Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19.5 : Tangga Ketiga yang Haus Langit.
[POV Xue Gou]
Asap masih membubung dari timur.
Aku berdiri di puncak bukit gundul, kedua tangan di belakang punggung, jubah hitam berkibar pelan oleh angin yang membawa abu. Di bawah, sisa-sisa perkemahan yang kutinggalkan terbakar lambat, seperti persembahan bagi dewa-dewa yang tak pernah mendengar doa para perampas.
Atau mungkin mereka mendengar.
“Ketua.”
Suara itu datang dari belakang. Wei Zhang. Berdiri dengan jarak aman, seperti biasa. Sejak kejadian di Persimpangan Kelindang, ia tak pernah lagi mendekat kurang dari lima langkah. Bukan karena takut, tapi karena matanya, di sana ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang mulai bertanya.
Tidak penting.
“Apa?” Suaraku datar.
“Barisan selatan sudah kembali. Tidak menemukan jejak.”
“Binatang iblis itu?”
“Sudah mati. Di dalam gua. Luka di leher, dalam. Pedang.”
Aku menutup mata sejenak.
Xiao Lu.
Gadis dari Sekte Cang Huo Zong itu. Aku tahu ia mengejarku. Tapi aku tak menyangka ia cukup nekat, cukup bodoh untuk menyerang binatang iblis sendirian.
Atau mungkin tidak sendirian.
Anak desa itu.
Ling Feng.
Mataku terbuka. Namanya masih asing di lidah, tapi di dadaku, ia sudah menempati ruang khusus. Ruang untuk orang-orang yang harus kumiliki. Atau kuhancurkan.
“Perintahkan semua unit mundur ke utara. Lembah Bayangan Hitam.”
Wei Zhang ragu. “Tapi Ketua, persediaan kita—”
“Persediaan bisa dicari.” Aku menoleh, menatapnya. Ia membeku. “Waktu tidak bisa.”
Ia menunduk. “Segera laksanakan.”
Langkahnya menjauh.
Aku kembali menatap asap di timur.
Xiao Lu. Murid Shifu Sheng. Aku tahu sedikit tentang masa lalunya. Yatim. Dibesarkan sekte. Tapi di matanya ada sesuatu yang lebih dari sekadar kepatuhan. Ada api. Ada keinginan untuk membuktikan diri.
Itu berbahaya. Orang dengan api seperti itu sulit dipadamkan.
Tapi juga ... menarik.
Dan anak desa itu. Ling Feng.
Bocah dengan Qi murni yang belum tercemar. Bakat alam yang langka. Bisa mendengar bumi, memanggil elemen, di tahap pertama. Jika kudapatkan ia, jika kumurnikan metodenya, kualirkan potensinya ke jalur yang benar, ia bisa menjadi senjata paling ampuh yang pernah kumiliki.
Atau ancaman terbesar.
Angin berputar di sekitarku, membawa aroma tanah yang hangus. Aku duduk di batu hitam, membiarkan tubuh ini rileks sejenak.
Enam puluh tiga tahun.
Enam puluh tiga tahun kultivasi, dan aku masih di sini. Masih merangkak di anak tangga ketiga, meraih keempat dengan jari-jari yang mulai lelah.
Orang-orang menyebutku iblis. Perampas. Pengkhianat hukum alam.
Mereka tidak tahu apa-apa tentang rasa lapar yang sebenarnya.
Bukan lapar perut.
Lapar tingkat.
Lapar yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah merasakan sepuluh tahapan ini. Sepuluh tangga menuju langit. Sepuluh harga yang harus dibayar.
Aku memejamkan mata, dan kenangan itu kembali, satu per satu, tahap demi tahap, seperti denyut nadi yang tak pernah padam.
Qiqing.
Tahap pertama.
Aku masih ingat rasa itu, saat pertama kali dunia tidak lagi sunyi. Bukan suara, tapi getaran. Seperti ada jutaan benang tak kasat mata yang menghubungkan segala hal, dan untuk pertama kalinya, jemariku menyentuhnya.
Tiga tahun aku belajar menahan getaran itu agar tidak pergi. Tiga tahun sebelum akhirnya aku bisa mendengar tanpa harus memejamkan mata.
Ling Feng, anak desa itu, melakukannya dalam delapan belas tahun tanpa guru. Hanya dengan duduk di sawah dan mendengar.
Bakat alam. Langka.
Tapi aku pernah melihat bakat seperti itu, mereka mati muda karena terlalu percaya pada kebaikan dunia.
Atau karena orang sepertiku.
“Ketua.”
Suara Wei Zhang dari kejauhan. “Api sudah padam di timur. Kita harus segera pergi sebelum jejak kita membeku.”
Aku tidak menjawab. Mataku masih tertutup. Ia tahu artinya, tunggu.
Langkahnya menjauh lagi.
Rongti.
Tahap kedua.
Mereka bilang ini tentang menguatkan tubuh. Tentang membersihkan meridian agar Qi bisa mengalir deras. Seperti sungai yang dikeruk, seperti tanah yang dicangkul.
Mereka tidak bilang bahwa rasanya seperti direbus hidup-hidup.
Aku mencapai Rongti di usia dua puluh tiga. Ayahku bangga. Ibuku menangis. Aku pura-pura tersenyum, padahal setiap malam, aku masih merasakan api itu merambat di urat-uratku.
Tapi tubuhku menjadi wadah. Luka ringan sembuh dalam jam. Luka berat dalam hari. Kekuatanku lima kali lipat manusia biasa.
Dan umurku ... entah berapa lama lagi. Mungkin dua puluh, mungkin tiga puluh tahun tambahan. Cukup untuk membuatku berpikir, apakah cukup hanya menjadi wadah?
Ningjing.
Tahap ketiga. Di sinilah aku sekarang.
Inti terbentuk di dantian, dua jari di bawah pusar, pusat energi tubuh. Ia berdenyut seperti jantung kedua, memberi makan Qi ke seluruh tubuh, siang dan malam, tanpa henti.
Dengan inti, aku bisa menyimpan Qi. Bisa menggunakannya kapan pun aku mau. Bisa membentuk teknik, serangan elemen, pertahanan energi, bahkan menyembuhkan luka yang tadinya mematikan.
Satu tebasan pedang bisa membelah batu. Satu langkah bisa menempuh puluhan meter. Mata bisa melihat dalam gelap.
Tapi inti butuh makan.
Setiap hari. Setiap jam. Jika tidak menyerap Qi cukup, ia akan layu. Dan jika layu, tubuh yang sudah terbiasa dengan kekuatan ini akan jatuh, lebih rendah dari manusia biasa. Rasa sakitnya tak terbayangkan.
Di sinilah aku mulai mengambil.
Dari alam, tanpa memberi kembali. Dari makhluk hidup, tanpa peduli pada kehidupan itu. Dari sesama manusia, tanpa rasa bersalah.
Mereka bilang ini efisien. Cepat. Tidak perlu menunggu alam memberi, cukup ambil paksa.
Aku tahu ini salah.
Aku melakukannya juga.
Karena lapar itu nyata. Dan tidak ada yang mengulurkan tangan saat kau kelaparan di tingkatan ini.
Yuanying.
Tahap keempat. Yang belum kuraih.
Inti yang menetas. Janis esensi, bayangan diri yang terbentuk dari Qi murni. Ia duduk di dalam dantian seperti bayi kecil, bermata tertutup, bernapas seirama dengan tubuh inangnya.
Di tahap ini, konon kultivator bisa melepaskan jiwa dari tubuh. Bisa melayang, menjelajah, mengintai, bahkan menyerang dari jarak yang tak terbayangkan. Luka fatal bisa sembuh dalam hitungan jam. Beberapa bahkan bisa mengubah penampilan fisik mereka.
Aku bisa menciumnya. Seperti aroma hujan sebelum badai tiba. Dekat. Sangat dekat.
Hanya satu langkah lagi.
Satu inti kuat yang bisa kuserap. Satu binatang iblis tingkat tinggi, atau satu kultivator berbakat dengan Qi murni, dan aku akan melompat. Melewati tahun-tahun yang seharusnya kubutuhkan.
Itu sebabnya aku mengejar binatang iblis itu.
Itu sebabnya aku mengincar Ling Feng.
Shenhua.
Tahap kelima.
Melebur dengan alam. Tubuh bukan lagi penjara, tapi kendaraan. Jiwa mulai terpisah dari daging. Batas antara Aku dan Alam mulai kabur.
Aku pernah melihat satu, saat masih muda. Ia melayang di atas puncak gunung, tubuhnya bercahaya redup seperti lilin di malam sunyi. Matanya tertutup, tapi aku tahu ia melihatku. Melihat ke dalam diriku, membaca tiap dosa yang belum kulakukan, tiap dosa yang akan kulakukan.
Ia tersenyum. Lalu berkata. Kau akan memilih jalan yang salah, anak muda.
Aku tertawa waktu itu.
Sekarang, aku tidak tertawa lagi.
Dacheng.
Tahap keenam.
Hanya sedikit yang membicarakan Dacheng. Karena hanya sedikit yang pernah mencapainya.
Mereka bilang, di tahap ini kultivator bisa menciptakan dunianya sendiri, realitas mini di dalam pikiran, tempat ia bisa berlatih, bersembunyi, memenjarakan musuh. Bisa menghidupkan dan mematikan dalam skala kecil. Bisa berjalan di antara alam hidup dan mati tanpa tersentuh.
Tubuh mereka bukan lagi daging sepenuhnya. Terlalu banyak Qi telah meresap, mengubah komposisi sel, membuat mereka lebih dekat ke roh daripada manusia.
Apakah mereka masih bisa merasakan hangatnya matahari? Masih bisa menangis?
Aku tidak tahu. Tapi aku ingin tahu rasanya.
Feisheng.
Tahap ketujuh.
Meninggalkan dunia. Tubuh fisik luruh, jiwa murni terlepas, dan kultivator menjadi bagian dari alam semesta. Hidup abadi, tapi tidak lagi dalam bentuk yang bisa dikenali. Angin yang membawa hujan. Api yang menghangatkan. Tanah tempat benih tumbuh.
Konon, hanya satu dari sepuluh ribu kultivator yang mencapai tahap ini.
Yang mencapai Feisheng tidak pernah kembali. Tidak ada yang tahu apakah mereka benar-benar abadi, atau hanya hancur menjadi energi murni dan kehilangan kesadaran.
Tapi semua kultivator mengejarnya. Karena itulah satu-satunya cara untuk benar-benar bebas dari siklus hidup-mati. Satu-satunya cara untuk tidak lagi takut pada waktu.
Tiga tahap terakhir hanya ada dalam bisikan. Aku tidak pernah tahu apakah itu nyata, atau hanya dongeng untuk membuat anak-anak sekte terus bermimpi.
Tapi kadang, di malam sunyi, aku berharap itu nyata.
Agar ada sesuatu di luar sana yang layak dikejar.
Wushu. Tanpa batas. Tidak terikat ruang dan waktu. Bisa menciptakan kehidupan. Bisa membangkitkan yang mati. Konon hanya tiga orang dalam sejarah yang mencapainya, nama mereka tidak pernah dicatat, seolah menulisnya adalah dosa.
Hundun. Kekacauan purba. Keadaan sebelum penciptaan. Kultivator di tahap ini konon bisa menghapus seseorang dari keberadaan, bukan membunuh, tapi memastikan mereka tidak pernah ada.
Wuji. Ketiadaan abadi. Segala dan tiada. Ada di mana-mana, tapi tak terlihat. Mengetahui segalanya, tapi tak bisa campur tangan. Ia adalah awal dan akhir. Ia adalah pertanyaan dan jawaban.
Konon, hanya satu makhluk dalam sejarah alam semesta yang mencapai Wuji. Ia menciptakan dunia ini, lalu menghilang ke dalamnya.
Ia adalah langit yang kau lihat. Tanah yang kau pijak. Udara yang kau hirup.
Dan ia tidak akan pernah kembali.
Atau mungkin, ia tidak pernah pergi.
Mungkin ia sedang menunggumu bertanya.
Matahari mulai turun.
Aku membuka mata. Di timur, asap mulai menipis. Di utara, Lembah Bayangan Hitam menunggu dengan dinginnya.
Sepuluh tahapan. Sepuluh tangga menuju langit.
Dan aku baru di anak tangga ketiga, merangkak menuju keempat.
Enam puluh tiga tahun. Enam puluh tiga tahun untuk mencapai titik di mana aku bisa merasakan betapa jauhnya aku dari puncak.
Tapi aku tidak menyerah.
Karena di sinilah letak kebebasan sejati: tidak ada yang bisa menghentikanmu kecuali dirimu sendiri.
Wei Zhang kembali. Ia berlutut di belakangku.
“Ketua, semua unit sudah bergerak.”
“Bagus.”
“Tapi ... ada satu hal.”
Aku menoleh. Wajahnya tegang.
“Beberapa anak buah bertanya. Tentang metode kita. Tentang perampasan. Tentang apakah ini satu-satunya jalan.”
Aku diam. Membiarkan kata-kata itu menggantung.
“Kau jawab apa?”
“Aku bilang ... itu harga yang harus dibayar untuk kekuatan.”
Tepat. Itu jawaban yang benar. Tapi nada suaranya ... ada getaran di sana. Keraguan. Ia tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.
Wei Zhang. Dulu ia anak desa yang kurekrut karena kelaparan. Kuberi kekuatan. Kuberi tujuan. Kuberi rasa aman yang tak pernah ia miliki. Tapi belakangan, matanya mulai bertanya.
Bukan tentang metode. Bukan tentang moralitas.
Tapi tentang apakah ini yang ia inginkan.
Sama seperti Ling Feng. Sama seperti semua orang yang mulai mendengar suara lain di dalam diri mereka. Suara yang bertanya. Untuk apa?
Mungkin aku harus membuangnya.
Atau mungkin ... aku bisa menggunakannya untuk menarik Ling Feng keluar.
Senyum kecil muncul di bibirku.
“Biarkan mereka bertanya,” kataku. “Pertanyaan adalah awal dari perjalanan. Dan ujung dari perjalanan ... hanya satu.”
Wei Zhang menunduk. “Apa itu, Ketua?”
Aku berdiri. Jubah hitamku berkibar. Di barat, matahari membara seperti inti yang siap meledak.
“Kenyataan bahwa tidak ada yang akan menjawab pertanyaan mereka. Hanya kekuatan yang bisa kau pegang sendiri. Hanya dirimu sendiri yang bisa kau andalkan. Langit tidak peduli pada pertanyaanmu. Dunia tidak berutang jawaban padamu.”
Aku melangkah turun dari bukit.
“Bersiap. Kita bergerak ke utara malam ini. Dan mulai sekarang, setiap anak buah yang bertanya terlalu banyak ... kau tahu apa yang harus dilakukan.”
Wei Zhang diam. Lalu, pelan. “Siap, Ketua.”
Kami meninggalkan bukit itu.
Di belakang, asap masih membubung. Di depan, Lembah Bayangan Hitam menunggu dengan rahasia gelapnya. Ribuan binatang iblis berkeliaran di sana, saling memburu, saling memangsa, kultivasi paling kejam yang pernah ada. Tapi juga paling cepat.
Dan di dalam dadaku, inti itu berdenyut.