NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Embrio Kehidupan, Bayang-Bayang Kematian

Kabar kehamilan Hyerin menyebar cepat ke seluruh markas.

Dalam tiga hari, semua orang tahu. Para wanita datang bergantian membawa hadiah—kain bayi, makanan bergizi, jimat keberuntungan. Para pria hanya tersenyum canggung dan mengucapkan selamat. Anak-anak sekolah menggambar untuk "adik bayi" yang belum lahir.

Hyerin sendiri campur aduk perasaannya.

"Oppa, aku senang, tapi juga takut," katanya suatu malam, saat kami duduk di paviliun. "Aku belum siap jadi ibu. Aku bahkan tidak punya ibu untuk bertanya."

Ibunya meninggal saat dia masih kecil. Sepanjang hidup, dia hanya punya ayah dan paman. Sekarang keduanya sudah tiada.

"Aku juga tidak punya ayah untuk bertanya," jawabku jujur. "Tapi kita belajar bersama."

Dia tersenyum tipis. "Kau yakin? Aku bisa jadi ibu yang buruk."

"Kau akan jadi ibu terbaik." Aku mengelus perutnya yang masih datar. "Lihat saja nanti."

---

Tapi kebahagiaan tidak pernah berjalan sendiri.

Dua minggu setelah kabar itu, utusan dari selatan datang lagi.

Bukan utusan resmi—mereka datang diam-diam, malam hari, meminta bertemu langsung denganku. Baek Dongsu yang pertama melihat mereka, langsung membawanya ke ruang kerjaku.

Dua orang. Berpakaian hitam, wajah tertutup. Tapi dari caranya bergerak, aku tahu mereka pendekar level tinggi.

"Jin Tae-kyung," yang lebih tua membuka suara. "Kami dari dalam Klan Selatan."

Aku tegang. "Mata-mata?"

"Bukan. Kami... pembelot."

---

Kisah mereka panjang dan pahit.

Klan Selatan ternyata tidak sekuat dulu. Kekalahan di markas Gong memicu konflik internal. Faksi yang mendukung perang melawan kita kalah suara. Tapi faksi yang menang punya syarat: mereka ingin damai, tapi juga ingin kepala para pengkhianat yang masih hidup.

"Siapa yang mereka incar?"

"Kalian tahu sendiri. Komandan yang memimpin penyerangan markas Gong itu—dia sekarang buron. Faksi kami ingin menangkapnya dan menyerahkannya pada kalian sebagai tanda damai."

Aku diam, memikirkan.

"Dan kalian mau apa dariku?"

"Perlindungan. Sampai urusan ini selesai. Dan..." dia ragu, "...sedikit bantuan."

"Bantuan apa?"

"Kami tahu kau punya senjata-senjata aneh. Mungkin... bisa membantu menangkap komandan itu. Dia kuat. Level tingginya hampir mencapai puncak."

---

Aku tidak langsung menjawab.

Ini terlalu rumit. Di satu sisi, ini kesempatan untuk mengakhiri konflik dengan Selatan. Di sisi lain, bisa jadi jebakan.

Aku minta waktu semalam.

Malam itu, aku bicara dengan Hyerin. Dia sudah tahu—Baek Dongsu melapor padanya juga.

"Oppa, jangan lakukan," katanya tegas. "Ini bisa jebakan."

"Tapi kalau ini nyata, kita bisa dapat damai."

"Damai dengan klan yang membunuh ayahku?" Matanya tajam. "Kau pikir aku mau berdamai dengan mereka?"

Aku meraih tangannya. "Sayang, aku tahu kau sakit. Tapi perang ini sudah memakan terlalu banyak korban. Ayahmu... dia pasti tidak mau kau terus-terusan hidup dalam dendam."

Dia diam. Matanya berkaca-kaca.

"Aku tahu... aku tahu secara logika kau benar. Tapi hatiku... hatiku belum bisa memaafkan."

"Memaafkan butuh waktu. Taku tidak minta kau maafkan mereka sekarang. Tapi setidaknya, beri kesempatan untuk damai."

---

Akhirnya, Hyerin setuju—dengan syarat.

Dia ikut dalam setiap tahap negosiasi. Dia ingin melihat langsung wajah para pembelot itu. Dia ingin memastikan mereka tulus.

Pertemuan berikutnya diadakan tiga hari kemudian, di tempat netral—sebuah lembah di perbatasan wilayah Gong dan Selatan.

Empat pihak hadir: aku dan Hyerin mewakili Klan Gong, dua pembelot mewakili faksi damai Selatan, dan sebagai saksi—Gong Jinsung? Tidak. Dia sudah tiada. Tapi Gong Jinsung punya putra, sepupu Hyerin, yang baru pulang dari perjalanan jauh. Gong Jin-wook.

Pria muda itu, dua puluh lima tahun, baru tiba minggu lalu. Selama ini dia belajar di klan lain, jauh di barat. Sekarang dia pulang untuk membantu membangun kembali klan keluarganya.

"Sepupu," sapa Hyerin hangat saat bertemu. "Terima kasih sudah datang."

Dia membalas pelukannya, lalu menatapku. "Jadi ini suamimu. Jin Tae-kyung. Aku sudah dengar banyak."

"Kabar baik atau buruk?" tanyaku.

Dia tersenyum tipis. "Dua-duanya."

---

Negosiasi berlangsung alot.

Para pembelot mengajukan proposal damai: Klan Selatan akan mengakui kedaulatan Klan Gong atas wilayahnya, membayar ganti rugi perang, dan menyerahkan komandan penyerang untuk diadili. Sebagai imbalannya, Klan Gong tidak akan menuntut balas pada klan secara keseluruhan.

Hyerin mendengarkan dengan wajah datar. Lalu bertanya, "Di mana komandan itu sekarang?"

"Kami tahu persis. Dia bersembunyi di benteng utara wilayah Selatan. Tapi benteng itu dijaga ketat. Kami tidak bisa menangkapnya sendiri."

"Jadi kalian minta bantuan kami?"

"Ya. Dengan senjata kalian, benteng itu bisa ditembus."

Hyerin menatapku. Aku mengangguk pelan.

"Baik," katanya akhirnya. "Kami bantu. Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Aku yang akan membunuhnya."

---

Diam menguasai lembah itu.

Para pembelot saling bertukar pandang. Gong Jin-wook mengangkat alis. Aku... aku hanya bisa diam. Ini sudah kuduga.

"Setuju," kata pembelot tertua akhirnya. "Dia milikmu."

---

Operasi penangkapan dimulai dua minggu kemudian.

Tim kecil—lima belas orang terbaik. Dari pihak Gong: aku, Hyerin, Gong Jin-wook, dan sepuluh prajurit elite bersenjata senapan. Dari pihak Selatan: dua pembelot itu dan tiga orang kepercayaan mereka.

Benteng sasaran terletak di lereng gunung, dikelilingi hutan lebat. Tembok batu setinggi delapan meter. Penjaga: sekitar lima puluh orang.

Kami berkemah di hutan, merencanakan penyusupan.

"Benteng ini punya satu kelemahan," kata pembelot, menunjukkan peta. "Di sisi barat, ada saluran pembuangan. Kecil, tapi cukup untuk dilalui manusia."

"Kau yakin itu tidak dijaga?" tanya Jin-wook.

"Saluran pembuangan. Siapa yang mau jaga tempat bau?"

Dia benar. Tapi aku tetap curiga.

Malam penyerangan, bulan purnama. Bukan kondisi ideal untuk sembunyi, tapi kami tidak punya pilihan.

---

Tim penyusup: aku, Hyerin, dan lima prajurit elite. Kami masuk lewat saluran pembuangan—bau, gelap, dan penuh tikus. Tapi tidak ada penjaga.

Di dalam, kami membagi tugas. Tiga prajurit ke gudang senjata—memasang bom waktu. Dua prajurit ke barak—mengacau, membuat musuh panik. Aku dan Hyerin langsung ke ruang komandan.

Gedung komandan di tengah benteng. Dua lantai, dikelilingi sepuluh penjaga.

Kami menunggu di balik semak, mengamati.

"Ada sepuluh," bisik Hyerin. "Aku bisa tangani lima."

"Aku punya senapan untuk tiga. Sisanya?"

"Biarkan Jin-wook. Dia janji akan datang dari sisi lain."

Tepat saat dia bicara, suara ledakan dari gudang senjata.

DUAR!

Para penjaga terkejut, setengah dari mereka lari ke arah ledakan. Tinggal lima.

Sekarang.

Aku membidik, menembak. DOR! Satu penjaga jatuh. DOR! Dua. DOR! Tiga. Tapi yang keempat sempat bereaksi, berlari ke arahku. Hyerin melompat, pedangnya menari. Satu tebasan, penjaga itu roboh. Yang kelima—sudah dihabisi Jin-wook yang muncul dari bayangan.

Beres.

Kami masuk ke gedung.

---

Komandan itu duduk di kursinya, tenang.

Pria paruh baya dengan wajah keras. Di tangannya, segelas arak. Di matanya, tidak ada rasa takut.

"Akhirnya kalian datang," katanya. "Sudah kutunggu."

Hyerin melangkah maju, pedang terhunus.

"Kau tahu kenapa aku di sini?"

"Untuk balas dendam." Dia tersenyum sinis. "Ayahmu mati di tanganku. Kau mau balas."

"Aku mau lihat matamu sebelum kau mati."

Dia tertawa. "Ayahmu juga bilang hal yang sama. Saat dia terluka, di Aula itu, dia masih sempat mengancam." Dia menatap Hyerin. "Pria tangguh. Sayang mati sia-sia."

Hyerin bergetar. Tangannya mencengkeram pedang erat.

"Hyerin-ah," bisikku. "Jangan biarkan dia memprovokasi."

Tapi dia sudah melangkah. Pedangnya berayun.

Komandan itu bergerak cepat—lebih cepat dari dugaanku. Dia menghindar, balas menyerang dengan golok dari pinggangnya.

Pertarungan sengit terjadi di ruangan sempit itu.

Aku ingin membantu, tapi takut kena serangan balik. Jin-wook sudah maju, tapi aku tahan—ini harus Hyerin yang menyelesaikan.

Dia bertarung dengan api di mata. Setiap tebasan penuh kebencian. Tapi komandan itu lebih berpengalaman. Dia bertahan, sesekali balas menyerang.

Lima menit. Sepuluh. Lima belas.

Akhirnya, Hyerin menemukan celah. Pedangnya menusuk tepat di dada komandan.

Dia terhuyung, jatuh berlutut. Darah mengalir dari mulutnya.

"Kau... kau mirip ayahmu..." bisiknya. "Sama-sama... keras kepala..."

Lalu dia jatuh. Mati.

Hyerin berdiri di atasnya, napas terengah-engah. Pedangnya masih menancap di dada mayat itu.

Aku mendekat, meraih tangannya.

"Hyerin-ah..."

Dia menatapku. Matanya kosong.

"Aku sudah balas dendam, Oppa." Suaranya bergetar. "Tapi kenapa... kenapa aku tidak merasa lega?"

Aku memeluknya.

"Karena dendam tidak pernah memberi kelegaan. Hanya kehampaan."

Dia menangis di dadaku. Tangis panjang, seperti bayi.

---

Kami keluar dari benteng saat fajar menyingsing.

Di belakang, benteng itu hancur—korban bom waktu dan serangan pasukan Gong dari luar. Para prajurit Selatan yang selamat menyerah. Komandan mereka sudah mati.

Perjalanan pulang terasa sunyi.

Hyerin tidak bicara sepanjang jalan. Hanya diam, menatap punggung kuda di depan.

Aku khawatir. Tapi aku tahu dia butuh waktu.

---

Tiga hari setelah kembali, dia mulai bicara lagi.

"Oppa," katanya suatu pagi. "Aku mau pergi."

Jantungku berhenti. "Pergi? Ke mana?"

"Ke makam ayah. Aku mau minta maaf."

"Minta maaf? Untuk apa?"

"Untuk... membunuh. Ayah dulu bilang, dendam hanya akan melukai diri sendiri. Tapi aku tetap lakukan. Aku harus minta maaf."

Aku menghela napas lega. Bukan pergi meninggalkanku.

"Aku antar."

---

Di makam Patriark Gong, Hyerin berlutut lama.

Dia tidak bicara. Hanya menunduk, kadang terisak pelan. Aku berdiri agak jauh, memberi ruang.

Setelah hampir satu jam, dia bangkit. Matanya sembab, tapi ada ketenangan di sana.

"Oppa, aku siap pulang."

"Kau baik-baik saja?"

Dia tersenyum tipis. "Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi aku bisa jalani."

Aku meraih tangannya. "Kita jalani bersama."

---

[Bersambung ke Bab 27]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!