Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Alat Penyambung Nyawa
Di kamar bawah yang sempit, dan pengap, Saliha memeluk Kaffara dengan tangan yang masih bergetar. Tangis bayi itu sudah reda, menyisakan isak kecil yang sesekali muncul.
Dari balik pintu kayu, Saliha bisa mendengar suara teriakan Tari dan nada tinggi Bu Ratna yang menggema dari ruang tamu. Mereka masih berdebat dengan Daviko, dan tentu saja, menghakimi kehadirannya.
"Mas Daviko sudah gila? Ibu tidak sudi cucu Ibu disusui oleh wanita yang asal-usulnya tidak jelas! Bagaimana kalau dia punya penyakit? Bagaimana kalau dia wanita nakal yang sengaja mencari mangsa?" Suara Bu Ratna terdengar sangat tajam, menembus dinding kamar Saliha.
Saliha memejamkan mata. Air matanya jatuh mengenai pipi Kaffara. Wanita nakal. Kata-kata itu seperti garam yang ditaburkan di atas luka yang menganga.
Lalu, terdengar suara Daviko. Berat, tenang, namun penuh kuasa. "Ibu, tenanglah. Saya tidak sembarangan membawa orang. Kaffara menolak semua susu formula. Dokter bilang Kaffara butuh ASI eksklusif agar daya tahan tubuhnya pulih setelah lahir. Saliha hanya bekerja di sini. Dia adalah 'alat' agar Kaffara tetap hidup. Tidak lebih."
Alat? Saliha tersenyum getir mendengarnya. Di mata Daviko, dia bahkan bukan lagi manusia, melainkan sekadar alat penyambung nyawa.
"Tapi kenapa harus dia, Mas? Kenapa tidak cari ibu susu yang lebih... terhormat?" Tari menimpali dengan nada jijik. "Tadi aku lihat dia tidur di ranjang Mbak Amara. Itu keterlaluan."
"Itu karena Kaffara tidak mau lepas darinya semalam. Saya tidak punya pilihan. Mulai hari ini, saya akan pastikan dia tidak akan menginjakkan kaki di lantai atas kecuali untuk urusan Kaffara, dan itu pun dalam pengawasan Bi Tita," jawab Daviko tegas.
Keributan itu perlahan mereda setelah Daviko berjanji akan memperketat pengawasan terhadap Saliha. Tidak lama kemudian, pintu kamar Saliha diketuk. Bukan ketukan lembut, tapi ketukan dua kali yang keras.
Daviko masuk. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun matanya tetap sedingin es. Ia berdiri di dekat pintu, enggan melangkah lebih jauh ke dalam kamar sempit itu.
"Kamu dengar sendiri, kan?" tanya Daviko tanpa basa-basi.
"I~iya, Pak," jawabnya terbata sambil mengangguk pelan.
"Bagus. Mulai sekarang, kamu hanya boleh berada di dapur, kamar ini, dan ruang tengah jika Kaffara butuh berjemur. Jangan pernah naik ke atas tanpa izinku. Dan satu lagi...." Daviko menjeda ucapannya lalu menatap Saliha dengan tatapan yang sangat datar.
"Jangan pernah berpikir bahwa pembelaan aku tadi di depan mertuaku berarti aku peduli padamu. Aku hanya membela kelangsungan hidup anakku. Bagiku, kamu tetaplah seseorang yang sedang menebus dosa masa lalu."
Setelah itu, Daviko meletakkan sebuah amplop di atas meja kecil. "Itu uang untuk membeli pakaian baru. Ganti pakaianmu yang kotor itu. Aku tidak mau keluarga Amara melihatmu seperti pengemis lagi dan mempermalukan namaku."
Setelah Daviko pergi, Saliha menatap amplop itu dengan pandangan kosong. Ia merasa fisiknya memang berada di dalam rumah mewah, tapi batinnya sedang disiksa di penjara bawah tanah. Ia kembali menyusui Kaffara, satu-satunya makhluk di rumah itu yang menatapnya tanpa rasa benci.
"Hanya kamu yang butuh aku, Sayang," bisik Saliha, mencium kening bayi itu dengan pilu.
Suara deru mobil dinas Daviko yang menjauh menjadi penanda dimulainya neraka baru bagi Saliha. Di dalam kamar bawah harga dirinya seolah dihargai sebesar tubuhnya di liang lahat. Saliha kini meringkuk.
Ia mendekap Kaffara yang baru saja tenang setelah diledakkan oleh tangisan histeris akibat keributan tadi. Kamar ini pengap, hanya ada satu jendela kecil yang menghadap ke tembok tetangga, sangat kontras dengan kemewahan kamar utama di lantai atas yang sempat ia tempati semalam.
Dari balik pintu kayu yang tipis, Saliha masih bisa mendengar gerutuan Bu Ratna dan Tari di ruang tengah. Mereka sengaja mengeraskan suara, seolah ingin setiap kata hinaan itu sampai ke telinga Saliha dan menyayat hatinya pelan-pelan.
"Bayangkan, Bu. Wanita itu tidur di ranjang bekas Mbak Amara. Mas Daviko benar-benar sudah tidak punya perasaan," ucap Tari melengking, penuh dengan kebencian.
"Sudahlah, Tari. Yang penting sekarang anak itu tidak kekurangan asupan. Tapi Ibu tetap tidak akan membiarkan wanita itu lama-lama di sini. Begitu Kaffara sudah bisa minum susu formula, dia harus segera kita tendang keluar. Ibu tidak mau rumah ini ketularan sial dari wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu," timpal Bu Ratna.
Saliha memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya jatuh, mengenai punggung tangan Kaffara yang mungil. Kata sial menjadi sebutan baru untuknya sekarang. Ia bukan lagi Saliha, melainkan pembawa sial.
Saliha ingin sekali berteriak, menjelaskan bahwa ia bukan perempuan pembawa sial atau nakal yang bisa menularkan penyakit pada keluarga ini. Selain butuh penyambung hidup, Saliha juga benar-benar tulus ingin menolong Kaffara.
Namun, ia sadar, di rumah ini suaranya tidak lebih berharga dari debu di bawah sepatu bot Daviko.
Tidak lama dari itu Bi Tita masuk, tangannya mengetuk pintu yang sudah terbuka sejak kepergian Daviko.
"Mbak Saliha, tadi kata Den Viko, bibi harus membelikan pakaian untuk Mbak Saliha ganti."
Saliha bangkit, tangannya masih memeluk Kaffara. Ia menatap lemah wajah Bi Tita yang terlihat iba padanya.
"Baik, Bi. Ini uang yang diberikan Pak Viko." Saliha memberikan uang dalam amplop itu pada Bi Tita.
Bi Tita meraih amplop itu. Tapi, dia masih berdiri di sana dan belum beranjak.
"Pakaian seperti apa yang Mbak Saliha suka?" tanyanya bingung.
"Terserah Bibi saja." Saliha menjawab dengan suara lemah.
Bi Tita tidak bicara lagi. Masalah pakaian, biar nanti dia minta pilihkan pada pelayan toko. Pakaian yang cocok untuk Saliha yang masih muda dan tentunya nanti cantik.
"Kasihan sekali perempuan muda ini. Niatnya bekerja malah dituduh yang tidak-tidak oleh Non Tari dan Bu Ratna. Aku harus membelikannya pakaian yang pantas, agar dia terlihat semakin pantas di mata mereka berdua." Bi Tita bermonolog.
Sebelum Bi Tita pergi, ia menyiapkan Saliha sarapan dulu. Bi Tita kasihan, sejak semalam Saliha menyusui tapi belum makan apa-apa pagi ini.
"Terimakasih Bi," ucap Saliha saat Bi Tita mengantarkan makanan ke dalam kamar ukuran 3x4 itu.
"Mbak Saliha sarapan dulu. Setelah sarapan, tetap di dalam kamar ini. Kalau Bu Ratna dan Non Tari ke sini dan bicara kasar, biarkan saja jangan dilawan," peringat Bi Tita.
Saliha hanya mengangguk. Jangankan mau melawan, memberi pembelaan saja rasanya mulutnya tidak boleh. Ia seperti dituntut harus diam dan mengalah.
Bi Tita segera pergi, setelah ia dari kamar Saliha.
semangat ya😚