Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Sebatas Rencana
Malam yang dingin kembali datang menyapa Astrid yang masih terjaga. Sesuatu dalam pikirannya seperti menyuruhnya untuk tidak bergerak dari tempatnya sekarang.
Saat itu Astrid hanya terus terduduk di tepi tempat tidur, tatapannya tajam mengarah ke pintu kamar yang terkunci dari luar. Astrid seolah tengah bersiap untuk menerkam mangsa buruannya yang nanti akan muncul dari balik pintu.
Waktu terus berlalu hingga akhirnya dini hari pun tiba.
KLIK!
Suara kunci pintu terbuka.
Sorot mata Astrid menjadi lebih seram dan menyala-nyala karena api amarah yang semakin membara.
Daun pintu lalu terbuka dan seorang pria bertopeng putih polos muncul dari baliknya. Pintu itu lalu ditutupnya lagi dengan rapat.
“Kelinci kecil…” pria itu menggemakan suara yang dibuat ramah. “Hei… Kamu belum tidur?”
Pria bertudung itu menoleh ke arah nakas dan melihat makanan di atas sana masih utuh.
Astrid sangat muak melihat kehadiran pria itu. Ketika sosok bertopeng itu semakin mendekat, Astrid melangkah cepat dan melayangkan serangan tepat di depan tubuh pria itu.
Tepat sekali. Senjata yang Astrid gunakan adalah pecahan cermin yang tadi siang hancur berkeping. Untuk menghindari kemungkinan dirinya terluka, Astrid telah membalut bagian yang ia genggam.
Pria itu spontan menghindari serangan Astrid. Meski telah menghindar, lengan kirinya tetap terkena sabetan pecahan cermin itu hingga jaketnya robek, lengannya juga tampak terluka cukup besar dan memanjang.
“SIAL*AN!” hardiknya.
Darahnya mendidih seketika. Sosok bertopeng itu akhirnya mencengkram lengan Astrid dan menghadiahinya sebuah tamparan keras.
“BERENG*SEEKKK!”
Pipi kiri Astrid berubah merah karena bekas tamparan itu.
“KAMU PIKIR BISA LAWAN AKU? HUH?!” pria itu kembali menampar pipi Astrid.
Seketika itu kesadaran Astrid menurun. Tubuhnya terkulai lemas, tersandar pada kaki tempat tidur.
Pria itu meraup dagu Astrid dan lagi-lagi memaksa Astrid menelan pil yang memang dibawanya. “JADI LEBIH SUKA MAKAN PIL INI, HUH?! NIH! MAKAN!”
Astrid lagi-lagi hanya bisa terdiam dan pasrah menerima perlakuan kasar sosok bertopeng itu. Mau bagaimana lagi, kekuatannya kalah jauh, dan kepalanya juga terasa sangat berputar.
“JALANG GAK TAU DIRI!! BUKAN TERIMA KASIH DIKASIH MAKAN ENAK….”
Kalimat kasar pria itu seperti berangsur lenyap dan menjauh dari indra pendengaran Astrid. Gadis itu kini benar-benar kehilangan kesadarannya.
#
Pagi itu, Naya kembali terbangun dengan perasaan yang sama. Lelah, mengantuk, malas meninggalkan tempat tidur. Dan yang paling penting, Naya kembali dihadapkan dengan kenyataan bahwa sampai hari itu keberadaan Astrid masih menjadi sebuah tanda tanya besar.
Tapi apa mau dikata, ia hanya seorang karyawan biasa, koneksinya tidak seluas itu untuk meminta detektif super menyelidiki keberadaan Astrid. Bisa melibatkan Mahesa saja itu pun karena campur tangan Addam, pikirnya.
Hari itu, Naya kembali harus pergi ke kantor untuk bekerja. Seperti kita ketahui, jadwal ‘bekerja dari rumah’-nya sempat terganggu. Kemarin, ia harus datang ke kantornya karena hal mendesak ketika jadwalnya ‘di rumah’.
Selesai bersiap diri, Naya dibuat terkejut ketika melihat Addam juga telah terlihat rapi di depan tempat tinggalnya.
“Kak Addam? Ngantor, Kak?”
“Pagi, Nay.” Addam tersenyum simpul. “Bukan. Aku lagi mau ke sekolahan Astrid.
Naya mengernyitkan dahi. “Ke sekolahan Astrid? Kenapa, Kak?”
“Ya… Seperti yang kamu bilang. Kita belum sempet selidikin latar belakangnya Irvan. Dan jujur aku penasaran banget. Jadi dari pada kepikiran, ya mending aku pastiin aja…”
“Sendirian?!”
“Heem.” Addam mengangguk. “Si Mahesa katanya lagi repot. Kenapa? Kamu mau ikut?”
“Yahh… Tahu gitu aku ngajuin cuti, Kak... Aku pengen banget ikut. Tapi hari ini mesti ke kantor…” Naya terdengar lesu.
“Ya udah, ya udah. Kamu mending ke kantor aja. It’s okay, Nay. Nanti juga aku bakal ngabarin kamu sama Mahesa, kok…”
Naya tampak menurunkan sudut bibirnya. Saat itu hati kecilnya semakin enggan untuk pergi menuju tempatnya bekerja.
#
Sementara itu, Mahesa tampak tengah terlibat perbincangan serius dengan timnya di ruangan mereka.
Bagus: “Laporan forensik udah keluar, kan? Gimana hasilnya?”
Revi: “Hasil autopsi menyebutkan penyebab korban meninggal adalah karena overdosis zat penenang. Bekas dua jeratan berbeda di leher korban mengindikasikan pelaku juga sempat mencekik korban sebelum ia mengikat leher korban…”
Bagus: “Overdosis? Obat penenang jenis apa?”
Arya: “Di sini disebutkan kalau obat penenang yang dipakai biasanya digunakan untuk pasien depresi berat. Selain itu, ditemukan juga kandungan obat untuk insomnia dan serangan panik.”
Bagus: “Bukannya obat jenis itu tidak diperjualbelikan secara bebas?”
Arya: “Normalnya, iya. Tapi ada pengecualian, Pak. Obat seperti ini akan mudah didapat di pasar gelap…”
Mahesa: “Maaf menyela, Pak. Jika dikaitkan dengan dua kasus sebelumnya, penyebab kematian kedua korban juga karena overdosis obat yang sama.”
Bagus: “Kalian udah sejauh mana selidikin kasus itu?”
Tanpa banyak perkataan, Mahesa hanya meletakkan kedua tangannya pada dua tumpuk dokumen yang cukup tebal.
“Oke. Nanti kalian jelasin rinciannya ke saya,” ucap Bagus.
Padahal jam dinding di ruangan itu baru melewati angka delapan, tapi kesibukan di sana rasanya sudah menguasai atmosfer pagi yang biasanya identik dengan ketenangan.
#
Memasuki waktu makan siang, Annie menghampiri Naya untuk mengajaknya pergi bersama. Hal itu sudah seperti menjadi kebiasaannya yang jarang sekali terlewat.
“Nay! Nasi padang, yuk?! Yang deket pertigaan itu… Aku males makan di kantin...” ajak Annie.
Naya mengerlingkan matanya, berpikir sejenak. “Oh yang itu…? Ayo. Jalan sekarang?”
Annie mengangguk cepat dengan senyum mengembang. Ia terlihat begitu bersemangat.
Tepat ketika mereka berdua tiba di ambang pintu, secara mengejutkan Eko muncul dari dalam ruang meeting yang berada tepat di sebrang ruang kerja mereka.
“Eh… Bu Naya. Bu Annie. Pada mau ke mana, nih...?” tanya Eko dengan senyum lebarnya.
“Kita mau beli makan nih, Mas,” sahut Annie.
“Oalah. Mau beli apa, Bu? Sini saya aja yang jalan,” tawar pria itu, “di luar puanas buanget, lho!”
Annie dan Naya saling bertatapan sekilas.
“Gak repotin Mas Eko, nih?” tanya Naya dengan ragu.
“Ya enggak dong, Bu.”
Senyum Annie merekah. “Kalo gitu saya mau titip nasi padang, pake rendang, sama perkedel. Kamu apa, Nay?”
“Sama. Saya titip itu juga, Mas. Nasinya setengah,” kata Naya singkat.
“Ini uangnya. Yang deket pertigaan itu ya, Mas. Nay, kamu pake duit aku aja dulu...” Annie mengulurkan selembar uang berwarna merah.
“Siap, Bu!” balas Eko semangat.
Tanpa ragu akhirnya pria bertubuh jangkung itu pergi sesuai permintaan Naya dan Annie.
“Ann, nanti aku transfer, ya. Aku kebeneran lagi gak punya tunai,” kata Naya.
Naya dan Annie kemudian kembali duduk di tempat mereka masing-masing.
“By the way, Nay. Si Mas Eko kalo pake kemeja panjang gitu jadi gak kayak OB gak, sih? Aura dia jadi mirip aura Pak Alden,” Annie cengengesan.
Naya berdecih. “Yah… Lumayan… Oh iya, ngomong-ngomong Pak Alden WFH juga?”
“Iya. Enak banget, ya? Baru masuk langsung WFH.”
“Tapi jujur enakan di sini. Di rumah bawaannya overthinking mulu,” Naya menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Hm?” kedua alis Annie tertaut. “Overthinking kenapa?”
“Astrid…”
“Oh…” bahu Annie tampak melemas. “Nay aku bingung mau jawab apa. Aku cuma bisa bilang, kita sama-sama berdoa yang terbaik aja buat Astrid. Semoga dia cepet ketemu, semoga dia gak kenapa-kenapa…”
“Amin… Thank you, Ann.”