"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serpihan Memori Terhalang Salju
Musim dingin telah tiba di Warsawa. Di sebuah apartemen kecil dengan jendela yang menghadap ke jalanan berbatu di Kota Tua, Sasha duduk terpaku di depan kanvasnya. Namun, kuas di tangannya tidak bergerak. Matanya menatap butiran salju yang turun perlahan, persis seperti ritme jantungnya yang kini terasa hampa. Di sini, ribuan mil dari Jakarta, Sasha mengira ia bisa memulai hidup baru. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, aroma kayu cendana dan kehangatan pelukan Adrian seolah menembus dinginnya musim dingin Polandia.
Ia teringat malam-malam rahasia di apartemen Dharmawangsa, jauh sebelum ketegangan persalinan memuncak. Saat itu, Adrian datang dengan wajah lelah selepas rapat direksi, namun matanya langsung melembut begitu melihat Sasha. Mereka sering menghabiskan waktu hanya dengan duduk di lantai, sementara Adrian memperhatikan Sasha menggambar.
"Kenapa kamu memilih menggambar aku?" tanya Adrian suatu malam, saat Sasha sedang mensketsa garis rahangnya yang tegas.
Sasha tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. "Karena di balik wajah pria yang ditakuti seluruh Jakarta ini, ada seorang anak kecil yang hanya ingin dicintai apa adanya. Aku ingin mengabadikan itu."
Adrian kemudian meraih tangan Sasha, mencium jemarinya yang terkena noda arang. "Di duniaku, semuanya adalah tentang transaksi. Hanya di ruangan ini, bersamamu, aku merasa tidak perlu membeli apa pun untuk merasa berharga."
Flashback itu terasa begitu nyata hingga Sasha bisa merasakan getaran suara Adrian di dadanya. Kerinduan itu bukan lagi sekadar keinginan untuk bertemu, melainkan rasa sakit fisik yang menusuk setiap kali ia melihat kereta bayi lewat di taman kota. Ia memiliki segalanya—biaya kuliah yang melimpah dan hidup tenang—tapi jiwanya tertinggal di sebuah kamar di Jakarta, di pelukan seorang pria yang kini hanya bisa ia lihat melalui berita-berita ekonomi internasional.
________________________________________
Sementara itu, di lantai 42 The Obsidian Towers, suasana begitu kontras. Suara tawa bayi kini mengisi setiap sudut ruangan yang dulunya sunyi. Maya tampak benar-benar bahagia. Ia bertransformasi menjadi sosok ibu yang sempurna bagi bayi laki-laki yang mereka beri nama Arthur Ardilwilaga.
Maya sering menghabiskan berjam-jam di kamar bayi yang mewah, mendekap Arthur dengan penuh kasih. Baginya, misinya telah berhasil. Ia memiliki anak, ia memiliki status, dan ia berhasil menjauhkan "ancaman" itu kembali ke Eropa. Maya tidak lagi curiga. Ia merasa malam-malam panasnya dengan Adrian dan kehadiran Arthur sudah cukup untuk mengubur kenangan suaminya tentang Sasha. Ia melihat Adrian yang sering terdiam di depan jendela sebagai bentuk "kelelahan seorang ayah baru," bukan sebagai pria yang sedang meratapi separuh jiwanya yang hilang.
"Lihat, Mas. Arthur punya matamu," ujar Maya suatu sore saat mereka berada di teras. Ia memberikan bayi itu ke pelukan Adrian.
Adrian menerima putranya, mencium kening bayi itu dengan tulus. Ia mencintai Arthur, sangat mencintainya. Namun, setiap kali ia menatap wajah bayi itu, ia melihat garis-garis halus yang mengingatkannya pada Sasha. Ia teringat saat Sasha pertama kali merasakan tendangan Arthur di dalam rahimnya.
Saat itu, Sasha menarik tangan Adrian dan meletakkannya di perutnya yang buncit. "Dia menyapamu, Adrian," bisik Sasha dengan mata berbinar. "Dia bilang, dia akan menjadi pria yang kuat seperti ayahnya."
Adrian teringat bagaimana ia kemudian memeluk Sasha dari belakang, membisikkan janji-janji yang kini terasa seperti racun karena tak bisa ia tepati. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian," janjinya saat itu.
Kini, janji itu hancur. Adrian merasa seperti pengkhianat. Ia memiliki anak itu, tapi ia kehilangan wanita yang memberikan nyawa untuknya. Setiap sudut rumah ini mengingatkannya pada kepalsuan. Ia merindukan aksen Polandia Sasha yang lembut, ia merindukan cara Sasha menyeduh teh, dan ia merindukan kejujuran yang tidak pernah ia temukan pada Maya.
Adrian mulai sering mengunci diri di ruang kerja. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk membuka folder rahasia di laptopnya yang berisi foto-foto Sasha yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat gadis itu tertidur atau sedang melukis. Kerinduan itu menjadi obsesi yang tenang namun mematikan.
Suatu malam, saat Maya sudah terlelap di samping tempat tidur Arthur, Adrian duduk di ruang kerjanya dengan segelas wiski. Ia membuka laci meja yang paling bawah, mengambil sebuah buku sketsa yang ditinggalkan Sasha. Di halaman terakhir, ada sebuah pesan singkat dalam bahasa Polandia: “Moje serce zostanie z Tobą”—Hatiku akan tetap bersamamu.
Adrian memejamkan mata, membiarkan air mata yang selama ini ia tahan jatuh membasahi kertas itu. Di luar, lampu-lampu Jakarta berkedip, namun bagi Adrian, cahaya itu terasa redup. Ia menyadari bahwa meski Maya memberikan surga di bumi, hatinya sudah lama terbang menuju dinginnya salju di Warsawa.
Ia meraih ponselnya, jemarinya gemetar saat membuka situs pemesanan tiket pesawat. Ia tahu ini gila. Ia tahu ini akan menghancurkan perdamaian yang dibangun Maya. Namun, kerinduan ini telah menjadi api yang membakar sisa-sisa kewarasannya.
"Aku akan mencarimu, Sasha," bisiknya pada kegelapan. "Meski aku harus menghancurkan istana ini berkeping-keping."