Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Pagi datang lebih cepat. Langit masih berwarna abu-abu pucat ketika Andra yang masih berbalut handuk, berjalan mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar. Tubuh kecilnya menggigil. Dinginnya air yang bercampur dengan udara yang masuk melalui celah-celah jendela, membuatnya hampir membeku. Harum dari aroma sabun mandi tercium samar memenuhi ruangan. Terasa memabukkan. Andra mengambil selimut, lalu melilitkannya pada tubuh. Ia berjalan ke arah lemari untuk mencari seragam sekolahnya. Matanya terus memindai, sementara tangannya terus menyibak satu demi satu pakaian yang tergantung.
Saat itu, netranya tertuju pada sesuatu yang menarik perhatian, yang terletak paling ujung. Sebuah kostum superhero yang ia kenakan saat pesta ulang tahunnya tahun lalu itu menjadi satu-satunya kenangan paling indah bersama sang ayah dalam beberapa tahun terakhir. Karena tahun-tahun sebelumnya ia hanya merayakannya bersama ibu. Selalu berdua. Tanpa kehadiran sang kepala keluarga. Mata Andra berkaca-kaca saat mengingatnya. Ia merindukan ayahnya. Sangat. Tetapi karena pekerjaan, mereka tidak bisa bertemu setiap saat.
Tak mau larut dalam kesedihan, sementara waktu terus bergerak, Andra memakai seragamnya dengan cepat. Menyambar tas, kertas gambar, topi dan...
"Ma!!! Dasi Andra kemana??!!" Teriaknya keras. Berharap sang ibu yang masih sibuk di dapur mendengar. Ia kembali ke lemari. Mencoba mencarinya disana. Namun tak ada.
Sarah yang sedang mengaduk wajan, membalas dengan berteriak juga. "Mama gantung di balik pintu, coba kamu cari!!"
Sesuai instruksi, Andra berlari kesana. "Udah ketemu!!" Balasnya.
Tapi sekarang yang jadi masalah adalah dasi itu tergantung cukup tinggi, dan tubuhnya yang kecil tak sampai untuk meraihnya.
Andra mencoba berjinjit. Tapi tangannya hanya menggapai ujungnya saja. Tak sampai semuanya. Kemudian ia mencoba untuk melompat. Tetapi bukannya dapat, kepalanya justru terbentur pintu. Menimbulkan bunyi yang cukup keras. Dan rasa sakit yang tak seberapa.
"Apa itu nak??!!" Tanya Sarah yang mendengar suara ribut-ribut.
"Nggak papa ma. Buku Andra jatuh." Jawabnya bohong.
Andra terdiam sejenak. Lalu menarik kursi dan membawanya ke dekat pintu. Keberaniannya muncul seketika mengalahkan rasa takutnya akan ketinggian.
"Akhirnya dapat..." Ujarnya senang. Lalu bergegas keluar kamar.
Suara sepatu yang beradu dengan lantai, terasa semakin dekat dan dekat. Sarah melihat Andra muncul dengan tas dibahunya. Sementara ditangan, banyak barang ia pegang.
Kursi ditarik ke belakang dengan susah payah. Lalu Andra menjatuhkan dirinya disana. Sementara barang-barang yang ia bawa, diletakkan begitu saja diatas meja. Berserakan. Hampir memenuhi semuanya.
Tak lama setelah kedatangannya, terdengar suara langkah kaki lain, yang lebih ringan, lebih lembut dan lebih halus dari suara langkah kakinya. Lalu muncul lah Lily dengan wajah setengah mengantuk. Satu tangannya memeluk boneka, sementara tangan yang lain menggosok-gosok mata.
"Mama..." Panggilnya lirih. Sementara kaki-kaki gemuknya tak berhenti berjalan. Tanpa alas kaki. Melewati Andra begitu saja, tanpa menoleh. Seolah kehadirannya tak kasat mata.
Lily baru berhenti ketika berada di samping ibunya, lalu memeluk kakinya erat. Matanya kembali terpejam, dengan jempol yang masuk ke dalam mulut.
"Nak, jangan disini. Nanti kamu kena minyak panas." Sarah berusaha menjauhkan Lily dari sisinya. Namun anak itu tak bergeming. Tetap memeluk dengan erat. Seolah peringatan itu tak ada apa-apanya. Tak ada artinya. Atau bahkan ia tak tahu apa maksudnya.
Untungnya nasi goreng yang ia buat telah matang. Sarah segera mematikan kompor, lalu mengangkat Lily dalam gendongan.
"Tunggu dulu yah disini sama Mas Andra." Katanya lembut. Kemudian menaruh Lily tepat di samping kakaknya.
Gadis kecil itu merasa enggan. Terus merengek tak ingin lepas. Tetapi setelah dibujuk dengan berbagai cara, akhirnya ia menurut. Melepaskan cengkraman.
Sarah kembali ke dapur. Memindahkan nasi goreng dari wajan ke atas piring. Lalu meletakkannya di depan anak-anak. Tak lupa, segelas susu untuk menambah nutrisi disiapkan Andra dan Lily.
Bau harum tercium. Menggugah selera. Lily membuka mata, menatap penuh minat pada makanan di depannya.
"Ayo, makan dulu sayang. Udah siang, nanti kamu bisa terlambat."
Andra mengangkat dasinya di depan Sarah. "Ini tolong pakaikan dulu ma." Pintanya.
Sarah mendekat. Memakaikan dengan cepat.
Mereka makan dalam diam. Sangat menikmati apa yang disajikan. Kepala Lily bergerak-gerak, tanda ia senang. Ia makan dengan lahap. Tak ada drama, tak ada rengekan. Tak ada Jeffrey juga yang di panggil untuk membantu. Pagi ini berjalan lebih tenang dari biasanya.
"Aku berangkat sekolah dulu yah ma, assalamualaikum." Pamit Andra. Lalu mencium tangan Sarah, juga kedua pipinya.
Sang adik tak mau kalah. Ikut menyodorkan tangannya. Minta dicium juga. Membuat Sarah tertawa.
"Salah sayang. Karena Lily lebih muda, jadi Lily yang harus cium tangan Mas Andra."
Setelah diberi pengertian, harapannya Lily akan mengerti. Namun hal itu justru sebaliknya. Gadis kecil itu kekeh ingin tangannya saja yang dicium oleh sang kakak.
Dengan nafas yang terhela berat. Andra menuruti. Mencium tangan Lily sebentar, lalu segera keluar rumah.
"Ayo antar Mas Andra ke depan." Ajak Sarah.
Lily mengangguk semangat. Ia merentangkan kedua tangannya minta di gendong. Sarah tersenyum pasrah.
Ketika mereka sampai diluar. Andra dan Jeffrey telah pergi. Jejaknya masih terlihat, tapi sudah cukup jauh. Lily memajukan bibirnya. Merasa sepi, merasa di tinggalkan. Perasaan yang sama yang selalu ia rasakan setiap kali sang kakak berangkat ke sekolah.
Rasa sedih itu semakin terasa saat tubuh Andra menghilang di belokan. Mata Lily berkaca-kaca. Perlahan butiran bening berkumpul di sudut mata.
Saat ibunya berencana kembali ke dalam, di saat itulah tatapan Lily jatuh pada pengendara sepeda yang kebetulan lewat di depan mereka. Ingatan akan pertemuannya dengan sepasang lansia tempo hari memenuhi pikirannya.
"Mama, yo taman." Ajaknya penuh semangat. Melupakan rasa sedihnya. (*Mama, ayo ke taman.)
Sarah menatap Lily dengan kepala yang di miringkan. "Gimana sayang?"
"Yo mama, taman sana." Kata Lily lagi. Sedikit marah, begitu gusar dan tak sabar.
"Iya nanti kita kesana, mandi dulu ya..." Bujuk Sarah.
"No no, kalang mama. Sana enek taman." Rengeknya. (*No no. Sekarang mama. Di sana ada nenek, di taman.)
"Kalau Lily mau ketaman, harus mandi dulu. Kalau kamu nggak mandi, mama nggak mau anter kamu kesana."
Saat itulah Lily akhirnya mengangguk.
***
Taman tak seramai saat akhir pekan. Namun terasa lebih tenang. Lily berjalan di depan, memimpin. Sedangkan Sarah tertinggal dibelakang, berusaha menyamai.
"Pelan-pelan sayang, nanti jatuh." Peringatnya. Namun tak diindahkan.
Sepanjang jalan anak itu terus bergumam panjang. Dengan tangan naik turun, memperagakan sesuatu. Seolah sedang bercerita. Namun Sarah tak paham. Juga tak mengerti.
Ada satu kata yang selalu Lily ulang-ulang. Yang ia artikan sebagai 'nenek'. Tetapi nenek siapa yang ia maksud? Sedangkan neneknya sendiri sangat jauh disana. Apakah anak itu bertemu seseorang kemarin?
Berbagai macam permainan tak dilirik. Anak-anak seusianya yang sedang bermain pun tak membuatnya tertarik. Anak itu hanya terus berjalan dan berjalan. Tak tentu arah. Seolah tanpa tujuan.
"Kita sebenarnya mau kemana sayang? Kamu nggak mau main?"
Lily berhenti sejenak untuk menatap ibunya. "Enek mama, cari." (*Cari nenek mama.)
"Nenek siapa? Nenek yang mana?" Sarah lelah. Mereka sudah berputar-putar namun tak kunjung menemukan nenek yang Lily cari. Ia juga haus, ingin meminum sesuatu. Saat sarapan tadi ia sibuk mengurusi anak-anak sampai lupa untuk minum.
"Tuh enek mama, ntuh." Telunjuk Lily mengarah ke satu arah. Dengan berapi-api. Melihat sosok yang dikenalnya di tengah keramaian membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Rasa bahagia itu datang.
Sarah menyipitkan mata. Mencoba menajamkan penglihatan. Disana memang ada sepasang lansia yang sedang duduk diatas rumput sembari memandang anak-anak bermain. Sementara di samping mereka ada sebuah buku yang tergeletak. Tersentuh angin.
"Yang itu?" Tanya Sarah untuk meyakinkan.
Lily mengangguk. "Eung."
"Kamu kenal sama mereka?"
Lily mengangguk lagi. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi. Ia segera berlari untuk menghampiri. Meninggalkan Sarah sendiri.
"ENEKKK...!!!"
Mendengar suara yang dikenalnya, nenek menoleh. Mencari-cari. Kemudian senyumnya tertarik lebar saat menemukan Lily. Begitu juga dengan kakek. Kedua tangannya terangkat, mencoba menangkap. Karena gadis kecil itu berlari begitu cepat.
Saat hampir tiba di depan mereka. Lily berhasil menghentikan laju kakinya. Lalu berjalan perlahan dengan riang. Rambutnya bergoyang-goyang tertiup angin. Sedikit berantakan. Namun tak mengurangi kadar kelucuan dalam dirinya.
Rasa khawatir dalam diri kakek perlahan hilang. Tangannya turun. Menekuk dipangkuan. Saling menggenggam. Sementara tatapnya masih tak berubah.
Sarah tiba setelahnya. Memberi salam, lalu saling menjabat tangan. Ia mengenalkan dirinya pada mereka. Sebagai ibu dari Lily dan Andra.
Obrolan singkat terjalin. Tentang pertemuan singkat yang terjadi sebelumnya, juga tentang rasa senang yang dirasakan keduanya saat bertemu Lily. Pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi bersarang dalam diri Sarah kini terjawab satu persatu.
Buku di samping nenek menarik perhatian. Lily mendekat, mencoba melihat. Dalam sampulnya ada seekor hewan, dengan hidung yang panjang dan telinga yang lebar sedang menatap marah pada seekor semut yang seakan tak goyah.
Lily mengambil buku itu, lalu menyerahkannya pada nenek. "Uku enek." Katanya. (*Buku nenek)
Nenek menggeleng. "Bukan punya nenek. Punya anak yang disana. Dia menitipkannya pada nenek tadi."
Tak ada balasan. Lily hanya terus menatap tak berkedip. Kepalanya sedikit miring.
Nenek tak paham, juga tak mengerti. Ia hanya mengikuti nalurinya. Buku itu ia buka sampulnya, lalu menunjukkan isinya pada Lily. Masih gambar seekor gajah, dengan adegan yang berbeda. Mulut nenek secara otomatis membacakan isinya.
Seperti yang Lily rasakan kemarin, nenek sangat pandai bercerita, juga sangat pandai menirukan suara. Membuatnya mulai terhanyut mengikuti kisah dalam buku itu.
Anak-anak yang sebelumnya asik bermain, mulai mendekat satu persatu. Lalu duduk di depan nenek. Melingkar dengan rapi. Ikut mendengarkan.
Halaman demi halaman terbalik. Suara nenek terus berganti-ganti. Sesuai karakter dalam buku. Dan saat cerita berakhir, semua bertepuk tangan dengan meriah.