NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Berondong / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga / Komedi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noorinor

Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.

Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.

Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Arion merasa tubuhnya lemas melihat mobil yang membawa Lydia melesat pergi dari area restoran. Ia tidak menyangka perempuan itu benar-benar tidak mau pulang bersamanya.

Saat masih berusaha mencerna semuanya, matanya tanpa sengaja menangkap Marvin yang tampak terburu-buru menaiki mobil. Setelah diperhatikannya lebih seksama, ternyata mobil itu mengejar taksi Lydia.

"Brengsek!" umpatnya, lalu bergegas menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.

Tidak ada waktu untuk berpikir sekarang, ia harus menyusul mobil Marvin yang mengikuti taksi Lydia. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Lydia kembali ke masa lalunya.

"Kenapa Marvin harus hadir di situasi seperti ini?" keluhnya sambil menyesuaikan laju mobilnya dengan mobil di depan sana.

Mereka terlibat kejar-kejaran, saling menyalip di antara mobil lain, seolah yang tercepat akan mendapatkan Lydia.

"Ke mana taksi Kak Lydia?" gumam Arion saat menyadari mobil taksi yang membawa Lydia sudah tidak ada di depan.

"Sial," umpatnya sambil terus menerus menancap gas.

Arion nyaris putus asa karena belum menemukan taksi Lydia, apalagi mobil Marvin juga masih terus bermain kejar-kejaran dengannya.

Ia meraih ponselnya di atas dasbor dan mencari nomor seseorang untuk dihubungi, tanpa menurunkan laju mobilnya.

Setelah nomor itu ditemukan, ia langsung menekan tombol panggil.

“Aku butuh bantuan Paman,” ujarnya tepat saat panggilan tersambung.

***

Arion tersenyum saat melihat mobil Marvin tertinggal di belakang. Berkat bantuan pamannya, mobil itu berhenti mengganggu, dan kini ia bisa fokus mencari taksi Lydia.

Apartemen mereka sebenarnya tidak jauh dari sana, tapi entah mengapa perjalanan terasa lama karena taksi yang membawa Lydia belum terlihat.

“Aku harap Kakak langsung pulang ke apartemen,” batin Arion sambil memutar kemudi.

Ia sudah terlalu lelah bermain kejar-kejaran dengan Marvin. Ia harap Lydia tidak mampir ke tempat yang akan menghambatnya bertemu perempuan itu.

Setibanya di kawasan apartemen, ia tidak memiliki waktu untuk sekadar memarkir mobil, jadi meminta penjaga keamanan memarkirkannya, sementara ia memilih bergegas masuk ke apartemen.

"Seharusnya tadi aku bertanya ke satpam apa mereka melihat Kak Lydia pulang," gerutunya baru ingat, namun tetap melangkah sampai tiba di depan lift.

Sementara itu, Lydia sudah tiba di apartemennya dan masuk ke kamarnya. Ia membuat Rina bingung karena pulang dalam keadaan menangis.

"Lydia, lo kenapa?" tanya Rina sambil mengetuk pintu kamar Lydia.

Namun, perempuan di dalam sana tidak menggubris. Hanya terdengar suara tangisan memilukan dari dalam sana dan membuat Rina khawatir.

"Kalau ada masalah, lo bisa cerita ke gue. Jangan simpan masalah lo sendiri," ujar Rina, masih terus mengetuk pintu kamar Lydia.

Tangisan Lydia di dalam semakin keras. Rina yang mendengarnya ikut merasa sakit mendengar tangisan itu. Terdengar seperti orang yang sudah lelah menghadapi kehidupan.

“Kak Lydia ada di dalam?” tanya Arion, mengejutkan Rina. Laki-laki itu tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya, entah masuk dari mana.

"Iya, Lydia di dalam. Ada apa sebenarnya? Kenapa Lydia menangis?" ujar Rina, tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada Arion.

Selama mengenal Lydia, baru kali ini Rina mendengar Lydia menangis begitu keras. Lydia biasanya selalu meredam suara tangisnya agar tidak terdengar orang lain, tapi kali ini perempuan itu seakan tidak peduli meskipun orang lain mendengarnya.

"Aku jelaskan nanti," balas Arion, lalu mendekati pintu kamar Lydia dan mengetuknya.

Rina tidak bisa menuntut Arion menjelaskan sekarang. Ia hanya berharap kedatangan Arion bisa membuat Lydia melupakan kesedihannya, meski ia tidak tahu pasti alasan Lydia menangis.

"Kak, ini aku," ucapnya, berharap Lydia mau membuka pintu untuknya.

***

Lydia membungkam mulutnya sendiri saat mendengar suara Arion. Ia tidak ingin Arion mendengar suara tangisnya dan merasa menang.

"Kenapa Arion datang ke sini? Apa dia belum puas dengan permainannya?" batinnya, lalu menghapus air mata di wajahnya.

Ia benar-benar tidak ingin Arion merasa menang sudah mempermainkannya. Ia memang sudah masuk ke dalam permainan itu, bahkan ia terlanjur mencintai Arion sedalam sekarang.

Namun, ia tidak berniat menunjukkan kesedihan di depan Arion setelah ini. Ia akan membuktikan bahwa Arion dan keluarganya adalah penjahat yang tidak pantas untuk menang.

Lagipula, orang baik mana yang mempermainkan perasaan orang lain hanya karena merasa anggota keluarganya tersakiti. Padahal sudah jelas bahwa Airinlah selingkuhan Marvin.

"Ayo kita bicara, Kak. Aku rasa Kakak salah paham akan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa itu," ujar Arion dari balik pintu.

Kini, Lydia tertawa mendengar perkataan Arion. Ia salah paham katanya? Lalu bagaimana dengan perjodohan dan ATM itu?

"Pergilah dan katakan pada keluarga Anda bahwa rencana kalian berhasil," katanya, berusaha menstabilkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang sedang menangis.

Di depan sana, Arion semakin bingung dengan setiap kata yang Lydia ucapkan. Satu-satunya rencananya dan keluarganya adalah melamar Lydia setelah Arion wisuda. Bagaimana bisa sekarang Lydia mengatakan rencananya berhasil?

"Aku yakin Kakak salah paham. Kita perlu bicara untuk meluruskan semuanya," ucap Arion belum menyerah.

Rina hanya menyimak tanpa mengerti apa-apa. Ia ingin bertanya, tapi waktunya tidak tepat. Ia akan menunggu sampai Lydia atau Arion yang menceritakannya sendiri.

Pintu kamar terbuka, Lydia muncul dengan wajah memerah akibat menangis.

“Salah paham? Anda baru saja memberi saya kartu ATM agar saya melupakan perasaan saya,” ujarnya, mengingatkan apa yang laki-laki itu lakukan.

"Apa maksud Kakak?" tanya Arion semakin tidak mengerti yang Lydia katakan.

Jadi itu alasan Lydia marah saat Arion memberikan kartu ATM. Padahal, kartu itu hadiah dari ibu Arion untuk calon menantunya.

“Anda dan keluarga Anda sengaja membalas dendam atas sakit hati yang adik Anda rasakan,” kata Lydia, yang menurut Arion semakin ngawur.

"Tidak ada yang membalas dendam, dan berhenti mengatakan 'anda, anda, anda'," ucap Arion, mulai muak karena Lydia mengubah panggilan seolah mereka hanya orang asing.

Tangannya yang sedikit bergetar akibat emosi memegang kedua bahu Lydia.

"Jangan bersikap seperti kita hanya orang asing. Aku tidak suka itu," tegasnya.

Lydia menatap mata Arion seolah menantang. Ia masih berpikir bahwa keluarga Arion memang sengaja bekerja sama untuk mempermainkannya, termasuk Arion yang sekarang bersikap seolah tidak ingin menjadi asing dengannya.

"Apa semua orang di dunia ini harus mengikuti apa yang Anda suka?" tanyanya, tanpa ciut sedikit pun.

Nyalinya saat berhadapan dengan Arion benar-benar patut diacungi jempol. Rina yang hanya menyaksikan saja takut, tapi Lydia tidak gentar sama sekali.

"Tidak," jawab Arion singkat. Ia muak dengan panggilan Lydia, namun berusaha menahan dirinya.

Tangannya di bahu Lydia perlahan naik ke atas, lalu menyentuh wajah perempuan itu.

"Sepertinya Kakak terlalu banyak pikiran. Lebih baik sekarang istirahat," ujarnya, lalu mengecup kening Lydia.

"Aku tidak akan memaafkan Kakak, kalau besok Kakak masih seperti ini," tambahnya sambil menatap mata Lydia dan membelai wajahnya.

"Itu juga kalau kita masih bisa bertemu besok," sahut Lydia menanggapi Arion.

Arion terkekeh pelan. Mereka tentu saja akan bertemu besok. Lydia tidak akan bisa menghindarinya, karena ia akan tahu kemana pun perempuan itu pergi.

"Sampai bertemu besok," ujarnya, seolah yakin mereka memang akan bertemu esok hari.

Lydia mendecih pelan, sementara Rina masih tetap menyimak. Rina bingung dengan apa yang terjadi antara Lydia dan Arion.

1
Resa05
ditunggu up nya kak
Resa05
wah makin penasaran nih
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Resa05
semangat up-nya thor!
Reverie Noor: terimakasih ❤
total 1 replies
Resa05
sayang banget cerita bagus kayak gini ga rame, semangat up terus thor!
Resa05: bakal jadi pembaca setia, semoga ceritanya seru terus ya thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!