NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: TAMU DI BALIK GERBANG EMAS

BAB 2: TAMU DI BALIK GERBANG EMAS

Vanya berdiri di depan wastafel kamar mandinya, menggosok noda kecokelatan di gaun birunya dengan perasaan dongkol. Bayangan wajah pemuda kasar di pasar tadi—Arlan—terus terngiang di benaknya.

"Berani sekali dia bicara begitu padaku," gumam Vanya kesal. "Dia pikir dia siapa? Hanya seorang penjual susu rendahan yang berlagak seperti raja jalanan!"

Setelah mengganti pakaiannya dengan sari sutra yang baru, Vanya turun ke lantai bawah. Suasana rumah terasa sibuk. Hendra, ayahnya, sedang berdiri di ruang tengah sambil memeriksa jam tangannya dengan tidak sabar.

"Santi! Di mana penjual susu baru itu? Aku sudah membayar mahal agar pengiriman pagi ini tidak terlambat!" teriak Hendra pada istrinya.

Santi berlari kecil dari arah dapur. "Maaf, Mas. Katanya ada kendala di jalan, tapi dia sudah hampir sampai."

Hendra mendengus. Bagi Hendra, waktu adalah uang, dan ketidaktepatan waktu adalah tanda dari kelas bawah yang tidak disiplin. Ia baru saja akan kembali ke kursinya ketika suara deru motor yang sangat berisik—suara yang sangat dikenali Vanya—berhenti tepat di depan gerbang utama rumah mereka.

Arlan mematikan mesin motornya. Ia menatap gerbang besi raksasa yang dilapisi cat emas di hadapannya. Bukannya merasa minder atau takut, Arlan justru tersenyum miring. Ia memikul dua jeriken susu berukuran besar di bahunya yang kokoh, lalu melangkah maju.

Penjaga gerbang mencoba menghentikannya. "Hei! Pengantar barang lewat pintu belakang!"

Arlan berhenti, matanya menatap tajam penjaga itu. "Aku membawa barang yang akan masuk ke perut tuanmu. Jika barangnya bersih, maka yang membawanya juga harus lewat jalan yang bersih. Minggir."

Keberanian Arlan membuat penjaga itu ragu dan akhirnya membiarkannya masuk. Arlan melangkah dengan tenang melewati taman yang tertata rapi, hingga ia sampai di pintu depan yang besar. Tanpa ragu, ia mengetuk pintu jati itu dengan keras.

Tok! Tok! Tok!

Pintu terbuka. Vanya, yang kebetulan berada di dekat sana, adalah orang pertama yang membukanya. Matanya membelalak sempurna.

"K-kau?!" seru Vanya tertahan. Jantungnya berdegup kencang, antara kaget dan takut.

Arlan menaikkan sebelah alisnya, tidak terkejut sama sekali. "Oh, ternyata ini istanamu? Pantas saja kau tidak tahu cara berjalan di atas tanah yang kotor."

"Apa yang kau lakukan di sini? Pergi!" Vanya mencoba menutup pintu, tapi tangan Arlan yang kuat menahannya.

"Aku di sini untuk bekerja, Nona. Aku pengantar susu barumu," ucap Arlan santai.

"Vanya! Siapa yang datang?" suara bariton Hendra mendekat.

Vanya membeku saat ayahnya berdiri di belakangnya. Hendra menatap Arlan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia melihat jeans belel Arlan, kaos singletnya yang sedikit basah oleh keringat, dan jeriken susu di bahunya. Hendra segera menutup hidungnya dengan sapu tangan, seolah-olah kehadiran Arlan membawa kuman berbahaya ke dalam rumahnya.

"Siapa kau? Dan kenapa kau berani mengetuk pintu depan rumahku?" tanya Hendra dengan nada yang sangat menghina.

Arlan meletakkan jeriken susunya di atas lantai marmer yang mengkilap, menciptakan bunyi debuman pelan yang membuat Hendra meringis. "Nama saya Arlan. Saya menggantikan teman saya yang sakit untuk mengantar susu terbaik di kota ini ke rumah Anda."

Hendra menatap jeriken itu, lalu menatap Arlan dengan jijik. "Ambil barang-barang kotormu ini dan bawa ke pintu belakang! Kau tidak punya etika? Orang kelas bawah sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki di ruang tamu ini!"

Arlan tidak mundur selangkah pun. Ia justru menatap langsung ke mata Hendra—sesuatu yang tidak pernah berani dilakukan oleh siapa pun di rumah itu.

"Tuan Hendra yang terhormat," ucap Arlan dengan nada tenang namun penuh penekanan. "Susu di dalam sini putih dan bersih. Sapi-sapi saya tidak peduli apakah saya lewat pintu depan atau pintu belakang. Jika Anda ingin kualitas, Anda harus menghargai orang yang membawanya. Lagipula, bukankah uang yang Anda gunakan untuk membayar saya juga berasal dari tangan yang bekerja keras seperti saya?"

Wajah Hendra memerah padam. Amarahnya meledak. "Kau... kau berani menguliahiku di rumahku sendiri?! Pergi dari sini! Aku tidak butuh susu dari pengantar yang tidak tahu kasta!"

"Ayah, sudahlah..." Vanya mencoba menenangkan, namun ia juga merasa Arlan terlalu keterlaluan karena telah merendahkan otoritas ayahnya.

Arlan kembali mengangkat jerikennya. Ia menatap Vanya sejenak, sebuah tatapan yang sulit diartikan, lalu kembali menatap Hendra. "Baiklah. Saya akan pergi. Tapi ingat satu hal, Tuan. Anda bisa membangun dinding setinggi apa pun untuk memisahkan diri dari orang-orang seperti saya, tapi Anda tidak bisa membeli harga diri dengan uang Anda."

Arlan berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegap, tanpa sedikit pun rasa minder. Suara motornya kembali meraung, meninggalkan kediaman Hendra yang kini diselimuti ketegangan luar biasa.

Hendra gemetar karena marah. "Vanya! Pastikan orang itu tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di sini! Beraninya dia... beraninya seorang penjual susu menatap mataku!"

Vanya hanya diam, menatap gerbang yang tertutup. Di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang mulai berkecamuk. Marah pada kesopanan Arlan yang minim, tapi diam-diam ia merasa kagum pada keberanian pria itu menentang ayahnya—sesuatu yang bahkan Vanya sendiri tidak pernah berani lakukan seumur hidupnya.

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!