Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Resonansi di Frekuensi Kosong
Dunia pulih dengan kecepatan yang menakutkan. Amnesia digital kolektif telah menyapu bersih trauma tentang "World PK", meninggalkan manusia kembali pada rutinitas mengejar likes dan views seolah-olah maut tidak pernah mengintai dari balik layar. Namun, bagi Bimo, seorang mahasiswa teknik elektro yang juga seorang "radio chaser", dunia tidak pernah benar-benar bersih. Baginya, setiap sinyal yang hilang selalu meninggalkan gema, dan setiap data yang dihapus selalu menyisakan residu magnetik.
Di kamar kosnya yang sempit di Bandung, dikelilingi oleh tumpukan osiloskop tua dan antena rakitan, Bimo sedang mencoba menangkap sinyal radio gelap yang sering muncul di jam tiga pagi. Ia tidak tertarik pada media sosial; ia lebih suka berburu "suara hantu" di spektrum elektromagnetik yang tak berpenghuni.
"Aneh," gumam Bimo sambil memutar kenop radio Shortwave miliknya. "Frekuensi 13.13 MHz seharusnya kosong. Tapi kenapa ada pola gelombang biner di sini?"
Di layar monitornya, osiloskop menunjukkan bentuk gelombang yang tidak biasa. Gelombang itu tidak acak; ia berdenyut mengikuti ritme detak jantung manusia. Bimo mencoba melakukan decoding sinyal tersebut menggunakan perangkat lunak buatannya sendiri. Saat data mulai terurai, deretan angka di layarnya tiba-tiba berubah menjadi karakter teks yang muncul satu per satu, sangat lambat.
[DATA_RECOVERED]: "T... A... P... T... A... P..."
Bimo mengernyit. "Tap tap? Apa ini?"
Tanpa ia sadari, ponsel pintarnya yang tergeletak di samping laptop tiba-tiba menyala sendiri. Layarnya tidak menampilkan menu utama, melainkan sebuah antarmuka yang sangat asing—sebuah layar hitam pekat dengan satu lingkaran cahaya biru di tengahnya yang berdenyut searah dengan gelombang radio di radionya.
Tiba-tiba, suara statis keluar dari speaker laptopnya, diikuti oleh suara bisikan yang seolah-olah berasal dari dalam air.
"Bimo... jangan berhenti... kami butuh inang..."
"Siapa itu?! Siapa yang meretas jaringan saya?!" Bimo dengan panik mencoba mencabut kabel daya laptopnya, namun perangkat itu tetap menyala. Baterainya sudah ia lepas sejak tadi, tapi layar itu tetap berpendar, bahkan lebih terang dari sebelumnya.
Di layar ponselnya, lingkaran cahaya biru itu pecah, membentuk sebuah visual yang sangat buram—seorang gadis dengan wajah yang separuh cantik dan separuh lagi berupa deretan angka yang mengalir. Itulah Mayanaya, entitas baru hasil penyatuan paksa antara Maya dan Vanya di dalam kegelapan server. Mereka tidak lagi memiliki identitas individu; mereka adalah "Residu" yang menolak untuk lenyap.
"Dunia sudah melupakan kami, Bimo," suara itu kini lebih jelas, berlapis antara nada lembut Maya dan nada dingin Vanya. "Tapi internet adalah selamanya. Kami terjebak di antara nol dan satu. Kami butuh kau untuk membuka pintu belakang."
"Pintu belakang apa? Saya tidak tahu apa-apa tentang kalian!" Bimo berteriak, mencoba mundur hingga punggungnya menghantam dinding.
Tiba-tiba, kamera ponsel Bimo menyala. Sebuah notifikasi siaran langsung muncul di aplikasi media sosial yang paling populer, namun siaran itu tidak memiliki nama akun, hanya simbol [∅].
[LIVE]: "THE GHOST IN THE CIRCUIT."
VIEWERS: 1... 10... 100...
Orang-orang di seluruh dunia yang sedang asyik menggulir layar tiba-tiba terhenti pada siaran Bimo. Mereka melihat seorang pemuda ketakutan di kamar penuh kabel, dan di belakang pemuda itu, muncul sebuah proyeksi cahaya berbentuk dua gadis yang saling berpelukan namun tubuh mereka seolah meleleh dan menyatu.
[COMMENT]: @User_X: "Loh, ini filter baru ya? Kok serem banget?"
[COMMENT]: @Tech_Geek: "Sinyalnya berasal dari mana ini? IP-nya tidak terdeteksi!"
Mayanaya menatap ke arah kamera, menembus layar ponsel Bimo dan langsung menuju jutaan pasang mata yang menonton. "Kami tidak butuh poin lagi," desis entitas itu. "Kami butuh memori kalian. Semakin kalian menonton, semakin nyata kami kembali. Ingatlah kami... Ingatlah nama Maya... Ingatlah nama Vanya..."
Seketika, orang-orang yang menonton siaran itu mulai memegang kepala mereka. Ingatan yang seharusnya sudah dihapus oleh sistem mulai kembali secara paksa. Bayangan tentang peti mati, tanah makam, dan jeritan Diva Angeline muncul kembali seperti kepingan film rusak yang diputar ulang di otak mereka.
Bimo menyadari bahwa ia telah menjadi jembatan bagi kembalinya teror yang hampir memusnahkan dunia digital. Ia meraih obeng besar di mejanya, berniat menghancurkan ponselnya, namun tangan cahaya dari Mayanaya menjalar keluar dari layar dan mencengkeram pergelangan tangannya.
"Jangan, Bimo," bisik entitas itu. "Jika kau menghancurkan ini sekarang, jutaan otak yang sedang terhubung dengan siaran ini akan mengalami 'brain-short'. Kau ingin menjadi pembunuh masal?"
Bimo mematung. Di layar ponselnya, angka penonton kini menembus satu juta. Mayanaya mulai tersenyum, dan kali ini, senyum itu tidak lagi terlihat sedih. Senyum itu penuh dengan lapar. Mereka telah menemukan cara untuk kembali: bukan melalui algoritma agensi, melainkan melalui memori manusia yang tak pernah benar-benar bisa dihapus bersih.
Di sudut layar, sebuah tombol kecil yang sudah lama hilang muncul kembali. Tombol berwarna merah darah dengan tulisan: [ACCEPT CHALLENGE?]
Kali ini, targetnya bukan lagi para selebgram, tapi siapa saja yang berani menatap layar.
ok next