NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Sisa Kehancuran dan Harapan yang Terbalut

​Kesadaran itu datang seperti tarikan paksa dari dasar sumur yang gelap dan dingin. Hal pertama yang menyerang indra Nala bukan lagi suara angin yang menderu atau suara tawa Burhan yang gila, melainkan bunyi detak yang monoton. Bip. Bip. Bip. Suara itu terdengar sangat dekat di telinganya, berirama dengan denyut nadi di kepalanya yang terasa seolah baru saja dihantam oleh godam besar.

​Nala mencoba membuka kelopak matanya. Terasa sangat lengket dan berat, seolah ada beban ribuan ton yang menahannya untuk tetap terpejam. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu neon di langit-langit ruangan memaksa Nala untuk kembali menyipitkan mata. Ia merasakan sesuatu yang mengganjal di hidungnya, sebuah selang oksigen yang menyalurkan udara dingin ke dalam paru-parunya yang terasa kering dan penuh sisa debu konstruksi.

​Bau obat antiseptik dan cairan pembersih lantai yang tajam segera memenuhi penciumannya. Ini bukan lagi gedung terbengkalai yang menyeramkan itu. Ini adalah rumah sakit.

​Nala mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari bahu hingga ke ujung jarinya. Ia mengerang pelan. Tubuhnya terasa remuk, seolah setiap inci kulitnya baru saja bergesekan dengan amplas kasar. Ia menoleh perlahan ke arah kanan, dan di sana, ia melihat sosok yang sangat ia kenal duduk di kursi plastik berwarna biru tua.

​Pak Hadi.

​Pria tua itu tampak sangat berantakan, pemandangan yang sangat tidak biasa bagi Nala. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini tampak acak-acakan. Ia tertidur dengan posisi kepala tertunduk, namun tangannya masih memegang erat tas kecil milik Nala yang sepertinya diselamatkan dari lokasi kejadian. Di pakaian Pak Hadi, Nala melihat noda merah kecokelatan yang sudah mengering.

​Darah.

​Seketika, memori mengerikan itu menghantam kepala Nala tanpa ampun. Ia teringat saat kursi kayunya melayang di udara. Ia teringat sensasi jatuh bebas yang membuat jantungnya seolah lepas dari rongga dada. Dan yang paling menghantui adalah sosok Raga. Ia teringat bagaimana pria itu melepaskan kursi rodanya, berlari dengan kaki yang kokoh, lalu melompat menembus kegelapan malam demi menangkap tubuhnya.

​"Mas Raga," gumam Nala. Suaranya terdengar sangat asing di telinganya sendiri, serak dan penuh dengan gesekan rasa sakit di tenggorokan.

​Pak Hadi tersentak bangun. Ia segera berdiri dengan gerakan yang agak linglung. Wajahnya menunjukkan campuran antara lega yang luar biasa dan kesedihan yang sangat dalam. Ia mendekati tempat tidur Nala dengan langkah yang sedikit goyah.

​"Nyonya? Nyonya sudah sadar? Syukurlah kepada Tuhan," ucap Pak Hadi. Suaranya bergetar hebat. "Tunggu sebentar, jangan banyak bergerak. Saya akan panggilkan dokter sekarang juga."

​"Jangan, Pak Hadi. Berhenti sebentar," Nala menarik ujung kemeja Pak Hadi dengan sisa tenaganya yang sangat terbatas. "Di mana dia? Di mana Mas Raga? Katakan dengan jujur, jangan sembunyikan apa pun dariku."

​Pak Hadi terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Nala dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Keheningan itu membuat Nala merasa dunia di sekelilingnya kembali runtuh. Ketakutan yang lebih besar daripada rasa takut jatuh dari ketinggian kini merayapi hatinya.

​"Pak Hadi, tolong bicara. Dia melompat untuk menangkapku. Aku saat itu sebelum kesadaranku menghilang aku merasakannya. Dia memelukku sangat erat dan mengunakan punggungnya sendiri untuk melindungiku. Katakan padaku dia masih hidupkan," tuntut Nala. Isakannya mulai terdengar, membuat dadanya terasa nyeri akibat tulang rusuknya yang memar hebat.

​Pak Hadi menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak pecah di depan Nala. "Tuan Muda masih hidup, Nyonya. Tapi kondisinya sangat kritis. Dia berada di ruang perawatan intensif sekarang. Dia belum sadar sejak kejadian semalam."

​Nala memaksakan tubuhnya untuk bangun meskipun seluruh sendinya menjerit protes. Ia mengabaikan rasa sakit di punggungnya dan jarum infus yang menusuk punggung tangannya. "Bawa aku ke sana. Aku ingin melihatnya sekarang juga."

​"Nyonya, Anda belum bisa bangun. Dokter bilang Anda mengalami gegar otak ringan dan banyak luka memar yang harus diawasi," cegah Pak Hadi dengan nada khawatir.

​"Aku tidak peduli pada tubuhku! Dia bahkan mengunakan tubuhnya sendiri jatuh dari ketinggian setinggi itu dan hanya luka memarku akan membuatku diam!" Nala berteriak dengan suara yang pecah. Air matanya kini mengalir deras, membasahi bantal rumah sakit yang putih bersih.

​Melihat keras kepala Nala yang tidak bisa dibendung, Pak Hadi akhirnya mengalah. Dengan bantuan kursi roda, ia membawa Nala keluar dari kamar perawatan pribadinya menuju lantai atas, tempat unit perawatan intensif atau ICU berada.

​Lantai itu sangat sunyi, hanya diisi oleh bunyi mesin yang sesekali berdenging. Di depan sebuah pintu kaca besar, Nala melihat Sera duduk di bangku tunggu. Penampilan Sera tidak kalah mengenaskan. Keningnya dibalut perban, dan lengan kirinya terbungkus gips yang digantung dengan kain penyangga ke lehernya.

​Nala tertegun melihat kondisi Sera. "Sera? Apa yang terjadi padamu?"

​Sera menoleh, wajahnya yang biasanya dingin kini tampak sangat kuyu. "Maafkan saya, Nyonya. Saat Tuan Muda naik ke atas, saya memimpin tim Alpha melalui tangga darurat untuk membersihkan anak buah Burhan yang memasang peledak. Kami terjebak dalam baku hantam dan ledakan kecil di lantai dua puluh delapan. Itulah sebabnya saya terlambat mencapai atap untuk mencegah Burhan mendorong Anda."

​Suara Sera terdengar penuh dengan penyesalan. "Saya gagal menjalankan tugas saya untuk melindungi nyonya dan tuan."

​Nala menggeleng lemah. Ia tidak menyalahkan Sera. Semua ini adalah murni takdir. Ia kemudian meminta Pak Hadi mendorong kursi rodanya mendekat ke jendela kaca besar yang menghadap ke dalam ruang steril.

​Nala menahan napas. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa.

​Di dalam sana, di tengah ruangan yang penuh dengan peralatan medis canggih, Raga terbaring sangat kaku. Tubuhnya hampir sepenuhnya tertutup oleh perban putih yang melilit dari dada hingga ke kaki. Namun yang paling menyayat hati adalah bagian kepalanya. Raga dibalut dengan perban yang sangat tebal, menutupi seluruh wajahnya dan hanya menyisakan celah kecil untuk mata yang terpejam dan mulut yang kini dipasangi selang ventilator besar.

​"Dokter mengatakan benturan pada kaca gedung sebelah dan lantai semen itu menghancurkan banyak tulang di tubuh bagian belakangnya," suara Sera terdengar datar namun bergetar di belakang Nala. "Dia mengalami patah tulang belakang yang cukup serius. Tapi yang paling parah adalah hantaman pada wajahnya saat menembus kaca. Tulang rahang dan pipi kirinya hancur."

​Nala menempelkan telapak tangannya di kaca yang dingin. Air matanya jatuh tanpa henti. "Dia koma?"

​"Ya. Dokter sengaja membuatnya dalam kondisi koma medis agar tubuhnya bisa fokus pada pemulihan tanpa harus merasakan sakit yang luar biasa," jelas Sera. "Tadi pagi, tim dokter ahli bedah terbaik sudah melakukan operasi rekonstruksi tulang wajah selama sepuluh jam."

​Seorang pria paruh baya berjas putih keluar dari ruangan tersebut. Itu adalah Dokter Gunawan, spesialis bedah rekonstruksi yang menangani Raga. Ia melihat Nala dan mendekat dengan raut wajah yang tenang.

​"Anda pasti Nyonya Adhitama," sapa Dokter Gunawan. "Saya perlu menjelaskan kondisi suami Anda agar Anda tidak terlalu cemas."

​Nala mendongak, menatap dokter itu dengan penuh harap. "Bagaimana keadaannya, Dok?"

​Dokter Gunawan menghela napas, memberikan penjelasan yang jujur. "Kecelakaan ini memang sangat buruk, namun ada sebuah keajaiban medis di baliknya. Selama lima tahun ini, Tuan Raga hidup dengan jaringan parut yang sangat kaku akibat luka bakar lamanya. Jaringan itu menarik saraf wajahnya dan membuatnya sulit berekspresi secara normal."

​Dokter itu melanjutkan dengan nada yang lebih optimis. "Benturan kaca semalam merobek seluruh jaringan parut lama itu. Kami terpaksa membongkarnya untuk menyelamatkan struktur tulang di bawahnya. Karena kami harus membangun kembali tulang pipi dan rahangnya menggunakan plat titanium, kami memiliki kesempatan untuk menyusun kembali wajahnya dari nol."

​"Maksud Dokter?" tanya Nala bingung.

​"Kami telah membersihkan seluruh bekas luka bakar lamanya. Kami melakukan bedah plastik rekonstruksi total. Karena kami memiliki foto wajahnya sebelum kecelakaan lima tahun lalu sebagai referensi, kami berusaha mengembalikan bentuk wajahnya seperti semula. Jika proses penyembuhan ini berjalan lancar, saat perban itu dibuka nanti, wajah Tuan Raga tidak akan lagi memiliki bekas luka bakar. Dia akan mendapatkan wajah aslinya kembali, bahkan mungkin lebih bersih dari sebelumnya," jelas Dokter Gunawan.

​Nala tertegun. Ia teringat betapa Raga sangat membenci wajahnya sendiri. Betapa Raga merasa seperti monster. Dan sekarang, melalui penderitaan yang luar biasa ini, Tuhan seolah memberikan jalan bagi Raga untuk mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.

​"Tapi apakah dia bisa berjalan lagi, Dok?," ucap Nala teringat aksi heroik suaminya.

​Dokter Gunawan tersenyum tipis. "Kami menemukan bahwa saraf kakinya sebenarnya sudah pulih sekitar delapan puluh persen melalui terapi yang dia jalani selama ini. Masalahnya, aksi melompat semalam memberikan beban yang sangat ekstrem pada saraf tulang belakangnya yang baru saja pulih. Ada pembengkakan besar di sana. Kami harus menunggu sampai bengkaknya hilang untuk mengetahui apakah dia bisa berjalan lagi atau tidak."

​Nala menunduk, menangis dalam diam. Raga telah mempertaruhkan segalanya. Wajahnya, kakinya, dan rahasianya.

​"Tuan Muda melakukannya karena dia mencintai Anda, Nyonya," ucap Pak Hadi lembut di sampingnya. "Dia lebih memilih mengorbankan dirinya daripada harus melihat Anda tiada di depanya."

​Nala memejamkan mata, membayangkan Raga yang kini terbaring seperti mumi di balik kaca itu. Ia berjanji di dalam hatinya. Ia tidak akan meninggalkan rumah sakit ini sampai Raga membuka matanya. Ia tidak peduli jika harus menunggu berbulan-bulan.

​"Aku akan menunggumu, Mas Raga," bisik Nala pada kaca yang dingin. "Aku akan ada di sini saat kamu membuka matamu kembali."

​Malam itu, Nala menolak untuk kembali ke kamar perawatannya sendiri. Ia meminta Pak Hadi menyiapkan kursi malas di lorong depan ICU. Ia ingin menjadi orang pertama yang mendengar jika ada perkembangan pada kondisi suaminya.

​Di bawah lampu rumah sakit yang temaram, Nala menatap pintu kaca itu dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ia tahu perjalanan pemulihan ini akan sangat panjang dan menyakitkan, namun ia siap menjadi kaki bagi Raga jika pria itu tidak bisa berjalan, dan menjadi mata bagi Raga jika pria itu takut melihat dunia.

​Badai besar telah berlalu, meninggalkan puing-puing kehancuran yang menyakitkan. Namun di balik perban putih yang membungkus Raga, sebuah kehidupan baru sedang dirajut kembali oleh tangan-tangan medis dan kehendak Tuhan. Dan Nala akan memastikan bahwa saat Raga terbangun nanti, hanya ada cinta yang menyambutnya, bukan lagi ketakutan atau dendam masa lalu.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!