NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / Kekasih misterius
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Rumah Sakit

Besok paginya, aku duduk di kursi penumpang mobil Arven, punggungku menempel ke sandaran, sabuk pengaman sudah terpasang sejak tadi. Jalanan belum terlalu ramai, cahaya matahari pagi masuk lewat kaca depan, membuat semuanya terlihat lebih terang dari yang kurasakan di dalam kepala.

Aku menggeser pandangan ke arah Arven yang fokus menyetir, satu tangan di setir, satu lagi bertumpu santai di dekat persneling. Wajahnya tenang, seperti biasa.

Keheningan di dalam mobil terasa canggung. Hening yang dipenuhi pikiran-pikiran kecil yang berisik, dan itu membuat ku tidak nyaman.

Aku menarik napas pelan.

"Ven, aku puter musik ya?" tanyaku, berusaha terdengar santai.

Ia melirik sekilas ke arahku, lalu mengangguk. "Iya."

Aku meraih layar kecil di dashboard, memilih lagu pertama yang muncul. Musik mengalun pelan, tidak terlalu keras. Suara itu mengisi ruang kosong di antara kami, membuat dadaku sedikit lebih ringan.

Aku bersandar lagi, menatap keluar jendela. Bangunan-bangunan lewat satu per satu, seperti potongan hidup orang lain yang tidak ikut terseret ke dalam kepalaku.

Tanpa sadar, bibirku ikut bergerak mengikuti lagu yang diputar. Awalnya cuma gumaman kecil, nyaris tidak terdengar, tapi lama-lama suaraku ikut naik, pelan dan ragu, seperti takut mengganggu. Aku menikmati pemandangan di luar jendela langit yang cerah, pepohonan yang lewat cepat, pagi yang terasa berat bagiku.

Aku tidak sadar sejak kapan Arven melirik ke arahku.

"Kamu harus sering-sering nyanyi," katanya tiba-tiba.

Aku berhenti di tengah lirik dan menoleh cepat. "Hah?"

"Iya," ulangnya santai. "Jarang banget lihat kamu nyanyi."

Aku mengernyit kecil. "Emang suaraku bagus?"

Ia menatap jalanan lagi, lalu menjawab tanpa ragu, "Enggak."

Aku terdiam sepersekian detik. "Ven!-"

"Tapi," potongnya cepat, sudut bibirnya terangkat, "pas kamu nyanyi, kamu kelihatan hidup."

Aku menatapnya, setengah kesal, setengah tersentuh.

"Kamu jahat," gumamku.

Ia tertawa kecil. "Aku jujur."

Aku menggeleng pelan, lalu kembali menatap keluar jendela. Tapi kali ini, senyum kecil tidak bisa kutahan.

Aku kembali ikut bernyanyi, kali ini lebih pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ditujukan untuk diriku sendiri. Tidak peduli Arven mendengar atau tidak.

"Kamu ngambek ya?" tanya Arven sambil melirik sekilas.

"Nggak," jawabku cepat. "Aku cuma nyanyi jelek dengan penuh perasaan."

Ia tertawa kecil. "Hahaha."

Aku menyilangkan tangan di dada, pura-pura kesal. "Makanya jangan jujur-jujur amat."

"Kalau aku bohong, kamu juga bakal protes," katanya santai.

Aku tidak bisa menyangkal itu.

Mobil berhenti di lampu merah. Musik mengecil otomatis, menyisakan keheningan singkat. Aku menatap papan petunjuk jalan di depan nama rumah sakit sudah mulai muncul di beberapa sudut.

Dadaku mengencang lagi.

Arven sepertinya menyadari perubahan itu. Ia mematikan musik sepenuhnya dan menghela napas pelan.

"Ren," katanya lembut. "Lihat aku."

Aku menoleh.

"Kamu nggak sendirian," lanjutnya. "Dari masuk sampai pulang, aku temenin kamu kok"

Aku mengangguk kecil. "Aku tahu."

Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.

Untuk mengusir gugupku, aku kembali bersenandung, kali ini tanpa suara. Bibirku bergerak pelan mengikuti irama yang sudah berhenti, seolah musiknya masih ada di kepalaku.

Arven melirik lagi, lalu berkata, "Tuh kan."

"Apa?" tanyaku.

"Kamu masih nyanyi meski musiknya mati."

Aku tersenyum kecil, malu ketahuan.

"Berisik ya?"

"Enggak," jawabnya cepat. "Menenangkan."

Jawaban itu membuat napasku sedikit lebih lega.

Beberapa menit kemudian, gedung rumah sakit terlihat jelas di depan. Putih, besar, dan terlalu familiar meski aku merasa tidak mengenalnya.

Arven memarkir mobil.

Aku tidak langsung turun.

Tanganku gemetar kecil di pangkuan. Aku menatap pintu mobil, lalu menarik napas panjang.

Arven mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya ke arahku.

"Siap?" tanyanya.

Aku mengangguk, meski jujur saja aku tidak yakin.

"Iya," kataku pelan.

Aku mengangguk pelan, meski rasa ragu masih menggantung di dadaku.

"Iya," kataku akhirnya.

Tapi tubuhku belum juga bergerak.

Arven tidak memaksa. Ia hanya membuka sabuk pengamannya, lalu ikut diam bersamaku.

"Kamu takut," katanya pelan.

Aku tersenyum tipis tanpa benar-benar merasa ingin tersenyum. "Sedikit."

"Sedikit itu berapa?" godanya ringan.

Aku meliriknya. "Banyak."

Dia tertawa kecil lagi, "Kalau banyak bukan kecil namanya."

Ia terkekeh kecil, lalu mengulurkan tangannya ke arahku, telapak terbuka, ia menunggu aku meraih tangannya.

Aku ragu sepersekian detik sebelum akhirnya menaruh tanganku di sana. Jarinya menutup perlahan dan hangat. Dia tidak menggenggam terlalu erat, tapi cukup untuk membuatku bernapas lebih dalam.

"Kita cuma cek," katanya. "Nggak ada yang aneh-aneh."

Aku mengangguk lagi.

Kami turun dari mobil. Udara pagi terasa dingin di kulitku. Bau khas rumah sakit, bersih, tajam, langsung menyergap, membuat kepalaku sedikit pening, meningkatkan ku krmbali saat pertama kali aku keluar dari rumah sakit waktu itu.

Langkahku melambat tanpa sadar.

Arven langsung menyesuaikan langkahnya denganku.

"Nanti kalau pusing, bilang," ujarnya. "Jangan sok kuat."

Aku mendengus kecil. "Kamu cerewet."

"Demi kamu, aku rela," balasnya cepat.

Aku menahan senyum.

Di depan pintu masuk, aku berhenti lagi. Kaca otomatis memantulkan bayanganku wajahku terlihat tenang, tapi mataku tidak sepenuhnya tenang

Aku menelan ludah.

Di balik pintu ini, ada kemungkinan jawaban. Dan aku tidak yakin siap untuk apa pun yang menungguku di dalam.

Arven berdiri di sampingku, bahunya hampir menyentuh bahuku.

"Ren," katanya pelan. "Apa pun hasilnya, kamu pulangnya sama aku kok."

Kalimat itu sederhana. Tapi dadaku menghangat aneh.

Aku mengangguk.

"Yaudah," kataku, menarik napas panjang. "Masuk."

1
j_ryuka
ajak main kek dia ven, pasti ada apa-apanya ini si arven
j_ryuka
segala cara arven melindungi seren, aku curiga sama authornya 🙏
SarSari_
Gas aja, May. Culik Seren gapapa.... Seren juga butuh refreshing, bukan dikurung terus.😂
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
hahaha.. diperhatikan sampai nafasnya
Ria Irawati
karena kondisi seperti itu membutuhkan perhatian lebih. orang di sekitar juga harus lebih peka
pojok_kulon
Kayak pembunuhan berencanaa
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
pasti enak puter musik, aku suka setel musik🤭
Panda%Sya🐼
Kok Arven tegang gitu ya
pojok_kulon
Arven kyak punya dua kepribadian
Ria Irawati
apa kini kau mulai menyadari sesuatu tentang arven?? penisirin banget
Panda%Sya🐼
Idihh jadi ngapain suruh nyanyi kalau suaranya gak bagus
j_ryuka
aku curiga sama author nya
Suo: kok sama aku kak😭
total 1 replies
j_ryuka
kasik tau aja
Ria Irawati
mau apa nih?? cek kesehatan kah??
pojok_kulon
Ya kyaknya yg mungkin kebetulan hape Seren hilang tiba² tapi ditemukan lagi di cas dan kebetulan juga maya bunuh diri
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
emangnya bisa nyanyi?, nanti dinyanyiin nina bobo🤭kayak anak bayi
Panda%Sya🐼
Aku juga dong, lagi capek ni. Baru habis kerja, butuhnya asupan lagu tidur. Biar besok sahur matanya langsung terbuka dengan lebar 🤭
j_ryuka
mau ngapain nih ke rumah sakit
Ria Irawati
kaya lagi Nina boboin anak kecil🤣
pojok_kulon
Duh kasian maya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!