Steve Lim tak pernah menyangka dirinya akan dijebak oleh oknum pemerintah yang bekerja sama dengan organisasi mafia yang dipimpinnya, mereka ingin menjebloskan Steve Lim ke penjara dengan dugaan pemerasan serta pencucian uang atas tanah di wilayah Makau yang terkenal dengan pusat industri kasino globalnya. Dimana Makau dijuluki Las Vegas dari Timur.
Pada saat dia mencoba menyelamatkan dirinya dari jebakan para oknum pemerintah, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis bernama Ruolan Tan yang membantunya bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Bagaimana kisah mereka berdua selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 UJIAN TERAKHIR
Steve Lim dan Ruolan Tan memulai perjalanan mereka untuk mencari Pedang Dewa di Gunung Tai Shan. Mereka berdua siap untuk menghadapi tantangan dan bahaya yang ada di gunung itu.
Steve Lim dan Ruolan Tan memulai pendakian Gunung Tai Shan, sambil mencari informasi tentang Pedang Dewa. Mereka berdua berjalan kaki, sambil menikmati pemandangan alam yang indah di sekitar mereka.
Setelah beberapa jam berjalan, mereka tiba di sebuah kuil kecil yang terletak di tengah-tengah hutan. Mereka berdua memutuskan untuk berhenti dan beristirahat sejenak di kuil tersebut.
Di dalam kuil, mereka bertemu dengan seorang biksu tua yang sedang bermeditasi. Biksu tua itu membuka matanya dan memandang mereka dengan mata yang bijak.
"Selamat datang, anak-anak muda," kata biksu tua itu. "Apa yang membawa kalian ke gunung ini?"
Steve Lim dan Ruolan Tan menjelaskan tentang pencarian mereka untuk Pedang Dewa. Biksu tua itu mengangguk dan tersenyum.
"Aku tahu tentang Pedang Dewa," kata biksu tua itu. "Dia adalah seorang wanita yang sangat kuat dan bijak. Tapi, dia tidak mudah ditemui. Kalian harus melewati tiga ujian untuk mencapai tempatnya."
Steve Lim dan Ruolan Tan saling memandang, sambil mengangguk. Mereka berdua siap untuk menghadapi tantangan tersebut.
"Apa saja tiga ujian itu?" tanya Steve Lim.
Biksu tua itu tersenyum. "Ujian pertama adalah ujian keberanian. Kalian harus melewati hutan yang dihuni oleh binatang buas. Ujian kedua adalah ujian kecerdasan. Kalian harus menjawab teka-teki yang sulit. Dan ujian ketiga adalah ujian kekuatan. Kalian harus mengalahkan musuh yang kuat."
Steve Lim dan Ruolan Tan saling memandang, sambil mengangguk. Mereka berdua siap untuk menghadapi tiga ujian tersebut.
"Baiklah, kami siap," kata Steve Lim. "Tunjukkanlah ujian pertama."
Biksu tua itu tersenyum. "Maka, mari kita mulai."
Biksu tua itu mengangguk dan mengangkat tangannya. Seketika, hutan di sekitar mereka menjadi gelap dan suara-suara binatang buas terdengar dari jauh.
"Ujian pertama adalah ujian keberanian," kata biksu tua itu. "Kalian harus melewati hutan ini dan mencapai ujung lainnya. Tapi, hati-hati, karena hutan ini dihuni oleh binatang buas yang ganas."
Steve Lim dan Ruolan Tan saling memandang, sambil mengangguk. Mereka berdua siap untuk menghadapi ujian ini.
Mereka berdua memasuki hutan, sambil memegang senjata mereka dengan erat. Suara-suara binatang buas semakin keras dan semakin dekat.
Tiba-tiba, seekor harimau besar muncul dari balik semak-semak. Steve Lim dan Ruolan Tan siap untuk menyerang, tapi harimau itu tidak menyerang mereka.
Sebaliknya, harimau itu memandang mereka dengan mata yang bijak dan kemudian berbalik pergi. Steve Lim dan Ruolan Tan saling memandang, sambil menghela napas lega.
"Apa yang terjadi?" tanya Ruolan Tan. "Mengapa harimau itu tidak menyerang kita?"
Steve Lim menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, tapi aku rasa kita harus berhati-hati."
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka, sambil mencari tahu apa yang terjadi di hutan ini. Setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba di sebuah sungai yang mengalir deras.
"Bagaimana kita bisa menyeberangi sungai ini?" tanya Ruolan Tan.
Steve Lim memandang sekitar, sambil mencari tahu apakah ada cara untuk menyeberangi sungai ini. Tiba-tiba, dia melihat sebuah batu besar di tengah sungai.
"Aku rasa aku tahu cara untuk menyeberangi sungai ini," kata Steve Lim, sambil tersenyum.
Ruolan Tan memandang batu itu, sambil mengangguk. "Ayo, kita coba."
Steve Lim dan Ruolan Tan menyeberangi sungai dengan menggunakan batu besar di tengah sungai. Mereka berdua harus berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam air yang deras.
Setelah mereka berhasil menyeberangi sungai, mereka tiba di sebuah gua yang gelap. Di dalam gua, mereka melihat sebuah cahaya yang lembut.
"Ayo, kita lihat apa itu," kata Steve Lim, sambil berjalan menuju cahaya tersebut.
Ruolan Tan mengikuti Steve Lim, sambil memegang senjata mereka dengan erat. Ketika mereka mendekati cahaya, mereka melihat sebuah ruangan yang indah dengan sebuah altar di tengahnya.
Di atas altar, terdapat sebuah kitab kuno yang terbuka. Steve Lim dan Ruolan Tan saling memandang, sambil merasa penasaran.
"Apa ini?" tanya Ruolan Tan, sambil menunjuk kitab kuno tersebut.
Steve Lim menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, tapi aku rasa kita harus membacanya."
Ruolan Tan mengangguk, dan mereka berdua mulai membaca kitab kuno tersebut. Ketika mereka membaca, mereka merasa ada sesuatu yang aneh terjadi...
Tiba-tiba, ruangan itu dipenuhi dengan cahaya yang sangat terang, dan Steve Lim dan Ruolan Tan merasa diri mereka terangkat ke udara...
Steve Lim dan Ruolan Tan merasa diri mereka terangkat ke udara, dan mereka tidak bisa mengontrol gerakan tubuh mereka. Mereka berdua merasa seperti sedang berada di dalam sebuah badai yang sangat kuat.
Ketika cahaya yang terang mulai memudar, Steve Lim dan Ruolan Tan menemukan diri mereka berada di sebuah tempat yang tidak mereka kenal. Mereka berdua berdiri di atas sebuah platform yang terbuat dari batu, dan di sekitar mereka terdapat sebuah hutan yang sangat lebat.
Di depan mereka, terdapat sebuah sosok yang berdiri dengan mata yang tertutup. Sosok itu tidak bergerak, tapi Steve Lim dan Ruolan Tan bisa merasakan aura yang sangat kuat dari dirinya.
"Siapa kamu?" tanya Steve Lim, sambil mencoba untuk mendekati sosok itu.
Sosok itu tidak menjawab, tapi matanya terbuka dan menatap Steve Lim dan Ruolan Tan dengan mata yang tajam.
"Aku adalah Pedang Dewa," kata sosok itu dengan suara yang sangat dalam. "Dan kalian berdua telah lulus ujian keberanian dan kecerdasan. Sekarang, saatnya untuk ujian terakhir: ujian kekuatan."
Pedang Dewa mengangkat tangannya, dan sebuah pedang yang sangat panjang dan tajam muncul di tangannya.
"Kalian berdua harus mengalahkan aku dalam pertarungan," kata Pedang Dewa. "Jika kalian berhasil, aku akan memberikan kalian kekuatan yang kalian cari."
Steve Lim dan Ruolan Tan saling memandang, sambil mengangguk. Mereka berdua siap untuk menghadapi ujian terakhir ini.
"Tentu saja, kami siap!" kata Steve Lim, sambil mengeluarkan pedangnya.
Pertarungan yang sangat sengit pun dimulai...
Ketika cahaya itu memudar, Steve Lim dan Ruolan Tan menemukan diri mereka berada di sebuah tempat yang tidak mereka kenal. Mereka berdiri di atas sebuah platform yang tinggi, dengan pemandangan kota yang indah di bawah mereka.
Tiba-tiba, sebuah suara berbicara kepada mereka. "Selamat datang, Steve Lim dan Ruolan Tan. Kalian telah melewati ujian pertama dan kedua dengan sukses. Sekarang, kalian harus menghadapi ujian terakhir."
Steve Lim dan Ruolan Tan saling memandang, sambil merasa penasaran. "Apa ujian terakhir?" tanya Steve Lim.
"Ujian terakhir adalah ujian kekuatan," jawab suara itu. "Kalian harus mengalahkan musuh yang paling kuat di dunia ini. Apakah kalian siap?"
Ruolan Tan mengangguk. "Kami siap. Siapa musuh yang harus kita hadapi?"
Tiba-tiba, sebuah sosok muncul di depan mereka. Steve Lim dan Ruolan Tan terkejut ketika mereka melihat bahwa sosok itu adalah... Xiaoyun!
"Xiaoyun!" seru Steve Lim. "Apa yang terjadi padamu?"
Xiaoyun tidak menjawab. Dia hanya memandang Steve Lim dan Ruolan Tan dengan mata yang dingin, dan kemudian menyerang mereka dengan kekuatan yang luar biasa...