Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15--Mencoba diperas
Malam telah sepenuhnya menyelimuti kota. Lampu jalan berkelip samar di antara gedung dan pepohonan. Mobil hitam bergerak perlahan di jalan utama, suara mesin yang halus jadi satu-satunya teman.
Rahmat menatap keluar jendela, matanya tetap tenang. Alya duduk di sampingnya, ponselnya menari di tangan, sesekali mengangkat kepala untuk menatap jalanan. Armand tetap fokus di setir, tangan kuat memegang kemudi, matanya awas ke jalan.
Hening menempel beberapa saat, sebelum Alya akhirnya membuka percakapan.
“Yang barusan itu… luar biasa,” katanya pelan. “Aku baru pertama kali ke dunia pelelangan. Rasanya… deg-degan banget.”
Rahmat tersenyum tipis. “Iya, itu memang serunya. Orang-orang bisa kalap demi satu barang langka. Itu sangat lucu, bukan?”
“Kamu juga tidak kalah hebat, bagaimana bisa kamu tahu dan punya barang senilai setengah miliar lebih?” Tanya Alya penasaran kedua bola mata menatap penuh penilaian.
Rahmat sedikit berdehem. “dibilang rezeki.”
Armand terkekeh, matanya tetap awas ke jalan. “Baguslah kalau kalian suka, anak muda. Tapi ingat, bukan semua orang ramah di dunia itu. Ada beberapa yang memiliki niat jahat, bahkan tidak terima saat mereka kalah.”
Rahmat mengangguk ringan, lalu menunduk sebentar, membuka ponselnya. Beberapa ketukan jari, sebuah pesan cepat dikirim.
Ia sudah memenuhi semuanya, saatnya memenuhi janji.
“Tomy, kita harus ketemu hari ini. Akan kulunasi sekarang juga.
Tidak sampai beberapa saat untuk tommy membalas, dia mengirim sebuah lokasi.
Kita kumpul di sana, akan kutunggu. Kuharap kamu bukan cuma membual.
Rahmat terkekeh, selain melunasi hutang dia juga memiliki sebuah alasan penting untuk bertemu, ia punya rencana, sebuah negosiasi untuk menekan dan memanfaatkan tommy,
Tak lama, notifikasi sistem Rahmat berbunyi.
[DING!]
[Sebuah ancaman ditemukan!]
[TINGKAT BAHAYA: ANCAMAN TINGGI TERDETEKSI]
[Sumber: Pengawasan Investasi & Elite Broker]
Rahmat menatap notifikasi itu sebentar, lalu menoleh ke Armand. Jika ini bahaya makan tidak baik melibatkan kedua orang ini.
“Pak, kita berhenti sebentar, ya. Ada… hal yang harus aku urus.”
Armand menoleh, alis terangkat. Ia kebingungan “kenapa ini bahkan masih setengah perjalanan?”
Rahmat menghela napas. Menyusun alasan yang tepat. “Aku ada acara dengan temanku di daerah sini, sambil jalan kaki juga sampai.”
Alya menatapnya penasaran. “eh acara apa itu?”
Rahmat tersenyum tipis, pura-pura santai. “Ah, cuma urusan pribadi. Jangan khawatir. Alya bisa pulang saja.”
Alya cemberut, tampak kecewa karena tidak mengundangnya untuk ikut. “Oke kalau begitu.”
Armand mengangguk, tersenyum tipis. “kalau begitu ya udah. Hati-hati, nak.”
Rahmat membuka pintu, mengangguk berterima kasih, lalu berjalan ke gang sempit yang gelap. Suasana hening, hanya suara langkahnya yang menggema.
Mobil milik Armand sudah melaju pergi dan tak sampai semenit, Rahmat merasakan kehadiran mereka. Beberapa orang muncul dari bayangan, bergerak cepat. Salah satunya… pria jas hitam dari pelelangan tadi.
“Keluar! Kalian kira aku tidak menyadari keberadaan kalian?” seru rahmat.
Lima orang keluar dari persembunyian, salah satunya adalah pria berjas hitam yang dari pelelangan tadi.
Mereka saling tertawa memandang rendah lawan mereka, bagaimanapun itu hanyalah seorang bocah.
“Nak, serahkan uang 600 juta hasil penjualan mu sekarang juga kalau sayang nyawa!”
Rahmat menatap mereka satu per satu, wajahnya tetap tenang, matanya seperti memindai setiap kemungkinan serangan.
“600 juta? Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja ke orang kayak kalian?” suaranya datar, tapi ada aura mengancam yang membuat mereka sedikit mundur.
Pria jas hitam itu tersenyum sinis. “Ayo, jangan banyak bicara. Kami cuma mau uangmu, berikan 600 juta itu atau nyawamu akan melayang!”
[Ding!]
[Misi baru terpicu ; kalahkan lima orang ini]
[Hadiah
-Uang rp 1.000.000
-Anda akan naik level]
Rahmat menatapnya sebentar. “Kalau begitu, ayo kita mulai.”
Tanpa peringatan, Rahmat bergerak. Cepat. Sangat cepat.
Tangan kiri Rahmat menangkap pergelangan salah satu pria, menarik ke samping dengan cepat, sementara kaki kanannya menendang lutut pria lain. Dentuman keras terdengar saat pria itu jatuh tersungkur ke aspal.
Pria berbadan besar mencoba mengayunkan tongkat besi ke kepala Rahmat. Dengan reflek luar biasa, Rahmat menekuk badan, meraih tongkat itu, memutarnya, lalu menepaskannya ke arah tembok samping, membuat pria itu terhuyung.
Seorang pria lain mencoba menyerang dari belakang, tapi Rahmat sudah memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum untuk menendang ke arah perut lawan, membuatnya melayang ke sisi gang dan mendarat dengan suara nyaring.
Pria jas hitam tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa takutnya. Ia maju, tinjunya diarahkan ke wajah Rahmat. Tapi Rahmat menangkis dengan siku, lalu memutar tubuhnya, mendorong jas hitam itu ke dinding. Batu bata pecah, debu beterbangan.
“Tolong… jangan… aku cuma…” pria itu tersedak kata-kata, tubuhnya gemetar. Bagaimana bisa bocah seperti dia mengalahkan mereka semua!
Rahmat tidak berhenti. Dengan satu gerakan beruntun, ia memutar, menendang, dan meninju—kombinasi yang terlihat sederhana tapi mematikan. Setiap gerakan diukur sedemikian rupa agar lawan tidak bisa mengantisipasi.
Dua dari mereka mencoba menyerang bersamaan. Rahmat, dengan reflek yang nyaris seperti sistem otomatis, menangkis satu pukulan dengan pergelangan tangan, meninju lainnya dengan siku, membuat keduanya terjungkang ke lantai gang.
Pria jas hitam yang tersisa menghela napas panjang. “Ini… bocah kecil… bisa seperti ini?”
Rahmat menatapnya dingin. “Jangan meremehkan aku. Siapa pun yang mengancamku atau hasil kerjaku… pasti menyesal.”
Jas hitam itu mencoba menyerang lagi, tapi Rahmat melompat ke samping, menjatuhkan lawan dengan teknik bantingan sederhana tapi presisi. Beberapa kali, ia bergerak seperti bayangan, menghindar dan menyerang dalam hitungan detik.
Hingga akhirnya, semua lawan terkapar. Napas mereka tersengal, beberapa menahan rasa sakit, beberapa hanya bisa menatap Rahmat dengan mata terbelalak.
Rahmat berdiri tegak di tengah gang gelap, napasnya teratur. Sistem notifikasi menyala lagi:
[Ding!]
[Misi berhasil diselesaikan]
[Anda sekarang naik level]
[Saldo rp 1.000.000 telah masuk ke rekening.]
Rahmat tersenyum tipis. “Semua beres… ini baru malam yang panjang.”
Gang kembali sunyi. Hanya suara langkah Rahmat di aspal yang mendekati kelima orang itu
Rahmat menghela napas terheran - heran. “Sungguh menyedihkan, karena tidak terima kalah di pelelangan kalian ingin merebut hartaku sekarang? Siapa sebenarnya yang menyuruhmu ke sini?*
Tanya Rahmat karena ia sadar bahwa ia pasti akan diincar lagi oleh pria berjas itu.
Pria berjas tidak juga menjawab, ia terlihat kesakitan. “Mana mungkin kujawab dasar bodoh!”
Rahmat terkekeh, yah dia tidak perlu bertanya jika sudah punya sistem analisis nilai.
[Ding!]
[Target dianalisis]
Nama: Radit pratama
Usia: 25 Tahun
Status: Anggota keluarga black spider
Reputasi Sekolah: Ketua divisi keuangan black spider
Nilai Kepribadian: 5/10
Tingkat Kepercayaan Diri: Tinggi
"Anggota black spider ya?” gumam Rahmat.
Sementara pria itu terkejut bukan main darimana dia tahu itu?
“Tapi, baguslah kalau kamu tahu. Jangan pernah remehkan kami black spider! Kekalahan ini pasti akan kami balas, persiapkan dirimu bocah—-”
Plak!
Rahmat langsung mendeng pria berjas hitam itu keras, Cukup keras sampai membuat dia terjungkal, mengaduh kesakitan, lalu pingsan.
“Banyak bacot, lo,” umpatan sebal. “Black spider, ya?”
Rahmat sama sekali tidak pernah mendengar tentang mereka, keluarga apa pula itu? Semacam mafia mungkin? Ya bagaimanapun jika dia diincar oleh mereka. Dia harus cari tahu mengenai black spider.