Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Balik Dinding
Langit di atas rumah nomor 13 berubah menjadi warna ungu pekat yang menyakitkan mata. Persis seperti prediksi Kara—si Matahari yang sok tahu itu—hujan akhirnya turun. Namun, bukan hujan lebat yang menyegarkan, melainkan gerimis tipis yang membawa bau tanah basah dan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
Aira masuk ke rumah, mengunci pintu dengan tiga putaran kunci yang sama, dan langsung menyalakan lampu ruang tamu. Lampu itu berkedip sejenak sebelum menyala remang, memantulkan bayangan perabotan jati yang tampak seperti raksasa hitam yang sedang mengawasi.
Ia meletakkan tasnya di kursi. Tangannya merogoh ke dalam, menyentuh pulpen milik Kara yang masih tersimpan di sana.
Hangat. Entah itu hanya imajinasinya atau memang sisa energi Kara masih menempel di benda plastik itu, tapi Aira segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api. Ia takut. Ia sangat takut jika rasa hangat itu mulai merambat ke hatinya yang sudah membeku.
Aira berjalan ke dapur untuk mencuci muka. Saat ia menatap cermin di atas wastafel, ia teringat wajah Kara saat di laboratorium tadi. Bagaimana mata laki-laki itu menatapnya—seolah-olah Kara tidak melihat "kutukan" di wajahnya, melainkan hanya melihat seorang gadis biasa.
Tring!
Bunyi notifikasi pesan di ponselnya memecah kesunyian. Aira mengerutkan kening. Hampir tidak pernah ada yang mengiriminya pesan selain operator seluler.
[0812-xxxx-xxxx]: Jangan lupa minum air hangat. Tanganmu tadi lebih dingin dari es batu di kantin. - Kara.
Aira terpaku. Dari mana laki-laki itu mendapatkan nomor ponselnya? Ah, tentu saja. Dia Ketua OSIS. Dia punya akses ke data siswa di ruang tata usaha. Disiplinnya mungkin juga mencakup "memantau" semua orang yang masuk dalam radarnya.
Aira tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya di meja makan dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia tidak ingin melihat cahaya dari layar itu. Cahaya hanya akan membuatnya merasa semakin kesepian saat padam nanti.
Malam semakin larut. Aira mencoba memejamkan mata di kamarnya yang kecil, namun suara-suara itu mulai datang. Bukan suara hantu seperti di film horor, melainkan suara memori. Suara tawa Kakaknya, suara batuk Bapaknya di ruang tengah, dan aroma masakan Ibunya.
Tiba-tiba, suara petir menggelegar di luar.
DAR!
Listrik di rumah itu padam seketika.
Aira tersentak duduk. Napasnya memburu. Dalam kegelapan total, rumah ini berubah menjadi labirin trauma. Ia meraba-raba meja nakas, mencari lilin dan korek api yang selalu ia siapkan. Namun, tangannya justru menyentuh sesuatu yang jatuh ke lantai dengan suara keras.
PRANG!
Bingkai foto di samping tempat tidurnya pecah.
Aira segera menyalakan korek api dengan tangan gemetar. Cahaya kecil dari api itu menerangi lantai. Foto Bapak dan Ibunya tergeletak di sana, kacanya retak tepat di bagian wajah mereka.
"Astagfirullah..." bisik Aira dengan suara bergetar.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Di Jawa, kaca pecah tanpa sebab sering dianggap sebagai pertanda buruk. Sebuah sasmita. Apakah ini peringatan karena ia membiarkan Kara masuk terlalu jauh hari ini? Apakah "Ain" di dalam dirinya mulai bereaksi terhadap rasa bahagia kecil yang tadi sempat hinggap?
Ia memungut serpihan kaca itu satu per satu. Ujung jarinya teriris, mengeluarkan tetesan darah merah pekat yang tampak hitam di bawah cahaya lilin. Aira tidak meringis. Rasa perih di jarinya tidak sebanding dengan rasa takut yang menghimpit dadanya.
"Maaf... maafkan Aira..." isyaknya pelan di tengah kegelapan.
Tiba-tiba, ponselnya kembali menyala di atas meja, memberikan cahaya putih pucat yang kontras dengan cahaya kuning lilin. Sebuah pesan baru masuk.
Kara: Lampu di daerah rumahmu padam juga? Di sini gelap banget, tapi bintangnya jadi kelihatan jelas. Coba lihat ke luar jendela sebentar, Aira. Supaya kamu tahu kalau gelap itu nggak selamanya menyeramkan.
Aira menatap pesan itu dengan mata basah. Ia melihat ke arah jendela kamarnya. Di luar sana, di sela-sela awan mendung yang mulai menipis, sebuah bintang bersinar sangat terang. Sendirian, namun tetap bersinar.
Aira mematikan lilinnya, membiarkan dirinya ditelan kegelapan lagi. Ia memeluk lututnya di pojok tempat tidur, mengabaikan luka di jarinya.
"Kamu salah, Kara," bisik Aira pada kesunyian. "Bintang itu terlihat terang karena dia dikelilingi kehampaan. Dan aku... aku tidak mau kamu jadi bintang berikutnya yang hilang dari langitku."
Di malam yang dingin itu, Lawana si Samudera kembali menarik dirinya ke titik terdalam, mencoba membentengi diri dari sang Bagaskara yang terlalu gigih menawarkan cahaya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰