Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. Kembalinya Fui Che
Tatapan Fui Che menyapu kerumunan seperti seorang raja yang tengah menilai miliknya sendiri—dingin, tinggi, dan tanpa sedikit pun empati. Setiap wajah rakyat yang membungkuk seolah hanyalah angka dalam hitungannya.
Saat itulah, pandangannya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup bagi mata Fui Che untuk bertemu dengan sepasang mata yang sama sekali tidak menunduk—mata Ren Zen. Di sampingnya, Lyra berdiri dengan postur santai, namun sorot matanya waspada.
Aura dingin yang halus, hampir tak terasa, menyentuh tubuh Ren Zen. Bukan tekanan yang memaksa, melainkan penghinaan yang dibungkus kesombongan—seolah berkata,
“Kau tidak layak diperhatikan.”
Ren Zen tidak menghindar. Ia juga tidak membalas dengan aura. Ia hanya menatap balik, tenang, membiarkan sepersekian detik itu berlalu tanpa emosi di wajahnya.
Tirai kereta kuda kembali tertutup.
Rombongan bergerak menjauh. Sorak-sorai rakyat perlahan memudar, menyisakan jalanan yang kembali riuh oleh aktivitas biasa, meski bisik-bisik masih bergema di antara orang-orang.
"Aura pangeran Fui Che sekarang benar-benar mengerikan."
"Hemp, kau benar. Putri Rin Che juga."
"Apakah mereka kembali untuk mengikuti Turnamen Jenius Kekaisaran?" sahut yang lain.
"Jika benar, maka aku yakin pangeran Fui Che akan menjadi pemenangnya tahun ini."
Disisi lain, Lyra baru menyadari napasnya tertahan sejak tadi.
“Wow…” Ia menghembuskannya panjang. “Aura mereka itu tidak main-main. Siapa mereka sebenarnya?”
Ren Zen menatap jalan kosong di depan mereka. Wajahnya tenang, terlalu tenang. “Namanya Fui Che. Salah satu pangeran Kekaisaran Awan Putih. Sementara wanita itu adalah adiknya, Rin Che.”
Lyra menghentikan langkahnya mendadak.
“Tunggu.” Ia menoleh tajam. “Kau bilang salah satu pangeran Kekaisaran Awan Putih…”
Nada suaranya merendah. “Jangan bilang—”
Ren Zen mengangguk pelan, tanpa ragu. “Ya. Mereka saudara tiriku.”
Mata Lyra membesar. “APA?!”
Beberapa orang di sekitar melirik tajam ke arah mereka. Lyra segera menutup mulutnya, tertawa canggung sambil menggaruk pipinya. “Hehehe… maaf. Tapi—kau tidak sedang bercanda, kan?”
Ren Zen menggeleng sedikit. “Mereka anak dari istri kedua ayahku. Permaisuri Mue Che.”
Nama itu saja cukup membuat udara di antara mereka terasa lebih berat.
Lyra terdiam beberapa saat. Ia berjalan kembali, kini sejajar dengan Ren Zen, suaranya lebih rendah dan penuh minat.
“Jadi… inikah yang Gorblac maksud? Intrik, konflik, dan permusuhan di dalam istana itu.”
Ia tersenyum tipis. “Menarik sekali.”
Ren Zen menoleh, alisnya terangkat tajam.
“Menarik, katamu?” Nada suaranya datar, namun jelas menusuk. “Konflik dan permusuhan kau sebut menarik? Apakah otakmu sudah rusak karena kelaparan tadi?”
Lyra tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung. “Kau semakin lucu saja. Mana mungkin otakku rusak hanya karena perut kosong.”
“Dasar wanita gila,” umpat Ren Zen pelan, lalu mempercepat langkahnya, meninggalkan Lyra beberapa langkah di belakang.
“Hei, tunggu! Dengarkan aku dulu!” seru Lyra sambil menyusul.
Ia berjalan di samping Ren Zen, matanya berbinar penuh antusiasme.
“Coba pikirkan. Kau punya kakak kandung yang memiliki bawahan sekuat Gorblac. Di sisi lain, kau punya saudara tiri yang jelas-jelas kuat dan didukung kekuasaan penuh istana.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Dan kau sendiri—pemuda terkuat yang pernah kutemui sejauh ini. Bukankah itu artinya Kekaisaran Awan Putih dipenuhi oleh pangeran-pangeran monster?”
Ren Zen menghela napas panjang. “Tidak sesederhana itu, Lyra.” Ia meliriknya sekilas. “Sudahlah. Berbicara denganmu hanya membuat kepalaku semakin pusing.”
Mereka terus melangkah, melewati jalan utama yang semakin lebar dan megah. Bangunan-bangunan di sekitar mulai berjarak, digantikan taman luas, pilar putih raksasa, dan jalan batu yang bersih tanpa noda.
Di kejauhan, istana Kekaisaran Awan Putih berdiri seperti gunung suci—menjulang, anggun, dan memancarkan tekanan tak kasatmata yang membuat banyak orang tanpa sadar menahan napas.
Lyra melirik Ren Zen dari samping. Kali ini ekspresinya lebih serius. “Kau sudah siap bertemu dengan saudaramu itu?”
Ren Zen tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Maksudmu Fui Che?” katanya pelan. “Dia bukan saudaraku.”
Langkahnya terhenti tepat di depan gerbang istana. Ia mendongak, menatap tinggi bangunan megah itu, seolah menatap kenangan masa lalunya.
“Dia lebih pantas disebut musuhku.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada rendah namun tegas, “Apapun yang terjadi nanti, aku harap kau tidak ikut campur.”
Lyra menatap punggungnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis—senyum yang sulit ditebak artinya. “Baiklah,” ujarnya ringan. “Pangeran Ren Zen.”
...*****...
Gerbang dalam Istana Kekaisaran Awan Putih terbuka lebar.
Deretan prajurit berzirah putih-perak berdiri tegak di kiri dan kanan, tombak mereka menghantam lantai batu secara serempak, menghasilkan gema berat yang bergulung seperti gelombang.
“Hormat—!”
Suara komandan penjaga menggema.
Kereta kuda mewah berhenti tepat di tengah halaman utama istana. Kuda yang dibawa oleh panglima berzirah, meringkik pelan, seolah merasakan tekanan aura para tokoh besar yang telah menunggu.
Panglima itu turun dari kudanya, berlutut memberi hormat kepada para tokoh didepannya.
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucapnya.
Disisi lain, tirai kereta terangkat.
Fui Che dan adiknya, Rin Che turun dengan langkah mantap.
Fui Che berjalan lebih dulu. Wajahnya tenang, namun di balik ketenangan itu tersimpan kesombongan yang tak berusaha ia sembunyikan.
Rin Che menyusul, senyum tipis menghiasi wajah cantiknya.
Sorak-sorai kembali menggema.
“Hidup Pangeran Fui Che!”
"Hidup Putri Rin Che!"
“Hidup Putra dan Putri Permaisuri Mue Che!”
Di depan mereka semua, berdiri sosok yang membuat seluruh halaman istana terasa lebih berat hanya dengan kehadirannya.
Kaisar Jack Zen.
Ia mengenakan jubah kekaisaran putih keperakan dengan mahkota awan di kepalanya. Rambutnya sebagian telah memutih, namun punggungnya tetap tegap, matanya tajam seperti elang yang telah menyaksikan terlalu banyak badai berbahaya.
Di sisi kanannya berdiri Permaisuri Mei Ling—wanita dengan wajah lembut namun bermartabat, matanya teduh seperti danau yang tenang.
Di sisi kirinya, Permaisuri Mue Che berdiri dengan anggun, senyum bangga menghiasi bibirnya, mata tajamnya mengamati setiap gerak di sekitarnya.
Tak jauh dari mereka, Permaisuri Lou Yi berdiri dengan sikap tenang, ekspresinya netral, seolah sengaja menjaga jarak dari pusaran emosi di antara dua permaisuri lainnya.
Di belakang para permaisuri, Jenderal Utama Gan Che berdiri tegap, zirahnya memantulkan cahaya matahari. Aura militernya kuat, kaku, dan disiplin—seperti pedang yang selalu terhunus.
Fui Che melangkah maju, berhenti beberapa langkah dari ayahnya. Ia menangkupkan tangan dan menundukkan kepala dengan sudut yang sempurna—tidak terlalu rendah, tidak terlalu tinggi.
Di belakangnya, Rin Che juga melakukan hal yang sama.
“Kami memberi hormat kepada Ayahanda Kaisar.”
Kaisar Jack Zen menatap mereka lama sebelum mengangguk. “Kalian telah kembali anakku.” Nada suaranya datar, namun mengandung otoritas mutlak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terussss........
reader yg setia masih menanti update yg terbaru