Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: KEHANGATAN & BUKTI
Valerie menggeleng pelan, ia meraih pergelangan tangan Revan, menahan tangan itu agar tetap di wajahnya. "Kau tidak pernah merusakku, Mas. Kau adalah satu-satunya yang menyusun kembali kepingan diriku yang hancur karena mereka."
Valerie memberanikan diri untuk melangkah satu titik lebih dekat, hingga napas mereka beradu. "Malam ini... aku tidak ingin ada jarak lagi. Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya, bukan karena kewajiban, tapi karena aku mencintaimu."
Pernyataan itu seolah menjadi kunci yang
membuka bendungan emosi Revan. Perlahan, Revan mendekatkan wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak mendaratkan kecupan di kening, melainkan di bibir Valerie. Sebuah sentuhan yang awalnya ragu dan sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh hal yang paling berharga di dunia.
Valerie memejamkan mata, menyambut tautan itu dengan perasaan lega yang meluap. Ciuman itu perlahan berubah menjadi lebih dalam dan menuntut, membawa serta seluruh kerinduan masa lalu mereka, rindu Revan yang menatap dari paviliun, dan rindu Valerie akan sosok yang benar-benar menganggapnya berharga.
Revan kemudian mengangkat tubuh Valerie dengan sangat mudah, menggendongnya menuju kamar utama tanpa melepaskan kontak mata mereka. Di atas ranjang yang luas dengan aroma kayu pinus yang menenangkan, Revan meletakkan Valerie dengan gerakan yang luar biasa hati-hati.
"Kau yakin, Erie?" tanya Revan sekali lagi, memastikan dengan tatapan matanya yang penuh proteksi. Ia ingin memastikan bahwa istrinya benar-benar siap.
Valerie menjawabnya dengan menarik leher Revan lembut, membawanya kembali ke dalam pelukannya. "Aku yakin, Mas Revanza."
Malam itu, di bawah perlindungan kegelapan pegunungan, segalanya mengalir dengan begitu alami namun penuh penghormatan. Setiap sentuhan Revan terasa seperti sebuah doa, ia memperlakukan Valerie dengan kelembutan yang luar biasa, seolah sedang menghapus satu demi satu luka lama di tubuh dan jiwa gadis itu.
Tidak ada lagi ketakutan di hati Valerie. Di tangan pria ini, ia merasa kuat. Dan bagi Revan, setiap jengkal kedekatan mereka malam itu adalah penebusan atas tahun-tahun yang ia habiskan dalam sunyi. Mereka akhirnya menyatu, bukan hanya secara raga, tapi juga jiwa yang selama ini terpisah oleh tembok status dan rasa rendah diri.
Badai di luar mungkin telah benar-benar reda, namun di dalam kamar itu, sebuah babak baru yang penuh kehangatan baru saja dimulai. Mereka telah melewati ujian hukum dan fitnah, dan kini, mereka akhirnya menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya dalam arti yang paling dalam.
Keesokan Paginya
Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden, menyinari wajah Valerie yang masih terlelap di dada bidang Revan. Revan sendiri sudah terjaga sejak tadi, namun ia enggan bergerak sedikit pun. Ia hanya ingin menikmati momen ini, melihat istrinya tertidur dengan raut wajah paling damai yang pernah ia lihat.
Revan mengecup puncak kepala Valerie, lalu berbisik pelan, "Selamat pagi, Istriku."
Valerie menggeliat kecil, membuka matanya dan mendapati senyum tulus Revan menyambutnya. Ia tersenyum malu-malu, menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Mas... jam berapa sekarang?"
"Cukup pagi untuk kita mulai hidup baru tanpa perlu bersembunyi lagi," jawab Revan sambil merangkulnya erat.
Revan tidak membiarkan Valerie beranjak dari ranjang begitu saja. Ia menarik kembali tubuh istrinya ke dalam pelukannya, menikmati aroma rambut Valerie yang bercampur dengan kehangatan pagi.
"Mas, aku harus mandi, gumam Valerie sambil tertawa kecil, berusaha melepaskan diri dari dekapan posesif suaminya.
"Tidak perlu, tubuhmu masih sangat harum untuk ku," jawab Revan rendah, suaranya masih parau khas orang yang baru bangun tidur. Ia mengecup bahu Valerie yang terekspos di balik selimut, membuat gadis itu merinding. "Biarkan seperti ini sepuluh menit lagi. Aku merasa jika aku melepaskanmu, aku akan kembali menjadi seorang anak di paviliun yang hanya bisa menatapmu dari kejauhan."
Valerie berbalik, menatap mata tajam Revan yang kini melunak. Ia mengusap rahang tegas suaminya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. "Kau bukan lagi anak laki-laki itu, Mas. Dan aku bukan lagi matahari yang tidak bisa kau sentuh. Aku istrimu."
Revan tersenyum, sebuah senyuman langka yang hanya ditujukan untuk Valerie. Ia memberikan satu kecupan singkat di bibir Valerie sebagai penutup momen pagi mereka sebelum akhirnya bangkit. "Mandi dan bersiaplah. Aku akan menyiapkan sarapan, lalu aku harus memeriksa sesuatu yang penting."
Setelah sarapan sederhana di teras yang diselimuti kabut tipis, Valerie pergi ke balkon lantai atas untuk mulai melukis. Sementara itu, Revan duduk di ruang kerja kecil vila dengan map plastik dan flashdisk yang diberikan Julian semalam.
Wajah Revan yang tadinya lembut seketika berubah menjadi sedingin es saat ia mulai memutar rekaman suara dan membaca dokumen di dalamnya.
Di dalam rekaman itu, terdengar suara Adrian yang begitu jelas dan manipulatif:
"...Pastikan fotonya menyebar saat Revan sedang rapat senat. Ayah tidak akan memaafkan kesalahan moral. Begitu Revan didepak, aku akan membawa Valerie ke panti rehabilitasi milik Dokter Gunawan. Di sana, dia akan 'tenang' secara permanen, dan surat kuasa aset kakek akan jatuh ke tanganku."
Revan mencengkeram pinggiran meja. Giginya bergelatuk menahan amarah. Namun, yang membuat napasnya tertahan adalah sebuah dokumen hasil audit medis yang diselipkan Julian. Dokumen itu menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun, Adrian memberikan dosis obat penenang yang tidak perlu kepada Kakek dan Valerie saat mereka sakit, hanya untuk membuat mereka tampak "tidak stabil" di mata Hendrawan.
"Jadi ini caramu bermain, Adrian," bisik Revan dingin. "Kau tidak hanya ingin hartanya, kau ingin menghancurkan kewarasan mereka."
Revan segera menyalin semua data itu ke server pribadinya yang terenkripsi. Dengan bukti ini, ia tidak hanya bisa memenjarakan Julian atas pencemaran nama baik, tapi ia bisa menghancurkan karir kedokteran Adrian dan menyeretnya ke balik jeruji besi atas percobaan pembunuhan perlahan dan malpraktik.
Pemandangan dari balkon lantai atas begitu luar biasa, lembah hijau yang masih berselimut kabut tipis di kejauhan dan barisan pohon pinus yang melambai ditiup angin pegunungan. Udara yang bersih dan ketenangan yang membuat Valerie merasa begitu terinspirasi.
Ia mulai menggoreskan warna-warna lembut di atas kanvasnya, mencoba menangkap kedamaian yang ia rasakan saat ini.
Revan, yang baru saja selesai memeriksa dokumen dari Julian, melangkah naik. Ia sempat terhenti di pintu kaca yang terbuka, terpesona oleh pemandangan di depannya. Bukan hanya pemandangan alamnya, tapi sosok Valerie yang tampak begitu menyatu dengan keindahan di sekelilingnya. Rambutnya tertiup angin pelan, dan wajahnya tampak begitu fokus namun rileks, sebuah ekspresi yang jarang Revan lihat saat mereka masih berada di Jakarta.
Revan berjalan mendekat tanpa suara, lalu berdiri tepat di belakang Valerie. Tanpa mengganggu gerakan kuas istrinya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Valerie, menarik tubuh kecil itu untuk bersandar pada dadanya.
"Pemandangannya indah," bisik Revan tepat di samping telinga Valerie.
Valerie tersentak kecil, namun segera tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Revan. "Mas... aku tidak mendengarmu datang."
"Aku tidak ingin merusak konsentrasimu," jawab Revan. Ia menatap kanvas Valerie. Kali ini, tidak ada guratan kelam atau garis yang tajam. Valerie sedang melukis paviliun tua, tempat masa kecil mereka, namun dengan warna-warna yang hangat dan penuh cahaya. "Kenapa melukis paviliun itu?"