Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PILIHAN YANG MEMBAWA DARAH
Lift bergetar semakin keras. Baut-baut di langit-langit berderit, satu per satu menyerah. Debu logam berjatuhan seperti salju abu-abu.
Elara menatap tangan pria misterius itu—terulur, menunggu. Lalu ia menatap cincin perak di jarinya. Untuk pertama kalinya sejak malam itu, cincin tersebut tidak bergetar. Sistem Moretti sedang buta.
“Ayo,” kata pria itu, suaranya rendah dan tenang. Terlalu tenang. “Sekarang.”
Elara menarik napas. Ia tidak meraih tangan itu.
Sebaliknya, ia menggenggam cincin dan memutar ukiran di sisi kirinya—gerakan yang sama seperti di pesta, namun kali ini dengan tekanan yang berbeda. Ia mengingat sensasi itu. Getaran mikro. Sinkronisasi singkat.
“Apa yang kau lakukan?” Pria itu menegang.
“Berhenti berbicara seolah-olah kau satu-satunya yang punya pilihan,” jawab Elara. Suaranya bergetar, tapi matanya tidak. “Kau bilang Julian menyembunyikan kebenaran. Kau benar. Tapi kau juga menyembunyikan sesuatu.”
Pria itu tertawa kecil. “Pintar. Tapi terlambat.”
Langit-langit lift robek. Sebuah tangan bersarung tangan hitam menembus masuk, disusul kilatan moncong senjata. Pria misterius berbalik, menembak ke atas. Dentuman memekakkan telinga memenuhi ruang sempit itu.
Elara merunduk, menutup telinga—lalu mendorong tubuhnya ke depan, menabrak pria itu dengan seluruh tenaga. Keduanya terhuyung. Perangkat elektronik kecil yang ditempel di dinding lift terlepas dan jatuh ke lantai, retak.
“Bodoh!” desis pria itu.
Pintu lift terbuka paksa. Asap menyembur. Dari balik kabut, siluet Julian muncul—wajahnya kotor oleh jelaga, matanya tajam dan liar. Ia menembak satu kali. Tepat. Tanpa ragu.
Peluru menghantam bahu pria misterius. Pria itu terhuyung, menggeram kesakitan, namun masih berdiri.
“Pergi dari dia,” suara Julian rendah. Berbahaya.
Pria misterius tersenyum, darah mengalir di jas abu-abu peraknya. “Kau selalu datang tepat waktu, Moretti. Seperti algojo yang bangga dengan jam tangannya.”
Julian tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke lift, berdiri di antara Elara dan pria itu. Tubuhnya seperti dinding.
“Elara,” kata Julian tanpa menoleh. “Tutup mata. Sekarang.”
“Tidak,” jawab Elara. Ia berdiri. “Aku mau dengar semuanya.”
Keheningan jatuh—tebal, rapuh.
Pria misterius terkekeh. “Biarkan dia, Julian. Dia berhak tahu bahwa ‘teknisi Zurich’-mu adalah bagian dari Dewan. Bahwa ekstraksi itu bukan untuk menyelamatkannya.”
Julian menghela napas pendek. Senjatanya tetap terangkat. “Cukup.”
“Tidak,” Elara melangkah ke samping, memaksa masuk ke garis pandang mereka berdua. “Bicaralah. Kalian berdua.”
Pria misterius menatap Elara, lalu Julian. “Protokol Zurich memindahkan data. Tubuhnya… kolateral.”
Julian akhirnya menoleh. Tatapannya menghantam Elara seperti gelombang dingin. “Aku menghentikannya.”
“Kau menundanya,” koreksi pria itu. “Karena Dewan akan selalu menagih.”
Elara merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya—bukan hati, tapi ilusi. Ia menatap Julian. “Jadi benar. Aku bisa mati.”
Julian tidak mengelak. “Iya.”
Satu kata. Jujur. Brutal.
“Dan kau tetap memilih jalan itu,” bisik Elara.
“Aku memilih waktu,” jawab Julian. “Untuk mencari cara lain. Untuk membuatmu cukup kuat agar tidak ada yang berani menyentuhmu—termasuk Dewan.”
Pria misterius mendengus. “Atau agar kau bisa menyerahkannya sendiri saat waktunya tiba.”
Elara menutup mata sejenak. Lalu membukanya.
“Aku tidak ikut siapa pun malam ini,” katanya pelan. “Tidak padamu. Tidak padamu.”
Keduanya terdiam.
“Aku akan belajar,” lanjut Elara. “Bukan untuk menjadi aset. Tapi agar tidak bisa diambil.”
Julian menurunkan senjatanya setengah inci. Pria misterius menghela napas, menyeringai pahit.
“Pilihan berbahaya,” kata pria itu. “Kau baru saja menyatakan perang.”
Elara mengangguk. “Aku tahu.”
Sirene internal mansion meraung—nada yang berbeda. Kunci total. Pintu baja di lorong menutup satu per satu.
Julian menatap Elara. Ada sesuatu di sana—bukan kepemilikan, bukan perintah. Pengakuan.
“Mulai malam ini,” katanya, “kau tidak akan berjalan sendirian.”
Elara menatap balik. “Mulai malam ini, aku berjalan dengan mata terbuka.”
Di lantai lift, perangkat retak itu berkedip—lalu mati.
Di tempat lain, seseorang mencatat satu baris di layar gelap:
ASET 01: STATUS — AKTIF. BERBAHAYA.