NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 30

Tawaran dari Jakarta itu bukanlah sekadar pembaruan kontrak kerja, melainkan sebuah force update pada jalan hidup Alkan. Menjadi Menteri Muda berarti meninggalkan zona nyaman laboratorium dan masuk ke dalam ekosistem politik yang penuh dengan malware kepentingan.

"Mas benar-benar mau mengambilnya?" tanya Sasya saat mereka mulai mengemas barang-barang di apartemen Greenwich. Aidan, yang kini sudah berusia empat bulan, tampak asyik bermain dengan mainan gantungnya di karpet.

Alkan menghentikan kegiatannya melipat kemeja. "Sya, selama ini saya hanya mengamankan data di layar. Sekarang, saya punya kesempatan untuk mengamankan data satu bangsa. Jika saya menolak karena takut kotor, maka orang-orang yang memang 'kotor' yang akan mengisi kursi itu."

Sasya mendekat, menggenggam tangan suaminya. "Aku dukung Mas. Tapi Mas harus janji, jangan biarkan politik mengubah integritas kamu Mas."

Alkan tersenyum, menarik Sasya ke dalam pelukannya. "Janji. Kamu adalah firewall terjujur yang saya miliki."

Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, mereka tidak lagi pulang secara diam-diam. Protokol kementerian sudah menunggu. Alkan dan Sasya dikawal menuju sebuah rumah dinas yang cukup megah namun terasa asing.

Di hari pertama pelantikannya, Alkan langsung dihadapkan pada realita pahit. Di atas mejanya sudah bertumpuk berkas proyek pengadaan satelit yang terindikasi markup anggaran. Ia juga menerima banyak "undangan makan malam" dari para pengusaha teknologi yang ingin melobi kebijakan.

"Prof, ini adalah dunia lobi. Logika kaku Anda tidak akan laku di sini," ujar salah satu sekretaris jenderal senior dengan nada meremehkan.

Alkan hanya menatapnya dingin. "Logika saya memang kaku karena didasarkan pada kebenaran. Dan kebenaran tidak butuh lobi."

Tekanan politik membuat Alkan sering pulang larut malam dengan wajah lelah yang luar biasa. Sasya selalu menantinya dengan teh hangat dan suasana rumah yang tenang, menjauhkan Aidan dari kebisingan urusan negara agar Alkan bisa benar-benar log-off.

Malam itu, setelah seharian berdebat di gedung parlemen, Alkan masuk ke kamar dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Ia melihat Sasya sedang membaca buku di bawah lampu remang, mengenakan daster sutra tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sudah kembali ideal.

"Mas... capek banget?" tanya Sasya lembut.

Alkan tidak menjawab. Ia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Sasya. "Dunia luar sangat bising, Sya. Penuh dengan kebohongan yang disamarkan sebagai diplomasi."

Sasya mengusap rambut Alkan, memberikan pijatan lembut di pelipisnya. Keheningan itu perlahan berubah menjadi ketegangan yang berbeda—ketegangan yang penuh kerinduan. Alkan mendongak, menatap mata istrinya yang selalu menjadi oase baginya.

Ia menarik Sasya turun ke tempat tidur. Di tengah hiruk-pikuk tanggung jawab negara, keintiman mereka menjadi satu-satunya tempat di mana Alkan tidak perlu memakai topeng pejabat.

Malam itu, penyatuan mereka terasa sangat emosional. Alkan seolah ingin menumpahkan seluruh beban dunianya ke dalam dekapan Sasya. Ciumannya terasa haus, gerakannya posesif, seolah sedang menegaskan bahwa meskipun ia milik negara, hatinya tetap sepenuhnya milik Sasya. Sasya menyambutnya dengan lenguhan-lenguhan rendah yang memicu gairah Alkan lebih dalam lagi. Di balik pintu yang terkunci rapat, sang Menteri Muda menemukan kekuatannya kembali dalam ritme panas yang panjang dan penuh cinta.

Namun, politik tidak pernah membiarkan korbannya tenang. Keesokan paginya, sebuah video pendek viral di media sosial. Bukan video skandal, melainkan potongan rekaman masa lalu saat Sasya masih menjadi mahasiswi bimbingan Alkan.

Judulnya provokatif: "Nepotisme Akademik: Menteri Muda Alkan Menikahi Mahasiswinya Sendiri demi Melancarkan Proyek Tertentu?"

Serangan itu tidak hanya mengarah pada karier Alkan, tapi mulai menyenggol harga diri Sasya sebagai perempuan. Para netizen mulai membongkar kembali hubungan mereka, memutarbalikkan fakta, dan menyebut Sasya sebagai "umpan" agar Alkan bisa mendapatkan akses ke data riset ayahnya, Pak Baskoro.

Sasya menangis di meja makan saat membaca komentar-komentar jahat itu. "Mas... aku dibilang cuma alat untuk karier Mas."

Alkan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka boleh menyerang jabatan saya, tapi mereka melakukan kesalahan fatal saat mulai menghina istri saya."

Alkan langsung memanggil tim medianya. Bukan untuk klarifikasi defensif, tapi untuk melakukan serangan balik yang elegan: Transparansi Total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!