Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Ungkapan Perasaan
Bab 16
“Hah.”
Gita menghela nafas, lelah karena hari ini jadwalnya agak full. 3 mata kuliah belum lagi kumpul mengerjakan tugas. Menelungkupkan wajahnya di atas meja. Dia butuh mood booster. Sudah beberapa hari setelah pertemuan dengan Rama di cafe saat kakak iparnya melahirkan dan belum ada bertemu lagi selain komunikasi lewat ponsel.
Tadi pagi, Rama bilang dia agak sibuk mengurus usaha keluarganya dan mengajak bertemu. Namun, jadwal kuliahnya agak padat jadi tidak sepakat ketemu di mana. Tidak mungkin juga keluar dari kampus ada Pak Iwan yang semakin sigap.
“Kenapa lo?”
“Capek, pusing.”
“Kantin yuk, laper nih."
Masih dengan posisinya, Gita menggeleng. “Bentar lagi.” Ia pun sama merasakan lapar dan haus, apalagi makan siang tadi hanya salad yang dia bawa dari rumah.
“Eh, iya. Sesil minggu depan ultah. Dia rayain di crown, lo ikut jangan sampai nggak.”
Mendengar ajakan itu, ia pun mengangkat kepalanya sambil mengernyitkan dahi. “Cafe atau resto?”
“Gini nih, kuper bin gaptek. Crown itu club malam Git, tapi amanlah. Yang punya artis dan pengunjungnya rata-rata mahasiswa dan anak muda kayak kita. Lo nggak akan ketemu om-om me sum atau daddy gatal di sana.”
“Night club? Kayaknya aku nggak bisa datang deh. Nggak bakal diijinin.”
“Nggak solid ih, gampang-lah itu nanti kita pikirin caranya. Paling nggak lo setor muka aja sebentar, kasih kado terus pulang.”
Gita menghela nafas, tidak mengiyakan dan tidak juga menolak. Leni mengajaknya ke kantin, ia pun setuju karena perutnya sudah meronta minta di isi. Di koridor, mereka berpapasan dengan Arlan.
“Kebetulan banget, baru gue mau nyusul ke kelas lo.”
“Kita mau ke kantin, ayo, Git,” ajak Leni. Sudah tahu kalau Gita tidak ada perasaan dengan Arlan dan tidak ingin temannya itu berada dilist sebagai mantan sang playboy.
“Makan bareng gue aja, yuk!"
“Maaf, aku mau ke kantin aja.” Melanjutkan langkahnya bersama Leni dan ….
Grap. Tangan Gita dicengkram oleh Arlan.
“Kok nolak sih, gue ‘kan Cuma ngajak makan.”
“Lepasin tangan aku,” pinta Gita berusaha menariknya, tapi cengkraman Arlan nyatanya cukup erat.
“Lepasin Lan, lo bukan b4nci yang beraninya sama perempuan ‘kan?”
Arlan mendong bahu Leni. “Nggak usah ikut campur, antek-anteknya Bela. Urusan gue sama Gita bukan sama lo.”
Bukan hanya ada mereka bertiga di koridor, Arlan dengan kedua temannya juga ada mahasiswa yang lalu lalang, tapi hanya menoleh dan tidak ingin ikut campur.
“Jadi urusan gue, Gita temen gue.”
“Udah Len, lo minggir dah,” seru rekan Arlan.
“Lepasin tangan aku. Kamu nggak malu berani sama perempuan dan main keroyokan begini.”
“Keroyokan gimana, gue Cuma ngajak lo makan. Nggak usah dibikin ribet.”
“Tapi Gita nggak mau, jadi lepaskan tangan dia!”
Bukan hanya Arlan yang menoleh, semua yang ada di sana pun ikut menoleh ke arah suara.
“Bang Rama.”
“Siapa lo?” tanya Arlan.
Rama mendekat dan balas mencengkram tangan Arlan membuat genggaman itu terlepas lalu menarik Gita ke arahnya.
“Kalau udah ditolak, jangan maksa. Cewek gue nggak mau.”
“Heh, siapa lo?” tangan Arlan menghentikan rekannya yang akan mendekat ke arah Rama.
“Lo bukan mahasiswa sini,” seru Arlan.
“Kalau bukan terus kenapa? Merasa punya kawasan terus kalian bisa seenaknya.”
“Macam-macam lagi, gue laporin lo,” ancam Leni menunjuk wajah Arlan.
Secara jumlah Arlan memang menang karena dikawal dua orang temannya, secara fisik ia kalah. Postur tubuh Rama yang tinggi bahkan masih menenteng helm, terbayang kalau kepalanya dihantam dengan benda itu bisa-bisa masuk UGD.
“Cabut,” ajak Arlan. Sempat menatap Gita saat melewatinya.
“Kamu nggak pa-pa?” tanya Rama dan Gita menggeleng.
“Heran gue, mantan aktivis kelakuan kok minus,” cetus Leni. “Gue lanjut ke kantin ya, lo sama ….”
“Iya, makasih ya.” Rama berlagak menjadi juru bicara Gita. “Ayo, sayang,” ajaknya.
Leni sempat mengerlingkan mata seolah bertanya, dia siapa. “Hati-hati Git, nanti gue telpon ya.”
“I-ya.” Gita sudah melangkah bersama Rama dan tangannya masih digenggam pria itu.
“Abang kok di sini?”
“Udah dibilang, cinta akan menemukan jalannya.” Rama terkekeh geli, entah apa jadinya kalau Beni cs mendengarnya. Mungkin dia akan diguyur air kobokan. Tidak perlu jujur bahwa ia sudah keliling hampir setengah jam di gedung fakultas Gita dan terpikir ke arah kantin nyatanya bertemu juga.
“Ish, serius. Kok abang bisa di sini?”
“Tadi pagi ‘kan udah bilang kita ketemuan. Jangan sebut Rama kalau cari kamu di kampus aja nggak bisa. Mau makan di mana? Kayaknya di seberang ada cafe, kita makan di sana ya!”
Tidak lama, Gita sudah nemplok di atas motor Rama. Bahkan menunjukan arah agar tidak melewati parkiran di mana supirnya berada.
***
“Si bangs4t tadi sering ganggu kamu?”
Sejak tadi masih penasaran dengan pria pengecut yang berani menyentuh Gita meski hanya pergelangan tangan. Mengingat itu, ia langsung meraih tangan Gita
“Sakit nggak? Lecet?”
Gita masih menikmati makannya terkejut dengan perhatian Rama bahkan diteliti macam mencari jalan untuk menginfus saja.”
“Nggak pa-pa, kok. Cuma kaget aja.”
“Sering dia ganggu kamu?” Gita menggeleng sambil menel4n makanan yang dikunyah dan menyeruput es jeruknya. “Ya udah, habiskan dulu.” Rama bukan hanya mengusap kepala Gita, tapi juga punggung gadis itu seraya menenangkan dan mengatakan kalau dia ada di sini dan semua akan baik-baik saja.
“Cewek butuh kepastian, bukan Cuma perhatian aja. Pastikan statusnya sebagai pacar atau calon istri. Lebih baik lagi kalau lo ajak ta'aruf terus nikah bukan sekedar teman tapi mesra kayak yang udah-udah.”
Nasehat Beni kemarin itu ada benarnya. Ia harus memastikan kalau hubungannya dengan Gita bukan hubungan yang nggak diawali lalu bubar jalan. Ia serius dengan gadis ini. Mendapati Gita sudah selesai makan, Rama pun berdeham mendadak tenggorokannya tiba-tiba terasa penuh.
“Cinta,” panggilnya membuat Gita menoleh sambil menyeka bibirnya dengan tisu. Sejak kapan pula nama gadis itu berubah dan ternotice pula.
Melihat wajah Rama tampak serius, Gita sampai mengernyitkan dahi. “I-ya." Kata yang terucap terbata dan ia diam saja saat Rama meraih tangannya lalu kembali digenggam. Berbeda dengan genggaman tadi dengan alasan menyelamatkan dari Arlan, kali ini tubuh Gita merespon. Mendadak merinding seolah ada getaran elektromagnetik menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Jujur aku bukan pria romantis dan nggak pernah begini, tapi semua harus jelas.”
“Maksudnya ….”
“Aku sayang kamu bukan sekedar iseng atau ngajak temenan doang. Ini murni dari hati yang paling dalam dan otak yang penuh. Rama Purwangga cinta sama kamu Gita. Itulah kenapa aku panggil kamu cinta dan aku nggak butuh jawaban hanya butuh kamu balas perasaan aku.”
Gita bengong mendengar penuturan Rama. Rasanya campur aduk antara senang, bangga dan ingin tertawa. Baru kali ini ada pria menyatakan perasaannya secara langsung. Biasanya ia hanya dengar kata sayang dari para pria di klan Bimantara.
“Gue nggak bertepuk sebelah tangan ‘kan? Lo eh, maksudnya kamu nggak suka sama si bangs4t tadi ‘kan?”
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....