Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Skakmat di Atas Podium Kesombongan
Menjatuhkan lawan dari ketinggian lantai tujuh puluh bukan sekadar urusan otot, melainkan perhitungan presisi antara gravitasi dan momentum. Kalian harus paham, saat nyawa wanita yang kalian cintai berada di ujung tanduk, adrenalin bakal mengubah otak kalian menjadi mesin kalkulasi paling canggih di dunia.
Begitu lututku menghantam ulu hatinya dengan sudut kemiringan empat puluh lima derajat, aku segera mengunci jalur pernapasan penyusup itu. Aku membanting tubuhnya ke lantai balkon dengan gerakan terukur. Aku memastikan suara dentumannya teredam sempurna oleh karpet tebal agar tidak mengusik istirahat Seeula.
"Kalian para amatir selalu melakukan kesalahan yang sama, yaitu terlalu percaya diri dengan peralatan panjat tebing murahan itu," desisku sambil menatap tajam wajahnya yang tertutup topeng hitam.
Pria ini mencoba meraih pisau lipat di sabuk taktisnya, tapi gerakannya terasa sangat lamban dalam radarku. Aku memelintir pergelangan tangannya sampai terdengar bunyi retakan yang cukup renyah. Dia mengerang tertahan dengan mata melotot menahan perih yang luar biasa.
Aku tahu dia bukan orang kiriman Gautama. Gaya bertarungnya terlalu serampangan, lebih mirip anjing liar suruhan seseorang yang sedang sekarat secara finansial. Darwin, siapa lagi kalau bukan tikus itu?
"Sampaikan pada majikanmu, mengirim serangga ke kandang singa adalah penghinaan bagi level kecerdasanku," tandasku sambil menekan titik saraf di lehernya hingga dia kehilangan kesadaran dalam sekejap.
Aku segera menyeret tubuhnya ke area lift servis dan menghubungi tim keamanan internal melalui jalur komunikasi terenkripsi. Dalam waktu kurang dari dua menit, dua pengawal berbadan tegap sudah mengamankan paket tersebut.
Aku memastikan Seeula tetap terlelap dengan tenang. Tidurnya sangat pulas, barangkali karena kelelahan emosional setelah rentetan drama yang menghantamnya bertubi-tubi. Aku tidak ingin dia terbangun dan menyaksikan noda kekerasan di tempat yang seharusnya menjadi wilayah paling sucinya.
Kalian mungkin heran mengapa aku bisa setenang ini. Jawabannya sederhana saja. Di kehidupanku yang dulu, aku sudah pernah merasakan kehilangan segalanya sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk diratapi. Jadi, menghadapi satu atau dua gangguan kecil seperti ini rasanya cuma seperti pemanasan ringan sebelum aku benar-benar melahap musuh utamaku.
Pukul delapan pagi, aula utama Widowati Group sudah berubah menjadi lautan cahaya lampu kilat kamera. Para jurnalis dan fotografer berkerumun seperti koloni semut yang mencium aroma gula. Aku berdiri di balik tirai panggung, memindai mereka dengan tatapan seorang arsitek yang sedang mengagumi rancangannya sendiri.
Di sampingku, Seeula terlihat sangat memukau dengan setelan blazer putih gading yang menonjolkan aura kepemimpinannya.
"Kau siap menjemput takhtamu, Seeula?" tanyaku sembari merapikan kerah bajunya dengan sangat telaten.
Seeula menarik napas panjang. Sorot matanya kini jauh lebih tajam dan penuh keyakinan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Aku siap, Yansya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak harga diri keluarga ini lagi," sahutnya dengan nada bicara yang mantap.
Aku tersenyum bangga mendengarnya. Perubahan karakternya sangat memuaskan egoku. Kami melangkah keluar menuju podium di bawah guyuran tepuk tangan yang terdengar sangat riuh, meski aku tahu itu penuh dengan nada kepura-puraan.
Aku duduk di barisan paling depan, memberikan panggung sepenuhnya kepada Seeula untuk membacakan pidato visi dan misinya sebagai Direktur Utama yang baru.
Namun, di tengah pidato yang berjalan sangat elegan itu, pintu besar di ujung aula mendadak terbuka dengan paksa. Darwin merangsek masuk dengan penampilan yang sangat berantakan. Rambutnya kacau dan matanya merah meradang, tapi dia mendekap selembar map cokelat tua dengan sangat erat.
"Hentikan sandiwara menjijikkan ini sekarang juga!" teriak Darwin dengan suara yang serak dan bergetar hebat.
Seluruh jurnalis langsung memutar moncong kamera mereka, mengabadikan drama yang sudah mereka nantikan sejak tadi. Darwin berjalan menuju podium dengan langkah terhuyung, namun dia tetap berusaha membusungkan dada di hadapan para petugas keamanan.
Aku memberikan isyarat pada tim penjaga untuk tidak menyentuhnya. Aku ingin semua orang menyaksikan kehancurannya secara langsung tanpa ada yang terlewat.
"Gadis yang kalian agungkan ini hanyalah seorang penipu besar! Dia bukan putri kandung keluarga Widowati!" pekik Darwin sembari mengangkat dokumen dari map cokelatnya ke udara.
Aula langsung gaduh seketika. Seeula mematung di atas podium dengan wajah pucat pasi. Jemarinya mulai gemetar di atas mikrofon. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan yang sangat rapuh. Aku berdiri perlahan dari kursi, memancing semua mata kamera untuk fokus sepenuhnya padaku.
"Darwin, kau sepertinya terlalu banyak mengonsumsi obat tidur sampai tidak bisa membedakan antara fakta dan halusinasi murahanmu itu," kataku dengan nada bicara yang sangat tenang di telinga para hadirin.
"Ini fakta, Yansya! Ini adalah surat keterangan lahir asli dan hasil tes DNA yang disembunyikan ibunya selama puluhan tahun! Seeula cuma anak yatim dari panti asuhan yang dipungut untuk menutupi skandal kemandulan keluarga Widowati!" gertak Darwin dengan tawa yang terdengar sangat gila.
Aku berjalan menuju podium, berdiri tepat di sisi Seeula dan menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Aku menatap langsung ke arah lensa kamera utama yang sedang menyiarkan acara ini secara nasional.
Kalian harus tahu satu rahasia besar dalam dunia bisnis. Kebenaran itu sering kali asimetris. Siapa pun yang memegang kendali narasi, dialah yang akan keluar sebagai pemenang mutlak.
"Kalian ingin tahu fakta yang sebenarnya?" tanyaku pada kerumunan jurnalis yang mendadak sunyi senyap.
Aku mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku jasku dan memasukkannya ke slot komputer panggung. Sebuah video hitam putih muncul di layar raksasa di belakang kami. Video itu memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan seragam militer—ayah kandung Seeula—yang sedang memberikan pernyataan hukum di depan notaris sebelum dia tewas dalam sabotase yang sama dengan orang tuaku.
"Seeula memang bukan putri biologis Madam Widowati," suaraku menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan. "Dia adalah putri tunggal dari mitra paling setia ayahku. Keluarga Widowati mengadopsinya secara rahasia bukan untuk menutupi skandal, melainkan untuk melindunginya dari predator licik seperti kau, Darwin!"
Layar itu kemudian menampilkan rincian aset dana abadi yang selama ini tersimpan rapi di bank Swiss atas nama Seeula. Nilainya seratus kali lipat dari seluruh sisa kekayaan Darwin yang sudah kucabuti satu per satu. Serangan Darwin justru menjadi panggung sempurna bagiku untuk menunjukkan bahwa Seeula adalah pemilik sah dari aset yang jauh lebih besar daripada sekadar Widowati Group.
Darwin tampak seperti tersambar petir di siang bolong. Dia menatap layar itu dengan mulut ternganga lebar. Dokumen yang dia bawa kini cuma seonggok kertas sampah yang tak berharga. Narasi yang dia bangun untuk menghancurkan reputasi Seeula justru berbalik menjadi bukti legalitas kekuasaan Seeula yang tak terbantahkan.
"Dan sebagai informasi tambahan untuk kalian semua," tambahku sembari melirik Rian yang memberikan kode dari ruang kontrol. "Sambil Darwin sibuk mengaduk-aduk sampah di panti asuhan, aku baru saja menyelesaikan akuisisi seluruh aset pribadinya melalui proses likuidasi utang bank Artha Kencana sepuluh menit yang lalu."
Darwin menjatuhkan map cokelatnya ke lantai begitu saja. Dia baru saja menyadari kalau di duniaku, dia bukan cuma kehilangan muka, tapi juga kehilangan setiap rupiah yang pernah dia miliki. Dia sekarang bukan siapa-siapa lagi di kota ini.
Seeula menatapku dengan binar mata yang penuh rasa haru dan takjub. Aku membimbingnya untuk kembali menguasai mikrofon.
"Konferensi pers hari ini saya nyatakan ditutup. Untuk rincian lebih lanjut mengenai status kebangkrutan Darwin, silakan hubungi tim hukum kami," ucapku dengan senyuman yang paling mematikan bagi lawan-lawanku.
Aku menarik Seeula keluar dari aula, membiarkan Darwin tenggelam dalam serbuan pertanyaan jurnalis yang kini memperlakukannya seperti sampah pasar. Saat kami sudah berada di dalam lift pribadi menuju lantai penthouse, Seeula langsung memelukku dengan kekuatan penuh. Aku bisa merasakan napasnya yang mulai teratur kembali.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan video ayahku, Yansya? Kau bahkan tidak pernah bercerita soal itu padaku," tanya Seeula dengan suara yang sangat halus.
"Rahasia pria yang sukses adalah selalu menyimpan satu kartu as di balik lengan bajunya, Seeula. Aku cuma melakukan penelitian mendalam melalui jaringan teknologiku," jawabku sembari mengusap kepalanya.
Aku sengaja menutupi fakta bahwa aku tahu letak video itu karena fragmen ingatan dari masa depanku yang sudah pernah kulalui.
Pintu lift terbuka di lantai kantor utama yang sudah bersih dari para pengkhianat. Aku memandang ke luar jendela, memperhatikan matahari yang mulai naik tinggi di atas barisan gedung kota. Namun, kedamaian itu terusik seketika saat ponselku bergetar dengan notifikasi tingkat tinggi.
Itu adalah pesan dari Rian, tapi isinya bukan soal data saham.
"Bos, Tuan Gautama tidak ditangkap. Polisi melaporkan bahwa konvoi yang membawanya baru saja diserang oleh kelompok bersenjata tak dikenal di pinggiran dermaga. Gautama menghilang."
Aku mengepalkan tangan sampai buku-bukuku memutih sempurna. Kemenangan atas Darwin ternyata hanyalah lapisan tipis dari kerumitan yang sebenarnya. Ternyata monster yang kucoba kubur di dermaga semalam baru saja melepaskan diri dari rantainya.
"Siapkan sistem pelacak satelit sekarang juga, Rian. Perburuan ini ternyata belum benar-benar selesai," perintahku tanpa menoleh.
Seeula menatapku dengan wajah yang kembali dipenuhi rasa cemas yang mendalam, sementara aku sudah bersiap untuk badai berikutnya.