Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Bayangan di Balik Cahaya
Tiga hari menuju Turnamen Seleksi Sekte Dalam adalah waktu yang singkat bagi kebanyakan murid, namun bagi Lu Chen, setiap detiknya adalah keabadian yang terukur oleh sistem. Di dalam dimensi tersembunyi yang disediakan oleh Omnipotence Mask, waktu seolah melambat, memberinya ruang untuk mencerna kekuatan baru yang mengalir di nadinya.
Lu Chen berdiri di tengah Blok A yang kini kosong. Bau sisa energi es dari Phoenix yang hilang masih tertinggal tipis, namun fokusnya beralih pada panel biru yang mengambang di depannya.
[Teknik: Langkah Bayangan Naga (SSS+ - Terkunci pada Tahap 1)]
[Deskripsi: Menggerakkan tubuh mengikuti aliran udara dan distorsi ruang. Pada tingkat tertinggi, pengguna dapat berpindah antar dimensi.]
[Status Latihan: 0%...]
"Mari kita mulai," bisik Lu Chen.
Dia mencoba melangkah, namun tubuhnya justru terlempar ke depan dan menghantam jeruji besi dengan suara dentuman keras.
"Bodoh," suara Ignis bergema dari atas tumpukan mineral. Semut naga itu sedang asyik mengunyah sisa-sisa Batu Es Jernih yang tertinggal. "Kau mencoba bergerak seperti manusia, sementara teknik itu menuntutmu bergerak seperti naga. Naga tidak berjalan di atas tanah; mereka menguasai ruang yang mereka lalui."
Lu Chen bangkit, menyeka darah di sudut bibirnya. "Jelaskan lebih spesifik, Raja Naga yang agung."
Ignis terbang mendekat, sayap api kecilnya berkilatan. "Jangan melawan udara, tapi jadilah bagian darinya. Saat kau melangkah, bayangkan tulang punggungmu adalah poros langit. Energi naga yang aku berikan bukan untuk diledakkan, tapi untuk disalurkan secara halus ke titik-titik meridian di kakimu."
Lu Chen memejamkan mata. Dia mulai mengatur napas menggunakan 'Napas Naga Tak Terlihat'. Perlahan, dia merasakan aliran energi hangat berkumpul di telapak kakinya. Saat dia melangkah lagi, sosoknya tiba-tiba menjadi kabur. Dalam satu kedipan mata, dia sudah berada di ujung lain sel, meninggalkan bayangan sisa yang perlahan memudar.
[Ding! Kemajuan 'Langkah Bayangan Naga': 15%... 35%...]
"Ini luar biasa..." Lu Chen menatap tangannya yang sedikit transparan saat dia bergerak. Dengan teknik ini, bahkan seorang kultivator tahap Pembangunan Fondasi tingkat tinggi pun akan kesulitan menangkap gerakannya, apalagi murid-murid tahap Pengumpulan Roh.
"Cukup untuk latihan gerakannya," Ignis mendarat di bahu Lu Chen. "Sekarang, bagaimana dengan burung kecil itu? Jika dia terus di dalam dimensimu, dia tidak akan pernah pulih."
Lu Chen mengangguk. Dengan lambaian tangan, dia memanggil keluar Phoenix Es dari ruang sistem. Burung itu muncul dalam gumpalan cahaya biru. Luka-lukanya sudah menutup berkat energi dari sistem, namun bulunya masih tampak kusam.
Begitu melihat Ignis, Phoenix itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengeluarkan suara cicitan rendah yang penuh hormat.
"Dia tampak jauh lebih baik," kata Lu Chen. "Tapi dia terlalu mencolok. Ignis, bisakah kau memberikan sedikit 'Segel Naga' padanya agar auranya tersamarkan?"
Ignis mendengus sombong. "Kau ingin aku menggunakan otoritas bangsawan naga untuk menutupi identitas seekor unggas? Baiklah, anggap saja ini investasi."
Semut itu merayap ke dahi Phoenix dan menyentuhnya dengan antenanya. Seketika, warna biru cerah pada bulu Phoenix berubah menjadi abu-abu kecokelatan yang kusam. Aura sucinya menghilang, digantikan oleh aura binatang tingkat rendah yang biasa saja. Dari luar, Phoenix Es yang legendaris itu kini terlihat seperti seekor Burung Emprit Hutan yang tidak berharga.
"Sekarang dia bisa mengikutimu sebagai 'hewan peliharaan' kedua. Tidak ada yang akan curiga," kata Ignis.
"Terima kasih, Ignis. Aku akan menamainya 'Xiao Bing'," ujar Lu Chen sambil mengelus kepala burung itu.
Namun, kedamaian latihan mereka terganggu oleh suara teriakan dari luar lembah.
"LU CHEN! KELUAR KAU, SAMPAH!"
Lu Chen segera menarik Xiao Bing kembali ke dimensi sistem, sementara Ignis menyembunyikan fitur naganya. Dia melangkah keluar dari kandang dengan wajah lesu dan pakaian yang sengaja dikotori debu.
Di luar, Han Wei berdiri dengan angkuh. Namun kali ini dia tidak sendiri. Dia didampingi oleh seorang pria muda dengan jubah perak yang menyilaukan—Han Feng, kakak laki-laki Han Wei yang merupakan murid inti peringkat 10 besar di Sekte Dalam.
"Jadi ini orangnya?" Han Feng menatap Lu Chen dengan pandangan yang lebih dingin dan tajam daripada adiknya. Tekanan spiritual dari seorang kultivator Pembangunan Fondasi Tingkat 3 meledak dari tubuhnya, mencoba menekan Lu Chen agar berlutut.
Lu Chen merasakan tekanan itu, namun di dalam dirinya, sistem SSS+ secara otomatis menetralisir 99% dari tekanan tersebut. Agar terlihat meyakinkan, Lu Chen berpura-pura gemetar dan kakinya sedikit goyah.
"K-kakak Han... ada apa lagi ini?" tanya Lu Chen dengan suara yang dibuat gagap.
"Jangan berlagak bodoh!" Han Wei maju dan meludah ke tanah. "Ayahku bilang kau tidak bersalah atas hilangnya Phoenix itu, tapi aku tahu kau menggunakan semacam sihir hitam untuk menyakitiku tempo hari. Kakakku datang untuk memastikan kau mendapatkan pelajaran yang pantas sebelum turnamen dimulai."
Han Feng mengangkat tangannya, sebuah bola energi petir kecil menari-nari di ujung jarinya. "Aku tidak akan membunuhmu, karena membunuh sampah sepertimu hanya akan mengotori tanganku. Tapi aku akan menyegel meridianmu, sehingga saat turnamen nanti, kau bahkan tidak akan bisa mengangkat tangan untuk menyerah. Kau akan dipukuli hingga menjadi cacat di depan seluruh sekte."
"Lu Chen, haruskah aku menggigit jantungnya sekarang?" suara Ignis terdengar penuh haus darah.
"Belum waktunya, Ignis," balas Lu Chen tenang. "Biarkan dia merasa menang."
Tepat saat Han Feng hendak melepaskan serangan petirnya, suara lonceng besar bergema dari puncak utama sekte. Suaranya begitu menggelegar, memaksa Han Feng untuk menghentikan serangannya.
"Lonceng Pemanggilan?" Han Feng mengernyitkan dahi. "Turnamen dimajukan? Sial!"
Han Feng menurunkan tangannya dan menatap Lu Chen dengan kebencian. "Kau beruntung hari ini, Sampah. Tapi ingat, di panggung turnamen, tidak ada lonceng yang bisa menyelamatkanmu. Aku akan memastikan Han Wei menghancurkan setiap tulang di tubuhmu di depan semua orang."
Kedua bersaudara itu pergi dengan angkuh. Lu Chen berdiri diam, menatap punggung mereka yang menjauh.
"Menghancurkan setiap tulangku?" Lu Chen menyeka debu dari bajunya, matanya berkilat dingin. "Kita lihat saja, Han Feng. Saat aku berdiri di panggung itu, aku tidak hanya akan mengalahkan adikmu, aku akan meruntuhkan seluruh kesombongan keluarga Han-mu."
[Ding! Misi Diperbarui.]
[Tujuan: Memenangkan Babak Penyisihan dalam 1 Serangan (Tanpa Menggunakan Energi Spiritual Terlihat).]
[Hadiah: Peningkatan Grade Ignis ke 'Remaja'.]
"Satu serangan?" Lu Chen tersenyum tipis. "Ignis, sepertinya kita harus berlatih sedikit lebih keras malam ini."
"Heh, aku sudah tidak sabar melihat wajah mereka saat 'semut' ini meruntuhkan langit mereka," balas Ignis dengan seringai yang tak terlihat.
Di bawah rembulan yang semakin memucat, Lu Chen kembali ke dalam gelapnya kandang, menyiapkan badai yang akan menyapu seluruh Sekte Langit Biru di hari esok.