di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Pukul 09.00 WIB tepat, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di depan pagar rumah Pak RT. Suara mesinnya yang halus namun bertenaga membuat beberapa tetangga melongok dari jendela. Rohman turun dengan penampilan yang lebih santai namun tetap berwibawa; celana kain gelap, kemeja koko modern berwarna abu-abu yang lengannya digulung hingga siku, dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Di dalam kamar, Rina sedang sibuk berperang dengan perasaan dan penampilannya sendiri.
"Duh, Sal! Gue pakai kerudung yang ini atau yang pashmina ya? Mas Arab—eh, Mas Rohman—suka yang mana ya?" tanya Rina panik sambil membongkar isi lemarinya.
Salsa yang sedang asyik rebahan hanya melirik malas. "Tadi malam bilang dia bau dan aneh, sekarang sibuk nanya selera. Pakai apa aja lo cantik, Rin. Apalagi kalau nggak sambil teriak-teriak," goda Salsa.
Rina akhirnya memilih gamis berwarna pastel dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat sangat segar. Ia melangkah keluar dengan sedikit gugup. Di ruang tamu, Rohman sudah duduk berbincang akrab dengan Ayah dan Imron.
"Sudah siap?" tanya Rohman sambil berdiri. Matanya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum saat melihat Rina. Ia sedikit menurunkan kacamatanya, menatap Rina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan senyum tipis.
"Ehem! Mata dijaga, Mas Ustadz," celetuk Imron sambil menyenggol bahu Rohman.
Rina hanya menunduk malu, "Ayo berangkat sekarang."
Momen di Dalam Mobil
Begitu pintu mobil tertutup, aroma parfum mahal (yang kemarin dibilang bau oleh Rina) langsung memenuhi kabin. Rina hanya diam, matanya terpaku ke arah jendela.
"Masih mau bilang saya bau?" tanya Rohman memecah keheningan sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Iya, bau... bau orang kaya! Bikin pusing!" jawab Rina asal, meskipun sebenarnya ia sangat menikmati wangi itu.
Rohman terkekeh, lalu tangan kirinya meraih sesuatu dari kursi belakang dan meletakkannya di pangkuan Rina. Sebuah kotak beludru merah dan sebuah bungkusan yang cukup berat.
"Itu apa?" tanya Rina heran.
"Buka saja. Yang kotak merah itu 'tanda jadi' agar kamu tidak kabur lagi di masjid. Dan yang berat itu... permintaan khususmu kemarin," jelas Rohman tenang.
Rina membuka bungkusan berat itu terlebih dahulu. Matanya berbinar saat melihat jajaran kitab Hilyatul Aulia jilid lengkap dengan cetakan terbaik. "Kamu beneran beliin ini? Ini kan mahal banget dan susah dicarinya!"
"Untuk mahasiswi S2 yang katanya seleranya tinggi, masa saya kasih buku tulis?" goda Rohman. "Dan satu lagi, buka kotak merahnya."
Rina membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kunci cadangan dengan logo merk mobil yang sama dengan yang mereka kendarai sekarang, lengkap dengan gantungan kunci bertuliskan nama: "R
ina Rohman".
"Itu kunci mobil yang kamu cari kemarin. Bukan yang jatuh di aspal, tapi yang ini baru, atas nama kamu. Hadiah karena sudah mau memanggil saya 'Sayang' tadi malam," bisik Rohman sambil melirik Rina sekilas.
Rina merasa wajahnya kembali memanas. "Mas Arab... kamu beneran mau nyogok aku ya?!"
"Bukan nyogok, Rina. Ini namanya investasi masa depan," jawab Rohman santai. "Nah, sekarang kita ke tempat fitting baju pengantin. Jangan pilih yang terlalu tipis, saya tidak mau calon istri saya masuk angin, apalagi sampai ada kejadian 'tembus' jilid dua."
"ROHMAAAN! JANGAN DIBAHAS LAGI!" teriak Rina sambil memukul lengan Rohman pelan, sementara pria itu tertawa puas, menikmati kencan pertama mereka yang penuh drama namun sangat manis.