Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Melihat peristiwa itu, Ki Baraya tertegun.
Ada sesuatu yang seharusnya tak terjadi… namun justru sedang terjadi di depan matanya.
Ia segera bersila di atas tanah yang lembap. Punggungnya tegak. Nafasnya ditarik dalam-dalam. Kedua matanya terpejam rapat. Bibirnya bergerak lirih, melantunkan mantra yang hanya ia pahami maknanya.
Angin di sekitarnya berputar pelan.
Sinar Purnama Kliwon yang kemerahan seperti bergetar.
Tak lama kemudian, Ki Baraya membuka matanya perlahan.
Tatapannya kini berbeda.
Dalam.
Tajam.
Ia telah membuka tabir yang menyelubungi bayangan semu milik Braja.
Dan di sana… di balik lapisan tipis antara dunia nyata dan dunia ruh… terlihat dua sosok yang bercahaya lembut. Ruh lelaki dan perempuan yang mengaku sebagai orang tua Braja.
Ki Baraya menyipitkan mata.
“Hmmm… benarkah itu ruh orang tuanya?” gumamnya dalam hati.
Sosok itu tidak tampak jahat. Tidak pula keruh. Aura mereka bersih, tenang, tanpa jejak niat buruk.
“Jika memang benar… maka mereka telah memanfaatkan Purnama Kliwon ini untuk menembus sekat ruang dan waktu. Luar biasa.”
Ia terdiam sesaat, merenungi hal itu.
“Aku tak menyangka ikatan batin mereka begitu kuat… padahal mereka tak pernah sempat membesarkan anaknya.”
Angin kembali berembus, membawa hawa yang sejuk.
“Untuk dapat menemui ruh yang suci, hati pemanggilnya pun haruslah bersih. Dan Braja… hatinya memang masih sejernih bayi yang baru dilahirkan.”
Ki Baraya menghela napas panjang.
“Namun bahaya tetaplah bahaya. Purnama Kliwon membuka semua pintu. Yang suci bisa datang… tetapi yang gelap pun dapat menyusup.”
Tatapannya kembali tertuju pada Braja yang masih berlinang air mata.
“Ujianmu bukan sekadar menahan kantuk, Nak,” gumamnya lirih. “Melainkan menahan duka… dan menahan dendam agar tak membakar jiwamu sendiri.”
Di bawah langit merah yang menggantung sunyi, Ki Baraya tetap bersila, menjaga.
Karena malam itu… bukan hanya murid-muridnya yang diuji.
Ia pun ikut menguji keyakinannya sendiri.
Lalu Ki Baraya bangkit perlahan dari sikap bersilanya. Ia bertepuk tangan tiga kali.
Plak!
Plak!
Plak!
Suara itu menggema di antara pepohonan.
“Hebat. Hebat. Kalian telah lolos,” ujarnya mantap. “Sebenarnya inilah inti ujian ini. Kalian harus saling menjaga. Kalian harus bekerja sama. Walau cara Jatisangkar tadi…” ia melirik tajam, “…aku kurang setuju. Namun ku maklumi. Hampir saja Laras membuat kalian semua gagal.”
Jatisangkar berdehem kecil. Laras menunduk malu.
Ki Baraya menatap Jatisangkar lebih dulu.
“Jati, anakku. Tak salah manusia menggantungkan cita-cita setinggi langit. Kau ingin jadi raja? Sultan? Atau penguasa tanah ini? Sah-sah saja. Tapi jangan sampai kau tenggelam dalam kemewahannya. Kekuasaan yang tak dikendalikan akan menelan tuannya sendiri.”
Jatisangkar mengangguk pelan, kali ini tanpa membantah.
Lalu Ki Baraya memandang Laras dengan tatapan lembut.
“Putriku, Laras. Aku akui… aku tak menyangka kau memiliki bara sekuat itu di dalam dirimu. Jarang wanita menempuh jalan kanuragan. Tapi ingat, jangan sampai kau menjadi gila ilmu. Ilmu bukan untuk membuktikan siapa lebih tinggi… melainkan untuk menjaga yang lemah. Kau paham?”
“Paham, Ayah,” jawab Laras mantap.
Terakhir, Ki Baraya memandang Braja.
“Braja. Namamu selama ini hanya Braja. Karena kau memiliki unsur api yang murni, mulai hari ini kutambahkan namamu menjadi… Braja Geni.”
Mata Braja berbinar.
Laras tersenyum bangga.
Sementara Jatisangkar manyun kecil, merasa namanya tak sekeren itu.
“Terima kasih, Ayah. Nama itu sangat bagus,” ucap Braja tulus.
Namun Ki Baraya belum selesai.
“Tapi, Braja… bagaimana kau bisa mengenali orang tuamu itu? Padahal kau belum pernah melihat wajah mereka sebelumnya?”
Braja terdiam sesaat.
“Entah, Ayah. Begitu melihat mereka… ada rasa nyaman. Seperti rumah. Seperti… bagian dari diriku sendiri.”
Ki Baraya mengangguk perlahan.
“Hmmm… aura mereka selaras dengan auramu. Tidak ada getaran dusta. Maka nalar hatimu benar.”
Wajahnya lalu berubah serius.
“Sekarang kau telah tahu siapa pembunuh orang tuamu. Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan mencarinya… dan membunuhnya, Ayah,” jawab Braja tanpa ragu.
“Saat ini juga?” tanya Ki Baraya tajam.
“Jika Ayah mengizinkan, aku akan pergi sekarang.”
Ki Baraya menghela napas panjang.
“Braja. Jika kau orang lain, mungkin aku tak peduli. Tapi kau telah mengaku sebagai anakku. Maka dengarkan nasihat ayah angkatmu ini.”
Ia melangkah mendekat, tatapannya tegas namun penuh kasih.
“Kau belum sanggup mengalahkannya. Aku mengenal Warok Gondosupit. Ia bukan sekadar rampok biasa. Ilmunya tinggi. Banyak. Licik. Bahkan para senopati Mataram pun belum mampu menangkapnya.”
Jatisangkar dan Laras saling pandang. Nama itu terdengar berat.
“Jika kau nekat menghadapinya sekarang, meski dengan ilmu silumanmu itu…” lanjut Ki Baraya, “aku pastikan kau akan mati sia-sia.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu.
“Jadi bersabarlah. Dendam yang matang akan menjadi kekuatan. Dendam yang mentah hanya jadi kebodohan. Kau harus tinggal bersamaku. Latih api dalam dirimu hingga bukan hanya membakar… tapi juga menerangi.”
Braja mengepalkan tangan. Bara dendam di dadanya belum padam.
Namun untuk pertama kalinya… ia memilih menunduk.
“Baik, Ayah,” ucapnya pelan.
Malam Purnama Kliwon itu pun berakhir.
Tiga murid telah melewati ujian.
Namun perjalanan mereka yang sesungguhnya… baru saja dimulai.
“Ayah… kenapa cuma Braja yang diberi nama sekeren itu? Aku juga mau, Yah. Aku kan anak kandung Ayah,” rengek Jatisangkar sambil menggaruk kepala.
Ki Baraya tertawa lebar.
“Haha! Kau iri, Jati?”
Jatisangkar mendengus kecil.
“Sebenarnya,” lanjut Ki Baraya, “aku memberi tambahan nama itu karena Braja belum memiliki nama pelengkap. Maka kuberi sebagai penanda jalannya. Tapi baiklah…”
Ia menatap Jatisangkar dari ujung kepala hingga kaki.
“Kau telah menyatu dengan unsur tanah. Kokoh. Keras. Sulit digoyahkan. Maka mulai hari ini, namamu bukan lagi sekadar Jatisangkar.”
Jatisangkar menegakkan badan.
“Namamu kuubah menjadi… Jatibumi.”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum nakal.
“Bagaimana, Barokokok?”
“Hehe! Ayah! Namaku jadi keren!” Jatisangkar—atau kini Jatibumi—nyengir lebar. “Makasih, Ayah!”
Braja terkekeh. Laras menggeleng sambil tersenyum.
Ki Baraya lalu menoleh pada Laras.
“Nah… putriku yang manis. Apa kau ingin juga?”
Laras tersenyum malu-malu, tapi matanya berbinar.
“Boleh, Yah.”
Ki Baraya menatapnya dengan lembut.
“Kau telah menguasai unsur air. Air yang lembut, namun mampu mengikis batu. Air yang tenang, namun dapat berubah menjadi badai dan es yang membekukan.”
Ia mengangguk pelan.
“Maka mulai hari ini… namamu menjadi Laras Tirtaresmi.”
Laras berkedip pelan.
“Tirta berarti air suci. Resmi berarti anggun dan terhormat. Kau bukan sekadar pengalir air… tapi pembawa kesejukan dan kemuliaan.”
“Nah, apa kau suka?” tanya Ki Baraya.
Wajah Laras berseri.
“Nama yang indah sekali, Ayah. Aku suka.”
Ki Baraya memandang ketiga muridnya bergantian.
Braja Geni.
Jatibumi.
Laras Tirtaresmi.
Tiga unsur.
Tiga jalan.
Di bawah langit yang kini mulai memudar merahnya, Ki Baraya tersenyum dalam hati.
Benih-benih pendekar itu telah diberi nama.