NovelToon NovelToon
Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Ketos / Reinkarnasi / Obsesi / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:563
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelap Mata

Suatu sore, saat Odelyn sedang menghadiri pameran seni di pusat kota London tanpa Hediva, ia berhenti mematung di depan sebuah lukisan. Di sana, seorang pria sedang berdiri membelakanginya, berbicara dengan kurator.

​Suara pria itu, tawa rendahnya, bahkan cara dia memasukkan tangan ke saku celana... semuanya identik dengan Gavin.

​Saat pria itu berbalik, Odelyn hampir jatuh pingsan. Wajah itu, rahang itu, hingga sorot mata nakalnya—dia adalah Gavin Danu versi 2.0.

​"Oh, maaf, apa aku menghalangi jalanmu?" tanya pria itu ramah.

​"Gavin...?" bisik Odelyn pelan.

​Pria itu tertawa kecil, lesung pipinya muncul—persis Gavin.

 "Bukan, namaku Juan. Kamu orang Indonesia juga? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu."

Juan adalah seorang arsitek lepas yang hidup bebas, sangat berbeda dengan Hediva yang kaku dan penuh protokol. Bagi Odelyn, Juan adalah napas segar. Di dekat Juan, Odelyn merasa kembali menjadi "Memey", gadis muda yang jatuh cinta tanpa beban bisnis.

​Tanpa pikir panjang, Odelyn mulai sering berbohong kepada Hediva. Ia beralasan ada pertemuan bisnis di luar kota atau lembur di kantor, padahal ia sedang berada di apartemen studio Juan yang sederhana namun penuh kenangan.

​Odelyn tahu ini salah. Ia tahu Juan bukan Gavin. Juan hanyalah pria yang terlihat seperti Gavin. Tapi rindu yang dipendam selama bertahun-tahun membuat Odelyn kehilangan akal sehatnya. Ia mulai membelikan Juan barang-barang mewah, membiayai studionya, semua demi bisa melihat "wajah itu" setiap hari.Hediva bukan pria bodoh. Sebagai penguasa Vandermere Group, intelijennya ada di mana-mana. Ia mulai menyadari perubahan aroma parfum Odelyn, tatapan mata Odelyn yang tiba-tiba berbinar namun bukan untuknya, dan laporan pengeluaran kartu kredit pribadi Odelyn yang tidak wajar.

​Suatu malam, Hediva berdiri di kegelapan ruang tamu saat Odelyn pulang jam 12 malam.

​"Pertemuan bisnisnya menyenangkan, Lyn?" tanya Hediva, suaranya dingin dan tajam.

​Odelyn tersentak. "Iya, Hediva. Biasa, klien dari Zurich sangat cerewet."

​Hediva mendekat, menatap mata Odelyn dengan dalam. "Zurich? Aku baru saja telepon rekan kita di sana, dan mereka bilang kamu membatalkan pertemuan hari ini. Jadi, kamu dari mana sebenarnya?"

​Odelyn terpojok. "Aku hanya butuh waktu sendirian, Hediva! Jangan terus-terusan menginterogasi aku!"

​Odelyn lari ke atas, meninggalkan Hediva yang mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Hediva tahu ada pria lain, tapi ia tidak menyangka bahwa saingannya kali ini adalah "bayangan" dari masa lalu.Hediva akhirnya memutuskan untuk menyelidiki Juan secara pribadi. Ia datang ke studio Juan saat Odelyn tidak ada di sana. Namun, apa yang ditemukan Hediva lebih mengejutkan lagi.

​Di dinding studio Juan, terdapat banyak foto Odelyn yang diambil secara diam-diam dari kejauhan. Juan ternyata bukan sekadar pria yang mirip Gavin secara kebetulan. Juan adalah orang yang disewa oleh musuh bisnis Hediva untuk "mendekati" Odelyn dengan memanfaatkan kemiripan fisiknya.

​Juan adalah perangkap. Dan Odelyn, sang Mastermind yang cerdas, telah jatuh ke dalam perangkap itu hanya karena sebuah rindu yang buta.​Hediva berdiri di depan studio itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Istrinya telah mengkhianatinya dengan seorang pria yang hanya memanfaatkan wajah orang mati.

​Kini Hediva berada di posisi yang sangat sulit:

​Memberitahu Odelyn yang sebenarnya, yang pasti akan menghancurkan mental Odelyn karena merasa "tertipu" oleh bayangan Gavin.

​Membiarkan Odelyn terus berselingkuh sementara Juan perlahan-lahan mencuri data rahasia perusahaan melalui Odelyn.

​Melenyapkan Juan secara diam-diam dan menanggung kebencian Odelyn selamanya.

​Hediva menatap langit London yang mendung. "Ternyata, mencintaimu adalah kutukan paling indah sekaligus paling menyakitkan, Odelyn."Malam itu di mansion London, suasananya lebih dingin dari badai salju di luar. Hediva melemparkan map berisi bukti-bukti siapa sebenarnya Juan ke atas meja kerja Odelyn. Tidak ada teriakan, hanya keheningan yang mencekam.

​"Dia bukan Gavin, Odelyn. Dia adalah pion yang dikirim untuk menghancurkan kita," ucap Hediva dengan suara yang sangat rendah, namun bergetar hebat.

​Odelyn menunduk, air matanya jatuh ke atas foto-foto kebersamaannya dengan Juan. Keangkuhannya runtuh. Ia tidak bisa lagi mengelak.

​"Aku tahu..." bisik Odelyn. "Aku tahu dia bukan Gavin. Tapi setiap kali aku liat dia, aku ngerasa Gavin ada di sana, Hediva. Aku kangen dia sampai aku gila."

​Odelyn mendongak, menatap mata Hediva yang memerah. "Aku mengaku... aku berhubungan sama dia. Tapi aku nggak sebodoh itu, Hediva. Aku selalu pake pengaman. Nggak akan ada anak, nggak akan ada jejak biologis. Itu cuma... pelampiasan rindu yang salah."Mendengar pengakuan itu, Hediva tidak memaki. Ia justru terdiam mematung. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangannya sendiri. Darah segar mulai menetes dari sela-sela jarinya, membasahi karpet mahal di bawahnya, tapi Hediva seolah tidak merasakan sakit fisik itu.

​Sakit di dadanya jauh lebih melumpuhkan.

​Hediva menatap darah di tangannya, lalu menatap Odelyn dengan tatapan yang belum pernah Odelyn lihat sebelumnya: Tatapan kosong. Tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi pengabdian, hanya ada kehampaan.

​Tanpa sepatah kata pun, Hediva berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Sejak detik itu, Hediva berubah menjadi orang asing.Minggu-minggu berikutnya adalah neraka bagi Odelyn. Hediva tetap pulang ke rumah, tetap membiayai semua kebutuhan, tetap menjadi ayah yang baik di depan Arsa—tapi dia menganggap Odelyn tidak ada.

​Tidak ada sapaan pagi. Tidak ada tatapan mata. Saat mereka duduk di meja makan yang sama, Hediva hanya bicara pada Arsa atau pada asistennya melalui telepon. Jika Odelyn bicara, Hediva akan berdiri dan pergi seolah hanya mendengar desiran angin.

​Pernah suatu malam Odelyn mencoba menyentuh tangan Hediva untuk meminta maaf, namun Hediva menarik tangannya dengan gerakan refleks seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan.

Melihat Hediva yang hancur dalam diam membuat Odelyn tersadar. Ternyata, selama ini dia telah menyia-nyiakan permata demi sebuah bayangan di cermin. Kesabaran Hediva selama bertahun-tahun adalah sesuatu yang tidak akan pernah diberikan oleh Gavin sekalipun.

​Odelyn mulai mencoba segala cara. Dia memasak makanan kesukaan Hediva sendiri, dia membatalkan semua jadwal bisnisnya untuk menunggu Hediva pulang, bahkan dia rela berlutut di depan pintu kamar Hediva yang selalu terkunci.

​"Hediva, aku mohon... hukum aku, maki aku, tapi jangan diemin aku kayak gini," tangis Odelyn di depan pintu suatu malam.

"Aku sadar aku salah. Aku hancurin kepercayaan kamu demi hantu masa lalu. Tolong, kasih aku kesempatan buat perbaiki ini."

​Dari dalam kamar, Hediva hanya bersandar di balik pintu, mendengar isakan Odelyn. Air matanya sendiri mengalir, tapi egonya yang sudah terluka terlalu dalam menolak untuk membuka pintu itu.

1
Anonymous
Keren banyak banget plot twisnya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!