17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chord Sumbang
Jumat, 23 Agustus 1996. Pukul 19:30 WIB.
"Aku ikut."
Dua kata itu meluncur dari mulut Lian saat dia melihat Kara mengikat tali sepatu kets-nya yang kotor.
Kara menoleh, keningnya berkerut cemas.
"Lian... kamu masih jalan pincang. Lukamu belum kering bener."
"Gue udah enakan," bohong Lian sambil menyambar jaket denim-nya.
Padahal saat dia berdiri, tulang rusuknya menjerit protes. Nyeri itu masih di sana, setia seperti bayangan.
"Tapi nanti pulangnya malem, Kak. Dingin," bujuk Kara lagi. Dia tampak ragu. Bukan karena kesehatan Lian, melainkan... entahlah. Mungkin dia takut Lian akan bentrok dengan teman-teman barunya?
"Lo malu jalan sama gue?" tanya Lian, nada suaranya sedikit defensif. "Karena gue kucel? Karena gue pincang?"
Kara langsung berdiri, memegang lengan Lian. "Demi Tuhan, enggak, Kak! Kok ngomongnya gitu?"
"Yaudah. Ayo." Lian memotong pembicaraan, berjalan duluan keluar pintu kamar losmen. Langkahnya diseret sedikit untuk menutupi rasa sakitnya.
Kara menghela napas panjang, lalu mengikuti Lian.
Dia tahu ego cowok itu sedang terluka parah. Dan di dunia laki-laki, ego yang terluka lebih berbahaya daripada tulang yang patah.
...----------------...
Pelataran Benteng Vredeburg.
Malam minggu di Jogja selalu ramai. Lesehan-lesehan penuh. Musisi jalanan berlomba-lomba menarik perhatian turis.
Di pojok yang agak gelap, di bawah lampu merkuri kuning, "Komunitas Seniman Jalanan" itu berkumpul.
Mereka duduk melingkar di atas tikar pandan.
Ada sekitar sepuluh orang. Kebanyakan gondrong, bertato, merokok lintingan (tingwe), dan berdebat soal sastra atau politik dengan suara keras.
"Woy! Pujangga kita dateng!"
Seruan itu datang dari Aga. Cowok gitaris itu duduk di tengah lingkaran, memangku gitar akustik Yamaha tua yang penuh stiker.
Semua mata tertuju pada Kara. Mereka tersenyum lebar, menyambutnya hangat.
"Sini, Ra! Ada kopi joss baru mateng!"
"Bawa karya baru nggak, Neng?"
Kara tersenyum malu-malu, lalu duduk di sela-sela lingkaran itu.
Lian berdiri canggung di belakangnya, seperti pengawal yang salah kostum. Dia merasa terlalu "kaku" dengan postur tubuh tegap ala Paskibra di tengah orang-orang yang duduk slouching santai.
"Eh, ini siapa?" tanya seorang seniman tua yang giginya ompong, menunjuk Lian pakai dagu.
"Kenalin," Kara menarik tangan Lian supaya duduk di sebelahnya. "Ini... Lian. Temen deket aku dari Bandung."
Temen deket.
Bukan pacar.
Mungkin Kara tidak bermaksud menyembunyikan status, tapi di komunitas bebas seperti ini, label "pacar" sering dianggap kekolotan borjuis.
Aga menatap Lian. Tatapan matanya tajam menilai.
"Lian?" Aga mengulurkan tangan. "Aga. Gue denger lo abis kena musibah di Sarkem ya? Kalo main ke sana, ati-ati sama daerah kekuasaan 'Si Merah'."
Lian menyalami tangan Aga. Tangan Aga kasar, kapalan khas pemain gitar. Tangan Lian... halus, khas pemegang pulpen.
"Iya. Belum tau aturan," jawab Lian singkat. Dingin.
Aga tertawa kecil, lalu kembali memetik gitar.
"Santai, Mas Lian. Di sini aman. Nggak ada preman, adanya seniman."
Diskusi pun dimulai.
Topik malam ini berat: Relevansi Chairil Anwar di Era Pembangunan.
Mereka bicara soal dekonstruksi, soal kapitalisme, soal jiwa yang terbelenggu. Istilah-istilah filsafat jalanan berterbangan di udara.
Kara, yang biasanya pendiam di sekolah, di sini berbicara lantang.
Matanya berbinar saat berdebat dengan Aga soal makna kata "Binatang Jalang".
"Menurutku, Chairil bukan cuma mau jadi liar," kata Kara semangat, tangannya bergerak ekspresif. "Dia mau jadi jujur. Dan kejujuran itu dianggap 'binatang' sama orang-orang munafik."
"Cadas!" Aga memuji, menepuk lututnya. "Itu poin bagus, Ra. Liat tuh, cewek kecil pemikirannya dalem."
Semua orang mengangguk setuju.
Lian hanya diam.
Dia mengerti apa yang mereka bicarakan. Nilai Bahasa Indonesia-nya selalu 9. Dia pernah juara pidato. Tapi... bahasanya beda.
Bahasa Lian adalah bahasa akademis. Terstruktur. Rapi.
Bahasa mereka liar, abstrak, dan penuh metafora.
Lian mencoba masuk ke obrolan. Dia tidak mau dianggap patung.
"Sebenarnya..." Lian berdeham. Suara obrolan berhenti. Semua menoleh padanya.
"...menurut buku HB Jassin yang pernah gue baca, angkatan 45 itu lebih fokus ke semangat kemerdekaan individu. Jadi konteks historisnya harus dilihat juga."
Hening sejenak.
Salah satu seniman gondrong terkekeh. "Waduh, buku sekolahan banget bahasanya, Mas. HB Jassin mah kritikus gedung, bukan orang jalanan."
"Kita ngomongin rasa, Mas Lian. Bukan teori buku paket," tambah Aga sambil tersenyum—senyum yang di mata Lian terlihat merendahkan.
Wajah Lian memanas.
Dia barusan dikuliahi oleh pengamen.
Dia, Ketua OSIS SMA favorit, dianggap "anak sekolahan" yang tidak tahu apa-apa soal hidup.
Kara menyadari ketidaknyamanan Lian. Dia meremas tangan Lian di bawah meja lipat.
"Lian suka baca kok. Dia pinter," bela Kara pelan.
"Iya, keliatan kok pinternya. Rapi," sahut si gigi ompong sambil menyodorkan botol plastik bekas air mineral yang isinya cairan bening kekuningan.
"Minum dulu, Mas Lian. Biar rileks. Biar ilmunya cair."
Lian menatap botol itu.
Baunya menyengat. Alkohol murah dicampur sari buah entah apa.
Ciu. Atau Lapen (Langsung Pening).
Di timeline sekolah, Lian anti-rokok, anti-alkohol.
Tapi malam ini, rusuknya sakit minta ampun. Hatinya perih. Egonya memar.
Dan tatapan Aga yang seolah menantang kejantanannya membuatnya panas.
Lo pikir gue anak mama? batin Lian.
Lian menyambar botol itu.
"Boleh," katanya menantang.
Kara membelalak. "Lian, jangan! Kamu kan lagi minum antibiotik!"
"Dikit doang, Ra. Ngehargain temen-temen baru lo," jawab Lian sambil menepis tangan Kara pelan.
Lian menenggak cairan itu.
Rasanya seperti menelan bensin. Panas membakar tenggorokan, turun ke lambung, lalu meledak hangat di dada.
Glek. Glek. Glek.
Tiga teguk besar.
"Wuidih! Jagoan juga!" seru para seniman itu bertepuk tangan.
Rasa panas alkohol itu dengan cepat menjalar ke kepala Lian yang perutnya kosong. Pening. Tapi anehnya... rasa sakit di rusuknya memudar. Rasa mindernya berkurang.
Lian merasa lebih berani. Lebih... cair.
Setengah jam berlalu.
Botol itu berputar dua kali lagi. Lian minum lagi.
Wajahnya merah. Matanya sayu.
Duduknya mulai tidak tegak lagi, bersandar malas ke tiang benteng.
"Sekarang waktunya kolaborasi!" seru Aga. "Ra, puisi yang tadi sore lo tulis. Ayo bacain."
Kara ragu. Dia melirik Lian yang mulai tipsy.
"Besok aja deh..."
"Ayolah, Neng! Udah ditungguin nih!"
Akhirnya Kara berdiri. Dia mengeluarkan kertas buku tulisnya.
Aga mulai memetik intro gitar. Melodi minor yang menyayat hati.
Harmoni antara gitar Aga dan suara Kara sangat sempurna. Mereka seolah berbicara satu sama lain lewat nada dan kata. Saling mengisi.
Aga menatap Kara saat bermain gitar—tatapan penuh kekaguman.
Lian menonton dari pinggir.
Dunia di matanya mulai berputar pelan.
Di matanya yang mabuk, bayangan Aga dan Kara terlihat... bercahaya.
Sementara dirinya?
Lian melihat tangannya sendiri. Gelap. Abu-abu.
Dia bukan lagi Anchor bagi Kara.
Aga yang menjadi jangkar barunya.
Panas cemburu dan alkohol membakar otak Lian.
Dia merasa menjadi penonton di film hidupnya sendiri. Dan dia benci jadi figuran.
BRAKK!
Lian tiba-tiba berdiri, menyenggol meja kopi sampai gelas-gelas plastik tumpah.
Musik berhenti mendadak. Kara berhenti membaca puisi.
Semua mata tertuju pada Lian yang berdiri goyah.
"Lagu lo..." gumam Lian, telunjuknya mengarah ke Aga. "Lagu lo jelek. Standar. Klise."
Suasana tegang. Seniman yang lain mulai berdiri, tidak terima temannya dihina.
"Kak Lian... duduk dulu..." Kara mencoba menarik tangan Lian, wajahnya pucat karena malu dan takut.
"Diem, Ra!" bentak Lian. Suaranya keras. Terlalu keras.
"Lo bilang musik gue belum selesai? Lo bilang cuma gue yang bisa ngisi Side B? Terus kenapa sekarang lo ngisi Side A sama pengamen ini?!"
Air mata Kara menggenang.
Dia tidak percaya Lian membentaknya di depan umum.
Aga meletakkan gitarnya pelan-pelan. Dia berdiri, menatap Lian tenang.
"Mas, lo mabok. Mending lo pulang, istirahat."
"Jangan sok ngatur gue!" Lian maju, mendorong dada Aga.
Tapi Aga tidak bergeming. Tubuh Aga kokoh.
Sebaliknya, Lian yang terhuyung ke belakang karena keseimbangannya kacau. Rusuknya nyeri lagi.
"Lian, cukup!" teriak Kara. Dia berdiri di antara mereka.
"Kita pulang. Sekarang!"
Lian menatap Kara.
Dia melihat ketakutan di mata gadis itu.
Tapi bukan ketakutan pada monster atau preman.
Ketakutan pada dirinya.
Lian, sang pelindung, malam ini berubah menjadi monster itu sendiri.
Monster bernama Insekitas.
Lian tertawa sumbang. Tawa orang kalah.
"Pulang ke mana? Ke kamar bau tikus itu?"
Tanpa menunggu jawaban, Lian berbalik. Dia berjalan sempoyongan meninggalkan lingkaran seniman itu, menembus keramaian Malioboro sendirian.
Kara berdiri mematung di sana, air matanya jatuh.
Dia menatap punggung Lian yang menjauh.
Lalu menatap Aga yang tampak simpatik.
"Sorry, Ga. Temen aku lagi banyak masalah."
"Nggak apa-apa, Ra. Kejar dia. Dia butuh lo," kata Aga bijak.
Kara mengangguk, menyambar tasnya, dan berlari mengejar Lian ke dalam gelap malam.
Tapi malam itu, retakan di antara mereka semakin lebar.
Jalanan Malioboro yang romantis itu kini menjadi saksi bisu hancurnya ego seorang remaja laki-laki yang kehilangan mahkotanya.