NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Pagi yang cerah itu kembali dirusak oleh oknum bernama Araluna. Dengan percaya diri tingkat tinggi, Luna sudah nangkring di atas jok motor sport Arsen yang terparkir rapi di garasi. Hari ini ia tampil beda dengan mengenakan one set gaya Korea berwarna pastel yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan—seperti boneka, namun dengan jiwa "cegil" yang tetap membara.

"KAK ARSEN! CEPETANNN! Keburu matahari bergeser satu senti, nanti kulit cantik adek lo ini kebakar!" teriak Luna sambil mengguncang-guncang stang motor tanpa ampun.

Arsen keluar dari pintu rumah dengan wajah yang ditekuk habis. Ia memakai jaket kulit hitam andalannya, membawa dua helm di tangan. "Bisa nggak sih sehari aja lo nggak bikin tetangga mikir ada kebakaran di rumah ini?"

"Nggak bisa! Ayo cepet, Kak! Lo kan udah janji semalem mau anter gue!" Luna menyambar helm dari tangan Arsen, memakainya dengan asal hingga rambutnya berantakan.

Arsen hanya bisa mengembuskan napas panjang. Sosoknya yang kaku memang seringkali kalah telak oleh kegigihan Luna yang di luar nalar. Namun, meski Arsen bersikap dingin, ia tetap membantu Luna mengencangkan tali helm gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah kontradiksi yang selalu membuat jantung Luna ingin melompat keluar.

Namun, keceriaan Luna tidak bertahan lama. Memasuki jam makan siang di kampus, perasaan tidak enak mulai menyerang perut bawahnya. Awalnya hanya terasa seperti dicubit pelan, tapi lama-kelamaan rasa sakit itu berubah menjadi kram yang hebat dan panas.

Luna yang biasanya selalu menempel pada Arsen seperti perangko, kini justru memisahkan diri. Ia berjalan tertatih di koridor gedung Seni Budaya yang mulai sepi karena mahasiswa lain sedang menuju kantin. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

"Aduh... kok sakit banget ya?" gumam Luna sambil memegangi perutnya.

Ia bermaksud mencari toilet, namun saat ia melewati sebuah cermin besar di lorong, langkahnya terhenti seketika. Wajah Luna pucat pasi. Melalui pantulan cermin, ia melihat pemandangan horor bagi setiap perempuan: ada noda merah pekat yang sudah tembus dan melebar di bagian belakang rok one set Korea kesayangannya.

Luna mematung. Malunya bukan main. Ia merasa dunianya runtuh seketika. "Gila... kenapa harus sekarang sih?"

Ia tidak berani bergerak. Jika ia berjalan terus, noda itu akan semakin terlihat jelas oleh orang-orang yang lewat. Luna hanya bisa berdiri mematung di pinggir koridor, menempelkan punggungnya ke tembok dingin, mencoba menutupi noda itu dengan tas kecilnya yang sama sekali tidak menolong.

Di tengah rasa panik dan kram perut yang makin menjadi, sebuah langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Luna memejamkan mata, berharap itu bukan Galaksi atau mahasiswi seksi yang kemarin ia labrak.

"Araluna? Ngapain lo berdiri di sini kayak patung selamat datang?"

Suara berat itu. Arsen.

Luna tidak berani menoleh. "Kak... pergi. Jangan di sini."

Arsen mengerutkan kening. Ia mendekat, menyadari ada yang salah dengan nada suara adiknya yang biasanya ceria dan berisik. "Lo sakit? Muka lo pucet banget."

"Gue nggak apa-apa! Pergi sana!" Luna membentak, tapi suaranya bergetar menahan tangis karena kram yang luar biasa.

Arsen tidak menurut. Ia justru berjalan ke belakang Luna, berniat mengecek apa yang disembunyikan gadis itu. Detik berikutnya, Arsen terdiam. Ia melihat noda merah yang cukup jelas di rok pastel Luna. Sebagai cowok yang kaku, Arsen sempat tertegun, namun insting protektifnya jauh lebih cepat bekerja.

Tanpa banyak bicara dan tanpa rasa jijik sedikit pun, Arsen langsung melepas jaket kulit hitam kesayangannya. Ia melangkah maju, lalu melingkarkan jaket itu di pinggang Luna, mengikat lengannya dengan kuat di bagian depan sehingga menutupi seluruh noda merah di rok Luna.

"Lain kali kalau udah tanggalnya, jangan pake baju warna terang begini, Bocil," ucap Arsen pelan, tepat di samping telinga Luna. Suaranya tidak lagi ketus, melainkan sangat tenang dan menenangkan.

Luna menoleh, matanya sudah berkaca-kaca. "Sakit, Kak... perut gue kayak diremes-remes."

Melihat Luna yang biasanya "cegil" tiba-tiba jadi selemah ini, pertahanan kaku Arsen runtuh sepenuhnya. Ia merangkul bahu Luna, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang.

"Iya, gue tahu. Ayo balik, gue anter pulang sekarang. Nanti gue beliin obat sama kompres anget," kata Arsen sambil mulai menuntun Luna pelan menuju parkiran.

Di tengah rasa sakitnya, Luna tersenyum tipis di balik pundak Arsen. Meskipun Arsen Sergio adalah cowok yang sangat kaku, ia selalu menjadi orang pertama yang ada di sana untuk melindunginya dari rasa malu. Dan di saat-saat seperti inilah, Luna sadar bahwa perjuangannya untuk mendapatkan hati sang kakak tiri tidak akan pernah sia-sia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!