Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: GERBANG IBLIS
Pegunungan Iblis menyambut mereka dengan kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk tulang.
Ha-neul berdiri di kaki gunung, mendongak ke atas. Puncak-puncak menjulang tinggi, tertutup awan gelap yang tak pernah pergi. Pepohonan di sini berbeda—batangnya hitam legam, daunnya perak pucat, seolah terserap kegelapan selama berabad-abad. Angin bertiup pelan tapi membawa suara aneh, seperti bisikan orang mati.
Soo-ah menggenggam lengan kakaknya. "Oppa, di sini angker banget."
"Iya. Tapi kita harus masuk."
"Sebentar." Hyeol-geon keluar dari cincin, melayang di depan mereka. Sosoknya tampak lebih jelas dari biasanya—mungkin karena tempat ini adalah wilayah kekuasaannya dulu. "Ada aturan di gunung ini. Dengar baik-baik."
Ha-neul dan Soo-ah menegakkan telinga.
"Pertama, jangan pernah memakan atau meminum apa pun yang kalian temukan di sini, meskipu terlihat seperti makanan biasa. Kedua, jika mendengar suara memanggil nama kalian, jangan jawab. Ketiga, jangan pernah berjalan di malam hari tanpa api. Dan yang terpenting..." Ia menatap mereka serius. "Jangan pernah tersesat dari satu sama lain. Gunung ini akan memisahkan kalian jika diberi kesempatan."
Soo-ah merapat lebih dekat. "Soo-ah nggak akan lepas dari Oppa."
Ha-neul mengangguk. "Aku juga."
---
Mereka mulai memasuki kawasan pegunungan.
Jalan setapak yang dulu mungkin ada kini tertutup semak belukar dan akar-akar pohon hitam. Ha-neul membuka jalan dengan pedang kayunya, memotong ranting-ranting yang menghalangi. Soo-ah mengikuti persis di belakangnya, sesekali menoleh waspada ke sekeliling.
Semakin dalam mereka masuk, kabut semakin tebal. Jarak pandang menyusut hingga hanya beberapa meter. Suara aneh semakin jelas—kadang seperti tangisan bayi, kadang seperti tawa wanita, kadang seperti derap kaki pasukan.
"Oppa, itu suara apa?" bisik Soo-ah.
"Arwah penasaran," jawab Hyeol-geon. "Mereka yang mati di gunung ini dan tidak bisa tenang. Mereka akan mencoba menakut-nakuti atau menyesatkan."
"Jangan dengarkan," kata Ha-neul. "Fokus jalan."
Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul sesosok bayangan. Samar-samar berbentuk manusia, melayang-layang di antara pepohonan.
"Kang Ha-neul..." Suara itu memanggil. "Kang Ha-neul, kemarilah..."
Ha-neul berhenti. Soo-ah gemetar di belakangnya.
"Jangan jawab," peringat Hyeol-geon.
Bayangan itu mendekat. Samar-samar, Ha-neul bisa melihat wajahnya—wajah ayahnya.
"Ha-neul, Nak... Aku ayahmu... Aku tidak mati... Aku di sini... Ikut aku..."
Ha-neul terpaku. Dadanya sesak. Itu ayahnya. Suaranya, wajahnya, bahkan cara berdiri.
"HA-NEUL! Itu bukan ayahmu!" hardik Hyeol-geon. "Iblis gunung ini bisa membaca pikiran dan mengambil wujud orang yang kau rindukan!"
Ha-neul tersadar. Ia menggenggam pedang kayunya erat.
"Kau bukan ayahku," katanya tegas.
Bayangan itu berubah. Wajah ayahnya meleleh, berganti menjadi sesuatu yang mengerikan—makhluk tak berbentuk dengan puluhan mata dan mulut penuh taring. Ia menjerit, suaranya memekakkan telinga, lalu lenyap dalam kabut.
Soo-ah menjerit, menutup telinga. Ha-neul memeluknya, menutupi tubuh adiknya dengan tubuhnya sendiri.
"Sudah, sudah. Dia pergi."
Perlahan, suara itu mereda. Kabut kembali tenang. Tapi Ha-neul tahu, ini baru permulaan.
---
Mereka berjalan lagi. Setiap beberapa langkah, selalu ada gangguan. Bayangan-bayangan muncul, memanggil, menakut-nakuti. Soo-ah beberapa kali hampir terpancing, tapi Ha-neul selalu menariknya kembali.
Saat sore menjelang, Hyeol-geon memerintahkan mereka berhenti.
"Kita harus cari tempat berlindung sebelum malam. Di malam hari, iblis-iblis ini lebih kuat."
Ha-neul mencari di sekitar. Di kejauhan, samar-samar terlihat sebuah bangunan batu di lereng bukit. Sebuah kuil tua, mungkin.
"Ke sana."
Mereka berjalan menuju kuil itu. Bangunannya sudah setengah runtuh, atapnya bolong di mana-mana, tapi dinding batunya masih kokoh. Ha-neul memeriksa dalam—ada altar batu di sudut, beberapa arca rusak, dan tumpukan jerami kering di pojok.
"Ini bisa buat bermalam."
Soo-ah segera mengumpulkan jerami untuk alas tidur. Ha-neul mencari kayu kering di sekitar kuil, membuat api unggun kecil di tengah ruangan.
Saat api menyala, kehangatan mulai terasa. Kabut di luar seolah menjauh, tidak berani mendekati cahaya.
Hyeol-geon melayang di dekat api. "Pintar. Api adalah pelindung terbaik di gunung ini."
"Guru, di mana sebenarnya tempat yang kita cari?" tanya Ha-neul.
"Di puncak. Ada sebuah lembah tersembunyi di antara dua puncak tertinggi. Di sana dulu aku tinggal, di sana aku menyembunyikan hartaku."
"Jauh?"
"Masih dua hari perjalanan. Tapi ini baru kaki gunung. Semakin tinggi, semakin berat."
Ha-neul menghela napas. Ia menatap Soo-ah yang sudah tertidur di atas jerami, wajahnya lelah.
"Guru, apakah tidak berbahaya membawa Soo-ah ke sini?"
"Berbahaya. Tapi meninggalkannya di luar lebih berbahaya. Kau lihat sendiri apa yang terjadi di kota."
Ha-neul mengangguk. Ia tahu itu.
Malam itu, ia berjaga di dekat api, ditemani Hyeol-geon. Di luar, suara-suara aneh terus terdengar, tapi tidak ada yang berani mendekati cahaya.
---
Menjelang subuh, Ha-neul tertidur. Ia bermimpi.
Dalam mimpi itu, ia berdiri di depan gerbang besar—gerbang dari batu hitam dengan ukiran naga dan iblis. Di atasnya, terukir tiga aksara kuno: GERBANG IBLIS.
Pintu itu terbuka perlahan. Dari dalam, cahaya merah menyilaukan. Suara Hyeol-geon memanggilnya.
"Masuk, Ha-neul. Ini rumahmu."
Ha-neul melangkah maju.
Dan terbangun.
---
Matahari pagi menembus atap kuil yang bolong. Soo-ah sudah bangun, sedang merebus air dengan wadah darurat dari batu.
"Oppa mimpi buruk?" tanyanya.
Ha-neul menggeleng. "Bukan. Mimpi aneh."
Ia bangkit, meregangkan tubuh. Hari baru telah tiba. Perjalanan ke puncak masih panjang.
Tapi setidaknya, mereka masih bersama.