Wajahnya kembali datar, tanpa emosi, persis seperti Gala yang pertama kali Kella temui.
"Naik," perintahnya singkat.
Kella ragu. "Reno dan yang lain..."
"Gue udah nyuruh mereka pergi ke tempat biliar duluan. Jangan banyak tanya, naik atau gue seret?"
Kella akhirnya naik ke boncengan motor sport itu. Mereka melaju membelah kemacetan kota, namun bukan menuju ke arah rumah kontrakan Kella atau ke kafe. Gala memacu motornya ke arah pinggiran kota, menuju sebuah daerah yang didominasi oleh tanah lapang dan pepohonan kamboja yang rimbun.
TPU (Tempat Pemakaman Umum) Kasih Ibu. Sebuah pemakaman untuk warga kelas menengah ke bawah.
Motor Gala berhenti di depan gerbang yang catnya sudah mengelupas. Gala turun, namun ia tidak langsung masuk. Ia berdiri menatap hamparan nisan-nisan yang tersusun tidak beraturan di depannya. Jaket kulitnya yang mahal terlihat sangat kontras dengan suasana kumuh di sekitarnya.
"Di mana?" suara Gala terdengar serak, tertelan angin.
Kella berjalan di depan, memandu. Mereka melewati jalan setapak yang becek karena sisa hujan semalam. Kella berhenti di sebuah sudut paling belakang, dekat dengan pohon besar yang akarnya sudah mulai merusak beberapa nisan tua.
Di sana, ada sebuah gundukan tanah yang hanya dibatasi oleh semen sederhana yang sudah retak di beberapa bagian. Tidak ada marmer mahal. Tidak ada ukiran emas. Hanya sebuah nisan kayu yang warnanya sudah memudar, bertuliskan nama yang selama ini Gala cari.
Gabriel Alangkara (Biel)
Lahir: 12 April 2000
Wafat: 15 Agustus 2022
Gala terhuyung. Ia jatuh berlutut di depan nisan itu. Tangannya yang biasanya digunakan untuk melempar botol atau menarik kerah baju orang, kini menyentuh tanah merah itu dengan gemetar.
"Biel..." bisiknya.
Kella berdiri beberapa langkah di belakangnya, memberikan ruang bagi pria itu untuk hancur. Ia melihat bahu Gala yang lebar itu berguncang hebat. Tidak ada suara tangisan yang keras, hanya isakan tertahan yang terdengar sangat menyakitkan.
"Kenapa lo nggak bilang kalau lo menderita?" Gala bicara pada nisan itu. "Kenapa lo biarin gue mikir kalau lo mati sebagai pahlawan di jalanan, padahal lo mati karena kelaparan? Kakak macam apa lo?!"
Gala memukul tanah itu berulang kali. Amarah dan kesedihannya bercampur menjadi satu. Ia mengingat bagaimana ayahnya selalu membanggakan Gabriel sebagai contoh anak yang sempurna di depan publik, sementara di balik pintu tertutup, ayahnya telah membuang Gabriel seperti sampah hanya karena Gabriel memiliki empati terhadap orang-orang "kecil".
Setelah hampir satu jam dalam keheningan yang menyesakkan, Gala berdiri. Ia menghapus wajahnya dengan kasar. Matanya merah, tapi tatapannya kini jauh lebih tajam dan dingin dari sebelumnya.
Ia berbalik menatap Kella. "Mulai hari ini, semuanya berubah."
Kella menatapnya bingung. "Maksudmu?"
"Gue bakal hancurin laki-laki yang manggil dirinya ayah gue itu. Tapi gue butuh waktu. Dan selama waktu itu berjalan, nggak boleh ada satu orang pun yang tahu kalau gue udah tahu kebenarannya," Gala melangkah mendekati Kella hingga jarak mereka hanya beberapa senti. "Termasuk lo. Di depan publik, gue bakal tetep jadi 'Gala sang perundung'. Dan lo... lo tetep jadi target utama gue."
"Kenapa harus begitu?" tanya Kella, suaranya bergetar.
"Karena kalau ayah gue tahu kita berhubungan baik, dia bakal curiga. Dia punya mata-mata di mana-mana, Kella. Kalau dia tahu lo tahu soal rahasia Gabriel, lo nggak bakal cuma di-bully di sekolah. Lo bisa 'hilang' seperti Gabriel."
Kella menelan ludah. Ia baru menyadari betapa berbahayanya keluarga Alangkara.