Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Biaya Hidup
RS Linhai No.2 berdiri dengan wajah yang dingin dan kaku. Gedung beton berwarna pucat itu tidak memberikan kesan penyembuhan, melainkan penilaian. Orang-orang keluar masuk melalui pintu otomatis seperti angka dalam laporan—datang, diproses, lalu pergi.
Gu Yanqing tiba di lobi utama pukul 13.47.
Langkahnya cepat, tetapi tidak tergesa. Napasnya sedikit berat. Keringat di punggungnya belum sepenuhnya kering sejak pelabuhan. Di hadapannya, antrean pendaftaran rawat inap membentang lurus. Beberapa keluarga berdiri sambil memegang map plastik biru. Di dalam map-map itu, hidup seseorang sedang dihitung.
Ia berdiri di depan loket informasi.
“Saya keluarga pasien Li Shumin,” katanya singkat.
Petugas loket mengangkat kepala, mengetik cepat di komputer. “Bangsal darurat lantai tiga. Perawat Zhang Min.”
Gu Yanqing berbalik tanpa mengucapkan terima kasih.
Lorong lantai tiga dipenuhi bau antiseptik. Lampu putih menyala tanpa bayangan. Suara roda ranjang, langkah cepat dokter, dan bunyi monitor jantung saling bertabrakan. Tidak ada yang berbicara dengan nada pelan. Semua kalimat di sini bersifat mendesak.
“Gu Yanqing?”
Seorang perawat mendekat. Seragamnya rapi, wajahnya netral. Namanya tertulis jelas di dada: Zhang Min.
“Saya,” jawab Gu Yanqing.
“Ikuti saya.”
Mereka berjalan melewati dua pintu otomatis. Li Shumin terbaring di ranjang nomor tujuh. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Selang infus menancap di punggung tangan kirinya. Napasnya dangkal, teratur oleh mesin.
Gu Yanqing berhenti di sisi ranjang.
Perawat Zhang Min membuka map medis. “Pasien mengalami kolaps mendadak. Dugaan pendarahan internal. Setelah CT-scan, dokter memastikan perlu operasi segera.”
“Seberapa cepat,” tanya Gu Yanqing.
“Dalam dua jam ke depan. Risiko meningkat setiap menit.”
Gu Yanqing mengangguk.
Perawat Zhang Min membalik halaman. “Biaya estimasi operasi dan perawatan awal sebesar seratus delapan puluh ribu yuan. Ini belum termasuk kemungkinan komplikasi pascaoperasi.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada datar, seperti membaca daftar inventaris.
Gu Yanqing menatap formulir yang disodorkan kepadanya. Kertas putih. Teks hitam. Kolom tanda tangan kosong.
“Pembayaran awal diperlukan sebelum operasi,” lanjut Zhang Min. “Apakah Anda penjamin?”
“Saya anaknya,” jawab Gu Yanqing.
“Apakah ada asuransi?”
“Tidak.”
“Penjamin lain?”
“Tidak ada.”
Perawat Zhang Min mencatat sesuatu. “Pembayaran bisa melalui transfer atau tunai. Jika belum tersedia, rumah sakit hanya bisa melakukan tindakan stabilisasi sementara.”
Stabilisasi.
Bukan penyembuhan. Hanya menunda.
Gu Yanqing menarik napas pelan. “Beri saya waktu.”
Zhang Min mengangguk tipis. “Satu jam.”
Gu Yanqing melangkah mundur dari ranjang. Ia tidak menyentuh tangan ibunya. Ia tahu sentuhan tidak mengubah angka.
Ia duduk di bangku lorong. Punggungnya menempel pada dinding dingin. Ponsel dikeluarkan. Aplikasi bank dibuka.
Saldo rekening: ¥2.300.
Ia menghitung cepat.
Upah bulan ini: ditahan.
Tabungan lama: habis untuk sewa dan obat.
Teman: buruh pelabuhan, kondisi sama.
Keluarga lain: tidak ada.
¥180.000.
¥2.300.
Selisihnya terlalu besar untuk disebut kekurangan. Itu jurang.
Gu Yanqing mematikan layar ponsel.
Di lorong, seorang pria paruh baya berdebat dengan petugas administrasi. Seorang wanita menangis sambil memegang map biru. Tidak ada yang menoleh. Di rumah sakit, emosi tidak mendapat prioritas.
Gu Yanqing menatap formulir di tangannya.
Nama pasien tercetak jelas: Li Shumin.
Kolom penjamin: kosong.
Kolom tanda tangan: menunggu.
Kertas itu terasa lebih berat daripada baja di pelabuhan.
Ia memahami satu hal dengan jelas.
Di dunia ini, hidup memiliki harga.
Dan harga itu harus dibayar di muka.
Gu Yanqing menundukkan kepala sedikit. Kepanikannya tidak meledak. Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata. Yang ada hanya kekosongan yang menekan dari segala arah.
Waktu terus berjalan.
Jarum jam di ujung lorong bergerak tanpa suara.
Satu jam terasa terlalu singkat.
...
Gu Yanqing duduk di bangku lorong tanpa bergerak.
Jam dinding menunjukkan pukul 14.32.
Lorong itu panjang dan lurus, seperti jalur inspeksi. Setiap beberapa detik, seorang dokter atau perawat lewat dengan langkah cepat. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang bertanya. Semua orang memiliki urusan sendiri. Di tempat ini, hidup orang lain bukan prioritas.
Gu Yanqing menatap lantai.
Di kepalanya, angka-angka berulang tanpa henti.
¥180.000.
¥2.300.
Tidak ada celah. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada orang yang bisa dimintai tolong tanpa harga yang lebih mahal.
Ia telah bekerja bertahun-tahun. Tidak mencuri. Tidak berutang. Tidak mencari masalah. Namun ketika satu krisis datang, semua itu tidak memiliki nilai tukar.
Kerja keras tidak bisa dijadikan jaminan.
Integritas tidak bisa digadaikan.
Ia menyadari sesuatu yang lebih kejam.
Ia bukan tidak mampu.
Ia hanya tidak memiliki posisi.
Tanpa kekuasaan, tanpa koneksi, tanpa latar belakang, seseorang tidak lebih dari angka yang bisa dihapus.
Pukul 14.41.
Perawat Zhang Min keluar dari ruang perawatan dan melirik ke arahnya. Tatapan itu singkat, profesional, tanpa emosi. Pengingat tanpa kata: waktu hampir habis.
Gu Yanqing menarik napas panjang.
Ia berhenti berharap. Harapan hanya membuang waktu. Yang dibutuhkan sekarang adalah langkah. Aturan. Konsekuensi.
Pikirannya bergerak cepat.
Dongkou Port.
Kecelakaan kerja ayahnya.
Laporan lama yang ditolak.
Mandor Wang Jicheng.
Pemecatan hari ini.
Potongan-potongan itu tersusun rapi, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai data.
Tiba-tiba—
Sebuah sensasi dingin menyapu kesadarannya.
Bukan suara. Bukan cahaya. Melainkan keberadaan yang muncul begitu saja, seolah telah menunggu saat ia berhenti berharap.
Di hadapan penglihatannya, sebuah panel transparan terbentuk. Garis-garisnya tajam. Teksnya hitam, rapi, tanpa hiasan.
[ Panel Sistem ]
Nama: Gu Yanqing
Sistem: Wealth Ascension System
Status: Aktif
Prinsip Inti:
— Semua perolehan kekayaan harus sah secara hukum
— Tidak menciptakan nilai dari ketiadaan
— Setiap tindakan memiliki konsekuensi yang setara
Gu Yanqing menatap panel itu tanpa perubahan ekspresi.
Tidak ada euforia. Tidak ada keterkejutan berlebihan. Hanya pengakuan dingin terhadap fakta baru.
Panel itu beralih.
[ Panel Sistem ]
Evaluasi Awal:
— Kondisi ekonomi: Kritis
— Tekanan waktu: Tinggi
— Lingkungan: Bermusuhan
Kesimpulan: Subjek berada pada fase eliminasi sosial
Kalimat itu tidak menyudutkan. Tidak menghibur. Hanya menyatakan keadaan.
Gu Yanqing mengepalkan jari perlahan.
Panel terakhir muncul.
[ Panel Sistem ]
[ Task Pertama ]
Ajukan gugatan kecelakaan kerja Dongkou Port
Target:
— Wang Jicheng
— Unit Manajemen Operasional Pelabuhan Dongkou
Batas Waktu: 72 Jam
Hadiah: Akses tahap awal sistem
Penalti Kegagalan: Penonaktifan permanen
Gu Yanqing mengangkat kepala.
Wajahnya tetap tenang. Tatapannya jernih, dingin, dan fokus. Tidak ada lagi kebingungan. Tidak ada lagi kepanikan.
Ia memahami aturan permainan.
Jika dunia ini menilai segalanya dengan hukum dan kekuasaan, maka ia akan masuk ke arena itu secara langsung.
Tanpa mencari mati.
Tanpa meminta belas kasihan.
Gu Yanqing berdiri dari bangku lorong.
Di kejauhan, monitor jantung ibunya terus berbunyi pelan.
Ia melangkah menuju meja administrasi, membawa formulir di tangannya—dan keputusan di kepalanya.
Tenang.
Namun berbahaya.