Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Kalian sudah menggagalkan rencanaku!"
Brak!
Tuan Haysa meradang begitu tiba di ruangan Ethan. Ia yang hendak membahas masalah villa dengan Hana, tapi hancur lebur oleh kedatangan keluarganya sendiri. Dinding yang tak bersalah menjadi tempat pelampiasan amarahnya. Entah, kapan waktu akan memberinya kesempatan lagi untuk berbicara dengan Hana.
Sudah sangat lama dia menginginkan villa dan seluruh bisnis di desa Amanaly, tapi segala usahanya selalu gagal. Desa Amanaly tidak memberinya jalan untuk melintas.
"Sayang, maafkan kami. Kami benar-benar tidak tahu jika kau dan Hana sedang membahas villa itu," sahut Nyonya Haysa merayu suaminya.
Lelaki itu mendengus, melirik enggan terhadap wanita yang sudah tak lagi ada di hatinya. Sejak mengandung Hana dengan masalah kehamilan yang dialaminya, dia sudah tidak menginginkannya lagi. Bertahan hanya untuk mengurus Shopia.
"Jika kalian tidak datang mengganggu, maka aku sudah membicarakannya dengan Hana. Aku sudah lama ingin merebut villa itu, tapi selalu gagal," geram Tuan Haysa menatap tajam istrinya.
"Ah, Tuan. Jangan sampai amarah membuat kesehatan Anda memburuk. Mungkin saja mereka mengkhawatirkan Anda karena pergi sendirian ke kamar gadis itu. Kudengar dari Shopia, Hana sudah berubah banyak," ucap seorang wanita yang datang menjenguk Ethan di ruangannya.
Dia wanita yang sama yang dilihat Hana di restoran. Teman dekat Nyonya Haysa sendiri yang diam-diam menjadi duri dalam daging.
"Ah, Elina benar. Itu karena semua mencemaskan mu, sayang. Jika kami tahu kau sedang membahas masalah villa, maka kami tidak akan mengganggumu," sambar Nyonya Haysa membenarkan ucapan temannya itu.
"Sudahlah. Lain kali kau harus tahu batasanmu," tegas Tuan Haysa kepada istrinya.
Nyonya Haysa tersenyum, menganggukkan kepala sembari mengusap dada suaminya.
"Aku akan mengingatnya," katanya.
Shopia melirik Elina, mereka tersenyum diam-diam. Dia akan membantu Elina untuk tinggal di rumah mereka.
"Ayah, jadi bagaimana dengan villa itu? Apakah Hana sudah setuju?" tanyanya menghampiri sang ayah dengan manja.
Alan melirik, matanya menyalang seolah-olah Sophia adalah mangsa empuk yang mudah diterkam.
"Aku dan Evan sudah memutuskan akan tinggal di sana setelah mendapatkannya. Soal bisnis, Ayah tenang saja. Aku pandai dalam mengelola bisnis, Ayah sudah melihat kemampuanku, bukan? Perusahaan garmen kita maju pesat di tanganku," ucap Shopia memuji kinerjanya.
Alan mencibir, dialah yang bekerja keras memajukan perusahaan itu. Shopia hanya sebagai sekretarisnya saja di perusahaan itu. Tidak melakukan apapun, tapi karena rasa sayangnya yang dulu amat besar, ia rela setiap usahanya mengatasnamakan Shopia.
Tuan Haysa menepuk-nepuk tangan Shopia, menghela napas berat. Semua orang memuji kepiawaian Shopia dalam mengelola bisnis. Bahkan, kolega bisnisnya pun turut memuji dan merasa puas dengan produksi mereka.
"Kau tenang saja. Ayah sedang mengusahakan villa itu agar jatuh ke tanganmu," ucapnya penuh janji.
Alan mengepalkan tangan, dia tidak akan tinggal diam untuk masalah villa. Apapun boleh, tapi villa itu harus tetap menjadi milik Hana.
Coba saja kalau kalian bisa!
Dia menatap geram perempuan yang begitu dimanjakan dalam keluarganya itu.
Elina diam-diam tersenyum, ia membayangkan jika dirinyalah yang berada di sisi lelaki itu, bukan Nyonya Haysa yang sekarang. Posisinya kini menandakan statusnya di keluarga Haysa. Dia hanyalah seorang simpanan yang tak layak dipublis. Selama Haena masih menjadi istrinya, posisi Nyonya Haysa tetap akan menjadi miliknya.
Aku harus segera menyingkirkan wanita itu dari sisi Tuan. Hanya dengan begitu, gelar kehormatan nyonya Haysa akan menjadi milikku.
Ia mengancam di dalam hati, kemudian menghela napas panjang. Pandangan matanya memberikan signal kuat untuk Shopia dan lelaki di samping anaknya.
"Karena Ethan sudah jauh lebih baik, maka aku akan pamit. Aku senang kalian semua baik-baik saja," pamit Elina berpura-pura akan pergi, padahal dia sudah berencana untuk tetap tinggal di kediaman Haysa.
Haena tersenyum dan menganggukkan kepala, begitu pula dengan wanita tua di sana. Hanya Alan yang tidak pernah menatapnya.
"Tunggu, Bibi!" Shopia berlari mendekati Elina.
"Ada apa, Shopia? Kau meminta hadiah dari Bibi? Bibi lupa membawanya karena pergi terburu-buru setelah mendengar kabar tentang Ethan. Lain kali Bibi akan membawakannya," ucap Elina.
Akting keduanya memang memukau hingga membuat Haena tidak pernah menyadari hubungan mereka.
"Tidak, Bibi. Bibi sudah lama tidak datang, bisakah Bibi menetap beberapa waktu di tempat kami? Aku ingin belajar desain lebih banyak dengan Bibi," ucap Shopia merengek sambil memeluk ibunya itu.
Elina tertawa kecil sembari melirik Haena, memastikan wanita itu tidak marah karena ucapan Shopia. Itu juga memudahkannya untuk masuk ke kediaman Haysa.
"Ah, itu ... kau harus tetap meminta izin ibumu. Bibi merasa tidak enak jika ibumu tidak mengizinkan Bibi untuk tinggal," katanya memasang wajah malu-malu.
Shopia menoleh pada ibu angkatnya, matanya memohon agar ia mengizinkan Elina tinggal di rumah mereka.
"Jika itu memang membuat Shopia bahagia, maka aku tidak keberatan sama sekali. Tinggallah beberapa waktu, akhir-akhir ini aku sibuk dengan urusan restoran. Kau bisa menggantikan aku menemani Shopia," sahut Haena disambut dengan riang gembira oleh mereka bertiga.
"Jika begitu, aku tidak akan sungkan."
Deg!
Jantung Haena berdetak kuat, kalimat Elina menyiratkan makna lain yang lebih dalam. Untuk beberapa saat, senyumnya menghilang, rasa aneh mendominasi hatinya. Haena menepis buruk sangka yang datang, dan memilih untuk tidak memikirkannya, tapi interaksi mereka selayaknya ibu dan anak yang terpisah jauh dan bertemu kembali.
Ada apa dengan diriku? Bukankah aku sering melihat mereka dekat seperti itu? Kenapa hari ini, perasaanku berbeda?
hai jalang gk tau diri lo