Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"
Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja?
Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa?
Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Sekolah Rumah
Pagi hari di pondok lereng bukit dimulai dengan kesibukan yang luar biasa bagi Esmeralda Aramoa. Sejak kehadiran Aleksander—nama yang kini mulai melekat pada sosok pria Enigma itu—jadwal harian Esme berubah total menjadi sebuah simulasi kesabaran yang tiada akhir. Pukul enam pagi, dapur sudah dipenuhi aroma roti panggang dan telur orak-arik. Esme menyadari bahwa memberi makan AL adalah tugas prioritas jika ia tidak ingin predator itu mulai melirik Ocan sebagai camilan pagi.
"Aleksander, ingat apa yang aku ajarkan kemarin? Duduk di kursi, jangan di meja!" seru Esme sambil meletakkan piring berisi tumpukan telur di depan pria itu.
AL, yang kini terlihat jauh lebih tampan dengan potongan rambut rapi, mencoba menyesuaikan tubuh raksasanya dengan kursi kayu yang malang. Dia mengenakan kaos oblong hitam yang sangat ketat di bagian dada, hasil jahitan tangan Esme yang terburu-buru. "Aku ingat, Moa. Pantat di kayu, kaki di lantai. Manusia tidak jongkok saat makan karena itu... tidak punya etika?"
"Pintar!" Esme memberikan jempol sambil menelan kopinya. "Sekarang, dengarkan instruksiku untuk hari ini. Aku harus pergi ke desa bawah untuk mengantarkan pupuk dan memeriksa beberapa pohon ek yang terserang kutu busuk. Aku akan kembali sebelum jam makan siang untuk memasak."
AL berhenti mengunyah, matanya yang kuning menatap Esme dengan tatapan waspada yang khas. "Kau akan pergi? Kenapa aku tidak boleh ikut? Aku bisa membantumu mengangkut karung-karung berat itu, Moa."
"Tidak bisa, Aleksander! Kau masih dalam masa... penyembuhan mental," Esme mencari alasan secepat kilat. "Dunia luar itu sangat bising. Suara klakson mobil atau gonggongan anjing tetangga bisa membuat kepalamu sakit lagi. Ingat janjimu? Kau harus belajar jadi anak yang baik di dalam rumah agar aku tidak marah."
AL mendengus pelan, namun ia tidak membantah. "Baiklah. Aku akan tinggal di kotak kayu ini. Apa yang harus aku lakukan agar aku disebut anak yang baik?"
Esme mengambil sebuah buku gambar besar dan beberapa krayon yang ia beli di toko kelontong desa tempo hari. "Ini. Kau harus belajar mengenali benda-benda dan mewarnainya. Jika kau merasa bosan, kau boleh bicara dengan Ocan, tapi DILARANG KERAS mengeluarkan kuku atau taring padanya. Dan satu lagi, jangan coba-coba membuka pintu depan untuk siapa pun kecuali aku."
Setelah memberikan instruksi panjang lebar, Esme berangkat dengan tas kanvasnya. Di sepanjang jalan menanjak menuju ladang petani, pikiran Esme tidak pernah tenang. Ia terus membayangkan skenario terburuk: bagaimana jika AL merasa lapar dan mencoba memanggang kursi? Bagaimana jika Paman Silas nekat masuk ke rumah?
Esme bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia menyemprotkan cairan obat pada tanaman petani dengan gerakan yang sangat efisien, hampir seperti robot. Pikirannya terbagi antara menghitung pendapatan dari penjualan pupuk hari ini dan biaya makan AL yang membengkak. "Satu porsi makan AL setara dengan tiga porsi kuli bangunan. Kalau aku tidak rajin jualan obat hama, tabunganku benar-benar akan habis dalam sebulan. Dasar raksasa pemakan segala," batin Esme sambil mengelap keringat di dahinya.
Menjelang jam makan siang, Esme berlari kecil kembali ke pondoknya. Begitu sampai di depan pintu, ia mengatur napas agar tidak terlihat panik. Ia memutar kunci dan masuk dengan perlahan.
"Aleksander? Aku pulang!" panggil Esme dengan suara yang agak ragu.
Pemandangan yang menyambutnya di ruang tengah benar-benar di luar dugaan. AL sedang duduk bersila di lantai, dikelilingi oleh kertas-kertas gambar. Ocan, sang kucing oranye, dengan beraninya sedang tidur melingkar di atas paha AL. Yang membuat Esme ternganga adalah AL sedang memegang krayon merah dengan sangat hati-hati, seolah-olah benda kecil itu adalah artefak rapuh yang bisa hancur kapan saja oleh kekuatan tangannya.
"Moa, kau kembali," ucap AL tanpa menoleh, matanya sangat fokus pada kertas. "Aku sedang menggambar sesuatu yang muncul di kepalaku. Tapi warnanya sulit ditemukan di kotak kecil ini."
Esme mendekat dan melihat gambar tersebut. Itu adalah sebuah ruangan berbentuk kotak dengan banyak garis-garis silang—terlihat sangat mirip dengan sel kaca di laboratorium dulu. Di tengahnya ada sosok kecil yang diwarnai merah. Esme merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Ingatan AL mulai mencoba muncul kembali melalui bentuk-bentuk abstrak.
"I-itu gambar yang bagus, Aleksander," ucap Esme dengan suara sedikit bergetar. "Tapi sepertinya kau terlalu banyak menggambar kotak. Bagaimana kalau besok kita menggambar bunga atau matahari?"
AL mendongak, menatap Esme dengan ekspresi polos yang sangat kontras dengan tubuh berototnya. "Matahari itu panas. Aku lebih suka bau Moa. Apakah anak yang baik boleh mendapatkan pelukan saat istrinya pulang?"
Esme hampir tersedak ludahnya sendiri. "Hah? Pelukan? Siapa yang mengajarimu itu?"
"Tadi aku melihat dua burung di luar jendela. Mereka menempelkan paruh dan sayap. Aku pikir itu adalah cara manusia menyambut anggota keluarganya," jawab AL dengan logika binatangnya yang masih sangat kental.
Esme menghela napas, ia merasa kaku namun tidak tega menolak tatapan memelas pria raksasa itu. "Hanya pelukan singkat, oke? Karena kau sudah bersikap baik dan tidak menjadikan Ocan sebagai bantal tinju."
Esme mendekat dan membiarkan AL melingkarkan lengan besarnya ke bahunya. Pelukan itu terasa sangat hangat dan protektif, membuat Esme sesaat lupa bahwa pria ini adalah predator yang bisa membunuhnya dalam sekejap. Namun, saat AL mulai mengendus rambutnya dengan suara hirupan yang dalam, Esme segera melepaskan diri.
"Sudah! Cukup! Sekarang aku akan masak makan siang. Kau mau makan apa? Daging lagi?" tanya Esme sambil buru-buru menuju dapur.
"Daging yang banyak, Moa. Dan aku ingin air yang rasanya manis seperti yang kau berikan kemarin," teriak AL dari ruang tengah.
Sambil memotong daging di dapur, Esme menggerutu pelan. "Dokter tumbuhan, penjual pupuk, merangkap jadi guru TK untuk predator Enigma. Hidupmu benar-benar luar biasa, Esmeralda Aramoa. Kalau kau tidak mati karena dicakar AL, mungkin kau akan mati karena kelelahan bekerja demi mengisi perut raksasa itu."
Meskipun ia terus mengeluh dalam batin, Esme tidak bisa memungkiri bahwa ada sedikit rasa hangat di hatinya melihat AL belajar dengan patuh. Ia berharap masa-masa tenang ini bisa bertahan selamanya, meskipun ia tahu bahwa di balik kepolosan Aleksander, ada kekuatan besar yang siap meledak jika ingatan masa lalunya benar-benar kembali.
"Mungkin aku harus menambahkan sedikit ekstrak penenang di jus manisnya nanti," pikir Esme sambil melirik botol penelitiannya yang masih terbengkalai. "Hanya untuk berjaga-jaga agar dia tidak tiba-tiba ingin 'kawin' lagi karena melihat burung di luar jendela."
Bagaimana perkembangan "sekolah rumah" AL selanjutnya? Apakah Esme akan mulai mengajarinya cara membaca, atau AL akan menemukan rahasia lain di dalam rumah yang hampir membongkar kebohongan Esme?