NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

BAB 23: Cahaya di Lorong Gelap (Bagian 1)

Waktu di dalam penjara memiliki detaknya sendiri—lambat, berat, dan terkadang terasa berhenti sama sekali. Namun bagi Alek, sejak pertemuannya dengan Syekh Mansyur di perpustakaan berdebu itu, waktu tidak lagi terasa seperti musuh yang menyeretnya menuju kehancuran. Setiap pagi, setelah bel bangun berbunyi dan apel pagi selesai dilaksanakan, Alek tidak lagi membuang waktu dengan melamun di pojok sel. Ia memiliki tujuan.

Lapas Kelas IIA itu mulai mengenal rutinitas baru. Setiap pukul sembilan pagi, Alexander Panjaitan akan terlihat berjalan menuju ruang perpustakaan di ujung Blok B. Langkahnya tetap tegap, namun tidak lagi mengandung keangkuhan anggota geng yang siap menerjang. Ia membawa ember berisi air sabun, lap bersih, dan semangat yang tidak pernah ia duga akan ia temukan di tempat seperti ini.

"Assalamu’alaikum, Syekh," sapa Alek setiap kali memasuki ruangan itu.

Syekh Mansyur biasanya sudah duduk di sana, di atas kursi kayu tua yang goyang, sedang membaca kitab dengan kacamata yang diletakkan di ujung hidungnya. Pria tua itu akan selalu mendongak, tersenyum dengan keteduhan yang membuat tembok-tembok penjara yang dingin seolah menghangat.

"Wa’alaikumussalam, Alexander. Kau datang lebih awal hari ini," sahut Syekh Mansyur lembut.

Alek tidak banyak bicara. Ia langsung mulai bekerja. Ia membersihkan rak-rak kayu yang dipenuhi rayap, menyusun buku-buku yang sampulnya sudah robek, dan mengepel lantai semen yang kusam hingga mengkilap. Syekh Mansyur tidak pernah memerintahnya, namun Alek merasa bahwa melayani pria yang difitnah ini adalah cara terbaik untuk melayani Tuhan yang sedang ia cari kembali.

Transformasi Alek tidak luput dari perhatian narapidana lain. Di tempat di mana kekerasan adalah mata uang utama, perubahan Alek dianggap sebagai anomali. Banyak yang mengira Alek hanya "berakting" untuk mendapatkan simpati petugas agar masa tahanannya dikurangi.

Suatu siang, saat Alek sedang membantu narapidana bernama Salim—seorang pria paruh baya yang buta huruf dan dipenjara karena kasus pencurian ternak—untuk menulis surat bagi istrinya di desa, si Macan dan kelompoknya masuk ke perpustakaan.

"Lihat ini, anak-anak," ejek si Macan, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. "Mesin tempur Venom Crew sekarang jadi sekretaris pribadi. Berapa Syekh bayar lo, Lex? Atau lo berharap masuk surga cuma dengan ngelap debu?"

Alek tidak mengangkat kepalanya dari kertas. Ia terus menulis kalimat: 'Bu, jangan lupa jaga kesehatan, aku di sini baik-baik saja dan sedang belajar jadi orang benar.'

"Woi! Gue bicara sama lo!" si Macan menggebrak meja kerja Alek.

Syekh Mansyur yang sejak tadi diam, menutup kitabnya perlahan. "Anak muda," suara Syekh tenang namun memiliki otoritas yang membuat si Macan tertegun sejenak. "Kemarahan hanya akan membakar hatimu sendiri sebelum ia sempat membakar orang lain. Duduklah, mungkin ada buku di sini yang bisa mendinginkan kepalamu."

"Jangan ikut campur, Syekh! Ini urusan gue sama si pengkhianat ini!" bentak si Macan.

Alek akhirnya berdiri. Ia meletakkan pulpennya. Ia menatap si Macan tepat di mata. Tidak ada kilatan haus darah seperti saat ia berkelahi di jalanan dulu. Yang ada hanyalah ketenangan yang dalam.

"Aku tidak dibayar apa-apa, Macan," kata Alek pelan. "Aku melakukannya karena aku sadar, tanganku selama ini lebih sering menghancurkan daripada membangun. Menulis surat ini adalah cara terkecil yang bisa kulakukan untuk menebusnya. Kalau kau punya masalah denganku, silakan. Tapi jangan di ruangan ini. Ini tempat Syekh."

Si Macan mengepalkan tangannya, namun entah mengapa, melihat Alek yang begitu tenang dan aura Syekh Mansyur yang begitu berwibawa di belakangnya, nyalinya menciut. Ia hanya bisa meludah ke lantai sebelum berbalik pergi bersama kawan-kawannya, menyisakan kesunyian yang kembali merayap.

"Kau melakukannya dengan baik, Alexander," puji Syekh Mansyur setelah mereka pergi. "Kau tidak melawan apinya dengan api, tapi dengan air."

Ujian bagi Alek tidak berhenti di situ. Seminggu kemudian, krisis besar melanda Lapas. Akibat sanitasi yang buruk dan musim hujan yang membuat sel semakin lembap, wabah penyakit kulit dan diare massal merebak. Klinik Lapas yang hanya dijaga satu dokter dan dua perawat kewalahan. Banyak narapidana tergeletak lemas di sel mereka, termasuk beberapa anggota kelompok si Macan.

Saat narapidana lain memilih untuk menjauh karena takut tertular, Alek justru mengajukan diri sebagai relawan. Di bawah bimbingan dokter lapas, ia membawa ember-ember berisi air bersih, memberikan obat, dan membersihkan sisa-misa kotoran dari narapidana yang sudah terlalu lemah untuk berdiri.

Ada momen mengharukan saat Alek harus merawat salah satu anak buah si Macan yang dulu paling sering menghinanya. Pria itu menggigil hebat karena demam dan tidak bisa menahan buang air di celananya. Tanpa rasa jijik, Alek mengganti pakaian pria itu dan membasuh tubuhnya dengan air hangat.

"Kenapa lo lakuin ini, Lex?" tanya pria itu dengan suara parau dan penuh rasa malu. "Gue... gue pernah ludahin makanan lo minggu lalu."

Alek hanya tersenyum tipis sambil memeras handuk basah. "Karena Syekh Mansyur bilang, kebaikan tidak punya syarat. Dan aku... aku cuma ingin jadi manusia lagi."

Berita tentang keikhlasan Alek menyebar cepat. Penghuni Blok B yang tadinya takut atau benci padanya mulai menatapnya dengan cara yang berbeda. Mereka mulai melihat Alexander Panjaitan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sandaran.

Selama masa wabah itu, Alek hampir tidak tidur. Ia menghabiskan malam-malamnya di koridor, berpindah dari satu sel ke sel lain untuk memastikan rekan-rekan satu nasibnya tetap terhidrasi. Dalam kelelahan yang luar biasa itu, Alek merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: rasa berguna yang murni. Bukan rasa bangga karena ditakuti, tapi rasa damai karena dicintai.

Syekh Mansyur sering memantau Alek dari kejauhan. Suatu malam, saat Alek sedang beristirahat sebentar di selasar, Syekh menghampirinya dan menyodorkan sebotol air minum.

"Kau tahu, Alexander," ujar Syekh Mansyur sambil duduk di sampingnya. "Emas tetaplah emas, meski ia terkubur di dalam lumpur penjara. Kau sedang membasuh lumpur itu dari jiwamu."

Alek menatap tangannya yang kasar dan penuh luka. "Aku hanya berharap Ayahku bisa melihat ini, Syekh. Aku hanya ingin dia tahu bahwa penjara tidak menghancurkanku, tapi penjara menyelamatkanku."

Syekh Mansyur menepuk bahu Alek. "Tuhan punya cara sendiri untuk menunjukkan kebenaran kepada ayahmu. Tugasmu sekarang hanyalah tetap istiqomah—tetap teguh di jalan ini. Karena ujian yang sebenarnya biasanya datang saat kita merasa sudah cukup kuat."

Alek mengangguk. Ia tidak tahu bahwa ucapan Syekh Mansyur adalah sebuah nubuat. Bahwa esok hari, sebuah ujian yang akan menghancurkan hatinya berkeping-keping akan datang melalui pintu gerbang penjara dalam bentuk seorang sahabat lama dan sebuah surat yang akan mengubah seluruh motivasinya untuk bebas.

Malam itu, Alek menutup matanya dengan rasa lelah yang nikmat, tidak menyadari bahwa itu adalah malam terakhir ia bisa tersenyum sebelum kabar pahit dari dunia luar menghantamnya.

Bagian 1 Selesai.

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!