Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: DEBU DI ATAS TANAH KERING
Matahari di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar sumber cahaya. Bagi Jonatan, matahari adalah raksasa api yang setiap hari turun ke bumi untuk menghisap sisa-sisa kehidupan dari tanah merah yang retak. Pagi itu, jarum jam baru menunjuk angka tujuh, namun udara sudah terasa padat dan mencekik. Jonatan bisa merasakan butiran debu halus masuk ke lubang hidungnya, menetap di tenggorokan, dan meninggalkan rasa tanah yang hambar.
Ia mengayunkan cangkulnya sekali lagi. Pang! Bunyi logam yang menghantam tanah kering itu terdengar nyaring, seolah tanah itu sendiri terbuat dari batu granit yang tak tertembus. Tangannya yang kasar, penuh dengan kapalan yang sudah mengeras seperti kulit kayu, bergetar hebat saat mata cangkul itu membalul. Jonatan menyeka keringat yang mengalir deras dari dahinya, mengusapnya dengan punggung tangan hingga meninggalkan noda lumpur di wajahnya yang legam.
"Satu baris lagi, Jon," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan angin kering yang berdesir di antara dahan-dahan pohon asam yang meranggas.
Di hadapannya, sejauh mata memandang, ladang keluarga mereka tampak menyedihkan. Tanaman jagung yang mereka tanam sebulan lalu tumbuh kerdil, daun-daunnya menggulung layu seperti jari-jari yang memohon air. Jonatan tahu, jika hujan tak kunjung turun dalam satu minggu ke depan, semua keringat yang ia tumpahkan sejak fajar akan berakhir menjadi tumpukan sampah cokelat yang tak bernilai.
"Jonatan! Berhenti dulu! Makan sini!"
Suara itu berat dan parau, membawa wibawa yang mulai terkikis oleh usia. Jonatan menoleh. Di bawah naungan pohon asam yang satu-satunya masih memiliki sedikit daun hijau, ayahnya, Pak Berto, duduk bersandar. Lelaki itu tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Kerutan di wajah Pak Berto bukan sekadar tanda penuaan, melainkan peta dari setiap kegagalan panen dan beban hutang yang ia pikul selama berpuluh-puluh tahun.
Jonatan meletakkan cangkulnya dengan hati-hati, seolah alat itu adalah benda pusaka yang rapuh. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya yang beralaskan sandal jepit tipis—yang bagian tumitnya sudah nyaris habis—menimbulkan kepulan debu kecil di setiap pijakan. Setiap langkah itu terasa berat, bukan hanya karena ototnya yang protes, tapi karena ia tahu apa yang akan mereka bicarakan.
"Duduk, anak sulung," Pak Berto menggeser tempat duduknya, memberi ruang di atas akar pohon yang menonjol. Di hadapan mereka, terdapat bungkusan daun pisang yang sudah layu. Di dalamnya hanya ada nasi jagung—makanan pokok yang lebih banyak seratnya daripada rasanya—dengan sepotong kecil ikan asin yang dibagi dua.
Jonatan mengambil suapannya. Tekstur nasi jagung yang kasar itu bergesekan dengan dinding kerongkongannya. "Tanahnya makin keras, Bapak. Cangkulku sampai berbunyi tadi," ujar Jonatan memecah keheningan.
Pak Berto menghela napas panjang. Asap dari rokok lintingannya membubung, tipis dan pucat. "Tanah ini memang keras, Jon. Dia sedang menguji siapa yang lebih keras; hatimu atau permukaannya. Tapi kau tahu sendiri, Tuhan tidak pernah berjanji hidup di Oetimu akan mudah."
Jonatan terdiam, matanya menatap ke arah bukit-bukit gundul di kejauhan yang tampak seperti punggung naga raksasa yang tertidur. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit, hanya ada suara kunyahan yang pelan. Di balik keterdiaman itu, otak Jonatan bekerja keras. Ia sedang memikirkan buku catatan yang ia sembunyikan di bawah bantalnya—buku penuh rumus kimia dan soal matematika yang ia kerjakan hingga larut malam di bawah cahaya pelita yang redup.
"Bapak," panggil Jonatan dengan nada yang lebih serius. "Guru-guru di sekolah sudah bicara lagi kemarin. Hasil ujianku... mereka bilang itu salah satu yang terbaik di provinsi."
Gerakan tangan Pak Berto yang hendak mengambil air minum terhenti di udara. Ia tidak menoleh, tapi Jonatan bisa melihat bahu ayahnya yang sedikit menegang.
"Lalu?" tanya Pak Berto pendek.
"Ada universitas di Jawa, Bapak. Di kota besar. Mereka punya jalur beasiswa untuk anak-anak dari daerah seperti kita. Kalau aku bisa masuk ke sana, aku bisa belajar cara mengelola lahan ini dengan benar. Aku bisa belajar bisnis. Kita tidak perlu lagi bergantung pada tengkulak di pasar kabupaten."
Pak Berto akhirnya menoleh. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke dalam mata Jonatan. Ada kilatan kebanggaan di sana, tapi sekilas kemudian, kilatan itu padam oleh bayang-bayang realita yang lebih gelap.
"Jawa itu jauh, Jon. Kota besar itu bukan untuk orang seperti kita," suara Pak Berto kini terdengar seperti bisikan yang menyakitkan. "Di sana, orang-orang melihat kita bukan sebagai manusia, tapi sebagai angka. Atau lebih buruk lagi, mereka hanya melihatmu dengan sebelah mata karena logatmu, kulitmu, dan kemiskinanmu. Kau mau ke sana hanya untuk dihina?"
"Aku tidak takut dihina, Bapak. Aku lebih takut jika seumur hidupku aku hanya berdiri di ladang ini, menunggu hujan yang tidak pernah datang, sementara adik-adikku tumbuh besar dengan perut yang lapar," balas Jonatan dengan keberanian yang mendadak muncul dari perutnya.
Pak Berto tertegun. Ia melihat sosok dirinya yang dulu ada pada Jonatan—muda, penuh api, dan yakin bisa mengubah dunia. Namun, pengalaman hidup telah memadamkan api itu dalam diri Berto. Ia tahu bahwa niat baik saja tidak cukup untuk membayar tiket kapal, apalagi biaya hidup di kota beton yang tidak kenal belas kasih.
"Biaya, Jonatan. Dari mana kita dapat biaya?"
Jonatan menunduk. Itulah tembok raksasa yang selalu menghentikan langkahnya. Mereka tidak punya tabungan. Tanah ini adalah satu-satunya harta, dan tanah ini sedang sekarat. Ibunya, Bu Maria, bahkan harus berhemat luar biasa hanya untuk memastikan adik-adik Jonatan bisa membawa bekal ubi ke sekolah.
"Aku akan bekerja apa saja di sana. Jadi kuli panggul, tukang cuci piring, apa saja. Yang penting aku sekolah," Jonatan bersikeras.
Pak Berto berdiri, menepuk debu dari celananya yang penuh tambalan. Ia menatap ke langit yang biru bersih, tanpa ada tanda-tanda awan mendung. "Pulanglah. Bantu ibumu di dapur. Bapak masih mau di sini sebentar."
Jonatan tahu pembicaraan itu selesai untuk hari ini. Ia bangkit, mengambil cangkulnya, dan berjalan meninggalkan ayahnya yang berdiri sendirian di bawah pohon asam yang meranggas itu. Saat ia berjalan menjauh, Jonatan tidak sengaja menginjak sebuah kerikil tajam yang menembus sandal jepitnya yang tipis. Rasa sakit itu menjalar hingga ke otaknya, tapi ia tidak meringis.
Ia justru tersenyum tipis. Rasa sakit itu adalah pengingat bahwa ia masih hidup, dan selama ia masih hidup, ia akan mencari jalan keluar dari Desa Oetimu. Ia berjanji pada dirinya sendiri, di tengah debu yang beterbangan, bahwa suatu hari nanti, dunia tidak akan lagi memandangnya dengan sebelah mata. Ia akan menjadi matahari yang berbeda bagi keluarganya—matahari yang memberi hangat, bukan matahari yang membakar habis harapan.
Sesampainya di rumah bambunya yang mulai miring, Jonatan melihat adiknya sedang bermain dengan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali yang sudah kering. Pemandangan itu memeras hatinya. Ia masuk ke dalam, mengambil buku catatannya, dan menuliskan satu kalimat di halaman paling belakang: Jangan biarkan tanah yang kering mematikan mimpi yang basah.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian