NovelToon NovelToon
NALA

NALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dunia Masa Depan / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saqila nur sasih

Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.

Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.

Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang Arsha

“Perlahan namun pasti, aku semakin tidak mengenali diriku sendiri. Peranku menjadi orang lain benar-benar sukses menyatu dengan diriku”

***

SMA Virelton High School

Suasana SMA yang elit terasa berbeda bahkan sejak langkah pertama memasuki gerbangnya.

Gerbang tinggi berbahan besi tempa berdiri kokoh dengan lambang sekolah berlapis emas di tengahnya. Satpam berseragam rapi menyapa dengan sopan namun tegas, memeriksa kartu identitas siswa yang tergantung di dada dengan tali khusus berlogo sekolah. Jalan masuknya lebar, diapit taman yang tertata presisi—rumput dipangkas simetris, bunga-bunga musiman mekar tanpa satu pun daun kering tercecer. Air mancur di tengah halaman memantulkan cahaya matahari pagi, memberi kesan tenang sekaligus megah.

Bangunan sekolah menjulang dengan arsitektur modern minimalis: dinding kaca besar, marmer mengilap di lobi utama, dan pendingin ruangan yang menyala stabil di setiap sudut. Lorongnya bersih hingga mengilap, lantainya memantulkan bayangan sepatu kulit dan heels yang berderap teratur. Aroma lembut parfum mahal bercampur dengan wangi pendingin ruangan menciptakan kesan eksklusif yang nyaris seperti hotel bintang lima.

Ruang kelas dilengkapi layar interaktif, proyektor canggih, serta kursi ergonomis yang tersusun rapi. Setiap meja memiliki loker pribadi, dan rak buku di sudut kelas dipenuhi literatur internasional. Di papan pengumuman terpampang daftar universitas luar negeri—London, Seoul, New York—seolah menjadi tujuan yang sudah biasa, bukan lagi impian yang jauh.

Siswa-siswinya tampil percaya diri. Seragam mereka dijahit pas badan, sepatu selalu mengilap, tas-tas bermerek tergantung santai di bahu. Percakapan yang terdengar bukan hanya tentang tugas sekolah, tetapi juga kompetisi debat internasional, kursus bahasa tambahan, atau rencana liburan musim panas ke luar negeri. Tawa mereka ringan, namun ada aura ambisi dan standar tinggi yang tak diucapkan.

Di sisi lain, suasana itu juga menyimpan tekanan yang tak kasatmata. Prestasi adalah harga diri. Nilai bukan sekadar angka, melainkan reputasi keluarga. Senyum ramah bisa saja menyembunyikan persaingan halus—siapa yang paling unggul, paling berbakat, paling layak menjadi pusat perhatian.

SMA elit bukan hanya tentang fasilitas mewah, tetapi tentang citra, ekspektasi, dan dunia yang terasa eksklusif—sebuah tempat di mana masa depan dirancang sejak dini, dan setiap langkah seakan sudah memiliki arah yang jelas.

***

Di antara riuh rendah koridor SMA elit itu, ada satu nama yang selalu disebut dengan nada berbeda—lebih pelan, lebih penuh perhatian.

Arsha Andhikara.

Ia bukan sekadar siswi berprestasi atau anak orang kaya. Ia adalah pusat gravitasi sekolah itu sendiri.

Setiap kali Arsha melangkah melewati lorong berlantai marmer, percakapan di sekitarnya seakan melambat. Tatapan-tatapan beralih padanya tanpa perlu ia minta. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, berkilau terkena cahaya dari jendela kaca besar. Wajahnya cantik dengan garis yang lembut—mata teduh namun tajam, senyum tipis yang manis tanpa dibuat-buat. Ia memiliki kecantikan yang tidak berteriak, melainkan berbisik… dan justru karena itu memikat.

Seragamnya selalu tampak sempurna, seolah dijahit khusus untuk tubuhnya. Posturnya tegap, langkahnya ringan namun penuh percaya diri. Ada aura anggun yang melekat—bukan hanya dari cara ia berjalan, tetapi dari caranya berbicara, duduk, bahkan menatap orang lain. Ia tidak pernah tergesa-gesa. Dunia seolah memberi ruang ketika ia lewat.

Arsha tumbuh di lingkungan kelas menengah atas. Semua fasilitas terbaik tersedia untuknya—mobil dengan sopir pribadi yang setia menunggu di gerbang, kursus tambahan sejak kecil, akses ke sekolah internasional, hingga liburan musim panas ke luar negeri. Namun yang paling menonjol bukanlah kemewahan itu, melainkan bagaimana ia membawanya dengan wajar, seolah semua itu hanyalah bagian dari rutinitas biasa.

Ayahnya adalah satu-satunya orang tua yang ia miliki. Sosok yang bekerja keras, tegas, dan sangat protektif. Segala yang Arsha miliki—pendidikan, kenyamanan, keamanan—adalah hasil dari kasih sayang dan dedikasi sang ayah. Dan mungkin karena itu pula, Arsha tumbuh menjadi pribadi yang matang lebih cepat. Ada ketenangan dalam dirinya, seakan ia memahami bahwa semua kemewahan itu datang bersama tanggung jawab.

Ia populer, ya. Banyak yang ingin berada di lingkarannya. Banyak yang ingin menjadi temannya, atau sekadar diperhatikan olehnya. Namun Arsha tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian. Justru sikapnya yang tenang, elegan, dan sedikit sulit ditebak itulah yang membuatnya semakin memesona.

Di sekolah yang penuh ambisi dan persaingan halus itu, Arsha Andhikara berdiri seperti mahkota yang tak perlu dipamerkan—semua orang sudah tahu nilainya, bahkan tanpa ia harus mengatakannya.

Jika Arsha Andhikara adalah pusat gravitasi sekolah itu, maka Arkana Magnolia adalah satelit yang tak pernah lelah mengelilinginya.

Arkana bukan sekadar siswa biasa. Ia juga populer—tinggi, berwajah tegas dengan rahang yang tegas dan sorot mata yang penuh percaya diri. Senyumnya seringkali miring, sedikit nakal, sedikit menantang. Ia datang dari keluarga terpandang, hidup dengan fasilitas yang tak kalah mewah, dan dikenal sebagai siswa yang cerdas sekaligus karismatik. Banyak yang menyukainya. Banyak yang berharap diperhatikan olehnya.

Namun anehnya, perhatian Arkana hanya tertuju pada satu orang.

Arsha.

Hubungan mereka tidak bisa disebut “dekat” dalam arti sebenarnya. Bukan sahabat, bukan pasangan. Lebih tepatnya, Arkana adalah bayangan yang selalu muncul di sisi Arsha—di kantin, di perpustakaan, di acara sekolah, bahkan di lorong-lorong panjang tempat Arsha berjalan dengan anggun.

Ia sering duduk di meja yang sama dengan Arsha tanpa diminta. Menawarkan bantuan pada tugas kelompok meski Arsha tak pernah benar-benar membutuhkannya. Mengirim pesan singkat yang kadang hanya dibalas satu kata. Beberapa kali, dengan keberanian yang hampir nekat, Arkana menyatakan perasaannya.

Dan beberapa kali pula, Arsha menolaknya.

Penolakan Arsha selalu halus, tidak pernah kasar. Ucapannya lembut namun tegas, tatapannya lurus tanpa ragu. Ia tidak memberi harapan, tidak juga memberi celah. Namun Arkana… tidak pernah benar-benar mundur.

Bukan karena ia tidak mengerti arti penolakan. Ia paham. Hanya saja, ada sesuatu dalam diri Arsha yang membuatnya enggan menyerah. Bukan sekadar kecantikan atau status sosialnya. Melainkan cara Arsha berdiri sendiri—kuat, mandiri, seolah tidak membutuhkan siapa pun. Dan justru itu yang membuat Arkana ingin menjadi seseorang yang dibutuhkan.

Di mata orang lain, Arkana terlihat keras kepala. Ada yang menganggapnya terlalu percaya diri, ada pula yang menyebutnya bodoh karena terus mengejar sesuatu yang jelas-jelas menutup pintu. Namun setiap kali Arsha melangkah menjauh, Arkana hanya tersenyum tipis, lalu kembali berjalan di belakangnya dengan jarak yang sama.

Tidak memaksa. Tidak menghilang.

Seolah ia sedang menunggu waktu berpihak padanya. Di tengah gemerlap SMA elit itu, kisah mereka menjadi bisikan yang sering diperbincangkan—tentang perempuan yang terlalu sulit untuk digapai, dan laki-laki yang terlalu gigih untuk menyerah.

***

Waktu berlalu, dan masa SMA yang penuh bisik-bisik itu berubah menjadi lembaran baru bernama kedewasaan.

Arsha benar-benar pergi.

Ia diterima di salah satu kampus desain bergengsi di luar negeri—sebuah universitas yang berdiri megah dengan bangunan klasik berpadu sentuhan modern, studio-studio luas beraroma cat dan kain, serta ruang kerja yang dipenuhi mahasiswa dengan mimpi besar dan selera artistik tinggi. Kota itu elegan, sibuk, dan penuh cahaya—tempat yang terasa pas untuk seseorang seperti Arsha Andhikara.

Ia memilih jurusan desain, dunia yang memang sejak dulu menjadi pelariannya. Di sana, Arsha tampak berbeda—lebih hidup, lebih bebas. Rambutnya kadang diikat seadanya saat fokus menggambar sketsa, jemarinya sering ternoda tinta atau cat. Ia berjalan di trotoar kota asing dengan langkah cepat, seolah sedang mengejar masa depannya sendiri.

Namun kebebasan itu tidak sepenuhnya utuh. Karena Arkana Magnolia… ikut menyusul.

Bukan di jurusan yang sama. Bukan di fakultas yang sama. Tapi di negara yang sama. Kota yang sama. Bahkan apartemen mereka hanya berjarak beberapa blok.

Bagi Arkana, itu sudah cukup.

Ia memilih kampus berbeda dengan jurusan yang sama sekali tak bersinggungan dengan desain. Alasannya terdengar masuk akal—prospek karier, jaringan internasional, pengalaman global. Tak ada yang mencurigai. Orang tuanya bangga. Orang tua Arsha pun menganggap itu hanya kebetulan menyenangkan—dua anak yang dulu satu sekolah kini sama-sama menimba ilmu di negeri orang.

Tak seorang pun tahu bahwa “kebetulan” itu adalah pilihan yang disengaja.

Arkana tidak lagi terang-terangan menyatakan perasaannya seperti dulu. Ia lebih dewasa sekarang. Lebih tenang. Ia tidak lagi memaksa hadir, tetapi selalu ada di sekitar. Kadang muncul di kafe yang sama, menawarkan tumpangan saat hujan turun, atau sekadar mengirim pesan memastikan Arsha sudah sampai apartemen dengan selamat.

Bagi Arkana, menjaga jarak namun tetap berada di orbit Arsha adalah bentuk kedewasaan.

Namun bagi Arsha… itu tetap menyebalkan.

Ia merasa diikuti, meski tidak pernah benar-benar diganggu. Ia merasa ruang pribadinya terus disentuh, meski tak pernah benar-benar dilanggar. Arkana tidak mengekangnya, tidak mengikatnya, tidak menuntut status apa pun—dan justru itulah yang membuat Arsha sulit marah secara utuh.

“Kenapa kamu harus di kota yang sama?” pernah Arsha bertanya, nada suaranya tertahan.

Arkana hanya tersenyum, senyum yang kini lebih tenang dari masa SMA mereka.

“Karena dunia terlalu luas untuk kehilangan kamu,” jawabnya ringan.

Kedua orang tua mereka tak pernah tahu apa sebenarnya hubungan itu. Bukan pacaran. Bukan sekadar teman biasa. Lebih dari teman, tapi tak pernah diberi nama.

Di negeri asing itu, mereka tumbuh menjadi versi dewasa dari diri masing-masing—Arsha yang semakin mandiri dan ambisius, Arkana yang semakin sabar dan gigih. Hubungan mereka tidak pernah jelas, tetapi selalu ada. Seperti garis tipis yang menghubungkan dua titik—tak terlihat dari jauh, namun tak pernah benar-benar terputus.

Dan mungkin, yang paling melelahkan bagi Arsha bukanlah kehadiran Arkana. Melainkan kenyataan bahwa, meski ia merasa terganggu… ia tidak pernah benar-benar meminta Arkana pergi.

***

Kelulusan datang tanpa banyak perayaan bagi mereka berdua.

Setelah upacara kelulusan yang dipenuhi toga hitam dan kilatan kamera, hidup seolah bergerak terlalu cepat. Arsha pulang lebih dulu ke negara asalnya. Tanpa pesan panjang. Tanpa perpisahan dramatis. Hanya satu ucapan singkat yang formal, seperti menutup sebuah bab tanpa perlu membacanya ulang.

Dan untuk pertama kalinya sejak masa SMA, Arkana Magnolia tidak tahu ke mana Arsha pergi.

Kota yang dulu terasa kecil karena keberadaan Arsha, mendadak terasa luas dan kosong ketika ia kembali ke tanah kelahiran mereka. Rumah keluarga Magnolia tetap megah, lingkaran pertemanan tetap sibuk, bisnis keluarga mulai menyeretnya masuk ke dunia nyata yang penuh angka dan negosiasi. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Kecuali satu hal.

Tak ada lagi Arsha di sekitarnya.

Tidak ada lagi notifikasi singkat. Tidak ada lagi siluet perempuan berambut panjang yang berjalan cepat di trotoar. Tidak ada lagi penolakan halus yang membuatnya diam-diam tersenyum pahit.

Ia mencoba mencari kabar, tentu saja. Namun Arsha bukan tipe yang mudah dilacak. Media sosialnya jarang aktif. Lingkarannya tertutup. Bahkan teman-teman lama pun hanya tahu sedikit.

Hingga suatu hari, Arkana mendengar kabar itu—tidak langsung darinya, melainkan dari percakapan bisnis ayahnya yang menyebut nama “Studio Andhikara”.

Arsha membuka studio desainnya sendiri.

Bukan sekadar butik kecil atau usaha coba-coba. Melainkan studio eksklusif yang mengusung konsep high-end custom design, menangani klien-klien kelas atas. Gedungnya berdiri di kawasan strategis kota, dengan fasad kaca elegan dan interior minimalis berwarna netral. Nama “Andhikara” terukir halus di dinding lobi, sederhana namun tegas—seperti dirinya.

Arkana berdiri lama di seberang jalan saat pertama kali melihat bangunan itu.

Tak ada papan besar. Tak ada kemewahan mencolok. Hanya ketenangan yang matang. Seperti Arsha yang dulu—anggun, tak perlu berteriak untuk diakui.

Ia tidak masuk.

Tidak mengetuk.

Hanya berdiri dengan kedua tangan di saku, menatap dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Arsha, ia benar-benar berada di luar orbitnya. Tidak lagi di kota yang sama secara kebetulan yang disengaja. Tidak lagi beberapa blok jaraknya. Kini hanya sebatas kabar yang terdengar samar.

Dan anehnya, rasa kehilangan itu datang lebih sunyi dibanding semua penolakan yang pernah ia terima.

Arkana sadar sesuatu.

Dulu ia selalu memilih untuk berada di dekat Arsha. Mengikuti langkahnya. Menyamakan koordinat hidupnya. Namun sekarang, Arsha melangkah lebih dulu.

Tanpa menoleh.

Dan Arkana, untuk pertama kalinya, tidak tahu apakah ia masih punya hak untuk berjalan di belakangnya lagi.

1
Sopo Jarwo
lanjuttt thooooor
Qilass
jangan lupa di like, Komen sama di vote dong gengs. biar aku semangat up nya
wasiah miska nartim
lanjut thooooooooooor
Qilass
jangan lupa, like, komen, vote dan juga subscribe ya biar aku semakin semangat buat nulis. Selamat menikmati kisah Nala
Qilass
di tunggu ya, akan ada up 3 episode sekaligus setiap harinya
Qilass
halo pembaca setia Nala 👋👋, cerita ini akan up setiap hari 3 episode ya jadi tungguin aja kelanjutannya terimakasih 🙏
falea sezi
males deh cwek oon gini jd lacur aja dripada nurutin bapakmu
falea sezi
jangan mau mending kala putus kuliah kalian pergi jauh oon bgt lemah
Qilass: haha dapet banget emosinya kak
total 1 replies
falea sezi
adek g tau diri usir aja lah
wasiah miska nartim
lanjut thoooooooor
wasiah miska nartim
mentalnya nala itu mental baja,semangat thoooooor up nya😁😁
Qilass: Nala memang harus mental Baja, karena dia ngandelin diri sendiri
total 1 replies
anymous
kasiaan banget nala
Sopo Jarwo
sukaaa banget thorr lanjut
Anonymous
nalaaa yang kuat ya
wasiah miska nartim
ko banyak bawang nya thor
Qilass: jujurly aku sebagai author aja gak tega. tapi Nala kuat kok tenang aja
total 1 replies
Sopo Jarwo
okee banget aku penasaran sama si erlic cuuy di misterius banget
anymous
suka banget sama ceritanya. nala sosok Kaka yang tegar, semua ia lakukan demi sang adik. di sisi lain dia juga ketempu sama ayah kandungnya tapi bukannya menanyakan kabar malah memanfaatkannya
Qilass: huhu iya kasian banget ya dia, ikutin ceritanya terus ya. bakal ada plot yang seru kedepannya
total 1 replies
anymous
baskara pilih kasih banget iih
Anonymous
baguss banget Nala ini tipe anak perempuan pertama yang gak mau nyusahin orang
Anonymous
gass up crazy thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!