"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar
"Neneek, " panggil Jeny sambil masuk ke dalam rumah kecilnya.
"Ya Jen, Nenek di kamar."
Jeny bergegas ke arah suara. Ia melihat nenek kesayangannya itu sedang melipat pakaian di lantai.
"Nenek, Jeny bawa Mie Ayam, nenek lama kan nggak makan ini? " ujar Jeny sambil memperlihatkan bungkusan di tangannya.
"Wah, tumben Jen. Uang darimana? " tanya sang nenek dengan senyuman penuh rasa syukur.
Jeny menghampiri neneknya lalu meletakkan bungkusan itu di hadapan neneknya.
"Ayo, Nek makan dulu mumpung masih hangat."
Nenek Rahmi membuka bungkusan dan mengeluarkan sebuah mangkok kertas yang berisi Mie Ayam.
Jeny menyingkirkan cucian yang sudah terlipat rapi supaya Neneknya bisa menikmati dengan kusyuk.
"Nek, aku dapat penghargaan hari ini.Nah kebetulan Mie ayam ini pemberian temanku yang juga dapat penghargaan. Kami merayakannya di warung Mie ayam dekat sini tadi. "
Jeny memperlihatkan plakat penghargaan yang diterima pagi tadi. Mata Nenek Rahmi berbinar menatap plakat itu.Rasa bangga dan haru menyatu dalam hatinya.
"Wah, hebat sekali kamu jen. Nanti berita tahu mamamu, ya. "
Jeny mengangguk bersemangat.
Nenek Rahmi menikmati Mie Ayam yang dibawa cucu kebanggaannya. Jeny tersenyum senang melihatnya.
***
Gilang merebahkan diri di atas kasurnya. Hari ini bahagia nya berlipat tak seperti biasanya. Bukan hanya karena mendapatkan Piagam penghargaan atas keberhasilannya memenangkan lomba yang ia kerjakan sendiri hingga sering begadang, tapi karena momen manis bersama Jeny.
Senyuman Jeny yang menghangatkan hatinya, permintaan maafnya yang dibalas dengan pertemanan, dan cerita-cerita kecil yang mereka bagi bersama sepanjang di pantai dan warung Mie ayam tadi.
TOKTOKTOK
"Gilang, " panggilan Mamanya membuyarkan lamunan.
Gilang bangkit membukakan pintu.
"Iya, Ma."
"Kata Papa kamu dapat penghargaan lagi? "
"Oh iya, maaf Gilang langsung ke kamar. Ini Ma penghargaan dari rektor tadi."
Gilang mengambil plakat dari dalam tas.
"Selamat ya, Nak. Mama ikut bangga. Papa tadi sempat cari kamu setelah acara. Kamu kemana? "
"Eh, itu Ma... eeeh.. kebetulan antar teman pulang sekalian."
"Oh gitu, nanti kirim chat Papa ya, Papa sudah nanyain dari dua jam yang lalu soalnya."
"Oh iya, Ma. Nanti Gilang chat ke Papa."
"Kamu kenapa? kayaknya wajahmu beda hari ini?"
"Maksudnya beda, Ma? Kayaknya biasa aja kok."
"Mama tahu, ada bedanya dengan ekspresi waktu kamu dapat juara sebelumnya. Apa ada sesuatu?" selidik Ayu, Mamanya Gilang.
"Emmmm.. Sebenarnya, Gilang dapat teman baru."
"Teman yang kamu antar tadi? "
"Iyaa Ma. Sebenarnya teman baru Gilang ini. Perempuan yang dulu pernah Gilang ceritakan waktu SMP."
Ayu terdiam, mencoba mengingat cerita mana yang di maksud Gilang.
"Soal sepatu Gilang pemberian Kak Galang dari luar negri itu."
"Ooh perempuan yang kamu kira mencuri sepatumu itu? "
Gilang mengangguk mantap.
"Gilang akhirnya sudah meminta maaf dan dia menerimanya. Terus, Gilang memintanya jadi teman. Dia akhirnya mau, tapiii... Dia cuma mau jadi teman rahasia Gilang."
"Teman Rahasia? Maksudnya."
"Ya, dia nggak mau terlihat akrab saat di depan teman-teman. Dia cuma bersedia menerima telpon, pesan atau kalau ketemu diluar kampus gitu."
"Kenapa? apa dia punya masalah? "
Gilang menggeleng cepat, "Dia cuma khawatir banyak yang nggak suka kalau kami dekat."
"ooh jadi, karena kamu akhirnya bisa berteman dengan dia kamu jadi senang lebih dari biasanya?"
Gilang mengelus tengkuknya malu.
"Apa mungkin kamu berharap bisa lebih dari teman."
Gilang terhenyak, mamanya seolah bisa menembus isi kepalanya.
"Hehehe, Mama tahu aja, tapi tenang kok Ma. Gilang nggak berani bilang ke dia. Jadi, bisa berteman aja Gilang sudah senang."
"Mama sudah pernah melewati fase itu, makanya Mama tahu. Syukurlah kalau kamu bisa membatasi diri. Sekarang memang belum waktunya ke arah sana. Fokus saja selesaikan pendidikanmu, perbanyak prestasi dan tingkatkan kapasitas diri. Soal cinta akan datang di waktu dan dengan orang yang tepat."
"Siap, Ma."
"Kamu sudah makan? "
"Sudah, Ma. Makan sama teman tadi."
"Ya sudah, lanjut aja istirahatnya. Jangan lupa chat papa ya."
Gilang mengangguk, Ayu keluar dari kamar putra bungsunya.
"Ternyata si bontot sudah mulai ngerti cinta, " gumam Ayu lirih sambil tersenyum.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi saat hendak ke kamar.
"Halo, Pa."
"Ma, Gilang sudah di rumah? "
"Iya, Pa. Barusan sampai, katanya tadi dia antar temannya pulang, makanya nggak kelihatan lagi di kampus."
"Ooh, Papa kira dia di sekretariat clubnya. Sebenarnya pak rektor tadi ngajak ngobrol di kantornya, mau bicara dengan Gilang juga. Tapi karena dia sudah dirumah coba nanti Papa yang temuin sendiri."
"Oke, Pa. Bye. "
"Pak rektor mau ketemu Gilang, bahas soal apa ya?"
***
TOKTOKTOK
"Masuk, " teriak Hatta di balik mejanya.
"Selamat siang, Pak."
"Oh, Pak Halim. Silahkan masuk. "
Halim, Papa Gilang menghampiri meja rektor dan duduk di kursi depannya.
"Mohon maaf, Pak. Saya datang sendiri, Gilang ternyata sudah istirahat di rumah. Kira-kira ada informasi apa ya Pak? "
"Oh iya, tidak apa-apa Pak. Saya cuma mau menyampaikan, ada tawaran pertukaran mahasiswa dengan Univeristas Finland. Saya kira ini pengalaman yang bagus untuk Gilang."
"Pertukaran mahasiswa? Wah kesempatan bagus Pak. Kapan rencananya? "
"Kalau tidak ada kendala enam bulan lagi. Nanti bisa kita sambil siapkan berkas pendukungnya seperti surat pengantar, passport dan visa. Rencananya disana selama setahun."
"Berapa mahasiswa, Pak? "
"Hanya dua orang Pak, jadi rencananya untuk Gilang dan Mona. Nanti pak Halim bicarakan dulu dengan Gilang. Kalau dia setuju bisa segera temui Saya. "
"Oh, baik Pak. Saya yakin Gilang pasti akan senang dan mengambil kesempatan ini."
"Saya juga berharap demikian, Pak. Saya merasa tenang menitipkan Mona dengan Gilang. Mereka nanti akan tinggal di asrama. Jadi, kita juga tak perlu khawatir soal akomodasi selama di sana."
"Baik, Pak. Segera kami berikan jawabannya Terima kasih sekali, Pak kepercayaannya pada putra saya. "
"Tentu saja, prestasi Gilang sudah menjadi kebanggaan Universitas, dia layak mendapatkannya."
"Kalau begitu, saya mohon ijin kembali ke kampus."
Halim berdiri dan menjabat tangan Hatta penuh semangat lalu keluar dari ruangan.
"Ini kabar baik, sebaiknya jangan ditunda lagi."
Halim merogoh saku celananya, mencari kontak Gilang dan menghubungi nya.
Panggilan tersambung
"Halo, Pa. Maaf tadi Gilang antar teman setelah acara, ini baru sampai rumah. "
"Iya tidak apa-apa, mama sudah cerita tadi. Gilang, Papa ada kabar baik untukmu. "
"Kabar baik? Kabar baik apa, Pa? "
"Kamu dapat tawaran dari pak Rektor, menjadi mahasiswa pertukaran dengan mahasiswa dari Universitas Finland. "
"Apa? Mahasiswa pertukaran keluar negri? "
Gilang terkejut bukan main. Ini kesempatan langka yang sudah lama jadi impiannya, tapi ada rasa aneh menyelusup dalam hatinya. Bukan kebahagiaan, tapi rasa sedih dan kehilangan.
***
TOKTOKTOK
"Nenek Rahmi!! "
TOKTOKTOK
Rahmi berjalan tergopoh-gopoh menghampiri pintu.
KRIIEEET~~
"Eh, ada apa Ningsih, Murni?"
"Nggak kenapa-kenapa, Nek. Cuma mau mampir ngobrol sebentar, " ujar Ningsih.
"Oh kalau begitu, ayo masuk! "
Rahmi membukakan pintu reotnya lebih lebar, membiarkan kedua tamu itu masuk.
"Jeny dirumah, Nek? " tanya Ningsih
"Tidak dia sedang ke Dojo ada jadwal latihan. Ada apa? bicara soal apa? "
"Eeh itu loh Nek, soal Jeny. Tadi kami sempat ketemu Jeny lagi makan sama anak muda, " jawab Murni.
Kening Rahmi yang penuh kerutan, mengernyit.
"Anak muda? anak kampung sini juga kan? Erwin.. Bobi.. "
"Nah, masalahnya bukan, Nek. Bukan anak sini. Mungkin teman kuliahnya, tapi kalau dilihat dari penampilannya tadi sih seperti anak orang kaya, Nek, " timpal Murni.
"Tadi, saya sempat ambil foto mereka, Nek. Coba Nenek lihat. Kayaknya bukan teman biasa."
Ningsih mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya, membuka ponsel dan mencari foto di galeri.
"Nih, coba Nenek lihat. Akrab kan, duduknya dekat banget."
Rahmi tertegun, melihat foto yang di perlihatkan tetangganya itu.
"Apa mungkin, itu pacarnya, Nek? "
Rahmi menghela nafas. "Jeny tak cerita apa-apa. Kemungkinan ini cuma teman."
"Semoga saja, Nek. Tapi ada baiknya Nenek ingatkan Jeny. Jangan berurusan sama anak orang kaya. Repot nanti urusannya, bikin pusing, Nek, " saran Murni
"Iya, Nek. Apalagi masih sekolah begini. Anak jaman sekarang pergaulannya cukup bebas. Takut aja kebablasan malah hamil duluan. Hiiih, " tambah Ningsih.
Keduanya bergidik ngeri. Rahmi terkejut mendengar perkataan Ningsih. Dia selalu percaya dengan Jeny. Dia akan menjaga diri nya dengan baik. Tapi, apa yang dikatakan Murni dan Ningsih ada benarnya juga.
"Baiklah, Terima kasih kalian sudah memberi tahu. Nanti saya bicarakan dengan Jeny."
Mendengar respon Rahmi yang tidak terlalu impulsif, kedua wanita paruh baya itu akhirnya pamit pulang, meninggalkan Rahmi dengan perasaan cemas.