Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan pertama
Aira menceritakan secara singkat pertemuannya dengan Magnitius. Mendengar hal itu Nocturna mengangguk faham.
"Kristal darah?". Gumam Nocturna.
Aira mengangguk cepat. "Jelaskan padaku apa maksudnya."
Nocturna mencoba mengingat sesuatu. "Astaga!". Nocturna menutup mulutnya dengan tangan.
"Ada ada?". Aira mengerutkan keningnya.
"Aira, aku mohon padamu. Bisakah kamu merebut kristal darah itu dari tangan Magnitius?".
"Kenapa?".
"Dengan adanya kristal darah, itu berarti Magnitius telah melakukan ritual sihir terlarang di dalam kerajaan!". Ungkapan Nocturna membuat Aira tersentak kaget.
"Maksudnya?".
"Kristal darah itu dibuat dari darah para keturunan kerajaan yang telah dibunuh," jelas Nocturna serius. "Dengan kristal itu, Magnitius bisa mengontrol kekuatan para keturunan kerajaan, termasuk keluargamu, Aira."
"T-tidak mungkin," Sela Aira
"Sayangnya, itu benar, Aira," kata Nocturna. "Kita harus merebut kristal darah itu dari tangan Magnitius sebelum terlambat. Jika tidak, maka kerajaan ini akan berada dalam bahaya besar."
"Tapi Magnitius mengatakan, kalau kristal darah itu bisa membebaskan keluargaku dan aku bisa kembali meraih kejayaan kerajaan es jika aku bisa mengendalikan energinya"
"Hal itu memang benar, tapi kamu belum tentu mampu Aira. Untuk menguasai kristal darah, kamu harus memiliki kekuatan dan energi yang lebih tinggi dari Magnitius"
"T-tapi, kenapa Magnitius bilang begitu?" tanyanya, suaranya yang bergetar membuat Nocturna menggelakkan kepala.
"Dia berbohong, Aira," kata Nocturna tegas. "Magnitius tidak akan membiarkanmu mengendalikan energi kristal darah itu sendirian. Dia hanya ingin menggunakanmu untuk mencapai tujuannya sendiri."
"Bastard!" . Geram Aira mengingat wajah Magnitius.
"Kita harus merebut kristal darah itu, Aira. Kita harus menghentikan Magnitius sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih buruk."
"Besok aku akan di pertemukan dengn seorang ksatria oleh Magnitius". Ungkap Aira
Nocturna mengerutkan keningnya lagi. "Untuk apa?"
"Untuk aku mulai berlatih agar bisa mendapatkan kristal itu".
"Aneh!". Gumam Nocturna.
"Apanya yang aneh?". Aira bingung.
Nocturna menggelakkan kepala, "Tidak ada yang aneh dengan ksatria itu, tapi Magnitius tidak mungkin membantu kamu tanpa ada motif tersembunyi. Aku tidak percaya dia akan membiarkan kamu menjadi kuat tanpa ada jaminan."
"Maksudmu, aku harus berhati-hati dengan ksatria itu?" tanyanya, membuat Nocturna mengangguk.
"Kamu harus sangat berhati-hati, Aira. Aku tidak tahu apa yang Magnitius rencanakan, tapi kita harus siap untuk menghadapi apa pun."
"Beri tahu aku, apa yang harus aku lakukan?". Tanya Aira sedikit khawatir.
"Apakah kamu masih mengingat sesuatu? Seperti mantra sihir yang dulu kamu pelajari?". Tanya Nocturna.
Aira mengangguk cepat. "Aku mengingat semuanya!". Jawabnya.
"Lalu, apakah kamu masih membawa pusaka pemberian kakakmu?". Tanya Nocturna.
"Bagaimana kamu tahu? Aku belum pernah memberitahumu tentang itu".
Nocturna tersenyum. "Aku merasakan energinya dari sini".
"ah...itu...". Aira gelagapan dibuatnya. "Apa yang harus aku lakukan dengan pusaka itu?".
Nocturna menghela nafas dalam-dalam. "Sekarang, kamu naik ke atas ranjang dan siapkan dirimu untuk bertapa".
Aira dengan cepat mengambil posisi, kemudian Nocturna melanjutkan ucapannya.
"Pusaka itu adalah kunci untuk mengaktifkan kekuatanmu yang sebenarnya, Aira. Kamu harus menggunakan pusaka itu untuk meningkatkan kemampuanmu dan melindungi diri dari bahaya."
"Baiklah, aku siap,"
"Kamu harus menggunakan mantra sihir yang kamu pelajari. dan aku akan memberimu satu mantra lagi, yang akan mempermudahmu mengingat semuanya".
Nocturna kemudian membisikkan sebuah mantra sihir ke telinga Aira, membuat Aira merasa seperti dia sedang diintai oleh energi yang sangat kuat.
"Baiklah, Aira. Mulai sekarang, kamu harus fokus pada energi dalam tubuhmu dan memvisualisasikan kekuatan yang kamu ingin capai. Aku akan membantumu dengan mantra sihir."
Air memejamkan mata dan mulai fokus pada napasnya, dan energi dalam tubuhnya. Nocturna membisikkan mantra sihir: "Astraea, ignis, et umbra, unifica potestas...Dewa Langit, dengan kekuatan dari energi seluruh alam semesta. Bantulah aku, bukalah pintu energiku"
Aira merasa energi dalam tubuhnya meningkat, dan dia mulai merasakan kekuatan yang kuat mengalir dalam dirinya.
Pusaka itu mengeluarkan cahaya, perlahan benda itu bergerak melayang di udara dengan pusaran cahaya hijau kebiruan mengelilinginya.
Cahaya hijau kebiruan itu semakin terang, pusaka itu mulai berputar lebih cepat. Aira merasa dirinya seperti dihisap ke dalam pusaran energi yang tak terlihat, tubuhnya terasa ringan seperti awan, dan pikirannya menjadi jernih seperti kristal.
"Kak Ember...". Gumam Aira saat melihat bayangan kakaknya di alam sana.
"Tetap fokus Aira". Ucap Nocturna mengingatkan.
Tubuh Aira bergetar hebat menandakan fokus Aira terganti dengan rasa sedih kehilangan. "Aira!...fokuskan dirimu!". Tariak Nocturna
Dan...
"Ahhhhh....".
Aira terpental ke dinding kamarnya kemudian terjatuh keras ke lantai ruangan. "Aduh..."
Aira membuka mata, napasnya terengah-engah, dan dia merasa seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk. "Apa...apa yang terjadi?"
"Aira, kamu harus fokus," kata Nocturna. "Kamu tidak bisa membiarkan emosi kamu mengendalikanmu. Kakakmu sudah tiada, tapi kamu masih memiliki tujuan yang harus dicapai."
"Maafkan aku". Ujar Aira. "Aku akan melakukannya kembali".
Tiba-tiba pintu kamar di buka paksa tanpa permisi. "Aira, apa kamu baik-baik saja?". Magnitius datang dengan wajah cemas.
"A-aku tidak apa-apa". Jawab Aira gugup.
Magnitius tidak mempercayai ucapan Aira. "Ada apa? Apa ada penyusup?".
Aira menggelengkan kepalanya pelan. Magnitius berjalan cepat ke arah jendela yang terbuka. "Kejar dia!". Titahnya pada para prajurit setalah melihat seseorang melarikan diri dari arah kamar Aira.
"Aira, apa dia melukaimu?". Magnitius mencoba memeriksa Aira, tapi Aira menghindar.
"A-aku tidak apa-apa, Magnitius. Aku hanya... kelelahan," Ujar Aira mencoba untuk menyembunyikan kebenaran.
Nocturna dengan mata sipitnya yang menyipit, memperhatikan Magnitius dengan curiga. "Hmm, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Magnitius bukan makhluk yang seperti itu" pikirnya dalam hati.
"Baiklah, Aira. Aku akan memanggil tabib istana untuk memeriksa kamu,". Tegas Magnitius dengan tangan membelai lembut kepala Aira.
Nocturna yang terjebak di dalam cermin, hanya bisa memperhatikan Aira dan Magnitius dengan rasa frustrasi dan kekecewaan. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan isyarat kecil kepada Aira, berharap Aira bisa memahami apa yang dia maksud.
"Dia bukan raja vampir yang kejam jika dihadapan Aira. Sebenarnya apa yang sedang Magnitius rencanakan". Nocturna semakin dibuat bingung
"A-aku tidak perlu tabib,Magnitius. Aku hanya perlu istirahat,". Tolak Aira, mencoba untuk mengakhiri percakapan.
Nocturna di dalam cermin, mata sipitnya semakin menyipit, "Apa yang sebenarnya Magnitius sembunyikan? Aira, jangan percaya padanya..." bisiknya dalam hati, berharap Aira bisa mendengar suaranya.
Magnitius tersenyum lembut, tapi Nocturna bisa melihat ada sesuatu yang tidak beres di balik senyum itu.
"Baiklah, Aira. Aku akan membiarkan kamu istirahat. Tapi aku akan menugaskan beberapa penjaga di luar untuk menjaga kamu," Kata Magnitius sebelum akhirnya meninggalkan Aira.
Aira mengangguk, setelah Magnitius pergi, Nocturna di dalam cermin, langsung memberikan isyarat kepada Aira. "Aira, jangan percaya padanya. Magnitius tidak seperti yang kamu pikir..." bisiknya, penuh peringatan.
"Aku tahu itu, Nocturna. Tapi besok adalah hari ke satu sebelum cahaya kristal darah redup". Jawab Aira tak kalah sengit.
Aira mendekati cermin, suaranya turun menjadi bisikan. "Aku akan mengambil kembali kristal darah itu, Nocturna. Aku tidak akan membiarkan Magnitius menggunakannya untuk kejahatannya," katanya, mata birunya berkilau dengan tekad.
Nocturna di dalam cermin, mengangguk perlahan. "Hati-hati, Aira. Magnitius tidak akan membiarkan kamu mengambil kristal itu dengan mudah. Dia memiliki banyak rahasia dan sihir dengan kekuatan yang tidak kamu ketahui,".
"Langkah pertama, kamu harus menguasai ilmu sihir pemegang pusaka itu. Dan itu harus berhasil dalam satu hari. Setelah kamu menguasainya pintu energimu akan kembali terbuka dan benteng sihir dari raja Ignis akan hancur setelah kamu menguasai ilmu sihir kelima kakakmu". Sambung Nocturna.
"Energi kekuatan satu orang dalam sehari? Bagaimana aku bisa? Aku bahkan belum menguasai ilmu sihir benteng es". Keluh Aira.
"Apa kamu lupa Aira? Seorang putra atau putri mahkota yang memiliki pusaka kerajaan, ialah yang akan memegang tahta kerajaan. Karena dia memiliki energi kuat dan ilmu sihir yang tinggi". Ucap Nocturna.
" Dan kamu menerima pusaka itu dengan kata kunci yang sudah kakakmu berikan untuk mempermudah kamu menggunakannya". Lanjutnya.
"Kata kunci? ". Lirih Aira.
Nocturna mengangguk. "kembalilah bertapa dan fokuskan penglihatan dan pendengaranmu nanti. Lupakan emosimu di dunia ini. Ingat seluruh perkataan pemilik pusaka itu nanti".
Aira mengangguk faham dan bersiap kembali melanjutkan misinya seorang diri
Ilustrasi Nocturna dan Aira :
.